Jampi Mengikat Hati

Pintunya sudah tertutup.

Pintu itu sudah tertutup sejak kulihat punggung mereka di atas sebuah motor, lalu menghilang dari pandangan saat berbelok di sebuah tikungan.

Pintu itu sudah tertutup bagiku.

Dan aku sebisa mungkin menahan sesak yang seketika mencekikku, memaksa diriku untuk tersenyum menerima.

Kali ini, bukan aku yang berada di jok belakang motor itu. Bukan aku yang memeluk pinggangnya, Dari tempat persembunyianku, aku setengah mati melawan perasaan asing yang melanda; sebuah kesadaran baru menohok dadaku dengan kejam. Tak ada lagi kita. Hanya ada aku, aku dan kalian.

Gelombang kesadaran itu seolah ingin membunuhku.

***

Lima tahun dua bulan. Kira-kira, berapa kardus barang kenangan yang bisa dihasilkan dalam waktu lima tahun dua bulan? Kumpulan potongan karcis-karcis bioskop, tiket-tiket konser, karcis kereta, surat cinta, sms, boneka, bungkus coklat, mawar kering yang diselipkan diantaran lembaran buku “Pengantar Ilmu Psikologi Jilid I Edisi Revisi”, melati kering dalam skripsi “Representasi Perempuan dalam Novel karya Perempuan yang Terbit di Indonesia”, t-shirt couple yang kesepian karena pasangannya ada dalam lemari si lelaki, scrapbook berisi foto-foto selama lima tahun dua bulan. Foto pernikahan kakaknya, kami berdua; aku dengan kebaya merah seragam untuk pihak keluarga perempuan, dia di sebelahku memakai seragam hitam. Aku berpose serius agar foto kami berdua bisa dicetak lalu dimasukkan ke dalam bingkai dan jadi salah satu foto yang dipajang di kamarku. Dia, di sebelahku, menyeringai sambil menjulurkan lidah. Matanya terlihat jenaka, tertuju pada sanggulku. Saat itu, kupikir pose dia sama seriusnya. Dia tertawa-tawa kesenangan saat aku melotot protes padanya begitu aku melihat hasil fotonya.

Kami adalah Milka dan Fajar yang terkenal. Aku telah menjadi temannya sejak SMP, digosipkan pacaran sewaktu SMA, lalu pacaran betulan saat kuliah. Kami bertunangan setelah kami berdua lulus kuliah. Tak ada seorang pun, tak ada seorang pun, yang mengira kalau kami akan putus di tahun kelima lebih dua bulan. Kami adalah Romeo Juliet. Fiona dan Shrek. Beauty and The Beast. Snow White dan Prince Charming. Tak pernah sedikit pun terlintas di benakku, kalau dia mengakhiri hubungan kami dengan alasan tak masuk akal. “Kini kita berada di jalur yang berlawanan arah, kita sudah menginginkan hal yang berbeda, kita tidak bisa bersama lagi.”

Susah payah kutanamkan konsep itu di kepalaku agar setidaknya aku bisa menerima keputusannya. Kepalaku bisa menerima, tapi tidak hatiku. Aku terlanjur membuat banyak rencana masa depan yang melibatkan Fajar. Aku sudah membuat proyeksi di benakku, sebuah rumah, dengan detail yang sama setiap aku mengingatnya, seolah kami memang sudah memiliki rumah itu. Perabot bergaya minimalis, karena rumah kami kelak akan mungil. Halaman depan dan belakang dilengkapi taman kecil yang hijau. Dapur yang nyaman. Dua kamar tidur, dan satu ruangan yang penuh buku. Lalu pengurus rumah hanya akan datang tiga kali seminggu untuk mencuci, menyetrika, dan membersihkan debu-debu di rak-rak buku. Aku akan menyapu dan mengepel setiap hari sebelum pergi kerja. Ruangan kerjaku berada ruangan penuh buku itu. Cahayanya melimpah di pagi hari. Di tempat itu, aku akan merajut, membuat aksesoris dari bebatuan, membuat boneka perca, menjahit tas tangan, menggambar baju-baju yang kelak akan kujahit sendiri. Begitu Fajar mengucapkan nama lengkapku dalam satu napas saat ijab kabul, aku sudah berhenti dari pekerjaanku sebagai teller sebuah bank swasta dan memilih untuk menjadi full time wife. Lalu aku akan melahirkan bayi-bayi cantik. Fajar dan Milka junior yang manis dan pintar.

Aku harus melupakan bayangan itu. Karena Fajar dan Milka sudah tidak ada. Kini hanya Milka. Fajar bersama Glinda. Glinda the good witch from The Wizard of Oz turns out a wicked witch for me. She stole my prince charming. And it’s a bad, bad, bad thing to do.

Kini aku berdiri di hadapan api yang siap melalap apapun yang ia sentuh. Bunyi perciknya menghajar kayu dan plastik terdengar berdesis, kadang-kadang warna merahnya berpendar biru saat ia berhadapan dengan cat. Di kanan kiriku, kardus berisi benda-benda kenangan.

Aku siap melepaskan semuanya. Aku siap melempar semua ke dalam api. Potongan-potongan tiket ini, foto-foto ini, dan bahkan, ingatan ini.

Sebundel potongan tiket bioskop yang pertama kali mengorbankan diri. Nyala api semakin besar saat ratusan potongan karcis itu tersentuh olehnya. Aku menegarkan diri. Setiap lembarnya punya arti. Aku mengingat setiap lembarnya. Salah satunya bahkan adalah momen ketika Fajar melamarku. Di salah satu meja ruang tunggu XXI Djakarta Theatre. Di situ kami utarakan rencana-rencana kami.

Berikutnya adalah potongan tiket konser. Aku menutup mata, tak ingin mengingat apapun yang berhubungan dengan tiket-tiket itu. Namun, yang ada malah kenangan itu membanjir hingga membuatku jatuh terduduk.

Tidak, aku sudah berhenti jadi perempuan cengeng. Aku tak akan menangis lagi.

Satu demi satu benda kenangan itu habis dilalap api, semua berubah jadi abu. Tapi Tuhan, bagaimana membakar ingatan yang berada di dalam sini, dan sini? Tanyaku sambil menunjuk kepala dan hatiku.

Kemudian, bayangan Glinda memeluk pinggang Fajar di atas motor, kembali menguji kesabaranku. Gambar itu menari-nari seolah ingin mengejekku. Aku, yang ditinggalkan, yang tidak diperkenankan lagi masuk pintu hati Fajar. Seseorang menetap di sana, mengunci pintunya dari dalam.

Seketika, api semakin menyebar, berkobar-kobar di kepalaku.

***

Gadis itu duduk di hadapanku dengan tampang serius. Ia membiarkan es kelapa-jeruk pesanannya tak tersentuh. Es telah menyebabkan gelasnya berembun; butir-butirannya merayap pelahan ditarik gravitasi. Ia mendengarkan semua kata-kataku tanpa menyela. Di hadapanku, terdapat benda-benda kenangan yang berhasil kuselamatkan dari kobaran api, beberapa diantaranya, pinggirannya gosong.

“Jadi, kamu tak bisa begitu saja membawa Fajar dariku,” ujarku mengakhiri pembicaraanku.

Glinda masih terlihat tenang. Ketenangannya membuatku panik. Seharusnya dia melawanku, seharusnya dia memaki-makiku agar aku punya alasan untuk membencinya. Tetapi Glinda begitu baik. Sejak awal ia berhasil menarik simpatiku dengan meminta maaf karena telah menjadi pelarian Fajar setelah putus dariku. Sejak awal ia sudah mengatakan kalau ia tak punya maksud untuk merebut Fajar dariku, tak ada maksud untuk menyakiti hatiku. Seharusnya dia memang memaki-makiku, menyuruhku pergi ke neraka karena saat ini statusku hanyalah mantan. MANTAN PACAR. Aku bukan lagi bagian dari rencana-rencana Fajar. Mantan tunangan tidak diikutsertakan dalam rencana masa depannya. Aku adalah karyawan outsource yang sudah habis masa kontraknya.

“Mbak Milka sudah selesai?” tanya Glinda dengan ketenangan yang memuakkan.

“Ya, saya sudah selesai. Pokoknya saya ingin kamu memutuskan Fajar.”

“Saya merasa prihatin dengan keadaan Mbak Milka, memang rasanya menyakitkan harus berpisah dengan orang yang kita cintai, tetapi saya tidak bisa memenuhi permintaan Mbak. Dan saya harus permisi, karena saya ada urusan di tempat lain. Semoga Mbak berhasil dengan segala urusan Mbak, saya minta maaf karena tidak bisa membantu,” ujarnya. Glinda mengangkat tasnya dari meja, kemudian melenggang pergi. Ia tidak sadar kalau sesuatu jatuh dari tasnya.

Secarik kertas.

Secarik kertas terlipat hingga sangat kecil.

Aku membukanya dengan penuh rasa penasaran. Setiap lipatan terbuka, terdapat tulisan kecil-kecil yang tak bisa kubaca tanpa kacamataku. Aku meluruskan kertas itu saat lipatan terakhir terbuka. Isinya tulisan kecil-kecil yang serupa dan tak dapat kubaca.

Namun, ada tulisan lebih besar yang bisa kubaca di atas semua tulisan kecil itu.

“Jampi mengikat hati.”

8/9/2009 11:24:05 PM

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Ivan says:

    *Glezz* keren bgt nieh cerpennya. Judulnya it loh buat penasaran. Saya bnyk belajar dr karya ini. 🙂

    “Hey Glinda, akan ku sobek bibirmu” teriakku diatas jok motor. Hahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s