Something Stupid

And then I go and spoiled it all by saying something stupid like I love you.

Saya memindahkan channel radio secepatnya. Bukan jenis musik yang saya suka, dan saya benci liriknya. Benci karena itu benar. Mungkin saya memang telah mengacaukan segalanya dengan mengatakan sesuatu yang bodoh. Benak saya kembali ke waktu dua hari lalu. Hari jumat, sepulang sekolah. Kata-kata terakhirnya adalah: “Mmm, beri aku waktu untuk berpikir, ya. Aku akan menjawabmu hari Senin.”

Kami berteman dekat.

Dia duduk di persis di depan saya. Dan kami sering mengobrol saat guru hanya memberikan tugas; sesuatu untuk dicatat, atau beberapa soal untuk dipecahkan. Saya suka tawanya, renyah dan membuatku seperti sedang menjilati madu. Bagaimana mungkin suara tawanya mengingatkanku pada madu? Dan senyumnya, senyuman dari bibirnya itu, seolah dapat melelehkan gunung es. Seharusnya dia jangan sering-sering tersenyum. Bahaya. Dunia bisa mencair. Dan matanya, cemerlang, selalu menyimpan gagasan-gagasan yang tak terpikirkan oleh saya sebelumnya. Tulisan tangannya bagus, dan puisi-puisinya. Oh Tuhan, bagaimana bisa Engkau menciptakan gadis sesempurna ini? Dengan raga yang membuat saya tak dapat berkedip saat menatapnya, mulut yang membuat telinga saya mendengar alunan musik indah saat berbicara, dan kemampuan berkata-kata halus dan puitis.

Pernah, salah satu kakak kelas mendatanginya. Saya sudah siap dengan perisai untuk melindunginya, andaikata kakak-kakak ini bermaksud untuk menggencetnya. Tetapi tidak, mereka datang membawa secarik kertas, diutus oleh guru bahasa Indonesia, untuk menelaah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik dari puisi yang dia tulis. Dia melayani mereka dengan senyumannya yang sama. Sudah saya bilang, seharusnya dia tidak tersenyum. Senyumannya dapat mengakibatkan global warming.

Dia mengaku, sayalah teman pria satu-satunya. Dia pemalu, tidak berkawan dengan lawan jenis. Walaupun dia tidak pernah gentar setiap kali pelajaran bahasa Indonesia dan dia didaulat untuk membaca puisi. Mungkin karena kami semua merasa punya kambing hitam untuk masalah itu. Dia bilang, setiap kali pelajaran puisi, sejak SD, selalu dia yang dikorbankan teman-temannya untuk maju ke depan kelas. Dan dia selalu melakukannya dengan senang hati, walaupun seringnya dia menolak, untuk alasan yang tak dikatakannya: malu kalau terlihat terlalu antusias. Hanya saat membaca puisi dia menemukan dirinya, dan saat mengobrol bersama saya. Teman prianya yang pertama, dan satu-satunya. Boleh kan kalau saya bangga?

Maka pemikiran itu yang membuat saya mengacaukan semuanya.

Sepulang sekolah pada hari Jumat itu saya menjejeri langkahnya. Dia sedang berjalan bersebelahan dengan Lia, yang segera menyingkir saat melihat saya. Lia bergabung dengan Donita dan Marini yang sudah berjalan lebih dulu. Dia tampak serba salah saat melihat Lia menyingkir, dan sebagai gantinya, saya yang menjejeri langkahnya.

“Nomer telepon rumah kamu berapa?” tanya saya. Kami tidak pernah berbagi nomer telepon. Pertemuan kami hanya di sekolah. Dia menyebutkan angka-angka itu dengan tampang bingung, lalu menaiki angkot yang akan membawanya pulang.

Saya meneleponnya seusai sholat jumat. Dengan dada yang sesak karena terlalu bersemangat, atau ketakutan, atau penasaran, atau bahagia, semua bercampur. Diaduk-aduk seperti adonan kue. Dia yang mengangkat pada deringan ketiga.

Saya bingung, apa yang harus saya katakan? Ehm, ayo, berani!

“Gi, saya mencintaimu,”

Dia tidak mengatakan apa pun. Tetapi saya bisa mendengar napasnya tertahan dari seberang sana. Apakah dia terkena serangan jantung? Mengapa kini tidak terdengar apa pun? Apakah dia menutup teleponnya?

“Aku tak bisa menjawabnya sekarang. Mmm, beri aku waktu untuk berpikir. Aku akan menjawabmu hari senin.”

Maka senin ditunggu seperti halnya kenaikan kelas, atau ulang tahun, atau sebuah kejutan spesial. Saya akan bersiap untuk hari senin. Yang rasanya seperti seabad. Yang jalannya pelan seperti siput. Satu detik, sedetik lagi, sedetik lagi. Betapa lambannya. Harusnya saya datangi dia ke rumahnya, agar dapat kutuntut jawaban saat itu juga. Tetapi saya tidak tahu di mana rumahnya.

Padahal, apakah cinta butuh jawaban? Bertepuk sebelah tangan pun, namanya tetap cinta.

Tujuh jam pelajaran berlalu dalam siksa batin. Hampir seharian senin itu, mata saya lebih tertuju pada rambut panjangnya yang sepinggang. Lurus tergerai, tak pernah kusut, hitam mengilap. Sambil terus menerus berdoa, oh bidadari, menolehlah sini. Tatap saya. Lihat, di mata saya ada cinta untukmu semata. Tetapi, seharian itu lehernya kaku. Jangankan mengobrol seperti biasanya, untuk menoleh ke arahku pun, dia enggan. Apakah ini artinya…?

“Kita jalani saja dulu. Seperti dulu. Sama seperti waktu kita berteman,” katanya.

Aku bersorak kegirangan. Jika saja gerbang sekolah tidak seramai ini (tentu saja sangat ramai, sekitar tujuh ratus siswa berduyun-duyun memburu gerbang), dan andai saja tak ada Marini yang hanya berjarak sepelemparan batu, saya sudah memeluk Gi dan mengayun-ayunkannya sambil berputar-putar. Senyumku begitu lebar, bahkan mengalahkan seringai kucing Cheshire di Alice in Wonderland. Tak dapat kukatupkan mulutku, yang kubisa hanyalah tersenyum. Dan dada saya penuh, jika meledak, akan berjatuhan permen cahaya yang manis dan lembut saat dikulum.

Dia pergi setelah mengatakan itu.

Dan semuanya berubah sejak saat itu.

Andai saja saya tidak mengatakan hal bodoh itu kepadanya, saya pasti masih berteman dengannya. Saya pasti masih bisa menikmati renyah tawanya, saya masih bisa menikmati senyumnya. Mengapa yang diucapkannya begitu bertolak belakang dengan apa yang dilakukannya?

Dia menghindari saya. Dia bahkan tidak mau berpapasan dengan saya di pintu, memilih kembali ke bangkunya hingga saya menyingkir dari pintu kelas. Dia pindah bangku, di depan saya kini bukan Gi lagi. Dia menolak berbicara dengan saya, sementara seisi pengurus osis dan teman-teman sekelas sudah terlanjur tahu kalau dia kekasih saya. Rasanya muka saya harus didempul setebal mungkin, agar rasa malu saya ini tidak terlalu terasa.

Apakah kau pernah mencintai seseorang begitu besar, hingga kau sangat membencinya? Saya pernah. Saat ini juga. Saat saya dengar acara curahan hati di radio. Suaranya yang merdu itu bercerita kepada sang penyiar: “…Aku ga tau harus bilang apa ke dia. Aku nggak punya perasaan apa pun. Tapi dia temen deket aku, tapi aku ga suka kalau sekarang dia deket-deket. Aku nggak mau temen-temen nganggap kami pacaran. Karena aku enggak cinta sama dia.”

Dia tidak menggunakan nama aslinya. Tetapi saya kenal suaranya. Dan sayalah orang yang dia bicarakan itu. Bagaimana bisa dia setega itu? Mengapa tidak dia katakan saja padaku, kalau dia tidak menginginkanku? Mengapa dia harus mengatakan: Kita jalani saja dulu? Mengapa gadis peri ini memainkan perasaanku? Menghancurkan harapanku? Lalu mempermalukanku di depan semua pendengar radio ini?

Apakah kau pernah mencintai seseorang begitu besar, hingga kau sangat membencinya? Saya pernah. Saat ini juga. Saya berpapasan dengannya di lorong belakang sekolah, bersama pria lain. Tidak dikenal, bukan dari sekolah ini. Mereka tampak bahagia. Dan dia hanya memandang saya sekilas, lalu kembali berpaling seolah saya adalah orang yang tidak penting.

Saya melampiaskan kekesalan saya itu pada bangku-bangku di kelas. Pada dinding rapuh kelas kami. Kutonjoki bertubi-tubi hingga buku tangan saya memerah. Gadis peri itu ternyata monster dari neraka! Perempuan pengkhianat busuk. Bagaimana mungkin saya pernah mencintai perempuan seperti ini? Atau mungkin mantera sihirnya yang telah melenakan saya, hingga saya tak mampu berbuat apa-apa. Larut begitu saja dalam pesonanya.

Perempuan, saya tidak pernah mengerti jalan pikir mereka.

Andai saja saya tidak mengatakan hal bodoh itu: Saya mencintaimu. Mungkin saya tidak akan melakukan hal ini. Hal paling kejam yang pernah saya lakukan. Namun, orang patah hati selalu punya alasan kan untuk melakukan hal-hal aneh? “Saya kan sedang patah hati, saya melakukan apa pun untuk bisa menyembuhkan luka saya.”

Lima belas tahun telah berlalu. Dia memasukkan saya ke dalam daftar temannya di jejaring pertemanan. Usaha saya masih berhasil, di informasi pribadinya, dia masih menceklis tulisan single. Saya membiarkan undangan pertemanannya itu selama beberapa waktu, hingga datang pesan darinya:

Apakah kamu masih marah atas apa yang kulakukan di masa lalu?
Aku benar-benar minta maaf. Aku gadis kecil yang tak tahu diri, yang belum tahu bagaimana cara mengatakan tidak.
Mengapa kamu biarkan undangan pertemananku?

Saya tertawa puas membaca pesan itu. Menyesalkah sekarang, Nona? Terlambat. Sudah lima belas tahun yang lalu. Seharusnya anda memperbaikinya sejak dulu. Dan, bukankah sendirian di usia tiga puluh itu tidak enak?

10/27/2009 10:07:37 PM
(c) Jia Effendie
Majalah HAI No 48, 2009.

Advertisements

One Comment Add yours

  1. hardman says:

    BAGUS BANGET. CEWEK MEMANG BISANYA BIKIN PATAH HATI. WAKAKAK

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s