Save the Earth, Save Our Love

Dalam sepi, kita menyeduh teh.

Dalam enam puluh menit yang gulita, kita sama-sama terdiam, menantikan air dalam ketel mendidih dan ketel itu akan mendesau dan aku akan mengucurkannya ke dalam teko yang sudah diisi daun teh kering. Dan kau duduk di meja makan, dalam gelap, sementara aku menyiapkan dua cangkir kosong bersama dengan teko porselen yang kini panas itu, di atas sebuah nampan. Kemudian aku duduk di kursi di depanmu dan menaruh baki itu di meja.

“Pakai gula?” tanyaku.

“Tidak, pahit saja,” jawabmu.

Aku membiarkan daun teh itu bereaksi, mengubah warna bening air itu dengan teh, walau aku tak tahu berapa lama warna yang sempurna akan muncul. Aku tak bisa melihatnya, semua lampu dimatikan. Kita bisu dalam gulita.

“Aku rindu padamu,” ucapku memecah kebekuan.

“Hmmm,” kau hanya bersuara seperti itu, seakan enggan.

Aku lupa kapan terakhir kali kita duduk berdua seperti ini, berhadap-hadapan di meja makan, menikmati secangkir teh tubruk bersama-sama. Masih pukul delapan tiga puluh. Biasanya aku masih berkumpul bersama teman-temanku, sekadar menikmati sushi atau dimsum atau hanya minum kopi. Atau berada dalam sebuah meeting. Atau berada di ruang bioskop. Sepertinya aku lupa pulang. Seandainya aku pulang cepat pun, aku tak bisa menemuinya di rumah. Kau seringkali baru pulang setelah aku terlelap.

Ini hari istimewa, karena kau sudah di rumah sejak pukul enam tadi. Begitu pendiam. Sudah lama kami tidak bertemu. Kita lupa bagaimana caranya berkomunikasi. Kita lupa bagaimana rasanya saling mengobrol. Apakah kini kita lupa caranya saling mencintai?

“Bagaimana hari ini?” tanyaku, tak yakin harus bertanya apa padanya. Mengapa kita begitu saling asing?

“Baik,” kau masih menjawab pendek.

“Tadi siang aku melakukan kebodohan,” ujarku, terlanjur berbicara. Aku tak peduli walaupun kau tak mendengarkannya. Kita harus memecahkan kebekuan ini. Kita harus kembali menghangatkan ranjang kita. Kita harus mengingatkan tujuan awal cincin-cincin ini melingkar di jemari-jemari kita. Pada jari manis kita, tepat pada vena amoris yang konon, membawa langsung darah langsung ke pusat rasa. “Bu Anggi jualan otak-otak, lalu kami semua ingin mencobanya. Lalu dengan bodohnya, aku menaruh otak-otak ikan itu di dalam microwave. Aku tak tahu dimana kutaruh otakku, ha ha ha,”

Dalam kegelapan aku bisa merasakan bibirmu tertarik menjadi senyum, “lalu?” tanyamu. Aku bersemangat.

“Yah, kupikir otak-otak ikan tenggiri itu akan matang dalam microwave, tapi ternyata tidak. Seharusnya memang digoreng pakai minyak sayur, pakai wajan, bukan ditaruh begitu saja dalam microwave. Seisi kantor bau ikan! Parah banget, setiap orang yang masuk lantai kami bisa mencium bau itu. Memalukan, dan aku tak bisa menghilangkan bau itu. Pak Manajer sudah menggerutu karena baunya enggak enak.”

“Kebayang,” komentarmu.

“Dan bodohnya, otak-otak itu enggak mengembang cantik, enggak garing dan renyah, malah mengkerut keriput seperti buah kisut, dan rasanya, tak seperti yang dibayangkan! Aku malu sekali.”

Kau tertawa, tetapi aku belum merasakan ketulusan dalam tawamu itu.

“Bagaimana harimu?”

“Seperti biasanya,”

“Rumah ini terlalu kosong dan terlalu besar untuk kita berdua. Kita terlalu sering meninggalkannya. Apa sebaiknya kita mulai terapi lagi?”

“Jangan mulai, Dis ….”

“Apa kita nyalakan saja lampunya?” aku berdiri, beranjak menuju stop kontak untuk mengakhiri program earth hour satu jam di rumah kita.

“Jangan,” kau mencegahku, memegangi lenganku. “Sudah lama kita tidak merasakan keheningan dan suasana seperti ini. Biarkan seperti ini. Duduk di depanku, kita minum teh bersama, biar aku membayangkan kembali wajahmu dalam gelap.”

“Nyalakan saja lampunya, kau bebas memandangiku.”

“Tidak, aku merindukan saat-saat aku merindukanmu, membayangkan kau duduk di depanku. Dalam gelap, aku bisa pura-pura melakukan itu.”

“Kok kita jadi kayak gini, sih? Enggak pernah terbayang di pikiranku, kalau setelah enam tahun pernikahan kita, kita akan duduk di sini, dalam sepi, saling asing, seolah-olah kita tak pernah saling mengenal. Apa yang terjadi pada kita, Ka? Kenapa kita enggak peduli lagi satu sama lain, kenapa kita berhenti mencoba? Kenapa kita menyerah?”

“Kita lemah. Kita lemah lalu menyerah, lalu pura-pura melupakannya. Kita berhenti berusaha.”

“Ini malam yang lain, lupakan terapi, lupakan kalau kita berusaha untuk punya anak, kenapa kita tidak nikmati saja malam ini? Untuk kita saja. Untuk kesenangan kita. Lupakan orang tua kita meminta cucu. Lupakan orang-orang yang bertanya kapan kita punya anak. Pernikahan ini hidup kita.”

Kau berdiri. Berjalan mengitari meja menghampiriku. Mengecup keningku, lalu pergi.

Aku berdiri. Mengejarmu, menangkapmu dari belakang, “tidak, kita tidak menyerah semudah itu. Aku tidak menikahimu untuk menyerah.”

Kau berbalik. Aku mencari bibirmu, dan memagutnya saat menemukannya.

“Kita tidak menikah untuk menyerah,” bisikku. “Kalaupun Tuhan belum memercayakan keturunan pada kita, tapi kita bersama tidak untuk berpisah.”

Kau membalas kecupku.

Setidaknya, untuk hari ini, dalam gulita ini, kita saling bicara.

Dalam gulita, kita menyeduh teh, tetapi lupa meminumnya.

Depok | 3/28/2010 9:34:11 PM

Advertisements

Sihir Bulan

:untuk Rahne Putri

“Pasti karena kopi,” tuduhku saat masih terjaga pukul dua pagi. Lampu kamar sudah kumati-nyalakan lebih dari tiga kali karena aku tak tahu harus melakukan apa. Aku memaksa mataku terpejam, tetapi kantuk tak juga menyerang walau aku sudah merasa sangat lelah. Berbagai cara telah kulakukan; menyetel musik, menghitung domba, membaca Orhan Pamuk (buku-buku penulis pemenang nobel ini terbukti berkhasiat membuatmu tidur – walau tak ada hasilnya pada kasus malam ini), mematikan lampu. Namun lagi-lagi aku bangkit bangun dan kembali menyalakannya. Arrrgghh. Kalau begini caranya, aku bisa terjaga sampai pagi. Aku bisa tamat seandainya itu terjadi. Aku harus tidur, besok adalah hari besar.

“Pasti karena kopi,” tuduhku lagi. Padahal aku tahu pasti bahwa kopi sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Aku jarang terpengaruh oleh kafein. Apalagi kalau yang kuminum lebih banyak susu dan gulanya daripada kopinya. Tapi aku malu jika harus menyalahkan bulan purnama. Lebih malu lagi jika menyalahkan orang yang menyuruhku pergi keluar dan mendongak, menatap langit.

Ah, itu dia, bersinar jumawa dengan tak berdosanya. Pura-pura tak tahu bahwa ada jutaan pasang mata di bawah sang ratu malam, menatapnya, dan merasakan berbagai perasaan yang membuncah (fleksibel tergantung sikon, bisa jadi romantis atau horror). Konon para werewolf melolong di hutan-hutan terpencil, sayup-sayup terdengar di desa terdekat, dan memulai transformasinya menjadi serigala. Konon, Nini Anteh, sedang menenun di atas sana dengan ditemani kucingnya. Lalu anak-anak bermain di bawah cahayanya yang tenang sambil bernyanyi dan menari.

Lalu ada aku, yang seketika insomnia setelah overdosis endorphin yang disuntikkan melalui gelombang elektromagnetik yang membawa suaranya penuh perintah.

“Ne, lihat langit deh,” dia berkata. Dari jarah beratus-ratus kilometer jauhnya, suara ini menunjukkan sihirnya. Kekasihku, kekasih yang tak pernah kutemui.

Alam semesta ini sungguh ajaib. Keruwetan ini saling terkait satu sama lain, membuktikan kalau sebenarnya kita dan alam semesta adalah satu. Bahwa semua ini berasal dari satu. Bahkan, saat jarak terbentang sebegitu jauhnya, kami dapat menatap bulan yang sama. Meski hiasan langit yang kami tatap berbeda, tetapi kami memandang rembulan yang sama, bulan yang jaraknya tiga puluh kali diameter bumi. Dari tempatku, ada awan-awan tipis melatari bulanku. Tipis seperti sutra yang melambai, sutra yang sama yang digunakan Dayang Sumbi menipu putranya yang Oedipus complex agar terhindar dari kewajiban menikahinya.

Impuls pada netra itu yang membuat kegilaan, kekacauan kimia dalam otakku. Sesuatu pada rembulan dan suaranya membuat molekul kecil, sejenis asam amino bernama phenylethylamine yang bermarkas di jaringan yang menghubungkan sistem limbik dan korteks pada otak berdering. Molekul yang hampir mati suri di otakku ini terbangun tiba-tiba seperti yang dikagetkan alarm bersuara petir. Ia berlari tunggang langgang menuju sistem limbik, bekerja sama dengan dopamine dan mungkin juga norepinephrine, memukul kentongan, dan membuat endorphin terbirit-birit melaksanakan tugasnya, membuat seluruh tubuhku melayang. Berada dalam kondisi yang kurang lebih diterjemahkan oleh orang awam sebagai: Gila.

Tiang listrik di pinggir jalan dekat rumah dipukul tiga kali. Aku gelagapan. Sudah jam tiga, tapi aku belum juga bisa tidur. Dan kini, aku malah nekat naik atap, semuanya gara-gara sihir suara lelaki itu. Langitnya bersih. Konstelasi bintang Orion dan Taurus tampak paling jelas di bulan ini. Aku hampir berharap ada bintang mati tertangkap mata malam ini, agar aku bisa mengajukan permohonan.

“Bintang jatuh, supernova tercantik yang segera pudar, aku mohon agar aku bisa bertemu dengan kekasih hatiku esok hari, pada hari besarku. Dan nanti, aku tak perlu hanya mendengar suaranya, tapi juga menyentuhnya, merasakan sosoknya, merasakan adanya, merasakan cintanya…”

Aku berhenti memohon karena menyadari takkan ada bintang jatuh, lagi pula permintaanku mulai berlebihan, dia tak mungkin ada di Jakarta besok.

Setengah empat pagi. Efek memabukkan dari enzim-enzim bernama asing yang kusebutkan diatas mulai memudar, digantikan oleh rasa lelah dan kantuk yang luar biasa. Pelan-pelan aku turun, sempoyongan mabuk, tapi bukan karena alkohol.

Tuhanku, aku dimabuk cinta.

Ranjang menerima tubuhku kembali. Rebah dalam keadaan setengah sadar setengah gila, lalu tidur dalam lamunan tentang sebuah taman bermandikan cahaya malam. Aku dan dia menatap bulan. Lalu dengan absurdnya, suara dia, entah dari mana datangnya, menggema dari atas, bukan dari mulutnya, berkata:

“Kita adalah satu, milik semesta, tak perlu dibedakan, tak perlu didedahkan. Kau adalah aku. Adalah kita. Adalah cinta.”

Lalu aku terlelap.

***

Tentu saja bukan damai yang terjadi keesokan harinya. Akal sehatku yang kembali setelah semalaman disihir cahaya bulan membuatku panik karena aku tak dapat menahan kantuk yang menggelayut di pelupuk. Terseok-seok, aku bangun, meraih handuk, tertatih-tatih ke kamar mandi.

Pagi ini, kenapa aku harus pergi ke kantor?

Aku berpakaian sambil mengecek blackberry. Hampir semua ikon aplikasi penuh di layarnya. Nanti saja, pikirku sambil menyingkirkannya. Masih menyesalkan mengapa hari ini aku harus pergi ke kantor. Aku masih menginginkan rembulan, masih menginginkan suaranya, masih menginginkan cerah malam seperti malam kemarin, masih menginginkan tidur.

Setengah sadar aku menutup pintu kamarku, mengucapkan salam pada seisi rumah – yang tampaknya sudah pergi semua. Entah hilang kemana mereka. Padahal ini hari besar. Mengeluarkan mobil dari garasi, lalu menyadari kalau pagar rumahku masih tertutup. Dengan malas aku turun dan membukanya. Ke mana semua orang?

Malas sekali. Aku ingin tidur. Tetapi ini hari besar, pikirku.

Pada saat itu, aku melihat sebuah mobil van mendekat rumahku, aku masih membuka pintu pagar dengan malas …

… kemudian sesuatu merenggutku.

***

Sepasang tangan memeluk dan mengangkatku. Aku merasakan tubuhku terayun dan dibawa masuk kedalam van. Aku mau teriak, tapi tangan itu kuat membekap mulutku. “Ssst,” bisiknya. “Jangan takut.”
Bagaimana mungkin aku tidak takut? AKU DICULIK! Dan siapa yang mau menculikku?

Van melaju kencang, suasana dalam van itu remang-remang hingga aku tak dapat menatap wajah penculikku.

“Jangan teriak,” dia berbisik lagi. Bagaimana aku bisa teriak? Dia masih membekap mulutku dengan tangannya yang besar. Aku meronta-ronta mencoba melepaskan diri, tetapi dia terlalu kuat. Siapa dia? Siapa yang melakukan ini padaku?

Van mulai memasuki jalan bebas hambatan. Aku tahu dari cara mobil ini melaju. Aku mau dibawa ke luar kota. Apakah aku mau diperkosa di tempat antah berantah? Lalu mereka akan menelepon orang tuaku meminta uang tebusan. Mengapa aku? Mengapa hari ini? Ini hari besar. Ada rencana besar yang ingin kulakukan hari ini. Aku terus bertanya-tanya, berteriak-teriak agar mereka melepaskanku, mencoba keluar dari van itu. Tapi lelaki itu diam seribu bahasa. Tak satu pun pertanyaanku yang dijawabnya. Akhirnya aku kelelahan dan duduk putus asa.

Setelah bermenit-menit yang rasanya sangat panjang, van itu berhenti. Terdengar suara kunci-kunci dibuka otomatis. Aku segera membuka pintu dan menghambur keluar. Kabur. Tapi, di mana ini?
Sebuah rumah megah.

“Silakan,” ujar lelaki yang sedari tadi memegangiku. Kini aku bisa melihat wajahnya. Dia masih muda, mengenakan kemeja dan celana jeans. “Maaf karena menggunakan cara kasar seperti ini, saya hanya menjalankan perintah.” Dia berkata takzim, menggiringku masuk rumah megah itu.
Pintu terbuka.

Konfetti berhamburan di udara, suara terompet terpekak, memenuhi udara dengan suara lantang. “Selamat Ulang Tahuuuun,” manusia-manusia di dalamnya serempak berteriak. Aku menatap mereka, orang-orang yang seharusnya ada di rumah pagi tadi. Keluargaku. Sahabat-sahabatku. Semuanya tertawa senang karena berhasil mengerjaiku. Padahal aku sudah ketakutan setengah mati.

Lalu muncul seorang asing. Seseorang yang tak pernah kutemui. Tersenyum padaku seolah aku adalah kekasihnya yang lama hilang.

“Selamat ulang tahun, sayang,” ujarnya. Suaranya lembut. Suaranya duplikasi pemilik suara yang semalam meneleponku, dan menyuruhku menatap bulan. “Semoga bahagia dan selalu mencintaiku,” bisiknya di telingaku, mengecupnya lembut.

Aku menatapnya penuh horror.

Selama ini, kekasih rahasiaku seorang perempuan?

3/24/2010 2:32:38 PM

Jodoh

Gadis mana pun yang mengaku waras tentu akan pergi jauh-jauh dari pria-pria seperti ini:

  1. Pria yang sedang patah hati ditinggal kekasihnya.
  2. Pria asing yang ditemui di sebuah pantai perawan nan sepi. Sendirian. Sedang menggambar cinta di pasir dengan inisial namanya dan nama sang kekasih, lalu membiarkan ombak menyapunya dengan pasrah.
  3. Pria yang mengajakmu berkenalan dan mengatakan hal-hal gombal padamu setelah melakukan poin 2 (dua). Dua dalam tanda kurung harus ditambahkan untuk menghindari seseorang menambahkan angka nol setelahnya. Walau kupikir tak ada pentingnya juga.

Permasalahannya adalah, aku lupa kapan aku menjadi waras. Jadi, saat aku berjalan sendirian, memisahkan diri dari rombongan keluargaku yang asyik merecah bekal piknik di atas tikar di atas pasir putih dan bertemu dengan lelaki yang tengah sendirian melukis cinta di pasir yang basah dan tampak kaget saat tepergok olehku sedang melukis cinta dan inisial namanya dan nama perempuan (yang kemudian disapu ombak yang ganas), aku langsung membalas sapaannya.

Lelaki itu menyapaku dengan salah tingkah, dan tampak teramat lega saat ombak itu menyapu lukisan cinta dan inisial namanya.

“Uhm, ehm, eh, sudah lama berdiri di situ?” tanyanya.

“Sejak kamu menorehkan garis pertamamu dengan ranting.” Aku menjawab. Dengan teori-teori adiluhung tentang hubungan pria-wanita di kepalaku, otakku telah memerintahkanku untuk minggat dari tempat itu dan meneruskan perjalananku yang tak tentu arah ini. Tetapi seperti kubilang tadi, aku lupa kapan aku menjadi waras. Maka sejak dia menorehkan garis pertamanya di pasir basah kehitaman yang berkilauan itu, aku berdiri memperhatikannya, tanpa suara. Dan mengingat pasir di sini berwarna hitam berkilau – tandanya mengandung banyak besi, berarti aku sudah berjalan cukup jauh dari rombongan keluargaku, yang berada di sisi lain pantai ini, yang pasirnya putih bersih.

“Ehm, ehh, aku iseng saja melukis itu,” jelasnya. Hal yang sebenarnya tak perlu dijelaskan pada seorang gadis asing yang baru kau temui. Aku tidak menanggapinya. Dia bolak-balik menatap langit dan wajahku, sampai lima kali, dengan kening berkerut seperti dilanda kebingungan.

“Sayapmu mana?” Dia kembali bertanya.

Aku menoleh ke kanan dan kiriku untuk memeriksa keberadaan sayap di punggungku. “Euh? Sayap apa?”

Kini dia berjalan mengelilingiku. Memeriksa punggungku. “Sayap, sayap untuk terbang. Sayap putih?” Dia kembali menjelaskan. “Atau, kalau bukan sayap, selendang. Mana selendangmu?”

“Selendang apa?” Seperti orang bodoh, aku kembali memeriksa keadaan tubuhku. Saat itu aku mengenakan gaun pantai selutut berwarna putih. Rambutku digerai dan berkibar-kibar ditiup angin. Sebuah kacamata hitam terselip di tengah-tengah dadaku.

“Bukankah kamu bidadari?” tanyanya.

Sampai pada bagian itu, apakah kalian sudah cukup bingung? Kira-kira, apakah aku akan bercerita soal bidadari nan rupawan yang bertemu dengan pria idiot yang menuliskan inisial namanya dan nama seorang perempuan dalam lukisan hati super besar di atas pasir dan menuliskannya di tempat yang terjangkau ombak hingga dengan mudah tersaput air?

Mari kita kembali pada kalimat pertama cerita ini. Gadis mana pun yang mengaku waras tentu akan pergi jauh-jauh dari pria-pria seperti ini. Kenapa aku menuliskan kalimat itu? Biar kujelaskan. Andai ada di antara kalian yang masih awam soal percintaan. Buat kalian yang merasa sudah ahli, boleh melewatkan tiga paragraf di bawah ini.

Kecenderungan orang patah hati adalah emosi yang labil dan meledak-ledak. Perasaan bisa berubah dalam sekejap. Terkadang, mereka bisa menjadi sangat optimis dan percaya diri, tetapi pada saat lain, mereka akan mengurung diri di lemari, merasa jadi orang paling malang yang tidak layak dicintai siapa pun. Untuk orang-orang dengan kadar drama yang tinggi, keadaan ini bisa menyebabkan psikotis.

Hati-hati dengan mereka, orang-orang patah hati ini, karena mereka punya energi tak terbatas untuk curhat. Di mana-mana. Kapan pun. Pada siapa pun. Dengan objek yang konsisten, dan cerita yang hampir sama. Dia bisa merepet berulang-ulang seperti kaset rusak dan tidak menyadari kalau mereka mengulang-ngulang cerita yang sama. Mereka juga cenderung impulsif. Dia bisa mendapukmu sebagai wanita yang sempurna, hanya karena kamu bersedia mendengar curhat mereka dengan senang hati.

Jadi, kalau kalian merasa kalau mendengarkan curhat orang patah hati adalah buang-buang waktu, dan dijadikan pelarian itu tidak ada gunanya, sudah pasti kalau kalian harus menjauhi kriteria lelaki seperti yang aku sebutkan di atas. Apalagi kalau kalian adalah para gadis yang mengaku waras.

Nah, karena aku, sudah lupa bagaimana rasanya menjadi waras, kuteruskan pembicaraan di tepi pantai itu.

“Bidadari? Bukan. Aku bukan bidadari.”

“Kupikir kamu Nawangwulan. Memang agak-agak mengagetkan, sih, kalau Nawangwulan muncul di pantai. Bukannya dia biasa mandi di mata air di tengah hutan?” tanyanya. “Kupikir kamu bidadari bersayap putih. Tetapi aku tak bisa menemukan sayapmu. Kupikir kamu jatuh dari langit, tapi aku tidak menemukan lubang apa pun di sana. Jadi kamu itu apa? Semacam peri? Kupikir tidak ada peri sebesar kamu. Dan kupikir peri tidak keluar pada saat matahari masih bersinar seperti ini. Jadi kamu itu apa?”

“Aku? Aku orang. Seorang gadis.”

“Kupikir juga begitu. Tetapi kupikir-pikir lagi, mana ada seorang gadis jalan-jalan sendirian di pantai sepi seperti ini. Apalagi pantai yang tidak dikunjungi banyak orang begini. Tidakkah kamu lihat jejak-jejak kaki di pasir? Itu jejak kaki serigala. Kadang-kadang ada satu dua yang keluar saat matahari masih bersinar. Apalagi sebentar lagi senja. Memangnya kamu tidak takut?”

“Serigala? Aku tak tahu kalau di sini ada serigala.”

“Kamu lihat di sekeliling kamu, kan? Hutan. Tempat ini berbahaya bagi seorang gadis berjalan-jalan sendirian.”

“Tetapi tempat ini sangat indah. Dan kamu bisa leluasa melukis cinta dengan namamu dan nama kekasihmu di dalamnya, tanpa ada orang yang melihat. Yah, kecuali jika ada seorang gadis yang tidak menyadari kalau dirinya tersesat dan tak tahu ke mana arah kembali ke tempat keluarganya.”

“Siapa namamu?”

“Kalamiya.”

“Aku Angga. Mau kuantar ke tempat keluargamu?”

Aku mengangguk. “Mereka sedang memakan bekal piknik di pasir putih.”

Kami meninggalkan bekas lukisan cinta dan inisial namanya dan nama kekasihnya yang sudah rata tersapu ombak. Dia berjalan di sebelahku, mulai bercerita tentang kekasihnya yang pergi.

“Lalu dia pergi begitu saja, melupakan kesepakatan kami, tiba-tiba menggandeng pria lain. Dan itulah sebabnya aku berada di tepi pantai ini sendirian. Melukis cinta. Dengan inisial namaku dan namanya. Sudah hampir satu minggu aku di sini. Menjauh dari keramaian, mencari ketenangan jiwa. Tetapi ingatan itu ternyata lebih hebat dari alat pelacak mana pun. Bahkan di sini pun, di pantai perawan yang sepi, yang tidak ada dia, yang sinyal telepon genggam sulit masuk, yang jauh dari peradaban, yang listriknya belum merata, yang masih sangat sederhana, ingatan tetap bisa mengikutiku. Padahal sudah kutinggalkan ia di kota. Di Jakarta sana.”

“Cukup menyedihkan,” komentarku.

Kutemukan keluargaku selesai dia bercerita. Perutku keroncongan, dan mereka tampak mulai membereskan bekal mereka. Wajah-wajah orang dewasa tampak cemas, tapi kekhawatiran itu berganti saat mereka melihatku datang.

“Dari mana saja kamu? Kami khawatir. Sudah hampir senja. Kita harus pulang. Tak ada penerangan di jalan menuju hotel kita. Kita harus bergegas.” Tampang mereka seperti ingin mengurungku agar aku tidak jalan-jalan sembarangan seperti tadi.

Aku dan Angga berpisah sore itu. Dia menunjuk sebuah pondok yang terlihat mungil dari jarak pandang kami. Katanya dia tinggal di sana selama seminggu ini, dan berencana kembali ke Jakarta dua hari lagi. Kami tidak bertukar nomer telepon, karena dia tidak mengingat nomer teleponnya dan dia berkata padaku kalau dia pun mungkin tidak bisa mengingat nomer teleponku. Jadi kami berjanji, kalau kami berniat, semesta yang akan menjawab keinginan kami untuk bertemu.

Tentu saja aku tidak waras dengan berharap akan bertemu lagi dengan Angga. Tetapi kalian para pembaca, tentu berharap kalau cerita ini tidak berakhir di sini. Bahwa Kalamiya dan Angga akan bertemu di Jakarta dengan cara yang tidak disangka-sangka. Bagaimana kalian ingin kami bertemu kembali? Drama seperti apa yang kalian harapkan?

Tentu, kami memang bertemu lagi. Kalau tidak, ceritanya sudah berakhir sejak aku bertemu keluargaku. Tetapi kemudian, kalian akan kecewa dan bertanya, lalu inti cerita ini apa? Apa konfliknya? Mengapa si penulis cerita ini berani-beraninya membuang waktu kami yang berharga untuk membaca sesuatu yang tidak membuat kami puas?

Baik. Pertama akan kuceritakan dulu pertemuanku dengan Anthi. Dia seorang penyanyi. Kalian tidak akan mengenalnya, kecuali kalau kalian adalah pengunjung tetap Kafe Citronella setiap Jumat malam. Pada hari Jumat itu, kawanku yang pemilik kafe, memperkenalkanku padanya. Namanya seperti akrab. Tetapi, siapa ya dia?

Selepas tiga lagu di panggung, Anthi bergabung di mejaku. Lalu kami bertiga mengobrol seru tentang hal-hal penting dan hal-hal tidak penting. Tentang cicak-cicak dan buaya-buaya. Tentang pemadaman bergilir. Tentang rekaman pembicaraan hasil menyadap telepon seseorang. Tentang Anang yang sedang mencari istri baru. Tentang Yulianto yang masih diragukan keberadaannya. Tentang berbagai macam hal, tentang cinta. Tiba-tiba saja Anthi bercerita. Mungkin dia termasuk golongan patah hati yang kusebutkan di atas tadi, berkecenderungan untuk curhat colongan. Lalu tersebutlah sebuah nama. Angga.

“Lelaki itu enggak waras. Makanya aku males deket-deket sama dia,” katanya menutup cerita. “Aku bilang saja padanya kalau aku sudah bertemu lelaki lain. Biar dia berhenti mengejar-ngejarku.”
“Memang tidak warasnya seperti apa?” tanyaku, yang masih merasa kalau penjelasan tidak warasnya masih belum jelas.

“Sebenarnya dia cukup menyenangkan sebagai lelaki. Gentleman. Berduit. Ganteng. Senyumnya manis. Ciumannya dahsyat. Tetapi aku paling tidak tahan kalau dia sudah menyebut-nyebut bidadari di sebuah pantai perawan.”

“Maksudmu?” Bidadari di sebuah pantai perawan ini mengingatkanku pada sesuatu. Bukankah Angga yang kutemui di pantai saat berlibur dengan keluargaku itu menyangka aku bidadari?

“Ya begitu. Dia bilang dia tidak pernah bertemu perempuan ini. Perempuan bidadari itu selalu datang di mimpinya dan dia yakin kalau perempuan itu adalah jodoh yang dipilihkan Tuhan untuknya. Dia berkata padaku kalau aku mirip sekali dengan perempuan di mimpinya, tetapi dia masih belum yakin. Jadi dia masih terus-terusan bercerita tentang bidadari yang muncul di mimpinya hampir setiap malam itu. Lama-lama aku merasa diduakan karena dia selalu bercerita tentang perempuan lain. Fiktif pula. Lalu kuputuskan saja dia. Dia tidak terima aku memutuskannya, dia bilang dia mencintaiku. Dan perempuan dalam mimpinya mungkin hanyalah bunga tidur belaka. Tetapi aku capek mendengar dia terus-terusan cerita soal bidadari itu. Aku perempuan biasa, aku tak sudi diduakan.”

“Lalu apa yang terjadi?” tanyaku dengan dada berdegup kencang.

“Dia pergi. Meninggalkan perusahaannya sejenak untuk menenangkan diri. Dia bilang dia ingin melupakanku, dan melupakan mimpi-mimpinya tentang bidadari. Kubilang silakan saja. Tetapi jangan kembali padaku nanti, karena aku sudah lelah menghadapi dia.”

“Kemana dia pergi?” Harap-harap cemasku semakin menjadi.

“Pantai perawan di Karang Paranje. Di mana pantai dengan pasir putih dan pasir hitam berdekatan hingga kau bisa menyusurinya berjalan kaki.”

Aku terkesiap.

“Apakah kamu tahu di mana dia sekarang?” Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya.
“Kami sudah tidak saling berhubungan lagi. Dan aku juga sudah tak peduli pada apa yang dilakukannya.”

“Tapi kamu masih menyimpan nomer teleponnya, kan?” Oke. Aku tak sadar menanyakan hal itu. Aku memang terlalu antusias. Anthi memicingkan matanya menatapku, tampak curiga. Aku menyetel wajahku setidak peduli mungkin.

“Masih, kenapa?”

“Tadi kamu bilang dia punya usaha percetakan digital?”

“Iya.”

“Ehm, aku. Eh, kebetulan lagi nyari tempat buat nyetak brosur. Kali aja cocok. Masih punya nomernya, kan? Aku boleh minta?” Apakah caraku berkilah sudah cukup canggih?

“Datengin aja kantornya, Kal!” Anthi menawarkan ide cemerlang. Setelah menyesap minumannya, dia mencorat-coret kertas tisu menuliskan alamat dan nomer telepon Angga.

———————
Seorang penulis Brazil pernah bilang kalau semesta akan berkonspirasi untuk mewujudkan legenda pribadimu. Maka, semesta pulalah yang mengantarkan sepasang kakiku di atas keset sabut bertuliskan Welcome itu. Aku membersihkan sol sepatuku di atasnya dan menekan bel yang berada di kusen pintu dengan jantung berdebar. Aku tak tahu, semesta sedang mewujudkan legenda pribadi siapa. Yang pasti, mungkin saja ini gerbang masuk menuju legenda pribadiku.

Seorang karyawan wanita membukakan pintu. Gadis itu masih muda, mengenakan seragam berwarna abu-abu tua dengan oranye mencolok pada kedua lengannya. Aku langsung menanyakan Angga, dan dia bilang kalau bosnya itu baru akan datang pukul sebelas. Dia mempersilahkanku duduk di sebuah sofa panjang berwarna hijau lumut yang sudah tua dan kumal karena terlalu sering diduduki. Masih setengah jam lagi sampai jam sebelas.

Aku menunggu dengan sabar. Membaca habis koran hari itu, bahkan sampai iklan-iklan terkecilnya, tetapi dia belum juga datang. Jam dua belas siang, tak ada tanda-tanda bos Angga datang. Kusandarkan kepalaku ke belakang sofa, lalu ketiduran.

Mataku terbuka karena merasakan sengatan tajam ke arahku. Aku terkesiap dan bangun dengan heboh saat menyadari sekelilingku. Ini bukan kamarku, bukan ranjangku. Leherku pegal. Jam berapa ini? Setengah satu. Perutku keroncongan. Sedang apa aku di sini? Celingak celinguk. Kanan, kiri, depan.
Depan.

Di seberangku, berjejer kursi tunggu. Di salah satu kursi hijau limau itu dia duduk. Memandangiku. Tersenyum. Tertawa saat melihat aku bangun dengan panik. Kurapikan rambutku, mengucek mata, memeriksa belek, mengusap muka. Ah, pasti di pipiku ada guratan bekas lipatan sofa. Dia bangkit, melangkah mendekatiku.

“Bidadari,” kata pertamanya. “Kalamiya,” katanya lagi. Aku menyeringai.

“Kok kamu bisa ada di sini, sih?”

“Ada peri membimbingku.”

“Kata Sinta kamu sudah menungguku selama dua jam.”

Aku menyeringai lagi. Kali ini malu. Ah, jangan-jangan dia tidak menganggap pertemuan di pantai itu istimewa. Siapa tahu informasi Anthi tentang bidadari itu hanya omong kosong dan kedatanganku ke sini hanyalah harapan hampa. Tapi, bukannya aku memang tidak waras? Anggap saja ini salah satu kegiatan normal orang yang tidak waras. Ah gila!

“Kamu memang semacam bidadari, atau Nawangwulan, atau peri. Atau Harry Potter. Bagaimana bisa kau menemukanku? Padahal aku baru saja memulai mencarimu. Google tidak begitu membantu. Namamu tidak ada di facebook. Tidak ada informasi apa pun.”

“Tidak penting bagaimana caranya, bukankah aku sudah menemukanmu?”

“Kalau begitu, kita harus mulai kenalan cara kota.”

“Hahaha, bagaimana?”

“Dimulai dengan tukeran nomer telepon misalnya?”

Kami tertawa bersama.

Depok |11/17/2009 8:26:22 PM

Something Stupid

And then I go and spoiled it all by saying something stupid like I love you.

Saya memindahkan channel radio secepatnya. Bukan jenis musik yang saya suka, dan saya benci liriknya. Benci karena itu benar. Mungkin saya memang telah mengacaukan segalanya dengan mengatakan sesuatu yang bodoh. Benak saya kembali ke waktu dua hari lalu. Hari jumat, sepulang sekolah. Kata-kata terakhirnya adalah: “Mmm, beri aku waktu untuk berpikir, ya. Aku akan menjawabmu hari Senin.”

Kami berteman dekat.

Dia duduk di persis di depan saya. Dan kami sering mengobrol saat guru hanya memberikan tugas; sesuatu untuk dicatat, atau beberapa soal untuk dipecahkan. Saya suka tawanya, renyah dan membuatku seperti sedang menjilati madu. Bagaimana mungkin suara tawanya mengingatkanku pada madu? Dan senyumnya, senyuman dari bibirnya itu, seolah dapat melelehkan gunung es. Seharusnya dia jangan sering-sering tersenyum. Bahaya. Dunia bisa mencair. Dan matanya, cemerlang, selalu menyimpan gagasan-gagasan yang tak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Tulisan tangannya bagus, dan puisi-puisinya. Oh Tuhan, bagaimana bisa Engkau menciptakan gadis sesempurna ini? Dengan raga yang membuat saya tak dapat berkedip saat menatapnya, mulut yang membuat telinga saya mendengar alunan musik indah saat berbicara, dan kemampuan berkata-kata halus dan puitis.

Pernah, salah satu kakak kelas mendatanginya. Saya sudah siap dengan perisai untuk melindunginya, andaikata kakak-kakak ini bermaksud untuk menggencetnya. Tetapi tidak, mereka datang membawa secarik kertas, diutus oleh guru bahasa Indonesia, untuk menelaah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik dari puisi yang dia tulis. Dia melayani mereka dengan senyumannya yang sama. Sudah saya bilang, seharusnya dia tidak tersenyum. Senyumannya dapat mengakibatkan global warming.

Dia mengaku, sayalah teman pria satu-satunya. Dia pemalu, tidak berkawan dengan lawan jenis. Walaupun dia tidak pernah gentar setiap kali pelajaran bahasa Indonesia dan dia didaulat untuk membaca puisi. Mungkin karena kami semua merasa punya kambing hitam untuk masalah itu. Dia bilang, setiap kali pelajaran puisi, sejak SD, selalu dia yang dikorbankan teman-temannya untuk maju ke depan kelas. Dan dia selalu melakukannya dengan senang hati, walaupun seringnya dia menolak, untuk alasan yang tak dikatakannya: malu kalau terlihat terlalu antusias. Hanya saat membaca puisi dia menemukan dirinya, dan saat mengobrol bersama saya. Teman prianya yang pertama, dan satu-satunya. Boleh kan kalau saya bangga?

Maka pemikiran itu yang membuat saya mengacaukan semuanya.

Sepulang sekolah pada hari Jumat itu saya menjejeri langkahnya. Dia sedang berjalan bersebelahan dengan Lia, yang segera menyingkir saat melihat saya. Lia bergabung dengan Donita dan Marini yang sudah berjalan lebih dulu. Dia tampak serba salah saat melihat Lia menyingkir, dan sebagai gantinya, saya yang menjejeri langkahnya.

“Nomer telepon rumah kamu berapa?” tanya saya. Kami tidak pernah berbagi nomer telepon. Pertemuan kami hanya di sekolah. Dia menyebutkan angka-angka itu dengan tampang bingung, lalu menaiki angkot yang akan membawanya pulang.

Saya meneleponnya seusai sholat jumat. Dengan dada yang sesak karena terlalu bersemangat, atau ketakutan, atau penasaran, atau bahagia, semua bercampur. Diaduk-aduk seperti adonan kue. Dia yang mengangkat pada deringan ketiga.

Saya bingung, apa yang harus saya katakan? Ehm, ayo, berani!

“Gi, saya mencintaimu,”

Dia tidak mengatakan apa pun. Tetapi saya bisa mendengar napasnya tertahan dari seberang sana. Apakah dia terkena serangan jantung? Mengapa kini tidak terdengar apa pun? Apakah dia menutup teleponnya?

“Aku tak bisa menjawabnya sekarang. Mmm, beri aku waktu untuk berpikir. Aku akan menjawabmu hari senin.”

Maka senin ditunggu seperti halnya kenaikan kelas, atau ulang tahun, atau sebuah kejutan spesial. Saya akan bersiap untuk hari senin. Yang rasanya seperti seabad. Yang jalannya pelan seperti siput. Satu detik, sedetik lagi, sedetik lagi. Betapa lambannya. Harusnya saya datangi dia ke rumahnya, agar dapat kutuntut jawaban saat itu juga. Tetapi saya tidak tahu di mana rumahnya.

Padahal, apakah cinta butuh jawaban? Bertepuk sebelah tangan pun, namanya tetap cinta.

Tujuh jam pelajaran berlalu dalam siksa batin. Hampir seharian senin itu, mata saya lebih tertuju pada rambut panjangnya yang sepinggang. Lurus tergerai, tak pernah kusut, hitam mengilap. Sambil terus menerus berdoa, oh bidadari, menolehlah sini. Tatap saya. Lihat, di mata saya ada cinta untukmu semata. Tetapi, seharian itu lehernya kaku. Jangankan mengobrol seperti biasanya, untuk menoleh ke arahku pun, dia enggan. Apakah ini artinya…?

“Kita jalani saja dulu. Seperti dulu. Sama seperti waktu kita berteman,” katanya.

Aku bersorak kegirangan. Jika saja gerbang sekolah tidak seramai ini (tentu saja sangat ramai, sekitar tujuh ratus siswa berduyun-duyun memburu gerbang), dan andai saja tak ada Marini yang hanya berjarak sepelemparan batu, saya sudah memeluk Gi dan mengayun-ayunkannya sambil berputar-putar. Senyumku begitu lebar, bahkan mengalahkan seringai kucing Cheshire di Alice in Wonderland. Tak dapat kukatupkan mulutku, yang kubisa hanyalah tersenyum. Dan dada saya penuh, jika meledak, akan berjatuhan permen cahaya yang manis dan lembut saat dikulum.

Dia pergi setelah mengatakan itu.

Dan semuanya berubah sejak saat itu.

Andai saja saya tidak mengatakan hal bodoh itu kepadanya, saya pasti masih berteman dengannya. Saya pasti masih bisa menikmati renyah tawanya, saya masih bisa menikmati senyumnya. Mengapa yang diucapkannya begitu bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya?

Dia menghindari saya. Dia bahkan tidak mau berpapasan dengan saya di pintu, memilih kembali ke bangkunya hingga saya menyingkir dari pintu kelas. Dia pindah bangku, di depan saya kini bukan Gi lagi. Dia menolak berbicara dengan saya, sementara seisi pengurus osis dan teman-teman sekelas sudah terlanjur tahu kalau dia kekasih saya. Rasanya muka saya harus didempul setebal mungkin, agar rasa malu saya ini tidak terlalu terasa.

Apakah kau pernah mencintai seseorang begitu besar, hingga kau sangat membencinya? Saya pernah. Saat ini juga. Saat saya dengar acara curahan hati di radio. Suaranya yang merdu itu bercerita kepada sang penyiar: “…Aku ga tau harus bilang apa ke dia. Aku nggak punya perasaan apa pun. Tapi dia temen deket aku, tapi aku ga suka kalau sekarang dia deket-deket. Aku nggak mau temen-temen nganggap kami pacaran. Karena aku enggak cinta sama dia.”

Dia tidak menggunakan nama aslinya. Tetapi saya kenal suaranya. Dan sayalah orang yang dia bicarakan itu. Bagaimana bisa dia setega itu? Mengapa tidak dia katakan saja padaku, kalau dia tidak menginginkanku? Mengapa dia harus mengatakan: Kita jalani saja dulu? Mengapa gadis peri ini memainkan perasaanku? Menghancurkan harapanku? Lalu mempermalukanku di depan semua pendengar radio ini?

Apakah kau pernah mencintai seseorang begitu besar, hingga kau sangat membencinya? Saya pernah. Saat ini juga. Saya berpapasan dengannya di lorong belakang sekolah, bersama pria lain. Tidak dikenal, bukan dari sekolah ini. Mereka tampak bahagia. Dan dia hanya memandang saya sekilas, lalu kembali berpaling seolah saya adalah orang yang tidak penting.

Saya melampiaskan kekesalan saya itu pada bangku-bangku di kelas. Pada dinding rapuh kelas kami. Kutonjoki bertubi-tubi hingga buku tangan saya memerah. Gadis peri itu ternyata monster dari neraka! Perempuan pengkhianat busuk. Bagaimana mungkin saya pernah mencintai perempuan seperti ini? Atau mungkin mantera sihirnya yang telah melenakan saya, hingga saya tak mampu berbuat apa-apa. Larut begitu saja dalam pesonanya.

Perempuan, saya tidak pernah mengerti jalan pikir mereka.

Andai saja saya tidak mengatakan hal bodoh itu: Saya mencintaimu. Mungkin saya tidak akan melakukan hal ini. Hal paling kejam yang pernah saya lakukan. Namun, orang patah hati selalu punya alasan kan untuk melakukan hal-hal aneh? “Saya kan sedang patah hati, saya melakukan apa pun untuk bisa menyembuhkan luka saya.”

Lima belas tahun telah berlalu. Dia memasukkan saya ke dalam daftar temannya di jejaring pertemanan. Usaha saya masih berhasil, di informasi pribadinya, dia masih menceklis tulisan single. Saya membiarkan undangan pertemanannya itu selama beberapa waktu, hingga datang pesan darinya:

Apakah kamu masih marah atas apa yang kulakukan di masa lalu?
Aku benar-benar minta maaf. Aku gadis kecil yang tak tahu diri, yang belum tahu bagaimana cara mengatakan tidak.
Mengapa kamu biarkan undangan pertemananku?

Saya tertawa puas membaca pesan itu. Menyesalkah sekarang, Nona? Terlambat. Sudah lima belas tahun yang lalu. Seharusnya anda memperbaikinya sejak dulu. Dan, bukankah sendirian di usia tiga puluh itu tidak enak?

10/27/2009 10:07:37 PM
(c) Jia Effendie
Majalah HAI No 48, 2009.

Musuh

Jarak masih saja bagaikan musuh,
padahal ia yang menyediakan khidmat pada rasa rindu.
di dekapmu, tak tersedia menu pulang.
Lekap, memang, tapi tombol itu tak ada.

Kita telah tersesat
dan bertabrakan di sini
Saling menjulurkan sulur,
menari, membuat simpul, menari, saling mengarih,
tapi rangup.

Seandainya musim tidur telah usai,
sulur-sulur itu akan mencair seperti salju,
dan kita bebas menari lagi, tertancang lagi, berpalunan lagi.

Tak kutemukan tombol pulang di genggammu.

Dan kita, tetaplah orang-orang asing yang saling membelit, saling berpagut, saling menangkap, saling menikmati, saling memangsa, saling berbagi fana.

Tapi aku masih saja tak menemukan tombol pulang dalam kecupmu.
Dan jarak yang angkuh, masih seperti musuh, malah membentangkan kabut, enggan bermurah hati.

Depok | sekitar tengah malam | antara 25 dan 26 Maret 2010