Cerpen

Kupu-kupu

Majalah Pakansi, 2005

Musim gugur di Kanada. Jutaan kupu-kupu Monarch terbang sejauh 3200 kilometer untuk menghangatkan diri dari musim dingin yang membekukan. Autumnunal equinox. Panjang Siang dan malam yang simetris. Jutaan kupu-kupu Monarch mengepakkan sayap suteranya selama dua bulan menuju hutan-hutan hangat di Selatan dan tidur panjang diantara pepohonan.

Musim hujan di Indonesia, tapi curah hujan belum tinggi. Pohon-pohon mangga mulai berbuah. Beberapa telah dipetik hasilnya. Kau harus membawa payung jika bepergian, kecuali jika kau rela basah kuyup. Kupu-kupu warna warni beterbangan, tapi tidak di dekat rumahmu. Tak ada bunga-bunga disana. Kau tahu kan kupu-kupu memakan sari bunga? Jadi mereka takkan bisa hidup jika tak ada bunga.

Kupu-kupu di hutan selatan terbangun dari tidur empat bulan mereka. Berpesta pora. Musim semi telah tiba. Bunga-bunga cantik dan manis bermekaran. Jutaan kupu-kupu Monarch menghisap nektar berkah musim semi, kemudian beramai-ramai melakukan perkawinan, sebelum kembali ke Utara.

Kupu-kupu tropis di Indonesia tidak melakukan perjalanan. Tak ada salju yang akan membekukan sayap dan tubuh mereka disini. Jika hujan, mereka akan berlindung di pepohonan. Jika hujan, kau berlindung dimana?

Spring equinox. Siang malam yang simetris di musim semi. Koloni kupu-kupu Monarch terbang kembali ke Utara. Kembali untuk mati. Keturunan mereka yang akan meneruskan tradisi ini nanti. Sebelum mati, para Ibu dan Ayah anak-anak Monarch mungkin bercerita jalur-jalur perjalanan mereka menuju hutan selatan. Mereka selalu memulai perjalanan mereka pada autumnunal equinox dan kembali pada spring equinox.

Ayah Ibu mereka membekali mereka ilmu navigasi yang baik. Mereka memanfaatkan matahari dan jam circardian tubuhnya untuk mengetahui jalur mana yang harus dilewati dan harus dihindari dalam perjalanan ke Selatan. Begitu berlangsung setiap tahunnya.

Tapi,

Begitu Ia memulai ceritanya. Berbisik seakan tengah menceritakan suatu rahasia.

Tidak tahun ini.

Ia bercerita untukmu. Kau yang entah ada dimana, entah mendengar atau tidak, entah peduli atau tak acuh. Mungkin menganggap ceritanya omong kosong sampah. Ia terus bercerita. Hanya untuk telingamu.

TAPI TIDAK TAHUN INI, katanya.

Kupu-kupu Monarch di Utara tidak bermigrasi ke Meksiko. Mereka terbang ke arah lain. Seketika sistem navigasi Monarch kacau balau. Para ahli serangga gempar. Mereka kemudian menganalisis penyebab perilaku menyimpang dari kupu-kupu spesies ini. Mereka mengambil spesimen untuk dijadikan sampel. Dibedah. Diteliti anatomi tubuhnya. Organ dalamnya. Apa yang salah? Monarch tidak terbang ke Selatan, tetapi terbang ke arah Timur lewat Samudera Pasifik.

Surat kabar, televisi, radio, media massa menyiarkan ke seluruh dunia fenomena musykil ini. Efek rumah kaca disalahkan. Para ilmuwan lainnya mengatakan bahwa telah terjadi perubahan medan magnet bumi hingga arah migrasi kupu-kupu Monarch menyimpang. Aktivis lingkungan mengadakan demo besar-besaran karena dampak pemanasan global ini kelak akan semakin parah dan menimpa manusia. Ahli agama mengatakan bahwa azab Tuhan telah datang dan manusia harus bertobat. Dunia akan kiamat.

Hasil penelitian ahli serangga, Monarch berevolusi, teradiasi nuklir, bermutasi.

Penyair melahirkan beribu puisi.

Klinik paranormal dipenuhi orang-orang mengantri mencari jodoh, meski tak ditemukan relevansi antara pelencengan migrasi kupu-kupu dengan mencari jodoh.

Novel-novel tentang kupu-kupu membanjir dan laku di pasaran.

Paris, New York, Jakarta, Tokyo, Melbourne, London, Amsterdam, Bandung, Sydney, Roma, para pelukis mengadakan pameran bertema kupu-kupu. Para perancang busana pun mengambil tema kupu-kupu dalam setiap Pagelaran Busana karya mereka.

Fenomena ini menjadi ajang eksploitasi sumber daya pikir. Setiap sudut di dunia dipenuhi pernak-pernik kupu-kupu hingga sejauh mata memandang yang kau lihat adalah segala ornamen yang berhubungan dengan kupu-kupu. Tapi, apakah kau peduli?

Tak ada yang tahu mengapa jutaan Monarch melenceng dari jalur imigrasinya. Tak ada yang tahu kapan mereka berhenti, tak ada yang tahu dimana mereka akan berhenti. Kaupun tak tahu, bahkan lebih cenderung tak peduli meski ikut merasakan imbas dari kejadian ini. Biarkan saja, katamu. Memangnya kenapa kalau aku tahu akan kemana mereka dan kapan mereka berhenti.

Ia menghela napas. Menghimpun tenaga untuk kembali bercerita. Bercerita khusus untuk telingamu. Ini sungguh-sungguh! Meski bagimu ini tak ada hubungannya denganmu, dan tak ada perlunya jika ia menceritakan ini padamu, tapi kelak kau akan tahu bahwa sesuatu dalam cerita ini mungkin akan menolongmu.

Ia menghela napas, kemudian membuangnya. Kali ini untuk meyakinkan dirinya sendiri untuk terus bercerita, meski lidahnya mulai kebas. Ia melihat silam waktu, membaca alasan-alasan mengapa ia harus terus menceritakan kupu-kupu Monarch yang bermigrasi ke titik entah. Padahal kan, kau belum tentu menyimak.

Semua karena cinta, tentu saja! Bukankah kekuatan cinta dapat mengalahkan segalanya? Begitu yang orang-orang bilang. Aku sih tidak percaya, tapi ia percaya kekuatan cinta. Asalkan itu untukmu, tak ada gunung tinggi tak mampu ia daki, tak ada samudera luas tak dapat diseberangi. Kau adalah pusat kekuatannya! Kau dapat mengalahkan rasionalitas terakhir yang dimilikinya. Kau adalah alasan berjuta puisi mengalir lewat pensilnya, atau jempolnya, atau tuts keyboardnya. Oleh karenamu ia menciptakan perbendaharaan kata baru yang menggambarkan perih luka sakit sangat. Kaulah inspirasi kegilaannya.

Jadi alasan apa yang membuatnya berhenti bercerita kepadamu?

BEBERAPA bulan kemudian.

Angin di atas Samudera Pasifik berhembus makin dingin. Jutaan kupu-kupu  Monarch setia mengepakkan sayapnya yang rapuh. Tidak, sekarang bukan hanya kupu-kupu Monarch yang bermigrasi. Belakangan diketahui kupu-kupu spesies lain pun bergabung dengan Monarch dalam perjalanan ini. Kupu-kupu di semua tempat yang disinggahi Monarch ikut terbang menuju entah.

Kupu-kupu bersayap satin stilpnotia Salicis, kupu-kupu perak, kupu-kupu berpigmen pteridine yang berwarna-warni. Kupu-kupu hitam berbintik putih, biru, coklat, besar, kecil. Kupu-kupu berbagai bentuk, berbagai warna, berbagai corak, berbagai ukuran terbang mengikuti Monarch ke tempat yang belum diketahui siapapun, dengan motif yang tidak diketahui siapapun.

Berbulan berlalu. Ratusan kupu-kupu berjatuhan dari atas langit karena kelelahan, kelaparan, diterjang badai ataupun angin puting beliung. Tetapi,  alih-alih berkurang, jumlah kupu-kupu malah semakin banyak. Semakin lama, semakin jauh jarak telah tertempuh, jumlah mereka bertambah. Setiap daerah yang terlewati menggelap karena sinar mentari terhalangi puluhan juta serangga bersayap indah yang terbang ke Timur.

Kupu-kupu yang tak pernah menyerah.

Seperti ia yang keras hati. Memilih tetap menjadi keledai dungu yang tertumbuk cinta yang sama lagi dan lagi seperti beras tertimpa alu berkali-kali hingga menjadi tepung. Ia tak pernah menyerah bercerita khusus untuk telingamu hingga kelak usai. Kau harus menyimaknya hingga tuntas jika kau ingin mengerti apa maksud dari ceritanya yang tak masuk akal itu. Tapi, apakah kau bersedia meminjamkan telingamu untuk mendengarkan?

SETAHUN KEMUDIAN

Kupu-kupu masih terbang berkelana. Orang-orang sudah jemu memperhatikan kupu-kupu yang tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Mereka telah kembali pada aktivitas mereka sehari-hari. Ibu-ibu dengan infotainment gosip dan arisan-arisan mereka, mahasiswa dan pelajar dengan kertas-kertas contekan untuk ujian, pejabat-pejabat dengan strategi terbaru untuk menghisap uang sebanyak-banyaknya seperti trenggiling menghisap semut. Tetapi ia masih setia bercerita.

Ceritanya mengalir bersamaan dengan ditulisnya mantera-mantera cinta yang dirapalkan dalam lukisan pentagram di lantai. Keping-keping kelopak mawar bertebaran. Asap dupa membubung menuju langit, menghilang dilahap atap. Sebuah buku besar dan tebal terbuka diatas lukisan pentagram itu. Aroma Lemon Balm dan Chamomile pekat memenuhi ruangan  itu. Minyak Lemon Balm yang dipanaskan dipercaya dapat menyembuhkan luka, menenangkan hati yang depresi, dan meredakan kemarahan. Chamomile untuk mimpi, meditasi, kedamaian, mendinginkan amarah. Bercerita sepanjang tahun membuatnya lelah.

Kupu-kupu melewati Selat Taiwan, Pulau Luzon, Laut Cina Selatan, Pulau Borneo, menyebrangi sungai Kapuas, Laut Jawa, terus ke Selatan hingga negeri Prabu Siliwangi.

HARI KE 378.

Kau membuka jendela kamarmu. Sinar matahari menyerbu memasuki ruangan yang tidak begitu luas itu. Angin membawa aroma pagi. Seekor kupu-kupu kecil masuk kamarmu tanpa diundang. Warnamya merahmuda campur biru. Tatkala kau takjub mengagumi keindahannya, kamarmu menggelap. Sesuatu menghalangi cahaya bintang terdekat dengan bumi. Kau memandang keluar menembus bingkai jendela.

Puluhan juta kupu-kupu berhenti di depan jendela kamarmu. Kupu-kupu berhenti terbang. Perjalanannya berakhir disini! Sementara kau terkesima melihat pemandangan langka itu, suara helikopter menderu-deru. Di bawahnya, puluhan mobil wartawan baru tiba untuk meliput kejadian itu. Kotamu yang tak pernah macet kini lumpuh total. Semua orang datang kesana karena ingin tahu daerah seperti apa yang membuat migrasi jutaan kupu-kupu terhenti.

Pelahan, jutaan kupu-kupu itu bergerak membentuk sebuah formasi. Helikopter wartawan merekam semua aktivitas tersebut. Kupu-kupu terpisah menjadi sembilan kelompok.

Kelompok ketiga, membentuk huruf D.

Kelompok kedua, huruf U,

Kelompok Keempat,

Pertama,

Ketujuh, B

Kesembilan,  R

Kedelapan,

Keenam, U

Kelima.

Sembilan kelompok kupu-kupu yang bermigrasi dari Amerika Utara pagi ini berhenti disini. Setelah 378 hari, di depan jendela kamarmu jutaaan kupu-kupu itu merangkaikan sembilan huruf.

Melukis langit dengan namamu.

Namamu.

Ya, namamu! (Jika kau masih belum yakin juga dengan matamu yang minus satu dan minus ¾.)

Jutaan kupu-kupu bersayap pelangi melukis langit dengan namamu. Kau takjub. Tak pernah membayangkan akan melihat langsung kejadian seperti ini, apalagi dengan namamu yang diterakan diatas langit. Kau mengosok-gosok matamu, kemudian mencubit lenganmu keras-keras. Berkas keunguan langsung membayang dilenganmu. Mimpi ini benar-benar seakan nyata. Ataukah ini memang bukan khayal? Kau bingung. Sempat merasa kau telah gila. Kau tak percaya kupu-kupu yang jadi bahan berita itu datang padamu. Menulis namamu dilangit.

Tiba-tiba saklar di kepalamu menyala. Seharusnya ada yang bisa menjelaskan hal ini padanya. Siapa? Kau harus pergi pada siapa? Secepat kilat, kau menyambar jaketmu, keluar kamar, menuruni anak tangga dua dua, lari melewati puluhan wartawan dengan mikrofon, kamera dan recorder yang mengejar-ngejarmu untuk diwawancarai.

Kau berlari seperti dikejar setan. Berteriak-teriak seperti orang gila. Menyebut-nyebut namanya. Ia, dimana kamu? Teriakmu mencarinya. Ayo keluar!

Ia duduk disitu bercerita. Matanya terpejam, kemudian membuka pelan seperti kuncup mawar yang mulai mekar. Tubuhnya diselimuti cahaya. Senyumnya merekah begitu melihatmu tiba. Inginnya berlari menyambut dan meraihmu, tapi kau lihat kakinya tak ada. Tempatnya digantikan oleh percikan cahaya putih yang bersinar seperti kembang api. Kau menatap matanya tajam, menuntut penjelasan. Ia membalas tatapanmu dengan sorot penuh bahagia. Senyumnya terlalu manis hingga kau bisa merasakan manisnya mengalir di kerongkonganmu. Bukan itu yang kau inginkan.

Sebentar lagi ceritanya selesai. Kau tinggal menunggu. Kau tak perlu menuntut penjelasan karena ia bercerita khusus untuk telingamu. Hanya kau yang akan tahu akhir ceritanya. Dan kau akan tahu mengapa.

Kembang api itu terus membakar hingga ketubuhnya, terus menjalar ke lehernya. Kau ingin berteriak, ada juga keinginan untuk menyelamatkannya di saat-saat terakhir sebelum tubuhnya lenyap menjadi kembang api (bukan karena kau peduli pada keberadaannya, tapi ia berutang penjelasan padamu. Padahal jika kau dengarkan ceritanya, mungkin kau akan lebih mudah mengerti). Tetapi kau malah diam terpaku, dengan kaki terpasak di lantai, menatapnya menghilang. Kau ingin menangis meskipun kau tidak sedih. Lagipula laki-laki tidak menangis, pikirmu.

Kembang api masih berpijar. Putih berpendar. Kau kira ia menghilang untuk selamanya, meletup menjadi udara. Plop, seperti suara tutup pasta gigi. Tapi ia menjelma menjadi seekor kupu-kupu putih yang terbang keluar. Kau mengikutinya. Kupu-kupu putih bergabung dengan kawan-kawannya. Ia memilih bergabung diantara titik diatas huruf ke empat. Terseok-seok kau berlari mengikutinya, dengan keringat bercucuran. Kau terambat. Jutaan kupu-kupu itu telah luruh ketika kau tiba, bangkainya menyelimuti jalanan aspal di depan rumahmu. Tak seekorpun tertinggal di atas langit. Pertanyaanmu bisu tak terjawab.

Jakarta, 040405

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s