Save the Earth, Save Our Love

Dalam sepi, kita menyeduh teh.

Dalam enam puluh menit yang gulita, kita sama-sama terdiam, menantikan air dalam ketel mendidih dan ketel itu akan mendesau dan aku akan mengucurkannya ke dalam teko yang sudah diisi daun teh kering. Dan kau duduk di meja makan, dalam gelap, sementara aku menyiapkan dua cangkir kosong bersama dengan teko porselen yang kini panas itu, di atas sebuah nampan. Kemudian aku duduk di kursi di depanmu dan menaruh baki itu di meja.

“Pakai gula?” tanyaku.

“Tidak, pahit saja,” jawabmu.

Aku membiarkan daun teh itu bereaksi, mengubah warna bening air itu dengan teh, walau aku tak tahu berapa lama warna yang sempurna akan muncul. Aku tak bisa melihatnya, semua lampu dimatikan. Kita bisu dalam gulita.

“Aku rindu padamu,” ucapku memecah kebekuan.

“Hmmm,” kau hanya bersuara seperti itu, seakan enggan.

Aku lupa kapan terakhir kali kita duduk berdua seperti ini, berhadap-hadapan di meja makan, menikmati secangkir teh tubruk bersama-sama. Masih pukul delapan tiga puluh. Biasanya aku masih berkumpul bersama teman-temanku, sekadar menikmati sushi atau dimsum atau hanya minum kopi. Atau berada dalam sebuah meeting. Atau berada di ruang bioskop. Sepertinya aku lupa pulang. Seandainya aku pulang cepat pun, aku tak bisa menemuinya di rumah. Kau seringkali baru pulang setelah aku terlelap.

Ini hari istimewa, karena kau sudah di rumah sejak pukul enam tadi. Begitu pendiam. Sudah lama kami tidak bertemu. Kita lupa bagaimana caranya berkomunikasi. Kita lupa bagaimana rasanya saling mengobrol. Apakah kini kita lupa caranya saling mencintai?

“Bagaimana hari ini?” tanyaku, tak yakin harus bertanya apa padanya. Mengapa kita begitu saling asing?

“Baik,” kau masih menjawab pendek.

“Tadi siang aku melakukan kebodohan,” ujarku, terlanjur berbicara. Aku tak peduli walaupun kau tak mendengarkannya. Kita harus memecahkan kebekuan ini. Kita harus kembali menghangatkan ranjang kita. Kita harus mengingatkan tujuan awal cincin-cincin ini melingkar di jemari-jemari kita. Pada jari manis kita, tepat pada vena amoris yang konon, membawa langsung darah langsung ke pusat rasa. “Bu Anggi jualan otak-otak, lalu kami semua ingin mencobanya. Lalu dengan bodohnya, aku menaruh otak-otak ikan itu di dalam microwave. Aku tak tahu dimana kutaruh otakku, ha ha ha,”

Dalam kegelapan aku bisa merasakan bibirmu tertarik menjadi senyum, “lalu?” tanyamu. Aku bersemangat.

“Yah, kupikir otak-otak ikan tenggiri itu akan matang dalam microwave, tapi ternyata tidak. Seharusnya memang digoreng pakai minyak sayur, pakai wajan, bukan ditaruh begitu saja dalam microwave. Seisi kantor bau ikan! Parah banget, setiap orang yang masuk lantai kami bisa mencium bau itu. Memalukan, dan aku tak bisa menghilangkan bau itu. Pak Manajer sudah menggerutu karena baunya enggak enak.”

“Kebayang,” komentarmu.

“Dan bodohnya, otak-otak itu enggak mengembang cantik, enggak garing dan renyah, malah mengkerut keriput seperti buah kisut, dan rasanya, tak seperti yang dibayangkan! Aku malu sekali.”

Kau tertawa, tetapi aku belum merasakan ketulusan dalam tawamu itu.

“Bagaimana harimu?”

“Seperti biasanya,”

“Rumah ini terlalu kosong dan terlalu besar untuk kita berdua. Kita terlalu sering meninggalkannya. Apa sebaiknya kita mulai terapi lagi?”

“Jangan mulai, Dis ….”

“Apa kita nyalakan saja lampunya?” aku berdiri, beranjak menuju stop kontak untuk mengakhiri program earth hour satu jam di rumah kita.

“Jangan,” kau mencegahku, memegangi lenganku. “Sudah lama kita tidak merasakan keheningan dan suasana seperti ini. Biarkan seperti ini. Duduk di depanku, kita minum teh bersama, biar aku membayangkan kembali wajahmu dalam gelap.”

“Nyalakan saja lampunya, kau bebas memandangiku.”

“Tidak, aku merindukan saat-saat aku merindukanmu, membayangkan kau duduk di depanku. Dalam gelap, aku bisa pura-pura melakukan itu.”

“Kok kita jadi kayak gini, sih? Enggak pernah terbayang di pikiranku, kalau setelah enam tahun pernikahan kita, kita akan duduk di sini, dalam sepi, saling asing, seolah-olah kita tak pernah saling mengenal. Apa yang terjadi pada kita, Ka? Kenapa kita enggak peduli lagi satu sama lain, kenapa kita berhenti mencoba? Kenapa kita menyerah?”

“Kita lemah. Kita lemah lalu menyerah, lalu pura-pura melupakannya. Kita berhenti berusaha.”

“Ini malam yang lain, lupakan terapi, lupakan kalau kita berusaha untuk punya anak, kenapa kita tidak nikmati saja malam ini? Untuk kita saja. Untuk kesenangan kita. Lupakan orang tua kita meminta cucu. Lupakan orang-orang yang bertanya kapan kita punya anak. Pernikahan ini hidup kita.”

Kau berdiri. Berjalan mengitari meja menghampiriku. Mengecup keningku, lalu pergi.

Aku berdiri. Mengejarmu, menangkapmu dari belakang, “tidak, kita tidak menyerah semudah itu. Aku tidak menikahimu untuk menyerah.”

Kau berbalik. Aku mencari bibirmu, dan memagutnya saat menemukannya.

“Kita tidak menikah untuk menyerah,” bisikku. “Kalaupun Tuhan belum memercayakan keturunan pada kita, tapi kita bersama tidak untuk berpisah.”

Kau membalas kecupku.

Setidaknya, untuk hari ini, dalam gulita ini, kita saling bicara.

Dalam gulita, kita menyeduh teh, tetapi lupa meminumnya.

Depok | 3/28/2010 9:34:11 PM

Advertisements

8 Comments Add yours

  1. Hadew… Membacanya jadi gimanaaa gitu. Gelap2an euy wkwkwk…

    Dan aku suka kalimat :
    “Dalam kegelapan aku bisa merasakan bibirmu tertarik menjadi senyum”

    Keren.

    1. jiaeffendie says:

      hihihi, tadinya mau diterusin adegan-adegan selanjutnya. tapi mending dibayangin sendiri deh 😀

      1. Hahaha… Biar berkreasi dengan imajenasi masing-masing yah? Aw aw aw… :p

  2. i think it is sweet. it is not cheesy, but sweet and natural. what often happens to a couple that has been together for quite a long time is they sometimes forget how to fall in love with the love anymore.

    so i can describe this short story in my head, in clear picture and i think it is beautiful to see a couple fight to always feel for their love, even after time has passed.

    🙂

  3. emmyemanyza says:

    hahaa temen kantor ku aku racuni dgn cerita2mu.. liat di mem-bookmarks ini di komputernya.. hahaha…..

    ceritanya………..romantis abis…… *melting*

    1. jiaeffendie says:

      alhamdulillah, ada yang ngebookmark 😀

  4. dansapar says:

    dan aku pun telah mengganti katumbiri dengan jiaeffendie.wordpress.com di link-blog ku 😉
    biar g lupa2
    apa aku link 3 ya, ini, katumbiri ma kalamiya
    hihihii

    1. jiaeffendie says:

      ih kamu, sungguh penggemar setia

      #artistaktahudiri
      #siapabilangluartis?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s