Jodoh

Gadis mana pun yang mengaku waras tentu akan pergi jauh-jauh dari pria-pria seperti ini:

  1. Pria yang sedang patah hati ditinggal kekasihnya.
  2. Pria asing yang ditemui di sebuah pantai perawan nan sepi. Sendirian. Sedang menggambar cinta di pasir dengan inisial namanya dan nama sang kekasih, lalu membiarkan ombak menyapunya dengan pasrah.
  3. Pria yang mengajakmu berkenalan dan mengatakan hal-hal gombal padamu setelah melakukan poin 2 (dua). Dua dalam tanda kurung harus ditambahkan untuk menghindari seseorang menambahkan angka nol setelahnya. Walau kupikir tak ada pentingnya juga.

Permasalahannya adalah, aku lupa kapan aku menjadi waras. Jadi, saat aku berjalan sendirian, memisahkan diri dari rombongan keluargaku yang asyik merecah bekal piknik di atas tikar di atas pasir putih dan bertemu dengan lelaki yang tengah sendirian melukis cinta di pasir yang basah dan tampak kaget saat tepergok olehku sedang melukis cinta dan inisial namanya dan nama perempuan (yang kemudian disapu ombak yang ganas), aku langsung membalas sapaannya.

Lelaki itu menyapaku dengan salah tingkah, dan tampak teramat lega saat ombak itu menyapu lukisan cinta dan inisial namanya.

“Uhm, ehm, eh, sudah lama berdiri di situ?” tanyanya.

“Sejak kamu menorehkan garis pertamamu dengan ranting.” Aku menjawab. Dengan teori-teori adiluhung tentang hubungan pria-wanita di kepalaku, otakku telah memerintahkanku untuk minggat dari tempat itu dan meneruskan perjalananku yang tak tentu arah ini. Tetapi seperti kubilang tadi, aku lupa kapan aku menjadi waras. Maka sejak dia menorehkan garis pertamanya di pasir basah kehitaman yang berkilauan itu, aku berdiri memperhatikannya, tanpa suara. Dan mengingat pasir di sini berwarna hitam berkilau – tandanya mengandung banyak besi, berarti aku sudah berjalan cukup jauh dari rombongan keluargaku, yang berada di sisi lain pantai ini, yang pasirnya putih bersih.

“Ehm, ehh, aku iseng saja melukis itu,” jelasnya. Hal yang sebenarnya tak perlu dijelaskan pada seorang gadis asing yang baru kau temui. Aku tidak menanggapinya. Dia bolak-balik menatap langit dan wajahku, sampai lima kali, dengan kening berkerut seperti dilanda kebingungan.

“Sayapmu mana?” Dia kembali bertanya.

Aku menoleh ke kanan dan kiriku untuk memeriksa keberadaan sayap di punggungku. “Euh? Sayap apa?”

Kini dia berjalan mengelilingiku. Memeriksa punggungku. “Sayap, sayap untuk terbang. Sayap putih?” Dia kembali menjelaskan. “Atau, kalau bukan sayap, selendang. Mana selendangmu?”

“Selendang apa?” Seperti orang bodoh, aku kembali memeriksa keadaan tubuhku. Saat itu aku mengenakan gaun pantai selutut berwarna putih. Rambutku digerai dan berkibar-kibar ditiup angin. Sebuah kacamata hitam terselip di tengah-tengah dadaku.

“Bukankah kamu bidadari?” tanyanya.

Sampai pada bagian itu, apakah kalian sudah cukup bingung? Kira-kira, apakah aku akan bercerita soal bidadari nan rupawan yang bertemu dengan pria idiot yang menuliskan inisial namanya dan nama seorang perempuan dalam lukisan hati super besar di atas pasir dan menuliskannya di tempat yang terjangkau ombak hingga dengan mudah tersaput air?

Mari kita kembali pada kalimat pertama cerita ini. Gadis mana pun yang mengaku waras tentu akan pergi jauh-jauh dari pria-pria seperti ini. Kenapa aku menuliskan kalimat itu? Biar kujelaskan. Andai ada di antara kalian yang masih awam soal percintaan. Buat kalian yang merasa sudah ahli, boleh melewatkan tiga paragraf di bawah ini.

Kecenderungan orang patah hati adalah emosi yang labil dan meledak-ledak. Perasaan bisa berubah dalam sekejap. Terkadang, mereka bisa menjadi sangat optimis dan percaya diri, tetapi pada saat lain, mereka akan mengurung diri di lemari, merasa jadi orang paling malang yang tidak layak dicintai siapa pun. Untuk orang-orang dengan kadar drama yang tinggi, keadaan ini bisa menyebabkan psikotis.

Hati-hati dengan mereka, orang-orang patah hati ini, karena mereka punya energi tak terbatas untuk curhat. Di mana-mana. Kapan pun. Pada siapa pun. Dengan objek yang konsisten, dan cerita yang hampir sama. Dia bisa merepet berulang-ulang seperti kaset rusak dan tidak menyadari kalau mereka mengulang-ngulang cerita yang sama. Mereka juga cenderung impulsif. Dia bisa mendapukmu sebagai wanita yang sempurna, hanya karena kamu bersedia mendengar curhat mereka dengan senang hati.

Jadi, kalau kalian merasa kalau mendengarkan curhat orang patah hati adalah buang-buang waktu, dan dijadikan pelarian itu tidak ada gunanya, sudah pasti kalau kalian harus menjauhi kriteria lelaki seperti yang aku sebutkan di atas. Apalagi kalau kalian adalah para gadis yang mengaku waras.

Nah, karena aku, sudah lupa bagaimana rasanya menjadi waras, kuteruskan pembicaraan di tepi pantai itu.

“Bidadari? Bukan. Aku bukan bidadari.”

“Kupikir kamu Nawangwulan. Memang agak-agak mengagetkan, sih, kalau Nawangwulan muncul di pantai. Bukannya dia biasa mandi di mata air di tengah hutan?” tanyanya. “Kupikir kamu bidadari bersayap putih. Tetapi aku tak bisa menemukan sayapmu. Kupikir kamu jatuh dari langit, tapi aku tidak menemukan lubang apa pun di sana. Jadi kamu itu apa? Semacam peri? Kupikir tidak ada peri sebesar kamu. Dan kupikir peri tidak keluar pada saat matahari masih bersinar seperti ini. Jadi kamu itu apa?”

“Aku? Aku orang. Seorang gadis.”

“Kupikir juga begitu. Tetapi kupikir-pikir lagi, mana ada seorang gadis jalan-jalan sendirian di pantai sepi seperti ini. Apalagi pantai yang tidak dikunjungi banyak orang begini. Tidakkah kamu lihat jejak-jejak kaki di pasir? Itu jejak kaki serigala. Kadang-kadang ada satu dua yang keluar saat matahari masih bersinar. Apalagi sebentar lagi senja. Memangnya kamu tidak takut?”

“Serigala? Aku tak tahu kalau di sini ada serigala.”

“Kamu lihat di sekeliling kamu, kan? Hutan. Tempat ini berbahaya bagi seorang gadis berjalan-jalan sendirian.”

“Tetapi tempat ini sangat indah. Dan kamu bisa leluasa melukis cinta dengan namamu dan nama kekasihmu di dalamnya, tanpa ada orang yang melihat. Yah, kecuali jika ada seorang gadis yang tidak menyadari kalau dirinya tersesat dan tak tahu ke mana arah kembali ke tempat keluarganya.”

“Siapa namamu?”

“Kalamiya.”

“Aku Angga. Mau kuantar ke tempat keluargamu?”

Aku mengangguk. “Mereka sedang memakan bekal piknik di pasir putih.”

Kami meninggalkan bekas lukisan cinta dan inisial namanya dan nama kekasihnya yang sudah rata tersapu ombak. Dia berjalan di sebelahku, mulai bercerita tentang kekasihnya yang pergi.

“Lalu dia pergi begitu saja, melupakan kesepakatan kami, tiba-tiba menggandeng pria lain. Dan itulah sebabnya aku berada di tepi pantai ini sendirian. Melukis cinta. Dengan inisial namaku dan namanya. Sudah hampir satu minggu aku di sini. Menjauh dari keramaian, mencari ketenangan jiwa. Tetapi ingatan itu ternyata lebih hebat dari alat pelacak mana pun. Bahkan di sini pun, di pantai perawan yang sepi, yang tidak ada dia, yang sinyal telepon genggam sulit masuk, yang jauh dari peradaban, yang listriknya belum merata, yang masih sangat sederhana, ingatan tetap bisa mengikutiku. Padahal sudah kutinggalkan ia di kota. Di Jakarta sana.”

“Cukup menyedihkan,” komentarku.

Kutemukan keluargaku selesai dia bercerita. Perutku keroncongan, dan mereka tampak mulai membereskan bekal mereka. Wajah-wajah orang dewasa tampak cemas, tapi kekhawatiran itu berganti saat mereka melihatku datang.

“Dari mana saja kamu? Kami khawatir. Sudah hampir senja. Kita harus pulang. Tak ada penerangan di jalan menuju hotel kita. Kita harus bergegas.” Tampang mereka seperti ingin mengurungku agar aku tidak jalan-jalan sembarangan seperti tadi.

Aku dan Angga berpisah sore itu. Dia menunjuk sebuah pondok yang terlihat mungil dari jarak pandang kami. Katanya dia tinggal di sana selama seminggu ini, dan berencana kembali ke Jakarta dua hari lagi. Kami tidak bertukar nomer telepon, karena dia tidak mengingat nomer teleponnya dan dia berkata padaku kalau dia pun mungkin tidak bisa mengingat nomer teleponku. Jadi kami berjanji, kalau kami berniat, semesta yang akan menjawab keinginan kami untuk bertemu.

Tentu saja aku tidak waras dengan berharap akan bertemu lagi dengan Angga. Tetapi kalian para pembaca, tentu berharap kalau cerita ini tidak berakhir di sini. Bahwa Kalamiya dan Angga akan bertemu di Jakarta dengan cara yang tidak disangka-sangka. Bagaimana kalian ingin kami bertemu kembali? Drama seperti apa yang kalian harapkan?

Tentu, kami memang bertemu lagi. Kalau tidak, ceritanya sudah berakhir sejak aku bertemu keluargaku. Tetapi kemudian, kalian akan kecewa dan bertanya, lalu inti cerita ini apa? Apa konfliknya? Mengapa si penulis cerita ini berani-beraninya membuang waktu kami yang berharga untuk membaca sesuatu yang tidak membuat kami puas?

Baik. Pertama akan kuceritakan dulu pertemuanku dengan Anthi. Dia seorang penyanyi. Kalian tidak akan mengenalnya, kecuali kalau kalian adalah pengunjung tetap Kafe Citronella setiap Jumat malam. Pada hari Jumat itu, kawanku yang pemilik kafe, memperkenalkanku padanya. Namanya seperti akrab. Tetapi, siapa ya dia?

Selepas tiga lagu di panggung, Anthi bergabung di mejaku. Lalu kami bertiga mengobrol seru tentang hal-hal penting dan hal-hal tidak penting. Tentang cicak-cicak dan buaya-buaya. Tentang pemadaman bergilir. Tentang rekaman pembicaraan hasil menyadap telepon seseorang. Tentang Anang yang sedang mencari istri baru. Tentang Yulianto yang masih diragukan keberadaannya. Tentang berbagai macam hal, tentang cinta. Tiba-tiba saja Anthi bercerita. Mungkin dia termasuk golongan patah hati yang kusebutkan di atas tadi, berkecenderungan untuk curhat colongan. Lalu tersebutlah sebuah nama. Angga.

“Lelaki itu enggak waras. Makanya aku males deket-deket sama dia,” katanya menutup cerita. “Aku bilang saja padanya kalau aku sudah bertemu lelaki lain. Biar dia berhenti mengejar-ngejarku.”
“Memang tidak warasnya seperti apa?” tanyaku, yang masih merasa kalau penjelasan tidak warasnya masih belum jelas.

“Sebenarnya dia cukup menyenangkan sebagai lelaki. Gentleman. Berduit. Ganteng. Senyumnya manis. Ciumannya dahsyat. Tetapi aku paling tidak tahan kalau dia sudah menyebut-nyebut bidadari di sebuah pantai perawan.”

“Maksudmu?” Bidadari di sebuah pantai perawan ini mengingatkanku pada sesuatu. Bukankah Angga yang kutemui di pantai saat berlibur dengan keluargaku itu menyangka aku bidadari?

“Ya begitu. Dia bilang dia tidak pernah bertemu perempuan ini. Perempuan bidadari itu selalu datang di mimpinya dan dia yakin kalau perempuan itu adalah jodoh yang dipilihkan Tuhan untuknya. Dia berkata padaku kalau aku mirip sekali dengan perempuan di mimpinya, tetapi dia masih belum yakin. Jadi dia masih terus-terusan bercerita tentang bidadari yang muncul di mimpinya hampir setiap malam itu. Lama-lama aku merasa diduakan karena dia selalu bercerita tentang perempuan lain. Fiktif pula. Lalu kuputuskan saja dia. Dia tidak terima aku memutuskannya, dia bilang dia mencintaiku. Dan perempuan dalam mimpinya mungkin hanyalah bunga tidur belaka. Tetapi aku capek mendengar dia terus-terusan cerita soal bidadari itu. Aku perempuan biasa, aku tak sudi diduakan.”

“Lalu apa yang terjadi?” tanyaku dengan dada berdegup kencang.

“Dia pergi. Meninggalkan perusahaannya sejenak untuk menenangkan diri. Dia bilang dia ingin melupakanku, dan melupakan mimpi-mimpinya tentang bidadari. Kubilang silakan saja. Tetapi jangan kembali padaku nanti, karena aku sudah lelah menghadapi dia.”

“Kemana dia pergi?” Harap-harap cemasku semakin menjadi.

“Pantai perawan di Karang Paranje. Di mana pantai dengan pasir putih dan pasir hitam berdekatan hingga kau bisa menyusurinya berjalan kaki.”

Aku terkesiap.

“Apakah kamu tahu di mana dia sekarang?” Aku tak bisa menahan diri untuk bertanya.
“Kami sudah tidak saling berhubungan lagi. Dan aku juga sudah tak peduli pada apa yang dilakukannya.”

“Tapi kamu masih menyimpan nomer teleponnya, kan?” Oke. Aku tak sadar menanyakan hal itu. Aku memang terlalu antusias. Anthi memicingkan matanya menatapku, tampak curiga. Aku menyetel wajahku setidak peduli mungkin.

“Masih, kenapa?”

“Tadi kamu bilang dia punya usaha percetakan digital?”

“Iya.”

“Ehm, aku. Eh, kebetulan lagi nyari tempat buat nyetak brosur. Kali aja cocok. Masih punya nomernya, kan? Aku boleh minta?” Apakah caraku berkilah sudah cukup canggih?

“Datengin aja kantornya, Kal!” Anthi menawarkan ide cemerlang. Setelah menyesap minumannya, dia mencorat-coret kertas tisu menuliskan alamat dan nomer telepon Angga.

———————
Seorang penulis Brazil pernah bilang kalau semesta akan berkonspirasi untuk mewujudkan legenda pribadimu. Maka, semesta pulalah yang mengantarkan sepasang kakiku di atas keset sabut bertuliskan Welcome itu. Aku membersihkan sol sepatuku di atasnya dan menekan bel yang berada di kusen pintu dengan jantung berdebar. Aku tak tahu, semesta sedang mewujudkan legenda pribadi siapa. Yang pasti, mungkin saja ini gerbang masuk menuju legenda pribadiku.

Seorang karyawan wanita membukakan pintu. Gadis itu masih muda, mengenakan seragam berwarna abu-abu tua dengan oranye mencolok pada kedua lengannya. Aku langsung menanyakan Angga, dan dia bilang kalau bosnya itu baru akan datang pukul sebelas. Dia mempersilahkanku duduk di sebuah sofa panjang berwarna hijau lumut yang sudah tua dan kumal karena terlalu sering diduduki. Masih setengah jam lagi sampai jam sebelas.

Aku menunggu dengan sabar. Membaca habis koran hari itu, bahkan sampai iklan-iklan terkecilnya, tetapi dia belum juga datang. Jam dua belas siang, tak ada tanda-tanda bos Angga datang. Kusandarkan kepalaku ke belakang sofa, lalu ketiduran.

Mataku terbuka karena merasakan sengatan tajam ke arahku. Aku terkesiap dan bangun dengan heboh saat menyadari sekelilingku. Ini bukan kamarku, bukan ranjangku. Leherku pegal. Jam berapa ini? Setengah satu. Perutku keroncongan. Sedang apa aku di sini? Celingak celinguk. Kanan, kiri, depan.
Depan.

Di seberangku, berjejer kursi tunggu. Di salah satu kursi hijau limau itu dia duduk. Memandangiku. Tersenyum. Tertawa saat melihat aku bangun dengan panik. Kurapikan rambutku, mengucek mata, memeriksa belek, mengusap muka. Ah, pasti di pipiku ada guratan bekas lipatan sofa. Dia bangkit, melangkah mendekatiku.

“Bidadari,” kata pertamanya. “Kalamiya,” katanya lagi. Aku menyeringai.

“Kok kamu bisa ada di sini, sih?”

“Ada peri membimbingku.”

“Kata Sinta kamu sudah menungguku selama dua jam.”

Aku menyeringai lagi. Kali ini malu. Ah, jangan-jangan dia tidak menganggap pertemuan di pantai itu istimewa. Siapa tahu informasi Anthi tentang bidadari itu hanya omong kosong dan kedatanganku ke sini hanyalah harapan hampa. Tapi, bukannya aku memang tidak waras? Anggap saja ini salah satu kegiatan normal orang yang tidak waras. Ah gila!

“Kamu memang semacam bidadari, atau Nawangwulan, atau peri. Atau Harry Potter. Bagaimana bisa kau menemukanku? Padahal aku baru saja memulai mencarimu. Google tidak begitu membantu. Namamu tidak ada di facebook. Tidak ada informasi apa pun.”

“Tidak penting bagaimana caranya, bukankah aku sudah menemukanmu?”

“Kalau begitu, kita harus mulai kenalan cara kota.”

“Hahaha, bagaimana?”

“Dimulai dengan tukeran nomer telepon misalnya?”

Kami tertawa bersama.

Depok |11/17/2009 8:26:22 PM

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. della says:

    So sweet, Kak 😀
    Akhirnya, ada juga yang ending-nya bikin senyum-senyum iri, alih-alih terkesiap atau mata berkaca-kaca :p

  2. Wahh non jia plng kreatif dehh.Byk ide nya.Biasany dpt ide super bagus beginian dr mn mbak??

    1. Jia says:

      aku nulis cerpen ini di angkot pas pulang dari kantor, nulisnya pun di hape…. hihihi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s