Surat

Hai orang asing,

Sebaiknya kau bertanggung jawab. Bahwa kau tak bisa selamanya asing. Setiap kali, meski tak kau sadari, kau membuka selubungmu, selapis-demi-selapis. Dan setiap itu pula, aku seperti menyecap makanan surga, atas informasi mungil yang kutemukan sendiri, sebagai hadiah mengupas bawang-bawang selubungmu. (now my heart is racing)

Hai orang asing, seharusnya kau tahu. Ini yang akan kau dapatkan. Engkau tak lagi asing. Kau tak lagi makhluk asing dari planet asing. Kau membaca aku. Aku membaca kau. Tinggal secerdas apa kita memahami satu sama lain.

Kau salah, kalau kau bilang, kita sepenuhnya asing. Kita adalah makhluk sepi dalam buah persik. Saat satu lagi selubung itu terkelupas, kau tahu, keasinganmu mulai pudar.

Advertisements

Puisi-puisi Twitter

3 Mei 2010
(1) Dibunuh sepimu, aku berbaring di nisanmu, saling berpelukan.

(2) Awan dan bulan putih saling membelit menjelma elang. Pagi ini, sepotong kantuk masih menindih di atas bahu.

(3) Kau adalah hutan, yang memeluk pohon-pohon purba dan menjaga mata air bumi, aku hanya pelancong, numpang mandi di sumurmu.

(4) Kini awan itu seperti tangan penyihir yang hendak meremas bulan separuh. Ia pasrah, lalu retak!

(5) Seseorang yang dikenal sebagai putih salju telah menggigit apel itu. Pun Hawa. Kini keduanya kena tulah.

(6) Singgahlah di sini, akan kuracik ramuan pelangi.

(7) seperti pelancong yang mampir di kedai minuman pelangi, kau tak mau pergi

(8) seperti kaki gerimis yang menari di atas aspal, hanyut ditelan gravitasi, kau berlari ke lorong cekung, terus ke gorong-gorong.

(9) Kau punya gula pahit hidupmu sendiri, kedai ini hanya menyediakan pelangi, ujar bidadari penjaga kedai minuman pelangi itu.

30 April 2010
(1) Di saluran luka itu berkumpul semua prajurit terbaik. Mereka tak tahu apa yang menghadang. Tenggelam banjir darah.

(2) Itu bulan yang sama yang kita tatap, tapi kini kau tak lagi mencintaiku.

(3) Begitu sengit malam bingit pd senja. Dikoyaknya lanskap jingga itu dgn mata pisaunya yg dengki. Ditorehkannya gulita pd langit.

(4) Pygmalion: selesai kauukir tubuhku dari batu, kau menikahiku

(5) seperti gigil demam malaria, matamu merontokkan persendianku

(6) seperti tiram kaukatupkan kelopak matamu itu, lalu menetes mutiara dari selanya

(7) Di altar persembahan para penari sudah bersiap. Sesaat lagi tubuh molek itu akan memerah-biru. Lalu hujan turun. Mereka bersorak.

(8) seperti malam yang cemburu pada senja, ia tanggalkan cintanya yang sengit di pohon jambu.

(9) seperti telaga, jauh kuselami, terlalu dalam, aku tenggelam dalam senyummu

(10) Riakmu adalah ombak yang tak pernah lupa pulang pada pantai.

(11) … dan roti, yang tak sabar ingin lumat dalam rekah bibir delimamu