Sihir Bulan

:untuk Rahne Putri

“Pasti karena kopi,” tuduhku saat masih terjaga pukul dua pagi. Lampu kamar sudah kumati-nyalakan lebih dari tiga kali karena aku tak tahu harus melakukan apa. Aku memaksa mataku terpejam, tetapi kantuk tak juga menyerang walau aku sudah merasa sangat lelah. Berbagai cara telah kulakukan; menyetel musik, menghitung domba, membaca Orhan Pamuk (buku-buku penulis pemenang nobel ini terbukti berkhasiat membuatmu tidur – walau tak ada hasilnya pada kasus malam ini), mematikan lampu. Namun lagi-lagi aku bangkit bangun dan kembali menyalakannya. Arrrgghh. Kalau begini caranya, aku bisa terjaga sampai pagi. Aku bisa tamat seandainya itu terjadi. Aku harus tidur, besok adalah hari besar.

“Pasti karena kopi,” tuduhku lagi. Padahal aku tahu pasti bahwa kopi sama sekali tidak bersalah dalam hal ini. Aku jarang terpengaruh oleh kafein. Apalagi kalau yang kuminum lebih banyak susu dan gulanya daripada kopinya. Tapi aku malu jika harus menyalahkan bulan purnama. Lebih malu lagi jika menyalahkan orang yang menyuruhku pergi keluar dan mendongak, menatap langit.

Ah, itu dia, bersinar jumawa dengan tak berdosanya. Pura-pura tak tahu bahwa ada jutaan pasang mata di bawah sang ratu malam, menatapnya, dan merasakan berbagai perasaan yang membuncah (fleksibel tergantung sikon, bisa jadi romantis atau horror). Konon para werewolf melolong di hutan-hutan terpencil, sayup-sayup terdengar di desa terdekat, dan memulai transformasinya menjadi serigala. Konon, Nini Anteh, sedang menenun di atas sana dengan ditemani kucingnya. Lalu anak-anak bermain di bawah cahayanya yang tenang sambil bernyanyi dan menari.

Lalu ada aku, yang seketika insomnia setelah overdosis endorphin yang disuntikkan melalui gelombang elektromagnetik yang membawa suaranya penuh perintah.

“Ne, lihat langit deh,” dia berkata. Dari jarah beratus-ratus kilometer jauhnya, suara ini menunjukkan sihirnya. Kekasihku, kekasih yang tak pernah kutemui.

Alam semesta ini sungguh ajaib. Keruwetan ini saling terkait satu sama lain, membuktikan kalau sebenarnya kita dan alam semesta adalah satu. Bahwa semua ini berasal dari satu. Bahkan, saat jarak terbentang sebegitu jauhnya, kami dapat menatap bulan yang sama. Meski hiasan langit yang kami tatap berbeda, tetapi kami memandang rembulan yang sama, bulan yang jaraknya tiga puluh kali diameter bumi. Dari tempatku, ada awan-awan tipis melatari bulanku. Tipis seperti sutra yang melambai, sutra yang sama yang digunakan Dayang Sumbi menipu putranya yang Oedipus complex agar terhindar dari kewajiban menikahinya.

Impuls pada netra itu yang membuat kegilaan, kekacauan kimia dalam otakku. Sesuatu pada rembulan dan suaranya membuat molekul kecil, sejenis asam amino bernama phenylethylamine yang bermarkas di jaringan yang menghubungkan sistem limbik dan korteks pada otak berdering. Molekul yang hampir mati suri di otakku ini terbangun tiba-tiba seperti yang dikagetkan alarm bersuara petir. Ia berlari tunggang langgang menuju sistem limbik, bekerja sama dengan dopamine dan mungkin juga norepinephrine, memukul kentongan, dan membuat endorphin terbirit-birit melaksanakan tugasnya, membuat seluruh tubuhku melayang. Berada dalam kondisi yang kurang lebih diterjemahkan oleh orang awam sebagai: Gila.

Tiang listrik di pinggir jalan dekat rumah dipukul tiga kali. Aku gelagapan. Sudah jam tiga, tapi aku belum juga bisa tidur. Dan kini, aku malah nekat naik atap, semuanya gara-gara sihir suara lelaki itu. Langitnya bersih. Konstelasi bintang Orion dan Taurus tampak paling jelas di bulan ini. Aku hampir berharap ada bintang mati tertangkap mata malam ini, agar aku bisa mengajukan permohonan.

“Bintang jatuh, supernova tercantik yang segera pudar, aku mohon agar aku bisa bertemu dengan kekasih hatiku esok hari, pada hari besarku. Dan nanti, aku tak perlu hanya mendengar suaranya, tapi juga menyentuhnya, merasakan sosoknya, merasakan adanya, merasakan cintanya…”

Aku berhenti memohon karena menyadari takkan ada bintang jatuh, lagi pula permintaanku mulai berlebihan, dia tak mungkin ada di Jakarta besok.

Setengah empat pagi. Efek memabukkan dari enzim-enzim bernama asing yang kusebutkan diatas mulai memudar, digantikan oleh rasa lelah dan kantuk yang luar biasa. Pelan-pelan aku turun, sempoyongan mabuk, tapi bukan karena alkohol.

Tuhanku, aku dimabuk cinta.

Ranjang menerima tubuhku kembali. Rebah dalam keadaan setengah sadar setengah gila, lalu tidur dalam lamunan tentang sebuah taman bermandikan cahaya malam. Aku dan dia menatap bulan. Lalu dengan absurdnya, suara dia, entah dari mana datangnya, menggema dari atas, bukan dari mulutnya, berkata:

“Kita adalah satu, milik semesta, tak perlu dibedakan, tak perlu didedahkan. Kau adalah aku. Adalah kita. Adalah cinta.”

Lalu aku terlelap.

***

Tentu saja bukan damai yang terjadi keesokan harinya. Akal sehatku yang kembali setelah semalaman disihir cahaya bulan membuatku panik karena aku tak dapat menahan kantuk yang menggelayut di pelupuk. Terseok-seok, aku bangun, meraih handuk, tertatih-tatih ke kamar mandi.

Pagi ini, kenapa aku harus pergi ke kantor?

Aku berpakaian sambil mengecek blackberry. Hampir semua ikon aplikasi penuh di layarnya. Nanti saja, pikirku sambil menyingkirkannya. Masih menyesalkan mengapa hari ini aku harus pergi ke kantor. Aku masih menginginkan rembulan, masih menginginkan suaranya, masih menginginkan cerah malam seperti malam kemarin, masih menginginkan tidur.

Setengah sadar aku menutup pintu kamarku, mengucapkan salam pada seisi rumah – yang tampaknya sudah pergi semua. Entah hilang kemana mereka. Padahal ini hari besar. Mengeluarkan mobil dari garasi, lalu menyadari kalau pagar rumahku masih tertutup. Dengan malas aku turun dan membukanya. Ke mana semua orang?

Malas sekali. Aku ingin tidur. Tetapi ini hari besar, pikirku.

Pada saat itu, aku melihat sebuah mobil van mendekat rumahku, aku masih membuka pintu pagar dengan malas …

… kemudian sesuatu merenggutku.

***

Sepasang tangan memeluk dan mengangkatku. Aku merasakan tubuhku terayun dan dibawa masuk kedalam van. Aku mau teriak, tapi tangan itu kuat membekap mulutku. “Ssst,” bisiknya. “Jangan takut.”
Bagaimana mungkin aku tidak takut? AKU DICULIK! Dan siapa yang mau menculikku?

Van melaju kencang, suasana dalam van itu remang-remang hingga aku tak dapat menatap wajah penculikku.

“Jangan teriak,” dia berbisik lagi. Bagaimana aku bisa teriak? Dia masih membekap mulutku dengan tangannya yang besar. Aku meronta-ronta mencoba melepaskan diri, tetapi dia terlalu kuat. Siapa dia? Siapa yang melakukan ini padaku?

Van mulai memasuki jalan bebas hambatan. Aku tahu dari cara mobil ini melaju. Aku mau dibawa ke luar kota. Apakah aku mau diperkosa di tempat antah berantah? Lalu mereka akan menelepon orang tuaku meminta uang tebusan. Mengapa aku? Mengapa hari ini? Ini hari besar. Ada rencana besar yang ingin kulakukan hari ini. Aku terus bertanya-tanya, berteriak-teriak agar mereka melepaskanku, mencoba keluar dari van itu. Tapi lelaki itu diam seribu bahasa. Tak satu pun pertanyaanku yang dijawabnya. Akhirnya aku kelelahan dan duduk putus asa.

Setelah bermenit-menit yang rasanya sangat panjang, van itu berhenti. Terdengar suara kunci-kunci dibuka otomatis. Aku segera membuka pintu dan menghambur keluar. Kabur. Tapi, di mana ini?
Sebuah rumah megah.

“Silakan,” ujar lelaki yang sedari tadi memegangiku. Kini aku bisa melihat wajahnya. Dia masih muda, mengenakan kemeja dan celana jeans. “Maaf karena menggunakan cara kasar seperti ini, saya hanya menjalankan perintah.” Dia berkata takzim, menggiringku masuk rumah megah itu.
Pintu terbuka.

Konfetti berhamburan di udara, suara terompet terpekak, memenuhi udara dengan suara lantang. “Selamat Ulang Tahuuuun,” manusia-manusia di dalamnya serempak berteriak. Aku menatap mereka, orang-orang yang seharusnya ada di rumah pagi tadi. Keluargaku. Sahabat-sahabatku. Semuanya tertawa senang karena berhasil mengerjaiku. Padahal aku sudah ketakutan setengah mati.

Lalu muncul seorang asing. Seseorang yang tak pernah kutemui. Tersenyum padaku seolah aku adalah kekasihnya yang lama hilang.

“Selamat ulang tahun, sayang,” ujarnya. Suaranya lembut. Suaranya duplikasi pemilik suara yang semalam meneleponku, dan menyuruhku menatap bulan. “Semoga bahagia dan selalu mencintaiku,” bisiknya di telingaku, mengecupnya lembut.

Aku menatapnya penuh horror.

Selama ini, kekasih rahasiaku seorang perempuan?

3/24/2010 2:32:38 PM

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. komen di sini!
    kado uLtah yang waw hebat.. 😀

    26februari bikinin buat saya ya tante jia.. *masihLamaya*

    1. jiaeffendie says:

      wkwk, masih setahun lagi 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s