Erotomania

Gadis itu mematung di seberang jalan. Wajahnya kalut. Tampaknya dia ingin menyeberang, tapi ragu. Bukan karena mobil-mobil yang berseliweran saling silang di depannya, tapi memang hatinya yang bimbang. Sesekali disipitkannya matanya untuk meneliti keadaan rumah yang begitu menarik perhatiannya. Ia naik turun trotoar seperti anak kucing mengejar-ngejar bola wol. Naik. Turun. Jalan. Tidak. Menyeberang. Diam. Menimbang-bimbang. Benar-benar bingung. Santapan empuk bagi para penjahat hipnotis.

Tapi tak lama kemudian, sikap tubuhnya menegang, seperti tengah meyakinkan diri. Ia menetapkan keputusan. Dan sebelum kata hatinya berubah, ia melesat menyeberang dengan kekuatan penuh. Dalam hitungan detik dia telah tiba di beranda rumahku. Rumah ayahku tepatnya, sebuah toko kelontong yang menjual sembako. Di sebelahnya, konter HP milik kakakku. Aku tengah duduk disana, di balik etalase. Memperhatikan lalu lalang kendaraaan yang padat di atas aspal yang menyerap terik.

Sebelum masuk, gadis itu mengubah ekspresi wajahnya. Kegelisahan yang tadi begitu kental menghias wajahnya, buru-buru disepuhnya dengan memasang ekspresi ceria. Ia mendekatiku dan melengkungkan senyum yang ia kategorikan:senyum termanis yang pernah ada.

“Hai…!” sapanya. Suaranya renyah dan bergerumpul ditelinga. Seperti biskuit mentega. Aku membalasnya tak kalah hangat. “Apa kabar?” tanyanya. Aku tidak menjawab pertanyaan basa-basinya itu, hanya tersenyum, lalu menyeringai.

“Hehehehe…!’ suara itu yang keluar dari mulutku.

“Tumben ada diluar…!” ujarnya basa-basi.

“Hehehe…iya nih…lagi nungguin warung!” jawabku sama basa-basinya.

“Emmh…!” matanya sibuk mencari objek untuk diamati, mencari bahan untuk basa-basi selanjutnya. “Eh, euh. B-boleh ngomong? Tapii….kamu sibuk ya? Kalau sibuk sih nggak apa-apa aku pulang aja. Kamu sibuk kan, euuuh, aku, emh…pamit dulu ya!” kalimatnya berputar-putar tak tentu arah. Menggangsing. Seperti anak anjing mengejar-ngejar ekornya sendiri. Gadis ini berjalan mundur. Matanya memohon agar aku tak membiarkannya pergi.

“Oia…emmh…selamat ya…atas pernikahannya! Aku euh…aku sepertinya…euh… tak bisa…eh, datang!” Dia menunduk, memainkan pasir panas dengan stileto runcingnya. “Maaf, aku harus euuh….itu, eh ada yang harus….emmh…Aku pergi dulu ya!” katanya ketika yakin aku takkan mencegahnya pergi. Bergegas sambil menahan malu.

“Ra…?”

Ia mengurungkan niatnya menyeberang, berbalik menghadapku dengan kecepatan luar biasa. “Ya?” tanyanya.

“Ada apa? Kamu aneh sekali hari ini!”

“Nggak apa-apa…kamu sibuk kan? Kalau sibuk nggak apa-apa! Aku pergi aja!”

“Rara…bilang ada apa!”

Tak seperti biasanya. Rara tak pernah segugup ini. Meski senyum dan lesung pipit masih menghiasi wajahnya, matanya kembali terlihat gugup. Mencari-cari objek yang tiada. “Di tempat lain…!” bisiknya. Kuambil jaket lalu mengikutinya.

Dengan cepat Rara meninggalkanku jauh di belakang. Langkah-langkah lebar membawa kami ke jalan sepi yang penuh dengan pohon-pohon besar. Tergesa kususuri jalan teduh menuju alun-alun kota kecil itu. Di bawah pohon beringin rimbun ia berhenti. Lalu dengan dramatis berbalik menujuku. Roman muka tenang dan terkontrol yang ditunjukannya di depan kakakku waktu aku mengambil jaket lenyap, berganti wajah kalut yang tadi tak sengaja ia tampilkan.

“Maafkan aku, seharusnya aku tak melakukan ini. Bolos kerja dan bla bla bla karena aku begitu egois bla bla bla. Tapi aku tak tahu harus melakukan apa!” ia berbicara cepat sekali hingga aku tak dapat langsung mencerna apa yang dikatakannya. Kediamanku rupanya membuat Rara semakin gugup.

“Aku mencintaimu!” katanya. Lalu jeda panjang. Aku tak dapat menahan keterkejutanku. Aku semakin bisu. Sunyi. Hanya gerisik daun beringin kering jatuh bersuara. Kutahan agar isi perutku tak meluap keluar. Rara tak bersuara meski aku tahu masih panjang kata-kata yang ingin diucapkannya. Ini dagelan yang tidak lucu. Dan kini, kata-katanya membuatku ingin muntah. Cinta? Cinta apa? Aku menatapnya kasihan. Apa yang aku punya hingga ia rela menempuh jarak sejauh itu hanya untuk mengatakan tai kucing ini?

Tiba-tiba ia seperti menyesal telah mengatakan semua itu. Mukanya merah seperti lobster rebus. Bola matanya yang berwarna coklat muda menatap penuh sesal ke arahku, seolah mengatakan agar aku melupakan semua ocehan gilanya barusan.

“Maafkan aku…!” Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya. Bahunya bergetar menahan tangis. Ia seperti kupu-kupu yang terjebak di jaring laba-laba, pasrah menunggu dimangsa. Rapuh, dengan sayap-sayap sutra yang koyak. Melihatnya begitu, sebenarnya aku ingin merengkuhnya, melindunginya. Tapi aku tak dapat menahan mual yang berputar-putar dalam perutku, aku berbalik dan berjalan menjauhinya. Terus berjalan, hingga sejauh mungkin darinya. Aku tak mau satu pun partikel udara yang sama kami hisap dan keluarkan.

“Rudi!” teriaknya. Aku tak menoleh. “Maafkan aku!” katanya disela-sela isak. Dia tak mengejarku. Aku yakin, ia tengah sibuk memaki dirinya sendiri.

***

Aku marah. Aku mengutuk diriku sendiri. Aku ingin dihukum seperti Zeus menghukum si pencuri api, Promoteus. Aku ingin dirantai di pegunungan Kaukasus, dengan dada tangan kaki terpaku di dinding tebing. Lalu elang-elang pemakan bangkai akan datang menghampiriku, mematuki daging-dagingku. Hingga organ-organ dalamku menyembul, terbakar matahari yang membawa angin pantai yang bergaram.

Malam akan menyembuhkan luka-lukaku, tapi esok elang-elang itu akan datang lagi, dan mencabik-cabik tubuhku seperti bangkai zebra di hutan Afrika.

Aku tak keluar kamar sejak delapan belas jam lalu. Berbaring nyalang sambil menatap eternit yang kuning-kuning oleh noda hujan yang merembes dari sela-sela genting. Tak ada kegiatan berarti yang kulakukan. Kegiatan yang kuanggap paling penting hanyalah mengubah posisi tidurku karena badanku kaku karena kesemutan. Area aktivitasku hanya disitu. Di seputar ranjang itu.

Ia akan menikah tiga hari lagi.. Ia akan mengucapkan akad nikah, lalu menjauh dariku selamanya. Setelah resepsi, pasangan pengantin baru itu akan terbang ke Jayapura, membentuk koloni Rudiharja disana. Dan yang pasti, aku tak diajak.

Sejak kuterima berita kalau dia akan menikah, telah kureka beberapa naskah untuk kupentaskan di depan Rudi sebelum ia benar-benar diambil oleh pengantinnya. Aku akan menjadi sahabat yang turut berbahagia,

atau mengatakan aku cinta padamu,

atau merusak pernikahannya,

atau muncul saat ia mengucapkan ijab kabul dan mengatakan bahwa aku mencintainya,

atau mendatangi calon istrinya dan mengatakan bahwa aku mencintai calon suaminya,

atau mendatangi calon istrinya dan meracun calon istrinya,

atau mendatangi mereka setelah mereka menikah dan meracun mereka berdua,

atau menjadi teman yang tak peduli,

atau mendatangi keluarganya dan menjelek-jelekkan calon istrinya.

Begitu banyak skenario yang kususun hingga akhirnya kupilih adegan di bawah pohon beringin. Tak berhasil. Tak satupun dari semua naskah itu berakhir bahagia.

Pinggiran matanya menghitam saat aku bertemu Rudi lagi. Ia meneleponku, memintaku untuk pergi ke suatu tempat untuk menemuinya. Ada luka mengering di buku jari-jarinya. Aku tak tahan untuk meminta maaf lagi. Tapi ia sama sekali tak mau mendengarku.

“Aku nggak jadi nikah!” katanya ringan, seolah ingin menimpakan semua kesalahan kepadaku. Bahwa aku penyebabnya. Seperti ada yang menonjok dari lambungku saat mendengar kata-kata serupa dakwaan itu. Sesal melayang, serupa uap tuba yang meracuni oksigen yang kuhirup. Mengapa aku memilih kemarin dan bukan 3203 hari lain sejak pertama kali aku diracuni keyakinan bahwa aku mencintainya?

“Kenapa? Karena aku?” sesalku memuncak. Tiba-tiba aku merasa bukan ini yang kuinginkan. Rudi tak menjawab. Ia hanya menatapku dengan pandangan yang tak dapat kumengerti. wajahnya malah semakin mendekat, bibirnya menyentuh bibirku. Melumatnya.

Beberapa detik diam membuat perasaanku lain. Hey Ra…cheer up! Ini yang kamu inginkan bukan? Aku tak usah menyesal seperti itu, tak usah mendramatisasi keadaan! Lagipula ini sudah terlanjur. Kalau tak ingin pernikahan mereka batal, aku tak seharusnya memaksa Rudi mendengarkanku bicara di bawah beringin rindang itu. Siapa tahu sehabis ini dia akan bilang kalau dia mencintaiku, makanya dia membatalkan pernikahan sialan itu. Dengan lagak gugup kembali kukeluarkan pidato mubazir yang sama sekali tak ia dengarkan.

“Kalau cuma gara-gara aku, buat apa kamu batalkan pernikahan itu. Jangan bilang kalau kamu mencintaiku juga!”

“Tenang, Ra…nggak ada hubungannya sama kamu!”

“Trus? Kenapa kamu nyium aku?”

Rudi tak menjawab. Kembali jadi sok misterius. Ia pergi sebelum semua pertanyaanku terjawab.

***

Rudi menghilang. Tak ada pernikahan. Kedua keluarga panik. Tak ada yang tahu kemana dia pergi. Aku hidup dalam fobia kalau Nia dan keluarganya akan mendatangiku dan memaki-maki aku. Tapi, Nia tidak akan tiba-tiba datang. Ia bunuh diri karena malu.

Aku juga tak tahu kemana ia bersembunyi. Ciumannya sama sekali tak memberikan petunjuk keberadaannya. Saat aku tahu Rudi menghilang, ketiadaannya digantikan dengan suara-suara yang mendiami benakku. Suara bayi, anak-anak, suara perempuan nyinyir, suara lembut, suara berat residivis, suara kekasih yang patah hati, semua suara. Kompak meneriakkan kalimat-kalimat menghujat yang ditujukan padaku. Suara semua orang membakar kepalaku, tapi tak satupun suara Rudi.

Suara-suara itu mulai menyuruhku melakukan hal-hal yang tak ingin aku lakukan. Jika mereka sudah bersikeras, kepalaku ditusuk-tusuk dengan besi panas hingga aku tak punya pilihan lain selain menurut. Permintaan mereka yang pertama adalah mengecat kamarku dengan warna hitam. Sangat tidak masuk akal. Padahal mereka tahu aku takut gelap. Warna hitam akan semakin membuat kamarku yang kurang cahaya menjadi semakin suram. Tapi mereka berkelit dengan ahlinya, katanya kegelapan akan membuat pikiranku semakin jernih hingga aku tak perlu memikirkan Rudi yang meninggalkanku entah kemana.

Tapi yang terjadi setelah kamarku dicat hitam, aku malah tak bisa tidur. Padahal aku sudah kelelahan karena bekerja nonstop dari pagi sampai pagi lagi. Suara-suara itu begitu bising, semua suara bercampur aduk, berdoa, suara-suara yang kata-katanya meluruh jadi serupa dengungan lebah.

Makin kututup telingaku, suara itu semakin kuat. Suara-suara yang kukenal. Ibuku, abangku, bosku, teman-teman kantorku, keponakanku, teman-teman kuliah, semua suara bercampur. Tapi dari semua suara itu, hanya suara Rudi yang tak terdengar.

Waktu kuputuskan untuk menemui psikiater agar ia membunuh suara-suara ini, mereka malah berteriak semakin keras hingga aku tak dapat membedakan mana suara yang keluar dari kepalaku dan mana suara yang datang melalui telingaku. Mereka berteriak-teriak mencegahku pergi meminta bantuan psikiater. Mereka merajuk, mengancam, mengintimidasiku.

Aku ingin Rudi.

Tapi suara-suara itu mencegahku untuk mencarinya. Mereka memukul gong, genderang, meniup seruling, memukul drum, menghentak-hentakkan kaki, membuat keributan hingga aku tak bisa konsentrasi melakukan apapun. Aku tenggelam dalam suara-suara.

Tapi suara Rudi tak pernah terdengar.

***

Aku tak pernah bertemu Rara lagi setelah pertemuan yang membuat isi perutku bergolak itu. Kabarnya ia menjadi gila. Entahlah, aku juga tak peduli. Jika benar dia gila gara-gara aku, aku menyesal, meski aku menolak untuk mengakui bahwa akulah penyebab ketidakwarasannya. Aku tak pernah memberinya harapan kosong.

Aku hanya berharap ia takkan pernah mengganggu kami lagi.

[kalibata, 4/27/2006 2:04:37 PM]

* orang yang mengalami sindrom erotomania memiliki delusi bahwa seseorang (terutama yang memiliki status sosial lebih tinggi) jatuh cinta kepada mereka. Penderitanya yakin bahwa orang itu mengirimkan sinyal-sinyal rahasia untuk menunjukkan perasaan cintanya. Biasanya, objek delusi penderita erotomania jarang/ tidak pernah berhubungan dengan penderita erotomania.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s