Di Balik Pintu

Aku memelihara jiwaku dengan rasa sakit. Dari perasaan itu, aku menghidupi ragaku.. Kau boleh bilang aku berlebihan, itu hakmu. Tapi aku hidup dari kepedihan itu. Aku bukan orang suci yang melakukan tapa, menolak segala kesenangan demi persembahan diri kepada Tuhan. Aku melakukan ini demi diriku sendiri, demi bertahan hidup.

Oh, janganlah dulu berpikir kalau aku menyakiti diriku sendiri demi mendapatkan kepedihan itu. Tidak, aku bukan seorang masokis. Dan jangan juga sempat terlintas di benakmu kalau aku menyiksa orang lain. Tidak, paling tidak, secara fisik, tidak.

Aku penulis, bukan penyihir. Meski aku menyerap energi negatifmu, mendeteksi setiap tangis dan luka di sudut-sudut jalan, dan mengubahnya menjadi tulisan. Aku hanya bisa menulis dari luka. Aku tak bisa menulis sesuatu yang menyenangkan, atau berakhir bahagia seperti dongeng kanak-kanak (tolong jangan masukkan dongeng H.C. Andersen dalam kriteria ini, ya?)

Aku menulis, saat menatap air bah, tumpah, menyeret semua benda yang bisa ia seret, di tengah-tengah gang, pemukiman penduduk yang padat. Gang kecil itu serupa parit-parit tempat air berpesta pora. Berombak-ombak, berwarna coklat, air bah coklat, seperti air bah yang menelan anak kecil rakus dalam cerita Roald Dahl. Bergulung-gulung membawa serta kursi plastik, kasur busa, perahu karet kami, terseret hingga ke muara. Sebuah tempat sampah raksasa.

Manusia-manusia pengungsi tertawa dalam gigil mereka. Ibu-ibu di lantai dua rumahnya yang masih terkena banjir membagi-bagikan teh panas dalam plastik, menolak dievakuasi lebih dulu. Konon, seorang kakek tenggelam di atas tempat tidurnya, lelap selamanya.

Aku menulis dalam sebuah upacara pemakaman. Aku menulis dalam kecelakaan pesawat. Aku menulis dalam cambuk yang mendera, dalam tamparan bolak-balik karena gagal menyelesaikan tugas sang dewa. Aku menulis dalam hinaan atas ketidaksempurnaan. Aku menulis di tengah-tengah perselingkuhan. Anak-anak yang kehilangan kedua orang tua mereka. Istri yang disia-siakan, suami yang ditinggalkan. Aku menulis dalam kegagalan. Aku menulis, memelihara jiwaku dalam kepedihan. Aku menyerap semuanya, mengubah mereka jadi bongkahan-bongkahan emas.

Ini dunia yang gila. Siapa bilang tragedi itu tidak menghibur?

Aku senang atas semua derita itu. Luka membuatku bertahan hidup. Ingat apa yang dikatakan Meredith Grey tentang kenikmatan dipukul palu berkali-kali? Karena kau akan merasakan betapa leganya dirimu saat itu berhenti.

Semua baik-baik saja. Aku perempuan yang ceria dan bahagia, tetapi bencana datang silih berganti, dan jemariku harus semakin cepat menari-nari di atas keyboard. Bencana yang disebabkan manusia harus diumumkan agar tidak terjadi lagi. Setiap orang tidak boleh disakiti oleh orang lain.

Byte demi byte file tulisanku memenuhi ruang kosong dalam hard disk laptopku. Angka demi angka mengalir ke rekeningku.
Manusia-manusia ini begitu menikmati membaca kisah sedih. Untuk mengingatkan mereka atas deritanya, melapangkan hati atas kenyataan tak hanya ia yang menderita. Atau, untuk mensyukuri keadaan mereka, yang telah begitu bahagia, tanpa harus mengalami bencana. Manusia begitu lekat dengan kesedihan.

Mereka memujanya.

Semua baik-baik saja. Industri luka ini tak pernah lekang dimakan trend, aku tetap hidup, bergelimang harta. Tetapi, tentu saja, itu terjadi sebelum dia datang.

Ia datang dengan sederhana. Tak ada gegap gempita, kembang api multi warna yang menandai kehadirannya dalam hidupku. Ia tidak membuatku terkesima karena keagungannya. Ia hanya muncul, berada di sana. Dan sekonyong-konyong yang kuinginkan hanyalah berada bersamanya. Ia seperti hantu, pelan-pelan menyelinap, mengisi ruangan kosong, menetap di sana. Begitu halus, begitu pelan, hingga tahu-tahu dia di sana, tak bisa dienyahkan.

Aku kehilangan daya untuk kembali menulis. Dia merenggut seluruh perhatianku, beralih hanya kepadanya. Dan aku takluk. Aku tak ingin beranjak, hanya ingin menikmati perhatiannya, selamanya. Aku lupa pada mimpi-mimpi. Obsesi. Keinginan untuk masa depan. Aku meluruhkan eksistensiku kedalamnya. Ke dalam dirinya, menjadi dirinya.

Kau. Merusak ekosistem dalam dunia imajinasiku. Seketika aku tak mengenal letak benda-benda. Ceruk tempat sembunyiku, tempat aku memetik ide-ide untuk tulisanku, lama-lama berubah, menjadi wilayah yang asing. Aku masuk lewat pintu yang sama, tetapi setting panggung di dalamnya sudah berubah. Pohon-pohon semakin tinggi tak teraih, dan aku semakin menyusut semakin mungil.

Dari bawah pohon-pohon itu aku menatap buah-buah ide bergelantungan, tampak segar dan manis, besar-besar, menerbitkan air liur, tapi aku tak bisa memetiknya. Semakin lama pohon-pohon itu semakin banyak, daun-daunnya merimbun hingga dunia di bawahnya menggelap. Buah-buah lebat itu, tak satupun tergoyangkan angin dan jatuh ke pangkuanku.

Tak ada angin di ceruk sembunyiku yang ini.

Aku berlari keluar, menutup pintu, membukanya lagi, masuk, tetapi keadaannya sama gelap seperti yang telah kutinggalkan beberapa detik lalu. Akhirnya aku memutuskan menyerah, dengan sesal menggelayut membebani bahu, sekali lagi kutatap buah-buah ide di atas sana. Waktunya berhenti.

“Sayang….” Dari luar, kudengar suara lembut-posesif memanggil. Aku menatap buah-buah yang memerah itu lagi, kini mereka melambai-lambai mengundangku.

“Sayang, kamu di mana?” suara lembut itu kembali memanggil. Aku masih mencoba memunculkan angin, agar setidaknya salah satu dari buah-ide itu jatuh ke pangkuanku, sebelum aku benar-benar menutup pintunya.

“Di situ kamu rupanya.” Ia mencium pipi kananku. Angin masih belum juga berhembus, buah-buah itu menggoyang-goyangkan dirinya, tapi tak satupun sudi mendatangiku.

“Hey.” Pemilik suara itu kembali berbicara.

Aku menutup pintunya. Kau berdiri di sampingku, menatap lurus ke layar laptopku sambil berkacak pinggang. Wajahmu tampak seperti sedang berpikir keras.

“Hey sayang….”

“Sudah sampai halaman berapa?” tanyamu. Padahal aku yakin kau sudah tahu dari keterangan yang berada di kiri bawah layar. Kursor berkelap-kelip di halaman empat. Masih jauh dari syarat.

“Liat aja.” Jawabku pasrah.

“Kok baru halaman empat sih? Waktu kamu kan enggak banyak. Bulan depan udah harus terbit loh. Sebentar lagi filmnya kan rilis.”

“Iya, aku tahu.”

“Makanya, kerjain dong.”

“Kamu tahu aku tidak terbiasa menulis yang seperti ini.”

“Iya aku tahu, tapi kalau kamu berhasil kan bisa jadi debutmu. Bahwa kau juga bisa menulis hal lain selain tragedi!” cetusmu tajam.

Aku diam, kembali menghadap layar laptopku. Di sebelahnya, tergeletak sebuah naskah skenario yang hampir kumal karena bolak balik dibaca. Kedua tanganku di atas keyboard. Aku sudah khatam dengan isi skenario itu. Sebuah kisah cinta monyet semanis gula, dari judulnya saja sudah terbaca tentang apa cerita itu; Monyet Gulali. Rasanya aku ingin membanting naskah itu, menginjak-injaknya, meremasnya, merobeknya, lalu mengakhiri semua aksi itu dengan membakarnya. Lengkap dengan sebuah seremonial agar semakin dramatis.

Dari awal aku tidak menginginkan pekerjaan ini. Tapi kamu memaksa, dan aku tak bisa menolak. Rupanya aku terkena karma tulisan-tulisanku sendiri. Dulu sebelum menerima lamaranmu, kau adalah lelaki yang penuh pengertian. Lelaki feminis yang mengerti apa yang diinginkan perempuan. Kamu adalah pemuja keturunan Hawa. Kamu lelaki yang too good too be true, dan ternyata benar, lelaki sepertimu hanyalah ilusi, karena kamu tidak begitu. Lelaki yang sempurna sepertimu hanya ada dalam kisah klasik, bahkan dalam cerita-cerita fiksi pun kriteria itu sudah berlebihan. Tak ada yang sebaik kamu. Secinta kamu. Semenarik kamu. Setampan kamu. Sepintar kamu. Tak ada.

Kau bangga kepadaku. Aku ini ratumu. Kamu itu penggemarku. Aku akan selalu mengingat pertemuan pertama kita. Bedah buku paling megah di ballroom sebuah hotel bintang lima. Aku duduk di bangku pembicara, dan kau adalah moderator yang piawai. Berkali-kali aku harus menyembunyikan pipiku yang bersemu merah setiap kali kau melontarkan pujian di depan ratusan penonton yang datang. Tubuhku panas dingin begitu acara itu selesai, hingga aku harus berlama-lama di toilet untuk mengembalikan suhu tubuhku yang normal.

Saat aku kembali, kau langsung mendekatiku, mengajak makan malam, dan berlanjut pada pertemuan-pertemuan berikutnya. Hingga aku mabuk asmara. Hingga aku memecat manajerku dan menggantikannya dengan engkau. Hingga kau mengambil alih semua aspek kehidupanku. Hingga kau menikahiku. Hingga kau menamparku saat aku menulis sesuatu yang tidak kau sukai. Hingga kau menyiksaku saat aku tak bisa melayanimu dengan baik. Hingga kau menyiramku dengan teh panas karena aku lupa tidak membubuhkan dua sendok teh gula ke dalamnya—kadang-kadang aku lebih menikmati teh pahit daripada yang manis. Hingga aku lupa rasanya menghirup udara di luar rumahku. Lupa rasanya berkumpul dengan teman-teman hanya untuk menyesap kopi yang lebih banyak bahan lainnya; krim, susu, gula, hazelnut, karamel, sebut saja.

“Lo bisa nggak sih kerja?” Kamu mengubah panggilan kamu. Ia telah selesai membaca keempat halamannya. Aku mulai mengkerut takut. Diambilnya naskah skenario kumal itu dan digulungnya, dipukulkannya ke wajahku bertubi-tubi.

“Lo tuh sakit ya! Bisanya cuma nulis tragedi, yang sedih-sedih, bencana, kematian, luka, duka. Nih gue kasih cerita yang happy, yang seneng-seneng aja, yang bahagia, yang manis-manis, malah mogok. Kenapa? Aneh banget sih lo? Lo gak mau ya hidup bahagia? Lo baru bisa kerja setelah bibir lo berdarah-darah gitu ya?” katamu membabi buta. “Sini, gue bikin berdarah.”

Aku mengigil. Akhir-akhir ini kau tidak terlalu sabar. Kau baik dan manis saat kau sabar, tapi aku tak pernah mengerti siklus naik pitammu hingga aku tak pernah siap. Siapapun takkan pernah merasa siap.

“Kenapa sih dari tadi lo diem aja! Ayo ngomong! Lawan gue! Ayo!” kamu semakin kesal karena aku bergeming. “Ayo buruan, jangan diem aja lo. Kerjain. Lo mau duit sepuluh juta melayang? Iya?” Kamu mengambil semua penghasilanku untuk bersenang-senang dengan perempuan lain. Mataku mulai nyalang, dan kembali kumulai proses membuka pintu itu lagi, berharap kali ini buah-buah ide itu berada di dahan rendah hingga aku bisa memetiknya.

Panas menyeruak saat aku membuka pintu. Bau pantai. Musik Hawaii. Buah Nanas. Pasir putih. Bentangan kain di atasnya dengan sebuah payung menancap. Di sebelahnya, sebuah kotak berisi minuman dingin. Ada dua judul buku tergeletak. Pandanganku agak buram hingga kusadari aku mengenakan kaca mata hitam. Angin pantai berdesir menyentuh kulitku yang telanjang. Oh, kali ini aku memakai bikini. Dengan santai, kubaringkan tubuhku di atas kain itu. Rasanya damai berada di pantai sepi ini. Debur ombak seperti lagu nina bobo yang pelan-pelan menyuruhku untuk terlelap.

Tapi, tiba-tiba air bergulung seperti naga laut yang hendak menerkam, menjulang tinggi sekali.

Tsunami datang!!!

Hang Lekir, 4/23/2009 8:33:50 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s