Malam di Moko

Rembulan bulat sempurna esok malam.

Namun malam ini, semalam sebelum purnama, kami hanya menikmati langit biru seragam pelaut yang cerah dengan titik-titik mungil cahaya yang berasal dari bintang yang jauh; bulan bundar penyok, perak keemasan. Cahaya lebih membanjir di bawah kami ketimbang kerlipan bintang di atas. Angin menusuk-nusuk kulit seperti serbuan ribuan jarum logam yang dingin. Saat ini aku hanya mengenakan cardigan tipis, tak cukup untuk menghalau gigil yang mulai merajalela. Pori-poriku menutup sebagai pertahanan minimal dari terpaan dingin, tetapi hal itu tidak menunjukkan hasil.

Kami duduk diam di bangku-bangku kayu yang disediakan kafe di atas bukit ini. Tangan kami memegang cangkir kaleng vintage bermotif seragam tentara berisi bajigur yang mengepulkan asap wangi santan dan gula merah. Tak ada yang berinisiatif untuk mulai berbicara. Sesekali kuteguk minumanku yang mulai dingin itu.

Seharusnya ia mulai merangkulku, atau mengatakan sesuatu.

Sebaliknya, ia malah membisu sambil menatap lampu-lampu kota Bandung yang berada tiga puluh kilometer di bawah. Aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya karena tempat ini begitu temaram, tak ada cukup cahaya untuk membantu mataku mengidentifikasi benda-benda. Sosoknya hanya berupa siluet.

Seharusnya ia mulai merangkulku, lalu menyebutkan nama-nama rasi bintang di atas sana. Aku selalu senang mendengar suaranya renyah, menjelaskan lukisan langit malam. Itu rasi bintang Cancer, katanya suatu waktu. Aku tak pernah bisa mengerti mengapa letak bintang-bintang itu disamakan dengan ketam. Padahal, jika aku menarik garis bayangan dari bintang-bintang itu, aku sama sekali tidak bisa melihat bentuk cancer.

Tetapi tidak, ia tidak mengatakan apapun, tidak melakukan apapun. Matanya terpancang ke tempat lain selain aku.

Kami duduk diam di bangku-bangku kayu yang disediakan kafe di atas bukit ini, ia membuat jarak denganku. Masing-masing memegang cangkir kaleng berisi bajigur yang kini merindukan panasnya.

Bisunya membuatku tersiksa, tetapi aku tak berani memecahkan keheningan diantara kami. Keheningan kami, karena tempat ini sama sekali tidak hening. Di saung-saung beratap rumbia di belakang kami, muda-mudi asyik bercengkrama; menyeruput kopi susu, bandrek, bajigur, atau coklat panas mereka yang terlalu banyak gula. Di tengah-tengah saung panggung itu terdapat penganan ringan; singkong, ubi goreng, pisang goreng—habis diserbu sebelum hangat diciduk dingin. Di jari-jari mereka terselip rokok putih dan kartu remi. Salah satu dari mereka mendentingkan dawai-dawai gitar, menyanyikan lagu-lagu yang biasa dimainkan di udara terbuka pada malam hari yang dingin. Lagu yang biasa dibawakan adalah lagu Slank; Terlalu Manis. Atau lagu-lagu dangdut standard tentang malam mingguan dan seseorang yang berkenalan di Jalan Sudirman. Ah, ini memang malam minggu. Tawa mereka menggema. Di sebelah kami, di bangku yang menghadap bidang luas, dua meter dari kami, ada pasangan lain, yang sama-sama duduk dalam diam, berangkulan. Berciuman.

Aku tak berani merusak hening yang ia ciptakan, hanya menatap jutaan lampu di bawah sana, pelahan semakin membanjirkan cahaya pijar berwarna kuning-putih-merah. Malam semakin merangkak naik.

Aku ingin sekali bertanya, tetapi entah kenapa, sikapnya ini membuatku menutup mulut. Seolah-olah rohnya terbang entah kemana, sementara yang berada di sampingku hanyalah raga tanpa jiwa. Aku takut jika aku mengganggu kekhidmatan ini, dengan berkata-kata, atau menyentuhnya, ia akan menghilang, berpuyar jadi molekul-molekul, jadi asap dan menguap.

Ia memang sudah bersikap aneh sejak datang ke Bandung sore tadi. Aku menjemputnya di stasiun kereta, mendapatinya murung, senyum terpaksa. Ia tampak lusuh dan kuyu. Aku sempat menanyainya dengan penuh cemas, tetapi ia berkata bahwa ia tak apa-apa. Ia terasa begitu jauh. Setelah sebulan tidak bertemu dengannya, alangkah sedihnya aku, berada dengan raganya di dekatku, tetapi dirinya, entah sedang berkelana ke mana. Baiklah, aku akan berhenti menginterogasi hingga ia siap membuka kebungkamannya.

Lalu selepas solat magrib, tiba-tiba ia berubah sikap drastis, begitu riang, lalu berceloteh tentang pekerjaannya yang membaik, bonus-bonus berangka besar yang akan diterimanya, kelelahan fisiknya karena harus bekerja mati-matian, dan keinginannya untuk menyepi sekejap, mengobrol di tempat jauh, bersamaku.

“Mari pergi ke kafe Moko,” ujarnya.

Kafe itu bukan kafe yang sering kami kunjungi. Bahkan, kami tak pernah pergi ke sana. Ia membaca sebuah artikel di surat kabar tentang kafe yang terletak di atas Bandung Timur itu. Menu yang ditawarkan memang tidak ada yang istimewa, tetapi di sana, kau bisa menikmati suasana lain. Berada di atas bukit, jauh dari peradaban, dari hiruk pikuk kota. Dari Bandung Kota, kau melewati Padasuka dan Saung Angklung Mang Udjo, lalu kau akan menempuh perjalanan mendebarkan selama kurang lebih satu setengah jam untuk mencapai kafe ajaib itu.

Kami berkali-kali bertanya pada penduduk untuk bertanya di mana tepatnya tempat yang kami maksud. Butuh usaha luar biasa untuk mencapai kafe ini; jalan yang sempit, tubir tebing tinggi, kegelapan akut. Jika kau menoleh ke belakang, ke jalan yang kau tinggalkan, kau akan berhalusinasi sesuatu muncul dari kegelapan; berwarna putih pucat.

Ia langsung membisu begitu masuk area kafe. Aku memesankan dua gelas bajigur untuk kami, dan duduk di pinggir tebing. Awalnya, lampu-lampu di kota belum menyala sebanyak ini. Tetapi semakin larut, aku seperti melihat permadani terang yang berkelipan.

Kini dingin menyusup hingga tulang, menetap hingga kulitku ikut-ikutan dingin. Seharusnya ia mulai merangkulku. Tetapi ia masih bisu, berjarak. Kesabaranku menipis. Bulan bundar penyok perak keemasan dan rasi bintang entah apakah tidak lagi menarik perhatianku.

Kekasihku, kemana engkau pergi?

Kutatap parasnya dalam-dalam, sambil menahan murka yang siap terlontar seperti magma gunung berapi.

“Kamu kedinginan?” tanyanya, kata-kata pertama yang ia ucapkan selain “terserah kamu” yang ia katakan saat aku bertanya ia mau pesan apa. Kulihat bajigurnya masih utuh, tapi tak ada lagi asap mengepul yang tersisa.

Aku menatapnya tajam sebagai jawaban.

“Maafkan aku, kita pulang saja, ya?”

Aku mengangguk setuju. Kami membayar bajigur lalu melangkah lamat-lamat ke mobilku. Kepalaku sudah penuh dengan berbagai pikiran dengan sikap anehnya. Ia masih membisu selama perjalanan pulang yang rasanya tidak selama waktu kami pergi. Dengan cepat, daerah Cimenyan dilewati, dan tanpa sadar, kami sudah mencapai jalan P.H.H. Mustofa.

“Apakah kau akan mengatakan sesuatu?” tanyaku akhirnya. Rasanya, bertanya di daerah yang sudah kukenal baik terasa lebih aman di bandingkan antah berantah di atas sana. Rasanya, andai aku bertanya di atas bukit tadi, ia akan meninggalkanku selamanya. Jika aku bertanya di sini, aku merasa masih bisa menjejak tanah jika mendengar berita buruk dari bibirnya.

“Menurutmu, apakah sebaiknya kita meneruskan hubungan ini?” tanyanya. Butuh waktu beberapa detik untuk mencerna kata-kata sederhananya itu. Nah, benar. Akhirnya ia mengatakan hal yang menyakitkan.

“Kenapa?” Aku merasa tak ada yang salah dengan hubungan kami. Kecuali bahwa aku tinggal di Bandung, dan dia di Jakarta. Intensitas pertemuan kami memang kurang, tapi menurutku komunikasi yang terjalin di antara kami cukup baik.

“Entahlah, aku hanya merasa ada sesuatu yang salah saja,” jawabnya. “Aku mencintaimu, itu pasti. Tetapi ada sesuatu yang cukup besar yang mengganggu pikiranku tentang hubungan kita. Sesuatu yang mencengkeram dari dalam dan menggerogoti pelan-pelan.”

“Mau menjelaskan?” tanyaku kaku. Kami hampir memasuki jalan masuk rumahku.

“Kita terlalu berbeda. Kamu dengan mimpi-mimpimu, bertolak belakang dengan keinginanku. Jika kita tidak menemukan titik temu, bagaimana kita akan berjalan bersama? Aku tak ingin menjadi seperti kanker yang menyerangmu pelan-pelan, lalu meninggalkan lubang besar di hatimu. Aku tak ingin menyakitimu, aku mencintaimu, sungguh-sungguh. Tetapi, kau tahu sendiri keadaanku. Aku tak tahu apakah aku bisa bersamamu di bawah sorotan lampu, sementara aku menginginkan ketenangan. Apakah kita bisa bertahan dalam keadaan seperti ini? Apakah aku bisa menghidupimu dengan layak? Sementara aku tahu, kamu tak mungkin meninggalkan duniamu demi aku.”

“Aku kan tidak pernah menuntut macam-macam darimu.”

“Kamu butuh lelaki mapan yang bisa menyesuaikan diri dengan kegiatanmu, dengan hobi belanjamu, hobi jalan-jalanmu. Seseorang yang memujamu dan mampu menyanjungmu bagai dewi. Aku memujamu, tetapi aku tak bisa menyanjungmu bagai dewi. Aku tak punya materinya, aku tak bisa membuatmu bergelimang harta.”

“Tapi, aku kan tak pernah menuntut hal-hal seperti itu darimu. Semua itu bisa kuusahakan sendiri.”

“Memang, tapi nanti aku akan jadi suamimu. Sudah sepantasnya, akulah yang memenuhi semua kebutuhanmu. Sementara, gaya hidupmu begitu kelas satu. Aku tak mampu.”

Aku terpekur mendengar kata-katanya. Bagaimana bisa, lelaki yang dahulu berada di titik yang sama; sama-sama mahasiswa kere yang saking tak punya uangnya mengemis mie instan pada teman kosan untuk makan, lelaki yang dulu mendukungku untuk menjadi pelukis professional, kini mengatakan hal-hal yang begitu tak masuk akal bagiku.

“Kenapa kamu tidak percaya padaku?” tanyaku. “Mengapa kamu tak percaya pada dirimu sendiri? Mengapa kamu tidak percaya pada kita? Hal-hal seperti itu bisa kita usahakan, bersama. Asal kamu percaya pada kita, bahwa kita mampu menjalani hubungan ini dengan baik, sampai kita menikah, sampai kita mati nanti,” ujarku optimis.

Gilirannya diam.

“Karir kamu semakin maju. Lukisanmu mulai banyak dilirik kolektor. Satu lukisanmu bisa terjual setara dengan dua-tiga bulan gajiku, bahkan lebih. Kamu semakin disorot dan nanti aku juga, kalau aku masih bersamamu. Masyarakat kita masih senang menilai dengan hitam-putih. Mereka akan mulai bergunjing kalau aku lelaki yang berada di ketiak istri. Lama-lama semua harta benda kita dibeli dari uang kamu,” ujarnya setelah menemukan kata-kata.

Aku hampir saja kena serangan jantung. Betapa naifnya. Aku tak pernah bermaksud melebihi penghasilannya, aku hanya melakukan hal yang aku cintai, satu-satunya hal yang aku bisa melakukannya dengan baik. Aku menatapnya gemas.

“Jadi, apa yang kamu inginkan?” tanyaku. Bulan pelahan tergelincir. Malam semakin larut, dan kami masih berdiam di dalam mobil yang kini terparkir di depan pagar rumahku.

“Aku ingin, kamu mempertimbangkan lagi semuanya. Memikirkan lagi dengan lebih keras, apakah hubungan kita layak dipertahankan.”

“Aku tidak mau berpisah dari kamu. Aku milih kamu bukan tanpa pertimbangan.”

“Aku tahu, tapi pikirkan lagi, apakah kamu benar-benar ingin bersamaku selamanya. Apakah kita bisa mengatasi perbedaan-perbedaan yang kita punya. Karena jika aku menikahimu, aku ingin selamanya.”

Malam itu, memandangi bulan yang belum bulat sempurna dari jendela kamarku, kenangan kami berlarian di benakku. Permintaannya untuk mempertimbangkan hubungan ini membuatku kecewa. Kepesimisannya membuatku kecewa. Apakah sebenarnya dia sudah menemukan perempuan lain? Seseorang yang tidak membuatnya merasa terancam? Seseorang yang buatnya tidak akan menyeretnya ke depan lampu sorot.

Malam itu, selepas perjalanan dari kafe Moko, memandangi bulan yang belum bulat sempurna dari jendela kamarku, aku mempertanyakan kembali cintaku.

Tanah Baru, 9/27/2009 9:45:17 PM

Advertisements

3 thoughts on “Malam di Moko

  1. jiaaaa…aku suka caranya bercerita
    apalagi bagian cerita lagu: malam minggu malam yg panjang, malam asik buat pacaran, pacar baru baru kenalan kenal di jalan jenderal sudirman ;P

    trus bagian cangkir motif tentara 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s