The Vampire Admirer

Benda oranye bundar itu hanya beberapa meter dari kepalanya sebelum Gita sempat mengelak. Dengan kecepatan 5 meter per sekon, bola basket itu dengan sukses menghantamnya. Limbung, gadis itu mencoba untuk menyeimbangkan tubuhnya. Tetapi, menghadapi kombinasi terik, hantaman bola dengan massa 650 gram berkecepatan 5 m/s, dan lambung menyalak-nyalak minta diisi, tubuh gadis itu tak dapat melawan. Gita pingsan di tempat.

Siang itu, Gita baru saja kembali dari ruang guru. Ia membantu Bu Ratri membawakan gulungan-gulungan poster untuk pelajaran biologi. Kenapa Gita dan bukan cowok-cowok? Yah mudah ditebak…Gita memang murid kesayangan bu Ratri. Jadi, dia yang disuruh membawakan poster-poster berisi gambar organ tubuh manusia untuk sistem pencernaan dan sistem pernafasan itu.

Terik matahari jam pelajaran ke 7-8 bukanlah sesuatu yang pantas dilawan gadis-takut-item macam Gita. Tetapi, bagi cowok-cowok kelas tiga yang bergerombol di tengah lapangan itu lain lagi. Guru nggak masuk dijadikan kesempatan untuk maen basket! Sebenarnya Gita malas jika harus menyeberangi lapangan untuk mencapai ruang guru. Tapi mau bagaimana lagi? Bu Ratri yang memintanya! Ia nggak mungkin menolak, kan? Selesai menyimpan gulungan kertas itu di meja Bu Ratri, Gita menyeberang lapangan sendirian.

Nah, pada saat itulah Aldi, salah satu anak kelas 3 itu, dengan isengnya menendang bola basket–yang bukan kodratnya untuk ditendang, meluncur di udara membentuk kurva parabola dengan rumus fungsi kuadrat f(x) = -x² + 4x + 5, berhenti di koordinat (4,5) tempat kepala Gita berada.

Begitu bangun, Gita sudah berada di koridor depan kelas Aldi. Seseorang yang takjub dan kagum pada konsep pertolongan pertama CPR, telah bersiap melakukan pernafasan buatan. Untungnya, sebelum itu terjadi Gita sudah keburu bangun. Sial bagi petugas PMR (Palang Merah Remaja) dadakan itu. Sekitar delapan cowok mengerubutinya, menatapnya antusias dan takjub seolah-olah Gita kado ulangtahun. Situasi ganjil itu bertahan beberapa detik hingga suara Aldi melenyapkan kesunyian.

“Eh, kamu nggak apa-apa kan?”tanyanya. Pandangannya masih berkunang-kunang, jadi wajah Aldi belum bisa dilihatnya dengan jelas. Gita menggeleng.

“Maafin gue, ya? Tadi gue iseng aja nendang bola itu. Taunya malah kena kamu! Eh, nama kamu siapa? Gue Aldi!”

Gita sempat mengerutkan keningnya dengan ganjilnya pemakaian gue-kamu yang digunakan Aldi, lalu menjawab: “Gita!”

“Gita, maafin gue ya! Gue mau lakuin apa aja buat nebus kesalahan gue tadi! Apa aja! Kamu tinggal bilang! Sori ya….kamu nggak apa-apa kan? Mau gue anter ke UKS atau ke kelas?”

Gita yang masih jetlag pasca ditimpuk bola basket belum merasakan emosi apapun. Ia nggak marah, ga berbunga-bunga karena diajakin cowok ganteng kenalan. Nggak, belum, Gita belum merasakan apapun. Jadi dia menurut saja saat Aldi memapahnya menuju kelas.

Tiba-tiba ia merasa bagaikan Isabella Swan sedang dipapah Edward Cullen.

***

Kelas masih kosong saat Gita datang pagi itu. Tadi dia numpang mobil ayahnya yang bertugas ke luar kota, jadi jam enam lebih seperempat ia sudah ada di sekolah. Setelah menyimpan ransel di mejanya, ia keluar kelas dan duduk di bangku semen di koridor depan kelasnya sambil membaca New Moon.

Novel kedua dari Twilight saga itu milik taman bacaan yang terletak di dekat sekolahnya. Hari ini, buku ini harus dikembalikan dan Gita belum selesai membacanya. Ia membalik halaman 218 saat sebuah suara memanggil namanya.

“Pagi Gita!”

Gita menoleh ke arah sumber suara. Rasanya familiar, tapi liat di mana ya?

“Gimana kepalanya masih sakit?”

Ah…cowok kelas tiga itu. Gita tersenyum sekilas, lalu kembali pada bacaannya.

“Lagi baca apa sih? Asik banget kayaknya.”

“Ini!” jawab Gita sambil memperlihatkan cover bukunya dan kembali membaca.

“Novel?”

“Iya.”

“Tentang apa?”

“Vampir.”

“Oh.”

“Suka vampir?”

“Uhm…lumayan.”

“Gue juga. Gue punya banyak koleksi buku tentang vampir. Bram Stoker, Anne Rice, sebut aja! Udah pernah nonton Interview With Vampire?”

Aldi berhasil ngambil seluruh perhatian Gita dari New Moon. Cerita Aldi tentang sejarah para vampire dan drakula memesonanya. Gita tak pernah tahu bahwa drakula berasal dari imajinasi Bram Stoker. Penulis itu menciptakan tokoh Drakula terinspirasi dari kesadisan seorang Pangeran Transylvania. Namanya Vlad Tepes II. Kekejamannya pada tawanan perang membuatnya menyandang predikat Drakulya, atau naga dalam bahasa Rumania. Mereka terus mengobrol hingga bel masuk berbunyi. Rasanya Gita tak ingin meninggalkan pembicaraan itu. Aldi sungguh pintar bercerita. Kini New Moon ia abaikan sepenuhnya.

“Hei, kita harus masuk kelas.” Ujar Aldi.

“Boleh nggak kita ngobrol lagi, nanti?” Gita setengah memohon.

“Nanti kita pulang bareng aja.”

“Emang rumah kita searah ya?”

“Hahaha..enggak tau sih. Rumah kamu di mana?”

“Di Jalan Papandayan.”

“Hmmm…gampang lah.”

“Rumah kamu dimana?”

“Di Leles.” Jawab Aldi, Jalan Papandayan terletak di tengah kota Garut, sementara Leles hampir mendekati Bandung. Sekolah mereka di Tarogong, di tengah-tengah antara Garut kota dan Leles.

“Yah…itu kan enggak searah. Kalau kamu nganterin aku dulu nanti pulangnya makin jauh dong!”

“Tenang lah…bawa motor da! Atau nanti istirahat ke sini lagi deh!”

“Hmmm…oke.”

Gita digumul resah. Ia tak dapat menunggu sampai jam sembilan. Ia ingin bertemu Aldi segera. Dan keinginan itu, ia tak yakin apakah disebabkan oleh cerita-cerita Aldi, ataukah karena Aldi. Lalu percikan itu muncul, menggelitik perutnya. Benaknya hanya terpusat pada vampir, dan Aldi. Dan Aldi. Dan Aldi.

Aduh.

Sepotong kapur mampir di kepalanya. Gita gelagapan.

“Wagiono, Arman! Ngobrol terus kerjaannya. Keluar kalian!” Bu Ami, guru geografi yang terkenal killer, menunjuk teman Gita yang duduk di belakang.

Jantung Gita masih berdebar-debar karena dilempar kapur salah alamat, teman-temannya menahan tawa atas kesialannya itu. Tetapi Gita tak dapat mencerna apapun, karena pikirannya tak bisa lepas dari Aldi. Sungguh aneh. Ia tak pernah begitu sebelumnya.

Aldi menepati janjinya. Ia telah berada di depan kelas 2-3 saat Gita keluar untuk istirahat.

“Nih!” Aldi memberikan seplastik gorengan untuk Gita. “Kita mau ngobrolin vampir kan, kalau di kantin berisik. Kita cuma punya waktu setengah jam.” Ujar Aldi seolah-olah hendak bersekongkol tentang sesuatu.

“Wah, makasih.”

“Ke hutan belakang sekolah yu!”

Yang dimaksud hutan belakang sekolah hanyalah kebun siswa tempat mereka menanam palawija dan tumbuhan obat. Tempat itu jarang dikunjungi, tak banyak murid yang senang becocok tanam, bahkan untuk bertemu diam-diam.

Gita mengekor waktu Aldi berjalan menuju hutan belakang. Cewek-cewek kelas tiga memperhatikan mereka berjalan. Tampaknya Aldi cukup populer di kelas tiga. Bukan, Aldi memang populer. Hanya saja Gita tidak tahu.

“Jadi, kenapa suka sama vampir?” Tanya Aldi saat mereka mendapatkan posisi nyaman untuk duduk.

“Kenapa suka vampir? Hmmm…nggak tau sih. Karena mereka makhluk misterius. Perpaduan monster dan keindahan?”

“Keindahan?”

“Ya…mereka selalu digambarkan cantik sempurna. Mereka abadi. Mereka kuat. Semacam super hero, eh…super villain kali ya? Mereka makhluk yang kontradiktif. Waktu kecil kita diajarkan bahwa kecantikan selalu berasosiasi dengan kebaikan, tapi bukankah vampir membawa bencana? Mereka minum darah manusia. Vampir makhluk yang abu-abu, bukan hitam putih.”

“Dalem juga pandanganmu ya?”

“Hahaha enggak juga sih, cuma karena Edward Cullen aja.”

“Edward Cu…?”

“Edward Cullen…ah vampir ganteeeeeng!” Gita mulai berkhayal. “Tapi Edward Cullen vampir vegetarian. Dia enggak minum darah manusia, tapi darah binatang.”

“Kalau vegetarian minumnya getah pohon dong harusnya!” komentar Aldi.

Gita tergelak dan memukul lengan Aldi pelan.

“Kalau gue, cocok jadi vampir enggak?”

“Enggak…pipi kamu masih bisa merah. Dan napas kamu masih hangat. Kamu harus mati baru cocok jadi vampir.”

“Masa sih?”

“Iy…” Gita tidak meneruskan perkataannya karena saat ia menoleh, wajah Aldi hanya satu senti di depannya.

***

Gita mencintai vampir seperti ia mencintai Aldi. Tanpa vampir, ia takkan sedekat ini dengan Aldi. Dan ia sangat berterimakasih kepada bola basket yang telah menghantam kepalanya itu. Tanpanya ia takkan mengenal Aldi. Jika ini momen penganugerahan penghargaan Oscar, iapun akan berterimakasih pada hutan belakang sekolah, karena di situlah ciuman pertamanya terjadi.

Baginya Aldi belahan jiwa. Aldi adalah Edward Cullennya. Bahkan lebih baik, karena Aldi hidup dan bernapas, tidak minum darah. Yang harus ia lakukan adalah, membahasakan cinta itu, mengungkapkannya. Membaginya, menjadikannya nyata.

Menjadikannya nyata.

Menjadikannya nyata.

Ide itu bergaung lima senti di atas kepalanya. Bagaimana?

Ia mencoba tetapi tak pernah menemukan waktu yang tepat, atau keberanian tidak datang saat ada waktu yang tepat. Ataukah tidak perlu diucapkan? Apakah ciuman tanda sebuah komitmen?

Gita urung berkata saat tangannya erat memeluk pinggang Aldi di atas motor bebeknya. Juga saat mereka menikmati satu skup es krim yang mereka beli di Toko Kue Panghegar di Jalan Ahmad Yani. Tidak pula ia lakukan saat mereka menyengajakan diri ke Bandung untuk menonton film Twilight karena bioskop di Garut tidak memutar film produksi Hollywood. Ataupun hari-hari sepulang sekolah saat Aldi mampir ke rumah Gita dan menikmati segelas nutrisari.

Dan Aldi, tak kunjung mengatakannya juga.

Apakah pernyataan cinta itu penting?

Waktu terus berlalu, hanya menghitung minggu menuju kelulusan. Aldi mulai jarang mengantarnya pulang karena harus mengikuti pelajaran tambahan. Saat tiba waktunya Ujian Nasional, Gita bahkan tak pernah bertemu Aldi. Tak ada telepon maupun SMS. Begitu nyerindu hatinya.

Gita melihatnya lagi saat pekan olah raga dan seni seminggu setelah UAS, bermain basket melawan tim 2-8. Ah, dia hampir seagung, seanggun dan semenawan Edward Cullen, pikir Gita saat menatap Aldi mendribel bola, membawanya melewati cowok-cowok jangkung kelas 2-8 dan menembaknya ke dalam keranjang.

Gita memutuskan akan mengatakannya hari ini. Segera. Setelah mereka selesai bermain.

Ia percaya diri saat mendekati kerumunan teman-teman Aldi dan memberikan sebotol air mineral kepadanya.

“Hai, boleh kuculik bentar?” pintanya. Gerombolan itu seketika meriuh dengan siulan dan teriakan menggoda. “Maaf ya!” kata Gita sambil menarik Aldi pergi dari kawan-kawannya. Pipinya terasa panas. Jika bercermin, pasti wajahnya merah.

“Ada apa sih?” Tanya Aldi setelah Gita mendapatkan tempat yang cukup sepi untuk bicara. Ia tampak gusar.

“Aku kangen.”

Aldi tidak bereaksi, ia tampak tak sabar menanti Gita menyampaikan musabab mereka berada di sini.

“Aku ngerti kemaren kamu sibuk, stress juga ngadepin UN. Jadi aku enggak mau gangguin kamu. Tapi sekarang, aku bener-bener kangen. Sangat kangen sampai berani menculik kamu dari temen-temen kamu kayak barusan.”

Aldi masih diam, belum menganggap perkataan Gita sebagai alasan yang kuat untuk membawanya pergi.

“Di, kok diem aja? Kamu enggak kangen sama aku?”

“Kangen, tapi….”

“Tapi?”

“Gue ga suka kamu narik gue begitu aja dari temen-temen gue. Mereka bisa mikir macem-macem.”

“Macem-macem maksudnya?”

“Mereka bisa mikir kalau kita pacaran.”

“Kita emang enggak pacaran kan?” Tanya Gita hati-hati.

“Emang enggak.”

“Ya udah biar enggak jadi fitnah begitu, gimana kalau kita pacaran beneran?” Gita menahan napas setelah mengatakan kalimat terakhirnya. Butuh energi besar untuk akhirnya mengungkapkan itu, ia merasa sangat lemah lunglai.

“Maksudnya?”

“Aku sayang sama kamu, gimana kalau kita pacaran aja?”

Aldi tampak terpukul dan bimbang. Ia menghindari kontak mata dengan Gita.

“Git, Gita kamu ga serius kan?”

Oke. Kali ini Gita merasa apa yang baru dilakukannya adalah sebuah kesalahan besar.

“A..aku…!”

“Gue pikir kita cuma temenan, Git.”

“Tapi kamu nyium aku!”

“Maaf, itu ga seharusnya terjadi. Kamu di situ, dan tampak sangat menawan, aku khilaf. Itu ga seharusnya terjadi.”

“Tapi, apa kamu, enggak punya perasaan apapun sama aku?”

“Gue suka sama kamu. Tapi ga cukup buat mencintai kamu dan jadiin kamu cewek gue. Maaf, maaf banget, ga seharusnya gue ngelakuin itu semua. Gue udah punya pacar, Git! Maaf….”

“Di….”

“Maaf.” Aldi menggenggam tangan Gita sebelum pergi dan kembali pada teman-temannya.

Gita mengikuti Aldi ke pinggir lapangan dengan langkah terseret, seakan-akan seorang vampir baru menggigit lehernya. Racunnya menyebar ke seluruh tubuhnya. Darahnya terinfeksi. Betapa seakan semuanya runtuh, harapannya luruh, dan apa  yang telah ia yakini selama ini tak dapat lagi ia percaya. Dan saat pikirannya lengah, sebuah benda bundar berwarna oranye kembali menghantamnya.

Depok, 12/14/2008 7:14:28 PM

Advertisements

3 thoughts on “The Vampire Admirer

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s