Menikah

Majalah SPICE!, 2005

Kebaya biru itu menempel ketat di tubuhku. Aku sesak. Stagen itu memperkecil ukuran pinggangku hingga dua inci. Diet ketat tidak berpengaruh terhadap berat badanku. Aku sangat tersiksa. Perias baru saja menyelesaikan make upku. Dia tak henti bersungut-sungut kesal sejak aku bersikeras tidak mau mengerik dan merapikan alisku. Dia sudah putus asa dan ingin pergi, bahkan rela tak dibayar kalau saja bukan karena nenekku. Ia tak mau membuat keluarga nenekku malu karena pengantinnya tidak terlihat bercahaya. Memang serba salah… bentuk alis yang tidak sempurna akan mengurangi penampilan sang pengantin, tapi riasan yang tidak tuntas itu lebih parah. Akhirnya ia menyerah, menggunakan berbagai trik agar alisku terlihat bagus tanpa dikerik.

Ritual riasan selesai. Bu Tami, periasnya sudah tak mau bicara denganku. Untuk pengantin-pengantin lain, biasanya ia akan memberikan pengarahan mengenai upacara pernikahan dan nasehat-nasehat seputar malam pertama, tapi ia dendam padaku. Aku tak peduli. Aku yang akan menikah! Aku tahu apa yang harus kulakukan, aku tak takut pada malam pengantin. Tak perlu nasehat Bu Tami, karena aku sudah tahu!

Ia meninggalkanku sendiri setelah pekerjaannya selesai. Asisten-asistennya mengikutinya. Aku tahu, pernikahanku akan menjadi skandal sepanjang masa diantara para perias pengantin. Tapi, lihat aku di cermin! Aku kelihatan cantik sekali. Kebaya biru untuk menikah…(bukannya akad itu memakai kebaya putih?)

Menikah? Tiba-tiba kata itu terdengar sangat menyeramkan. Kuulangi lagi kata itu. Terasa asing di lidahku. Menikah dengan siapa? Kok aku jadi bingung gini sih? Dengan siapa aku akan menikah? Kenapa aku ada disini? Hey…kapan aku di lamar? Mengapa tiba-tiba aku akan menikah? Aku menikah dengan siapa? Teriakku panik. Aku celingak celinguk mencari orang yang bisa kutanyai.

Ibuku masuk. “Rio udah datang, sayang! Upacaranya sebentar lagi!”

Rio. Apakah aku mengenalnya? Uuhmm tentu saja! Dia pacarku selama delapan bulan ini. Tapi, secepat itukah aku menikah? Tanpa dapat kubendung, air mata mengalir, melunturkan maskaraku, menghitamkan kelopak mataku. Aku menangis tersedu-sedu.

“Aku nggak mau menikah, Ma! Kenapa aku ada disini? Kenapa aku menikah sekarang?” tanyaku tak mengerti. Sepertinya aku kehilangan waktu. Jika sekarang aku akan menikah, mengapa aku tak tahu prosesnya?

“Ma…aku nggak mau pergi, aku nggak mau menikah…!” isakku. Ibu memelukku, menenangkan. Membujukku agar mau meneruskan upacara ini. Suara gamelan sayup-sayup terdengar dari ruangan lain. “Mama, aku nggak mau menikah!” tangisku pilu.

Aaaaaaarrrgh!

Aku bangun bermandi keringat. Terengah-engah. Pukul dua malam. Mimpi buruk itu harus enyah. Dua minggu ini hampir semua malamku dihiasi dengan mimpi menikahi Rio. Tidurku tidak nyenyak, wajahku dihiasi kantung mata. Tidak, aku tak mau menikah sekarang. Aku belum siap. Aku baru dua puluh. Aku belum lulus kuliah. Aku belum pernah ngerasain kerja. Aku masih terlalu muda! Aku bahkan baru mengenal Rio selama delapan bulan. Aku belum siap memasuki gerbang abu-abu itu, aku tak tahu apa yang ada didalamnya; kumpulan monster pemangsa hati, ataukah cinta tiada henti? Aku tidak tahu.

Aku tak berani meneruskan tidurku, aku takut mimpi itu secara independen akan melanjutkan ceritanya hingga upacara akad nikah, dimana aku tak dapat lagi menyesal; aku telah menjadi istri. Aku takkan bisa pergi.

Krrrriiiiinnnnngg.

Tanganku menggapai-gapai ke bawah bantal mencari handphoneku. Tak kutemukan. Mataku masih terkatup. Tanganku mencari-cari ke bawah kasur, ke karpet.

“Halo!” jawabku dengan suara parau bangun tidur.

“Halo Sleeping Beauty…masih bobo?”

“Hmmm!” Rio menelepon. Jam dua pagi? Menanyakan aku masih bobo?

“Bangun…udah jam enam! Kuliah jam tujuh, kan?”

“Errhg?” kesadaranku belum kembali. Kuliah jam tujuh? Iya emang, tapi kan masih lama…

“Hei, bangun! Kamu mau aku bangunin kamu langsung kesana?”

“Hmmm…dadah!” kataku langsung menutup teleponnya. Kupaksa membuka mata, melihat penunjuk waktu dihpku. Benar jam enam. Kini kupaksa tubuhku bangun, lalu berjalan terhuyung tergesa ke kamar mandi. Cuci muka, gosok gigi.

Hpku berbunyi lagi.

“Honey…kok ditutup sih telfonnya?” suara itu mendahuluiku bicara.

“Aku lagi di kamar mandi.”

“Ntar jadi ya ke Chilista! Aku jemput kamu ke kampus abis kuliah!”

“Ngg…Chilista, ya?”

“Kenapa?”

“Ngg…kayaknya aku, ngg…Rio, maaf ya…kayaknya aku nggak bisa!”

“Loh, kenapa? Kapan lagi kita bisa ngedate, coba? Aku kan ga bisa tiap hari ke Bandung! Emang kamu nggak kangen sama aku?”

Hhh Rio. Andai kamu mengerti ketakutanku. Aku seneng kamu dateng ke Bandung minggu ini. Sulit sekali bertemu denganmu. Tapi, aku tak yakin kalau aku merindukanmu karena aku mencintaimu, bukan hanya karena kesepian.

“Aku kangen, lagian kamu kan bisa ke kosan aku! Ga usah makan di Chilista. Kamu bawain pizza aja, ya!”

“Bukannya kita udah ngerencanain ini? Kok kamu tiba-tiba ngebatalin sih?”

“Aku…aku nggak enak badan! Maafin aku, ya!”kataku dengan alasan yang pertamakali terlintas di kepalaku.

“Ya udah…pizzanya mau rasa apa? Ntar aku langsung ke kosan kamu!”

***

“Kita putus aja, ya!” bisikku sangat pelan, seakan tak ingin seorang pun mendengarnya. Tapi Rio mendengarnya. Ia langsung menghentikan game yang dimainkannya dan melemparkan ponselnya ke tempat tidur. Ia membalikkan tubuhku menghadapnya. “Kamu ngomong apa sih, Ka?”

“Kita putus aja!”

“Apa? Putus? Why? I thought we’re okay!”

“Jakarta terlalu jauh untukku!” kubuat pembenaran yang paling masuk akal untuk keputusan itu, padahal Jakarta sama sekali tak berhubungan dengan keinginanku. Malah sebaliknya, satu-satunya alasanku meminta putus adalah bahwa aku tak mau terlibat secara emosi lebih dekat lagi dengannya. Aku takut ia kan memintaku menikah dengannya. Usianya sudah mencukupi, cukup mapan, dan kelihatannya ingin sekali segera menikah.

“Selama delapan bulan kita baik-baik saja pacaran jarak jauh! Kenapa tiba-tiba kamu bilang Jakarta terlalu jauh untukmu?”

“Kita tidak baik-baik saja!” teriakku. ”Delapan bulan denganmu, kau bahkan tidak datang menengokku ketika aku sakit! Jadi, kita putus aja! Di Jakarta mungkin kamu akan nemuin yang lebih baik dariku…!”

“Kamu jangan childish gitu, Ka! Kamu tau aku berusaha untuk datang, tapi aku tak bisa! Dan kamu jangan pernah ngomong soal nyari pacar lagi! Aku sayang kamu, Ka!” Rio mencoba mengendalikan dirinya.

Please…!”lirihku. Rio tak bicara lagi. Dengan sisa kesabaran yang dimilikinya, ia mengemasi barang-barangnya tanpa suara, pergi tanpa pamit.

***

Sebulan setelah Rio pergi. Mimpi itu tak pernah datang lagi. Syukurlah… aku sudah sangat ketakutan. Sampai sebuah SMS dari Rio, yang membuat rasa takutku, kekhawatiran tak beralasanku, mimpi burukku, menjadi nyata. Senyata ponsel yang kugenggam, yang menampilkan huruf-huruf yang membentuk kata dari hati Rio.

1-18

6 Jan 2005

21:05

rio

kania,pls..i cant

stop thinkin of u.

wud u marry me?

Would I marry you? Would I?

***

Kebaya putih kini yang menempel ketat ditubuhku. Aku duduk di pelaminan. Di sebelahku Rio. Tampak menawan. Hmmm…suamiku. Tamu-tamu tak henti berdatangan. Kami saling melemparkan senyuman menggoda. Tak tahan ingin segera malam.

“Hei…!” goda Rio. “My wife!” Aku tersenyum tersipu.

Suami Istri. Tampak sangat nyata.

Tapi hei…kenapa aku kehilangan orientasi waktu lagi? Kapan akad nikahnya? Kapan aku menandatangani buku nikah? Kapan? Mengapa aku tak ingat bahwa pernah terjadi akad nikah antara Aryo Herlambang dan Kania Pamungkas?

Dengan kebaya dan kain yang melilitku, aku berlari susah payah. Tidak, aku belum menikah! Tapi aku sudah menikah! Lihat saja tamu-tamu yang datang. Lagipula aku duduk di kursi pelaminan. Memangnya siapa yang akan berani duduk disitu?

Rio mengejarku. Kedua keluarga panik, tamu-tamu gempar. Mungkin menyangka pengantinnya sudah tak sabar. Aku tak dapat lagi menahan tangis. Mengapa ini terjadi padaku?

Rio menangkapku. Aku menunduk ketakutan dengan air mata bercucuran deras. Ia mencengkram lenganku hingga di balik kebaya transparanku, kulitku memerah bertanda jemarinya.

“What is the hell are u doing, Ka? You’re my wife now, for god’s sake! Kamu mau kemana lari-lari kayak gitu?” wajahnya ungu. Ia menahan diri untuk tidak menamparku.

Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Gemetar. Sepertiga karena takut, sepertiga karena marah, sepertiganya lagi karena perutku kosong. “Nggak…aku nggak mau menikah! Aku nggak mau menikah sekarang!” Aku mengulang-ulang kalimat tersebut seperti kaset rekaman, seakan tanpa kesadaran.

“Tapi kamu sudah menikah!” suara Rio tajam, bercampur amarah yang kental. Ia menyeretku ke pelataran parkir, membawaku ke mobilnya. Melarikanku entah kemana.

Lagi, aku terbangun bermandi keringat.

Tidak, tegasku.  Aku belum menikah. Itu hanya mimpi. Mimpi burukku. Aku tak perlu takut. Mimpi itu hanya bunga tidur, tak ada yang perlu ditakutkan.

“Ka…kamu kenapa?” pemilik suara itu tanpa ijin memelukku. Menyusupkanku ke dadanya. “It’s okay,Honey! It’s justa nightmare! It’s okay…!” ia membelai rambutku menenangkan, tapi aku makin tak tenang, jantungku berdentam memukul-mukul hingga sesak dadaku.

Aku menengadah melihat wajah pemilik suara, meyakinkan pendengaran dan memoriku. Benar. Itu Rio. Menatapku penuh rasa menguasai.

Aku menangis tanpa suara, tanpa air mata.

Aku tak ingin menikah…

Garut,1/9/05 5:29:02 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s