terungku

kata adalah sabit yang kaukalungkan di leherku,
memaksaku berdekam dalam rongga tempat kau menyimpan manisan beracun.
(rasanya aku telah dilemparkan ke ceruk ini berkali-kali, tapi
setiap mili benang ingatan alpa merekam bagian ini)

seandainya aku tahu bagaimana membalikkan keadaan;
biar kata-kataku kini yang mengalungi lehermu.
biar kutantang mata dan wajahmu yang selalu hitam kosong itu.
biar hatimu jadi takluk kusekap dalam penjara rasa.
biar akhirnya kata itu tak lagi arit yang melukai harapan.

(kalau kau bukan hantu, tolong perlihatkan wujudmu. jatuh cinta pada hantu benar-benar menyesakkan)

8:25 | 26 April 2010

Advertisements

Jampi Mengikat Hati

Pintunya sudah tertutup.

Pintu itu sudah tertutup sejak kulihat punggung mereka di atas sebuah motor, lalu menghilang dari pandangan saat berbelok di sebuah tikungan.

Pintu itu sudah tertutup bagiku.

Dan aku sebisa mungkin menahan sesak yang seketika mencekikku, memaksa diriku untuk tersenyum menerima.

Kali ini, bukan aku yang berada di jok belakang motor itu. Bukan aku yang memeluk pinggangnya, Dari tempat persembunyianku, aku setengah mati melawan perasaan asing yang melanda; sebuah kesadaran baru menohok dadaku dengan kejam. Tak ada lagi kita. Hanya ada aku, aku dan kalian.

Gelombang kesadaran itu seolah ingin membunuhku.

***

Lima tahun dua bulan. Kira-kira, berapa kardus barang kenangan yang bisa dihasilkan dalam waktu lima tahun dua bulan? Kumpulan potongan karcis-karcis bioskop, tiket-tiket konser, karcis kereta, surat cinta, sms, boneka, bungkus coklat, mawar kering yang diselipkan diantaran lembaran buku “Pengantar Ilmu Psikologi Jilid I Edisi Revisi”, melati kering dalam skripsi “Representasi Perempuan dalam Novel karya Perempuan yang Terbit di Indonesia”, t-shirt couple yang kesepian karena pasangannya ada dalam lemari si lelaki, scrapbook berisi foto-foto selama lima tahun dua bulan. Foto pernikahan kakaknya, kami berdua; aku dengan kebaya merah seragam untuk pihak keluarga perempuan, dia di sebelahku memakai seragam hitam. Aku berpose serius agar foto kami berdua bisa dicetak lalu dimasukkan ke dalam bingkai dan jadi salah satu foto yang dipajang di kamarku. Dia, di sebelahku, menyeringai sambil menjulurkan lidah. Matanya terlihat jenaka, tertuju pada sanggulku. Saat itu, kupikir pose dia sama seriusnya. Dia tertawa-tawa kesenangan saat aku melotot protes padanya begitu aku melihat hasil fotonya.

Kami adalah Milka dan Fajar yang terkenal. Aku telah menjadi temannya sejak SMP, digosipkan pacaran sewaktu SMA, lalu pacaran betulan saat kuliah. Kami bertunangan setelah kami berdua lulus kuliah. Tak ada seorang pun, tak ada seorang pun, yang mengira kalau kami akan putus di tahun kelima lebih dua bulan. Kami adalah Romeo Juliet. Fiona dan Shrek. Beauty and The Beast. Snow White dan Prince Charming. Tak pernah sedikit pun terlintas di benakku, kalau dia mengakhiri hubungan kami dengan alasan tak masuk akal. “Kini kita berada di jalur yang berlawanan arah, kita sudah menginginkan hal yang berbeda, kita tidak bisa bersama lagi.”

Susah payah kutanamkan konsep itu di kepalaku agar setidaknya aku bisa menerima keputusannya. Kepalaku bisa menerima, tapi tidak hatiku. Aku terlanjur membuat banyak rencana masa depan yang melibatkan Fajar. Aku sudah membuat proyeksi di benakku, sebuah rumah, dengan detail yang sama setiap aku mengingatnya, seolah kami memang sudah memiliki rumah itu. Perabot bergaya minimalis, karena rumah kami kelak akan mungil. Halaman depan dan belakang dilengkapi taman kecil yang hijau. Dapur yang nyaman. Dua kamar tidur, dan satu ruangan yang penuh buku. Lalu pengurus rumah hanya akan datang tiga kali seminggu untuk mencuci, menyetrika, dan membersihkan debu-debu di rak-rak buku. Aku akan menyapu dan mengepel setiap hari sebelum pergi kerja. Ruangan kerjaku berada ruangan penuh buku itu. Cahayanya melimpah di pagi hari. Di tempat itu, aku akan merajut, membuat aksesoris dari bebatuan, membuat boneka perca, menjahit tas tangan, menggambar baju-baju yang kelak akan kujahit sendiri. Begitu Fajar mengucapkan nama lengkapku dalam satu napas saat ijab kabul, aku sudah berhenti dari pekerjaanku sebagai teller sebuah bank swasta dan memilih untuk menjadi full time wife. Lalu aku akan melahirkan bayi-bayi cantik. Fajar dan Milka junior yang manis dan pintar.

Aku harus melupakan bayangan itu. Karena Fajar dan Milka sudah tidak ada. Kini hanya Milka. Fajar bersama Glinda. Glinda the good witch from The Wizard of Oz turns out a wicked witch for me. She stole my prince charming. And it’s a bad, bad, bad thing to do.

Kini aku berdiri di hadapan api yang siap melalap apapun yang ia sentuh. Bunyi perciknya menghajar kayu dan plastik terdengar berdesis, kadang-kadang warna merahnya berpendar biru saat ia berhadapan dengan cat. Di kanan kiriku, kardus berisi benda-benda kenangan.

Aku siap melepaskan semuanya. Aku siap melempar semua ke dalam api. Potongan-potongan tiket ini, foto-foto ini, dan bahkan, ingatan ini.

Sebundel potongan tiket bioskop yang pertama kali mengorbankan diri. Nyala api semakin besar saat ratusan potongan karcis itu tersentuh olehnya. Aku menegarkan diri. Setiap lembarnya punya arti. Aku mengingat setiap lembarnya. Salah satunya bahkan adalah momen ketika Fajar melamarku. Di salah satu meja ruang tunggu XXI Djakarta Theatre. Di situ kami utarakan rencana-rencana kami.

Berikutnya adalah potongan tiket konser. Aku menutup mata, tak ingin mengingat apapun yang berhubungan dengan tiket-tiket itu. Namun, yang ada malah kenangan itu membanjir hingga membuatku jatuh terduduk.

Tidak, aku sudah berhenti jadi perempuan cengeng. Aku tak akan menangis lagi.

Satu demi satu benda kenangan itu habis dilalap api, semua berubah jadi abu. Tapi Tuhan, bagaimana membakar ingatan yang berada di dalam sini, dan sini? Tanyaku sambil menunjuk kepala dan hatiku.

Kemudian, bayangan Glinda memeluk pinggang Fajar di atas motor, kembali menguji kesabaranku. Gambar itu menari-nari seolah ingin mengejekku. Aku, yang ditinggalkan, yang tidak diperkenankan lagi masuk pintu hati Fajar. Seseorang menetap di sana, mengunci pintunya dari dalam.

Seketika, api semakin menyebar, berkobar-kobar di kepalaku.

***

Gadis itu duduk di hadapanku dengan tampang serius. Ia membiarkan es kelapa-jeruk pesanannya tak tersentuh. Es telah menyebabkan gelasnya berembun; butir-butirannya merayap pelahan ditarik gravitasi. Ia mendengarkan semua kata-kataku tanpa menyela. Di hadapanku, terdapat benda-benda kenangan yang berhasil kuselamatkan dari kobaran api, beberapa diantaranya, pinggirannya gosong.

“Jadi, kamu tak bisa begitu saja membawa Fajar dariku,” ujarku mengakhiri pembicaraanku.

Glinda masih terlihat tenang. Ketenangannya membuatku panik. Seharusnya dia melawanku, seharusnya dia memaki-makiku agar aku punya alasan untuk membencinya. Tetapi Glinda begitu baik. Sejak awal ia berhasil menarik simpatiku dengan meminta maaf karena telah menjadi pelarian Fajar setelah putus dariku. Sejak awal ia sudah mengatakan kalau ia tak punya maksud untuk merebut Fajar dariku, tak ada maksud untuk menyakiti hatiku. Seharusnya dia memang memaki-makiku, menyuruhku pergi ke neraka karena saat ini statusku hanyalah mantan. MANTAN PACAR. Aku bukan lagi bagian dari rencana-rencana Fajar. Mantan tunangan tidak diikutsertakan dalam rencana masa depannya. Aku adalah karyawan outsource yang sudah habis masa kontraknya.

“Mbak Milka sudah selesai?” tanya Glinda dengan ketenangan yang memuakkan.

“Ya, saya sudah selesai. Pokoknya saya ingin kamu memutuskan Fajar.”

“Saya merasa prihatin dengan keadaan Mbak Milka, memang rasanya menyakitkan harus berpisah dengan orang yang kita cintai, tetapi saya tidak bisa memenuhi permintaan Mbak. Dan saya harus permisi, karena saya ada urusan di tempat lain. Semoga Mbak berhasil dengan segala urusan Mbak, saya minta maaf karena tidak bisa membantu,” ujarnya. Glinda mengangkat tasnya dari meja, kemudian melenggang pergi. Ia tidak sadar kalau sesuatu jatuh dari tasnya.

Secarik kertas.

Secarik kertas terlipat hingga sangat kecil.

Aku membukanya dengan penuh rasa penasaran. Setiap lipatan terbuka, terdapat tulisan kecil-kecil yang tak bisa kubaca tanpa kacamataku. Aku meluruskan kertas itu saat lipatan terakhir terbuka. Isinya tulisan kecil-kecil yang serupa dan tak dapat kubaca.

Namun, ada tulisan lebih besar yang bisa kubaca di atas semua tulisan kecil itu.

“Jampi mengikat hati.”

8/9/2009 11:24:05 PM

Cermin

Perempuan itu datang saat lelaki itu pergi. Aku bahkan belum selesai melambaikan tangan perpisahan pada lelaki itu, tetapi dia sudah di sana, ribut minta perhatian. Kurang lebih, perempuan ini mirip dengan aku. Hanya saja dia sedikit lebih tinggi. Lebih tirus. Lebih langsing. Lebih menggemaskan. Lebih menggairahkan. Lebih. Stop. Aku tak perlu seseorang membanding-bandingkan diriku dengannya.

Perempuan ini tiba-tiba muncul saat aku tengah bercermin, memandangi wajahku dan membencinya. Dengan gayanya yang sok tahu, dia mengajukan beberapa pertanyaan mengesalkan padaku. Tepat di saat aku tidak ingin diingatkan tentang masalah itu.

“Jadi sekarang kamu sendirian lagi?” tanyanya sambil meniup-niup kuku yang baru saja ia warnai merah menyala. Aku tidak menjawab, hanya memerhatikan kuku menyala perempuan ini. Aku tak pernah cocok memakai kuteks warna merah menyala. Jari-jariku tidak panjang dan lentik, warna merah malah membuatnya semakin terlihat mungil.

“Iri ya liat aku pake kuteks?” tanyanya.

Aku memalingkan muka sambil mendengus.

“Mantan pacarmu itu tak suka ya lihat kukumu pake kuteks?” Dia berkata lagi, sengaja memperolokku. “Sekarang sudah boleh kok kalau kamu mau, nih!” ujarnya sambil mengangsurkan kuteks merah menyala itu ke hadapanku. Aku menolaknya. Tidak.

“Jadi ngomong-ngomong, kalian putus gara-gara kuteks, ya?”

Hah? Rasanya ingin sekali aku menyumpal mulutnya yang lancang itu. Apa sih maksudnya?

“Ngapain sih kamu di sini? Pergi sana!”

Perempuan yang mirip denganku itu bangkit dari meja rias tempatnya duduk, kini pindah ke sudut ranjang.

“Seolah-olah lo bisa ngusir gue aja,” gumamnya sambil masih meniup-niup kuku lalu merentangkan tangannya, melihat seberapa rapi pekerjaannya mengecat kuku.

“Sebenarnya kamu siapa, sih? Ngapain kamu di sini?”

“Pake nanya kamu siapa, lagi! I am you, you are me.” Jelasnya sambil menunjuk dadaku dan dadanya.

“Aku gak bitchy kayak kamu,” kataku sambil meneruskan kegiatanku menatap parasku di cermin. Dia berdiri di belakangku sambil tertawa-tawa sebagai reaksi atas kata-kataku barusan, pantulan tubuhnya yang mendekati sempurna tergambar di cermin.

Face it, dear. Deep inside your heart, you’re a bitch!” oloknya.

Aku melempar sisir yang kupegang ke arahnya. Dia menghilang dan kembali menjelma di meja rias.

You’re so annoying!” desisku.

“Hey, it’s better me who annoys you, dibandingin mantan pacar kamu yang payah itu. Tiap hari kamu melamun mikirin dia, nyesel kenapa dulu mutusin dia. Buat apa?”

“Buat apa?” sergahku. “I love him. He’s the best thing ever came into my love life. And for your information, my love life was used to be suck!”

“It still sucks, dear. Believe me.” Dia mengingatkan sambil cengengesan.

“Get lost!” desisku lagi.

“Hey … hey… chill out!”

“No, I can’t chill out while you’re still here and bug me! Just get outta here!”

“I’m coming here to help you. You’re such a mess. Look at you! How can anyone notice you if you keep showing up like this?” tanyanya sambil menunjuk wajah pucat pasi yang terpantul di cermin.

“Bodo,” seruku sambil berjalan ke ranjang, berbaring, dan menutupi seluruh tubuhku dengan bed cover, berharap perempuan pengganggu itu enyah.

Aku memejamkan mata, berharap agar bisa tidur. Tetapi malah wajah lelaki itu yang tergambar lagi. Kilasan-kilasan ingatan saat bersamanya tergambar lagi. Urat-urat tangannya yang menonjol, menciptakan sungai-sungai nadi di kulitnya. Dulu, aku senang membelai nadinya itu, menelusuri asalnya, dari mana dia mulai menonjol. Pelahan, seperti sedang mencari jejak. Dan dia akan membelai rambutku. Mata kami terpancang pada televisi, seolah-olah itulah hal paling menarik bagi kami. Tetapi padahal sebenarnya–setidaknya aku—hatiku berdesir, ingin menyentuhnya lebih lagi.

Perempuan pengganggu itu sepertinya sudah pergi. Suara-suara di sekitarku memudar, dan kutemukan tidur yang pulas.

Dua
“Kenapa matamu sembab?” tanyaku pada perempuan yang sedang membersihkan wajahnya dengan toner itu.

“Kebanyakan tidur,” jawabnya.

“Boong. Abis nangis, kan?” tanyaku lagi.

“Nah itu tau ngapain nanya?”

“Cuma ngecek aja, apa kamu sudah jujur sama diri sendiri. Ternyata belum.”

“Terserahlah.”

“Nangisin apa?”

Dia tidak menjawab, hanya menatapku tajam sambil membuang kapas kotor ke tempat sampah di sebelah meja rias.

“Oh, mantan pacar kamu lagi, ya?”

Kini dia pura-pura tidak mendengarku, asyik mencolek krim malam dan mengaplikasikannya di wajahnya.

“Udahlah, berhenti mikirin dia. Masih banyak cowok … “

“…di luar sana. Ya ya ya. Aku tahu. Everybody said so.” Potongnya sambil memutar mata.

“Ya udah, ngapain nyiksa diri kayak gitu? Apa? Kamu mau datengin dia? Mau nyembah-nyembah di kakinya minta dia kembali? Mau minta maaf mohon-mohon buat sesuatu yang kamu sendiri bingung apakah kamu telah melakukannya? Iya? Gih pergi aja sana. Taruhan. Hebat kalo kamu enggak ditendang pergi,” aku mengatakan itu sambil terbahak. Lucu aja melihat dia cemberut dan menatapku seperti ingin membunuhku.

“Aku memang ingin membunuhmu,” desisnya.

“Sampai kapan kamu mau begini terus?”

“Sampai dia sadar kalau aku tidak bersalah,”

“Bagaimana dia tahu kalau kamu tidak bersalah?”

“Bicara padanya.”

“Apakah bicara padanya melibatkan proses membujuk, mengiba, lalu menyembah di kakinya?”

Dia mencibir.

“Iya ya? Begitu ya caranya?”

Wajahnya memucat memikirkan kemungkinan harus memeluk kaki lelaki itu dan mengiba, memohon agar diterima kembali.

“Tidak.” Ucapnya singkat.

“Lalu bagaimana?”

“Tidak tahu, aku belum pikirkan.”

“Kenapa juga sih kamu ingin kembali?”

He’s the best thing ever came to my love life, okay? He’s the best kiss I’ve ever had. He’s the closest thing to a real relationship.

“Ah, your real relationship is shit.”

“You don’t have to remind me.”

“Hmm, oke. Jadi kamu pengen balik karena ciumannya, ya?”

Dia mendelik.

“Nggak cuma itu. I love the way he holds me.” Ujarnya dengan mata mengawang-awang seperti sedang membayangkan peristiwa itu sedang terjadi.

Does it comfort you?”

Ummm, actually? No. But I like the way he cuddling me.”

No? Why?”

I don’t know. It was just something. Something wrong. Something not in its place.”

What do you mean?”

I don’t know what I mean. Why do you ask?” dia bertanya dengan suara meninggi.

“Okay, okay. You’re grumpy old woman.”

“I’m not old. I’m twenty five.”

“ I know that.”

Who acts like seventeen,” tambahnya sambil jatuh tepekur. “Kenapa sih kami harus putus? I put my hope high on him. He’s gonna be the man I’d sleep with every day.”

Why did you still not get the point?”

What point?”

Stop complaining. Focus on your next move. He’s not for you. He’s not that in to you. You throw him out after he knocked you down. You get hurt, then you refuse to feel hurt because of him anymore, and bum. He’s gone now.”

He’s gone and then you came, you bitch!”

I am a bitch. You should learn from me.”

Seriously. You’re so annoying. I don’t need you to help me out of this situation. I can handle this myself.”

You don’t seems you are,” ujarku. Dia menghentikan semua kegiatannya dan mengalihkan perhatian sepenuhnya padaku.

“I will,”

“Ya udah. Terserah kamu. Cuma aku males aja klo harus liat kamu nangis-nangis lagi. Ga penting, tau!”

“I love him,” katanya keukeuh.

“I know.”

“You have no idea how does it felt,”

Sok tahu. I was there when you’re kiss. In fact, I’m the one who kiss him. Hahaha,” kataku jumawa. Dia jelek sekali kalau cemberut.

“Siaaaaal!” Teriaknya sambil melemparku dengan guling. Aku tak sempat mengelak dan menghilang dari pandangannya.

Tiga
Aku langsung mencarinya begitu masuk kamar. Aku bahkan tak sempat membuka sepatu boot Zara yang kukenakan dan langsung berjalan menuju cermin, menginjak karpet tebal dengan sol sepatuku.

Hey…bitch! Where are youuuu?’ teriakku. Tiba-tiba aku merasakan kebutuhan mendesak untuk berbicara dengan perempuan berkuteks merah yang senang menggangguku itu. Perempuan itu tak muncul. Sebagai gantinya, di hadapanku, berdiri pantulan wajahku. Tampak lelah, tetapi berseri-seri.

Ada rona merah di pipi.

Aku tersenyum pada bayanganku. Dia balas tersenyum.

“Ah, sebaiknya aku mandi,” gumamku sambil melepaskan satu-satu benda-benda yang melekat di tubuhku.

Empat
Sudah lama aku tidak mendatangi gadis patah hati yang baru putus itu. Sepertinya dia sudah tidak membutuhkanku lagi. Maka saat aku kembali muncul di hadapannya, aku agak terkejut karena dia sangat berubah. Tak ada lagi mata sembab karena kebanyakan menangis, tak ada lagi muka yang ditekuk. Bahkan, kini kukunya pun berkuteks. Tidak merah sih, tapi ya … berkuteks! Hahaha.

Dia menghadapiku dengan tenang, tidak dengan kebencian seperti sebelumnya. Dan sepertinya, dia memang menanti-nanti kedatanganku.

“Kamu kemana aja?”

“Ada,” jawabku standar.

“Aku mau cerita,”

“Tumben,”

Dia menyeringai seperti kucing Cheshire. “Hihi, malu,” ujarnya. Ah, minta ditoyor nih.

“Kenapa, kamu balikan lagi sama mantan pacar kamu itu?”

Dia hanya senyum-senyum sok misterius.

“Aku baca cerpen,” akunya.

“Memangnya kenapa kalau kamu baca cerpen?”

“Cerpen itu memberiku inspirasi,”

“Inspirasi untuk apa?”

“Untuk mengajak seseorang bermuak-muakan,”

“Hah? Maksudnya?”

“Jadi begini, penulis cerpen itu bilang, dia juga sebenarnya terinspirasi dari salah satu episode Gossip Girl, ‘Let’s Get Sick of Each Other’.”

“Jadi?”

“Jadi aku mengikuti apa yang ada di cerpen itu. Aku mengajak seseorang, a particular stranger, to get sick of each other for a couple days,”

“Dia mau?”

I took a break for a while from office, lalu pergi ke Bali bersamanya,”

“Siapa dia?”

Only a stranger,”

“Lalu?”

We got sick of each other! Hahahaha. Then I found myself back. My truly me, aku tanpa embel-embel apa-apa. Bukan aku yang pacarnya Gilang. Eh lupa, aku sama Gilang udah putus, ya? Hahaha,”

“Jadi kamu melupakan Gilang begitu saja dan jatuh cinta sama si orang asing ini?”

“Enggak kayak gitu juga sih, aku jadi mengikhlaskan Gilang. Aku ga menye-menye lagi kepingin dia balik.”

So you get a new kiss?”

“Hahaha,”

“Lalu bagaimana dengan si orang asing ini? Apa yang terjadi di Bali?”

Nothing, we just got sick with each other, we promised not to see each other again.”

Really?”

Yes, I will find someone, someone who’s not a stranger. Someone that will be my Mr. Right.”

Congrats, then, I guess you wont need me anymore,” ujarku, tiba-tiba merasa sedih karena harus meninggalkannya.

Why? Kamu masih boleh berkunjung ke sini kok kapan-kapan,”

Kenapa? You’re blend with me now. You’re the same bitch with me now,”
Dia tertawa, tampak lepas. Lalu aku pergi, mencari gadis patah hati lain yang butuh bantuan.

Kemang, 10/14/2009 10:00:49 AM

Malam di Moko

Rembulan bulat sempurna esok malam.

Namun malam ini, semalam sebelum purnama, kami hanya menikmati langit biru seragam pelaut yang cerah dengan titik-titik mungil cahaya yang berasal dari bintang yang jauh; bulan bundar penyok, perak keemasan. Cahaya lebih membanjir di bawah kami ketimbang kerlipan bintang di atas. Angin menusuk-nusuk kulit seperti serbuan ribuan jarum logam yang dingin. Saat ini aku hanya mengenakan cardigan tipis, tak cukup untuk menghalau gigil yang mulai merajalela. Pori-poriku menutup sebagai pertahanan minimal dari terpaan dingin, tetapi hal itu tidak menunjukkan hasil.

Kami duduk diam di bangku-bangku kayu yang disediakan kafe di atas bukit ini. Tangan kami memegang cangkir kaleng vintage bermotif seragam tentara berisi bajigur yang mengepulkan asap wangi santan dan gula merah. Tak ada yang berinisiatif untuk mulai berbicara. Sesekali kuteguk minumanku yang mulai dingin itu.

Seharusnya ia mulai merangkulku, atau mengatakan sesuatu.

Sebaliknya, ia malah membisu sambil menatap lampu-lampu kota Bandung yang berada tiga puluh kilometer di bawah. Aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya karena tempat ini begitu temaram, tak ada cukup cahaya untuk membantu mataku mengidentifikasi benda-benda. Sosoknya hanya berupa siluet.

Seharusnya ia mulai merangkulku, lalu menyebutkan nama-nama rasi bintang di atas sana. Aku selalu senang mendengar suaranya renyah, menjelaskan lukisan langit malam. Itu rasi bintang Cancer, katanya suatu waktu. Aku tak pernah bisa mengerti mengapa letak bintang-bintang itu disamakan dengan ketam. Padahal, jika aku menarik garis bayangan dari bintang-bintang itu, aku sama sekali tidak bisa melihat bentuk cancer.

Tetapi tidak, ia tidak mengatakan apapun, tidak melakukan apapun. Matanya terpancang ke tempat lain selain aku.

Kami duduk diam di bangku-bangku kayu yang disediakan kafe di atas bukit ini, ia membuat jarak denganku. Masing-masing memegang cangkir kaleng berisi bajigur yang kini merindukan panasnya.

Bisunya membuatku tersiksa, tetapi aku tak berani memecahkan keheningan diantara kami. Keheningan kami, karena tempat ini sama sekali tidak hening. Di saung-saung beratap rumbia di belakang kami, muda-mudi asyik bercengkrama; menyeruput kopi susu, bandrek, bajigur, atau coklat panas mereka yang terlalu banyak gula. Di tengah-tengah saung panggung itu terdapat penganan ringan; singkong, ubi goreng, pisang goreng—habis diserbu sebelum hangat diciduk dingin. Di jari-jari mereka terselip rokok putih dan kartu remi. Salah satu dari mereka mendentingkan dawai-dawai gitar, menyanyikan lagu-lagu yang biasa dimainkan di udara terbuka pada malam hari yang dingin. Lagu yang biasa dibawakan adalah lagu Slank; Terlalu Manis. Atau lagu-lagu dangdut standard tentang malam mingguan dan seseorang yang berkenalan di Jalan Sudirman. Ah, ini memang malam minggu. Tawa mereka menggema. Di sebelah kami, di bangku yang menghadap bidang luas, dua meter dari kami, ada pasangan lain, yang sama-sama duduk dalam diam, berangkulan. Berciuman.

Aku tak berani merusak hening yang ia ciptakan, hanya menatap jutaan lampu di bawah sana, pelahan semakin membanjirkan cahaya pijar berwarna kuning-putih-merah. Malam semakin merangkak naik.

Aku ingin sekali bertanya, tetapi entah kenapa, sikapnya ini membuatku menutup mulut. Seolah-olah rohnya terbang entah kemana, sementara yang berada di sampingku hanyalah raga tanpa jiwa. Aku takut jika aku mengganggu kekhidmatan ini, dengan berkata-kata, atau menyentuhnya, ia akan menghilang, berpuyar jadi molekul-molekul, jadi asap dan menguap.

Ia memang sudah bersikap aneh sejak datang ke Bandung sore tadi. Aku menjemputnya di stasiun kereta, mendapatinya murung, senyum terpaksa. Ia tampak lusuh dan kuyu. Aku sempat menanyainya dengan penuh cemas, tetapi ia berkata bahwa ia tak apa-apa. Ia terasa begitu jauh. Setelah sebulan tidak bertemu dengannya, alangkah sedihnya aku, berada dengan raganya di dekatku, tetapi dirinya, entah sedang berkelana ke mana. Baiklah, aku akan berhenti menginterogasi hingga ia siap membuka kebungkamannya.

Lalu selepas solat magrib, tiba-tiba ia berubah sikap drastis, begitu riang, lalu berceloteh tentang pekerjaannya yang membaik, bonus-bonus berangka besar yang akan diterimanya, kelelahan fisiknya karena harus bekerja mati-matian, dan keinginannya untuk menyepi sekejap, mengobrol di tempat jauh, bersamaku.

“Mari pergi ke kafe Moko,” ujarnya.

Kafe itu bukan kafe yang sering kami kunjungi. Bahkan, kami tak pernah pergi ke sana. Ia membaca sebuah artikel di surat kabar tentang kafe yang terletak di atas Bandung Timur itu. Menu yang ditawarkan memang tidak ada yang istimewa, tetapi di sana, kau bisa menikmati suasana lain. Berada di atas bukit, jauh dari peradaban, dari hiruk pikuk kota. Dari Bandung Kota, kau melewati Padasuka dan Saung Angklung Mang Udjo, lalu kau akan menempuh perjalanan mendebarkan selama kurang lebih satu setengah jam untuk mencapai kafe ajaib itu.

Kami berkali-kali bertanya pada penduduk untuk bertanya di mana tepatnya tempat yang kami maksud. Butuh usaha luar biasa untuk mencapai kafe ini; jalan yang sempit, tubir tebing tinggi, kegelapan akut. Jika kau menoleh ke belakang, ke jalan yang kau tinggalkan, kau akan berhalusinasi sesuatu muncul dari kegelapan; berwarna putih pucat.

Ia langsung membisu begitu masuk area kafe. Aku memesankan dua gelas bajigur untuk kami, dan duduk di pinggir tebing. Awalnya, lampu-lampu di kota belum menyala sebanyak ini. Tetapi semakin larut, aku seperti melihat permadani terang yang berkelipan.

Kini dingin menyusup hingga tulang, menetap hingga kulitku ikut-ikutan dingin. Seharusnya ia mulai merangkulku. Tetapi ia masih bisu, berjarak. Kesabaranku menipis. Bulan bundar penyok perak keemasan dan rasi bintang entah apakah tidak lagi menarik perhatianku.

Kekasihku, kemana engkau pergi?

Kutatap parasnya dalam-dalam, sambil menahan murka yang siap terlontar seperti magma gunung berapi.

“Kamu kedinginan?” tanyanya, kata-kata pertama yang ia ucapkan selain “terserah kamu” yang ia katakan saat aku bertanya ia mau pesan apa. Kulihat bajigurnya masih utuh, tapi tak ada lagi asap mengepul yang tersisa.

Aku menatapnya tajam sebagai jawaban.

“Maafkan aku, kita pulang saja, ya?”

Aku mengangguk setuju. Kami membayar bajigur lalu melangkah lamat-lamat ke mobilku. Kepalaku sudah penuh dengan berbagai pikiran dengan sikap anehnya. Ia masih membisu selama perjalanan pulang yang rasanya tidak selama waktu kami pergi. Dengan cepat, daerah Cimenyan dilewati, dan tanpa sadar, kami sudah mencapai jalan P.H.H. Mustofa.

“Apakah kau akan mengatakan sesuatu?” tanyaku akhirnya. Rasanya, bertanya di daerah yang sudah kukenal baik terasa lebih aman di bandingkan antah berantah di atas sana. Rasanya, andai aku bertanya di atas bukit tadi, ia akan meninggalkanku selamanya. Jika aku bertanya di sini, aku merasa masih bisa menjejak tanah jika mendengar berita buruk dari bibirnya.

“Menurutmu, apakah sebaiknya kita meneruskan hubungan ini?” tanyanya. Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna kata-kata sederhananya itu. Nah, benar. Akhirnya ia mengatakan hal yang menyakitkan.

“Kenapa?” Aku merasa tak ada yang salah dengan hubungan kami. Kecuali bahwa aku tinggal di Bandung, dan dia di Jakarta. Intensitas pertemuan kami memang kurang, tapi menurutku komunikasi yang terjalin di antara kami cukup baik.

“Entahlah, aku hanya merasa ada sesuatu yang salah saja,” jawabnya. “Aku mencintaimu, itu pasti. Tetapi ada sesuatu yang cukup besar yang mengganggu pikiranku tentang hubungan kita. Sesuatu yang mencengkeram dari dalam dan menggerogoti pelan-pelan.”

“Mau menjelaskan?” tanyaku kaku. Kami hampir memasuki jalan masuk rumahku.

“Kita terlalu berbeda. Kamu dengan mimpi-mimpimu, bertolak belakang dengan keinginanku. Jika kita tidak menemukan titik temu, bagaimana kita akan berjalan bersama? Aku tak ingin menjadi seperti kanker yang menyerangmu pelan-pelan, lalu meninggalkan lubang besar di hatimu. Aku tak ingin menyakitimu, aku mencintaimu, sungguh-sungguh. Tetapi, kau tahu sendiri keadaanku. Aku tak tahu apakah aku bisa bersamamu di bawah sorotan lampu, sementara aku menginginkan ketenangan. Apakah kita bisa bertahan dalam keadaan seperti ini? Apakah aku bisa menghidupimu dengan layak? Sementara aku tahu, kamu tak mungkin meninggalkan duniamu demi aku.”

“Aku kan tidak pernah menuntut macam-macam darimu.”

“Kamu butuh lelaki mapan yang bisa menyesuaikan diri dengan kegiatanmu, dengan hobi belanjamu, hobi jalan-jalanmu. Seseorang yang memujamu dan mampu menyanjungmu bagai dewi. Aku memujamu, tetapi aku tak bisa menyanjungmu bagai dewi. Aku tak punya materinya, aku tak bisa membuatmu bergelimang harta.”

“Tapi, aku kan tak pernah menuntut hal-hal seperti itu darimu. Semua itu bisa kuusahakan sendiri.”

“Memang, tapi nanti aku akan jadi suamimu. Sudah sepantasnya, akulah yang memenuhi semua kebutuhanmu. Sementara, gaya hidupmu begitu kelas satu. Aku tak mampu.”

Aku terpekur mendengar kata-katanya. Bagaimana bisa, lelaki yang dahulu berada di titik yang sama; sama-sama mahasiswa kere yang saking tak punya uangnya mengemis mie instan pada teman kosan untuk makan, lelaki yang dulu mendukungku untuk menjadi pelukis professional, kini mengatakan hal-hal yang begitu tak masuk akal bagiku.

“Kenapa kamu tidak percaya padaku?” tanyaku. “Mengapa kamu tak percaya pada dirimu sendiri? Mengapa kamu tidak percaya pada kita? Hal-hal seperti itu bisa kita usahakan, bersama. Asal kamu percaya pada kita, bahwa kita mampu menjalani hubungan ini dengan baik, sampai kita menikah, sampai kita mati nanti,” ujarku optimis.

Gilirannya diam.

“Karir kamu semakin maju. Lukisanmu mulai banyak dilirik kolektor. Satu lukisanmu bisa terjual setara dengan dua-tiga bulan gajiku, bahkan lebih. Kamu semakin disorot dan nanti aku juga, kalau aku masih bersamamu. Masyarakat kita masih senang menilai dengan hitam-putih. Mereka akan mulai bergunjing kalau aku lelaki yang berada di ketiak istri. Lama-lama semua harta benda kita dibeli dari uang kamu,” ujarnya setelah menemukan kata-kata.

Aku hampir saja kena serangan jantung. Betapa naifnya. Aku tak pernah bermaksud melebihi penghasilannya, aku hanya melakukan hal yang aku cintai, satu-satunya hal yang aku bisa melakukannya dengan baik. Aku menatapnya gemas.

“Jadi, apa yang kamu inginkan?” tanyaku. Bulan pelahan tergelincir. Malam semakin larut, dan kami masih berdiam di dalam mobil yang kini terparkir di depan pagar rumahku.

“Aku ingin, kamu mempertimbangkan lagi semuanya. Memikirkan lagi dengan lebih keras, apakah hubungan kita layak dipertahankan.”

“Aku tidak mau berpisah dari kamu. Aku milih kamu bukan tanpa pertimbangan.”

“Aku tahu, tapi pikirkan lagi, apakah kamu benar-benar ingin bersamaku selamanya. Apakah kita bisa mengatasi perbedaan-perbedaan yang kita punya. Karena jika aku menikahimu, aku ingin selamanya.”

Malam itu, memandangi bulan yang belum bulat sempurna dari jendela kamarku, kenangan kami berlarian di benakku. Permintaannya untuk mempertimbangkan hubungan ini membuatku kecewa. Kepesimisannya membuatku kecewa. Apakah sebenarnya dia sudah menemukan perempuan lain? Seseorang yang tidak membuatnya merasa terancam? Seseorang yang buatnya tidak akan menyeretnya ke depan lampu sorot.

Malam itu, selepas perjalanan dari kafe Moko, memandangi bulan yang belum bulat sempurna dari jendela kamarku, aku mempertanyakan kembali cintaku.

Tanah Baru, 9/27/2009 9:45:17 PM