Bulan Madu

Rasanya aku mengerti apa yang dipikirkan oleh Veronika saat dia berniat untuk mengakhiri hidupnya. Atau mungkin juga tidak. Namun, apa yang menghinggapi kepalaku saat ini, kurang lebih sama dengan apa yang ada di kepala pustakawan berusia dua puluh empat tahun itu ketika dia menelan pil-pil tidur kemudian menunggu kedatangan malaikat maut sambil dengan santai membaca artikel tentang Slovenia dalam sebuah majalah bulanan berbahasa Prancis. Tetapi, aku tidak menenggak pil tidur sambil membaca majalah. Malah, aku masih bingung menimbang-nimbang dengan cara apa aku akan menjemput kematianku.

Kurasa sangatlah menarik jika kita bisa memilih bagaimana kita mati, pada saat yang bisa kita tentukan sendiri. Kira-kira, apakah aku akan memilih cara maskulin dan kasar dan berdarah-darah dengan melompat dari ketinggian 23 lantai tempatku bekerja? Ataukah menabrakkan diri ke depan sebuah truk yang melaju kencang? Memenggal leherku sendiri dengan pisau cutter, melibatkan diri dalam bentrokan massal dan mengorbankan diri untuk lebih banyak dipukuli dan ditendangi? Yang terakhir itu pasti bisa dilakukan, mengingat begitu banyaknya tawuran dan unjuk rasa berdarah yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini.

Atau, apakah akan kulakukan dengan cara lembut dan feminin seperti yang dilakukan Veronika? Menikmati obat nyamuk cair yang dicampur dengan mint sahi favoritku, menelan dosis berlebih obat-obat berbahaya dan kedaluwarsa? Mengerat pergelangan tangan dengan silet perapi bulu ketiak? Menenggelamkan diri di bath tub?

Belum. Aku belum memutuskan.

Apakah kematian itu sakit? Mereka bilang iya. Namun, aku tak tahu, karena aku tak mengenal siapa pun yang kembali dari kematian. Pada ulang tahun kedua puluh delapanku yang soliter dan sepi, sebuah pemikiran bersayap muncul dalam kontemplasi malamku. Aku merasa telah cukup. Hidupku tidak bisa lebih berarti lagi dari sekarang. Aku harus berhenti. Aku lelah, dan aku tak ingin hidup lebih lama lagi. Jika kalian berpikir aku sedang patah hati, kalian salah. Tidak ada pria yang bisa kutangisi saat ini. Aku sendirian. Lajang, cantik, menarik, berada di puncak kematangan, bahagia.

Bahagia? Apakah kebahagiaan itu? Lex Luthor dalam drama seri Smallvile pernah berkata pada Chloe; Kebahagiaan adalah makhluk yang sukar dimengerti. Kita semua mengharapkannya, tetapi hanya sedikit yang bisa menemukannya. Apakah kebahagiaan yang kurasakan ini hanyalah ilusi? Semu. Bahagia yang sudah tercemplung dalam zona nyaman sehingga aku lupa bagaimana rasanya. Aku tahu ini bernama bahagia, tetapi tidak ada rasa lain sebagai pembanding. Mengapa bahagia ini terasa hampa? Apakah sebenarnya aku tengah membohongi diriku sendiri? Kebetulan saja jika kebosananku ini mirip dengan apa yang dirasakan Veronika.

Tak ada niat sedikit pun untuk menjadikan gadis fiktif ciptaan Paulo Coelho itu panutanku hingga aku mengikuti jejaknya bunuh diri. Namun, itulah yang berputar-putar riuh di atasku, mencengkeramku seperti tentakel-tentakel gurita. Hidupku terlalu biasa, seolah-olah aku mengulangi kehidupan milik orang lain yang sudah mati. Tidak ada yang istimewa yang datang kepadaku. Semua ini tak lagi menarik untuk dijalani.

Jadi, daripada aku buang-buang waktu dan biaya untuk menjalani kehidupan yang biasa-biasa ini, lebih baik aku mati. Biarkan sumber daya alam dimanfatkan oleh orang ambisius yang optimistik. Waktuku telah saatnya diakhiri. Hidupku bergerak mekanis dengan ritual-ritual monoton yang lama-kelamaan membakar kepalaku perlahan.

Aku membayangkan diriku berada dalam sebuah adegan film. Saat tokoh utamanya sendirian dan berpikir, tetapi tanpa musik pengiring seperti dalam film. Saat kau terserap tenggelam masuk dalam dirimu sendiri, suara latar adalah bising lalu lintas, derungan mesin kopaja, teriakan pedagang asongan, suara pengamen mengiris-iris telingamu, decitan rem, suara timer menyuruh calon penumpang masuk kopaja tertentu. Suara dentingan sendok dan gelas. Dering telepon genggam. Pemantik api. Sedotan plastik saat menusuk penutup minuman dalam gelas.

Saat kau ingin hening, atau mendengarkan bebunyian yang beradab dari alat musik tertentu, semua suara dunia normallah yang bertabrakan menggetarkan organ korti dalam gendang telingamu. Semua ritual itu kujalani. Begitu lepas kilatnya waktu melesat, tak ada waktu untuk mengeluh, untuk membanding-bandingkan dengan dunia ideal. Kau dituntut untuk secepat superhero, mengejar sesuatu dengan sangat, tapi malah lupa sedang mengejar apa.

Aku sudah tidak cocok dengan semua kekacauan ini. Dan karena aku tak dapat menghentikan atau memperlambat dunia, maka aku saja yang akan berhenti. Aku membenci segala sesuatu yang tak dapat kukendalikan. Aku tak suka harus mengenakan topeng setiap saat, mengikis sedikit demi sedikit diriku untuk menyenangkan orang lain. Hanya agar mereka tak menganggapmu bukan bagian dari mereka. Hanya agar kau tak sendiri. Padahal kenyataannya aku memang sendirian. Aku hanya mencegah mereka mengirimku ke rumah sakit jiwa.

Bagaimana rasanya berada di rumah sakit jiwa?

Aku tak ingin tinggal di rumah sakit jiwa. Karena aku tidak gila. Tetapi mengapa rasanya cara berpikirku kini semakin kacau balau seolah-olah memang sudah selayaknya aku tinggal di rumah sakit jiwa? Aku takut memperlihatkan wujud asliku. Aku takut manusia-manusia di sekitarku menyebar menjauh, menatapku seperti wabah. Aku takut aku akan takut menatap jelmaanku di cermin. Aku takut menjadi gila. Aku takut dianggap tak lazim. Aku takut ditanya dan tak dapat menjawab. Bukan karena aku tak punya jawabannya, tetapi karena aku takut pada efek dari jawaban itu. Aku bosan berpura-pura. Bermanis-manis. Menjilat. Menyetujui sesuatu yang bertentangan dengan keyakinanku. Munafik. Tapi itu cara bertahan hidup, dengan menyebar kebohongan, membuat muka palsu, atau menempelkan hidung palsu berwarna merah. Lihat, aku badut yang tersenyum. Maka aku ingin mati. Dengan cara apa, Itu yang sedang aku cari. Mungkin sebentar lagi aku akan tahu.

***

Lantai 13 masih gulita saat aku tiba pagi itu. Cahaya tak datang ke daerah dekat lift karena tak ada jendela di situ. Aku baru bisa melihat saat membuka pintu masuk. Cahaya memantulkan citra yang diserap otakku hingga diterjemahkan menjadi sebuah benda. Sinarnya lemah karena terhalang tirai, meja, dan filing cabinet. Mendekat mejaku yang di sebelah dinding kaca, cahaya semakin kuat. Matahari hangat membanjir di sana. Kunyalakan komputer. Memulai hari membosankan yang sama dengan kemarin. Manager datang, berucap selamat pagi. Sedikit berbasa-basi tentang dua manga yang kutaruh di meja – lupa kusembunyikan. Lalu berceloteh tentang hal-hal yang tak ingin kudengar.

Saat ini aku hanya ingin berinteraksi dengan komputer, bukan manusia. Tetapi, mulutnya terus mengalirkan kata-kata, racauan tentang akhir pekannya di sebuah cottage di pulau terpencil. Aku hanya menanggapinya sekilas demi terlihat sopan. Sebenarnya yang ingin kukatakan hanyalah : ”Tinggalkan aku sendiri!” Lelaki itu baru pergi setelah merasa cukup menyanyah. Aku menatap punggungnya menghilang di balik filing cabinet.

Apa yang akan dia pikirkan kelak jika aku mati bunuh diri?

Pesawat telepon berdering. Di ruangan yang masih hening ini, suara itu memonopoli semua bunyi. Aku mengangkatnya enggan.

“Travel Galaksi selamat pagi! Dengan Ratnasari bisa dibantu?” Suara ceriaku tak menunjukkan isi hatiku.

“Selamat pagi, Mbak. Saya ingin memesan tiket ke luar angkasa!” ujar suara itu. Dia terdengar sangat jauh, mungkin ratusan mil dari dunia nyata.

“Maaf, Mas?”

“Saya ingin memesan tiket ke Luar Angkasa!”

“Maaf, Mas, kami tidak melayani perjalanan Luar Angkasa!” jawabku masih sabar.

“Saya ingin memesan tiket ke Luar Angkasa untuk dua orang!”

“Tetapi, Mas. Tidak ada yang namanya perjalanan ke Luar Angkasa. Bukankah hal-hal seperti itu hanya dilakukan oleh astronot?”

“Saya ingin memesan tiket ke Luar Angkasa untuk dua orang. Saya akan segera menikah, dan kami berencana untuk berbulan madu di luar angkasa!”

“Maaf, Mas. Saya tidak bisa menolong Mas untuk permintaan itu!” Aku menutup telepon dengan gusar. Aku mendengus pada pesawat telepon. Orang aneh. Aku membuka program database pemesanan tiket di komputerku. Telepon berdering lagi.

“Travel Galaksi selamat pagi! Dengan Ratnasari bisa dibantu?”

“Mbak Ratnasari…Saya benar-benar minta tolong! Saya ingin memesan tiket ke Luar Angkasa!”

“Mas … travel ini hanya melayani perjalanan dalam angkasa, bukan ke luar angkasa!” jelasku.

“Tapi, mbak, benar kan ini Travel Galaksi? Harusnya bisa, kan, melayani perjalanan antarplanet?”

“Mas, itu hanya namanya saja!”

“Tapi Mbak, kami benar-benar HARUS bulan madu di Luar Angkasa!”

“Mas cari travel lain saja. Maaf saya tak bisa membantu!”

“Saya sudah mencari semua travel. Mbak harapan terakhir saya!” “Tapi saya tak dapat membantu Mas. Kami tidak melayani pemesanan tiket semacam itu!”

“Mbak…saya benar-benar minta tolong. Jika mbak menemukan travel yang bisa membawa saya ke luar angkasa, tolong hubungi saya, Radana, 08223456790!”

Orang itu gila. Itu jelas sekali.

***

Aku pulang dalam keadaan sangat lelah. Dan entah kenapa, suara lelaki yang menelepon paling pagi itu selalu terngiang dalam ingatanku. Lebih aneh lagi, aku bisa mengingat nomor teleponnya. Jika ia segila itu, mungkin ia punya ide yang cemerlang untuk bunuh diriku. Ide untuk jalan-jalan ke luar angkasa benar-benar menggodaku. Andai saja benar-benar ada travel yang melayani perjalanan ke luar angkasa. Aku bisa bunuh diri di sana, menjatuhkan diri ke ruang hampa gravitasi.

Selesai mandi, aku berbaring menatap langit-langit kamar. Di sudut arah jam dua pandangan mataku, langit-langit itu lembap dan ada rembesan air berwarna kekuningan membentuk gambar dua dimensi. Aku menatapnya lekat-lekat. Mirip seseorang tengah membungkuk menghadap sesuatu, dengan tangan terentang ke belakang memegang belati, bersiap menusuk. Aku mengucek mata, gambar itu hilang, berganti rembesan air yang tidak membentuk sesuatu yang berarti. Hanya rembesan lembap berwarna kuning.

Angka-angka bertaburan dalam ingatanku. Kombinasi sebelas angka yang disebutkan lelaki gila bernama Radana itu tepat urutannya, berbaris seperti sekumpulan prajurit perang. Kosong. Delapan. Dua. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Sembilan. Kosong. Dengan cepat nomer-nomer itu kuketikkan lewat tombol ponselku. Kutekan tombol panggil. Nada tunggu. Satu. Dua. Tiga. Empat. Aku gelisah.

Apa yang kulakukan? Menelepon orang asing seperti ini, untuk kepentingan yang abstrak pula? Aku hampir menutup teleponnya ketika ada suara yang menyahut.

“Halo?”

“Mas Radana?”

“Mbak Ratnasari?”

Dia mengenaliku!

“Mbak Ratnasari sudah dapat travel itu ya?”

“Belum…!”

“Oh bagus … saya tidak mau merepotkan Mbak Ratnasari. Saya baru saja diputuskan calon istri saya! Jadi rencana bulan madu ke luar angkasa itu dibatalkan. Mbak Ratnasari belum mencari travel itu kan?”

“Belum…!”

“Oh…!”

“Tapi tiba-tiba saya juga ingin pergi ke luar angkasa!” ucapku tanpa sadar.

“Benarkah? Apakah menurut Mbak Ratnasari kita bisa pergi bersama-sama?”

“Mungkin!” suaraku semakin lirih seperti tercekik.

“Apakah kita akan meninggalkan bising bumi jika kita pergi? Apakah kita bisa santai terus menerus dan tak usah berlari terengah-engah untuk mengejar yang lain? Apakah kita bisa menikmati hidup dan bahagia di sana?”

“Saya belum tahu, Mbak!”

“Mas, Apakah kita hanya bulan madu atau tinggal di sana?” Pertanyaanku semakin absurd.

“Kita lihat saja nanti keadaannya. Jika memungkinkan tempat kita terdampar itu ditinggali oleh manusia, mungkin kita akan membentuk koloni baru di sana. Untuk bersiap-siap, saya akan membawa sepasang kambing untuk diternakkan.” “Kambing? Mengapa kambing?”

“Hanya itu daging yang bisa saya makan. Saya sangat menyukai daging kambing.”

***

Aku sudah mencoret semua kemungkinan mati di dunia. Kemungkinan aku akan melepaskan nyawaku di luar angkasa sungguh membuatku sangat bersemangat. Menarik, karena kita tak tahu apa yang akan terjadi di sana. Berapa lama kita akan bertahan di atmosfer yang tidak dikenali ritme tubuh kita? Apa yang akan kita lakukan di sana? Semua pemikiran itu membuatku menekuni situs-situs pencari. Mencari berbagai kemungkinan kehidupan di luar angkasa. Dan jika tak ada kehidupan di sana, jadilah.

Itu adalah cara bunuh diri yang paling fantastis. Bunuh diri bombastis. Tubuh manusia didesain untuk berada dalam pengaruh gravitasi. Beberapa kosmonot yang pernah dikirim ke luar sana mengalami penurunan massa otot dan tulang sekitar 15 persen. Butuh tiga hari bagi mereka dapat mengembalikan kekuatan tubuh mereka untuk bergerak dalam pengaruh gravitasi. Semakin kita menjauhi Bumi, semakin mendekati Jupiter, tulang kita akan mulai retak. Lalu, saat kita mencapai Saturnus, tulang kita hancur karena terlalu lama berada pada lingkungan dengan gravitasi nol. Tentunya dengan seorang pengikut, bunuh diri itu seperti legal. Karena ada yang membantuku melakukannya. Biar Radana yang mendapat imbas risikonya.

Esoknya, aku pergi kerja dengan hati riang. Senang rasanya memiliki rencana. Memiliki rencana dan menikmati prosesnya membuatku merasa hidup. Ironisnya, aku tengah merencanakan kematianku. Tapi aku yakin aku mati bahagia, karena aku yang memilih.

Radana meneleponku pada sore hari, mengabarkan hal yang membuatku girang. Dia yakin bahwa makhluk luar angkasa tak kasatmata pernah mendarat di bumi untuk melakukan bulan madu luar angkasa di Bumi. Menurutnya, Patung Dirgantara di Pancoran itu adalah salah satu stasiun transmisi mereka. Alien-alien dari berbagai penjuru galaksi berbondong-bondong pergi ke bumi untuk merayakan kopulasi mereka. Bumi adalah tempat favorit untuk reproduksi. Seminggu di Bumi, mereka pulang membawa benih anak-anak mereka yang tersimpan dalam kepala yang bervolume besar. Ingatkah UFO yang sempat terlihat di Jakarta beberapa waktu lalu? Mereka lupa memasang tabir penyembunyi saat mereka hendak mendarat di Patung Dirgantara.

Dia mengajakku pergi akhir pekan ini. Kami akan memanjat stasiun luar angkasa itu pada tengah malam, karena jadwal keberangkatan memang selalu disetel tengah malam, tatkala tak banyak mobil dan manusia berlalu lalang. Stasiun Luar Angkasa itu sungguh berdebu. Baru saja kusentuhkan tanganku, debu hitam berminyak menempel tebal di telapakku. Bentuk tapak tanganku tertinggal di kaki patung berusia 42 tahun itu. Radana memberiku sarung tangan khusus yang bisa menempel dalam permukaan berdebu dan licin. Kami mulai memanjat pukul satu pagi. Saat itu lalu lintas lengang, tak ada yang memperhatikan dua manusia memanjat patung setinggi 38 meter. Kami merangkak naik, perlahan, sambil menikmati desir angin, sesekali saling memandang penuh semangat. Kami tiba di puncak voetstuk dengan tubuh yang kotor.

Masih sebelas meter lagi untuk mencapai kepala patung, tetapi Radana bilang, Stasiun Luar Angkasa ini memang terletak di kaki sang patung perunggu seberat 11 ton tersebut. Tak ada tanda-tanda bahwa ini adalah sebuah stasiun yang menghubungkan bumi dengan planet-planet dan benda luar angkasa lain. Hanya dingin yang menusuk menggeletukkan gigi. Tak ada satu pun benda yang mirip pesawat atau kendaran apa pun. Radana tampak tengah berada di loket tak terlihat, membeli karcis yang tak terlihat. Di tempat yang sama, ia seperti membuka pintu yang tak kasatmata, mengajakku serta. Namun, kakiku kram dan tak dapat digerakkan karena dingin ini.

Radana meloncat. Berteriak bahagia.

“Bulan madu luar angkasaaaaaa …. Kami datang!”

Aku melihatnya jatuh. Seperti gerakan slow motion dalam film. Dia melewati penyangga Patung Pancoran, semakin lama semakin ke bawah. Lalu. Brukkkk. Badannya berserakan di aspal. Aku menatapnya dalam tubuh yang beku. Dalam ketakutan yang mencekam. Dalam horor akan kematian yang mengerikan. Aku tetap diam di sana hingga ada orang yang menemukan mayat Radana. Aku tetap menggigil hingga ada orang yang menyadari keberadaanku di puncak patung Dirgantara. Aku tetap diam ketika mereka mengevakuasiku dan membawaku turun. Aku tetap diam. 6/7/2008 11:45:09 AM

Advertisements

Mera Barbie*

Hanya selang satu hari, namun rumah Pak Nandang sudah kembali dipenuhi deretan bunga papan. Makanan katering sisa pesta kemarin masih memenuhi kulkas di dapur Bu Nandang. Rangkaian bunga mawar, krisan dan bunga lili dari gedung resepsi belum layu tersebar di berbagai ruangan. Rumah itu masih semerbak wangi bunga dan makanan enak. Kebaya-kebaya pinjaman dari “Mama Sonya: Rias Pengantin” masih tersampir di ruang keluarga, menunggu Ujang untuk mengembalikannya. Bahkan ronce melati yang berhasil dicuri dari sang pengantin, masih tergeletak kekuningan di kamar rias salah satu kamar.

Bi Amah yang berteriak heboh pertama kali saat menemukan Mera tergantung di kamar pengantin. Lehernya terkulai, disangga kabel setrika panjang yang diikatkan pada kayu yang melintang di atas lubang segiempat berukuran limapuluh kali enampuluh senti di langit-langit. Lidahnya terjulur, tangannya jatuh tergantung-gantung bersama setrika. Seluruh tubuhnya menghitam seperti terbakar. Matanya membelalak setelah menahan nyeri tak terkira. Di bawah kakinya, sebuah bangku plastik dalam keadaan terguling. Bangkai kutu berserakan di bawahnya.

Bi Amah pingsan setelah berteriak karena melihat anak asuhannya dalam keadaan mengenaskan begitu. Orang-orang yang masih ramai di rumah itu sontak menghampiri sumber suara dan menatap pemandangan yang sama. Mera, sang pengantin baru, mati. Mera tak mungkin bunuh diri. Ia gadis yang sangat mencintai hidup.

Sebagai penyanyi dangdut yang manggung dari kampung ke kampung, kesempatan untuk membuat album dan masuk televisi sangatlah langka. Tetapi Mera adalah bintang Suara Irama Jaya. Walaupun suaranya pas-pasan, tapi ia piawai membujuk para masteng memberikan saweran yang banyak. Hanya bergoyang sedikit, para lelaki itu langsung menggonggong seperti anjing, menurut bagai kerbau dicocok hidung. Tubuhnya mulus tanpa cacat, hingga ia mendapat julukan Mera Berbie. Rekan kerja sekaligus pesaingnya sesama penyanyi dangdut di SIJ yakin benar kalau Mera menggunakan susuk. Dinah, yang pernah menjadi temannya sewaktu sekolah menengah bersaksi bahwa dulu kaki Mera korengan akibat sering main di selokan. Rambutnya yang halus berkilau itu pun dulunya penuh kutu yang saking banyaknya sampai merayap ke baju seragamnya yang putih. Senyum dengan geligi rapi yang tak bisa dienyahkan dari pikiran hingga tujuh hari tujuh malam itu, dulu tak pernah menimbulkan efek seperti ini.

Dinah, dan penyanyi lainnya percaya, Mera menggunakan susuk sakti yang bahkan susuk-susuk mereka pun tak dapat menandinginya. Konon, susuk itu jugalah yang mengantarkan Mera kepada produser ternama yang mengorbitkan sejumlah bintang dangdut DVD menjadi bintang dangdut yang tampil di televisi nasional dan seluk beluk hidup pribadinya dibicarakan infotainment.

Sebelum bertemu Agus Kumpret sang produser, nama Mera Berbie sudah tak asing di lapak-lapak DVD bajakan di terminal-terminal. Goyangannya yang khas juga sudah terbiasa ditampilkan dalam televisi 14 inci milik pedagang-pedagang kaki lima itu. Banyak orang lewat berhenti sebentar saat melihat video Mera dan tubuh mulusnya tampil di sebuah lapak. Ia hanya satu langkah lagi untuk seterkenal Ratu Nanas yang baru saja bercerai dari Saekan Jamal dan kini diisukan menikah siri dengan pemain sinetron yang tidak jelas main sinetron apa.

Ia tak mungkin bunuh diri. Ia akan rekaman sebentar lagi, dan ia baru saja menikah kemarin.

Kemungkinan terbesar adalah, dia dibunuh. Masalahnya, siapa pembunuhnya?

Jari-jari akan otomatis menunjuk Bagus, sang suami baru, karena lelaki itu tak ditemukan di manapun dalam rumah itu. Saat ditelepon untuk dikabari perihal kematian Mera pun ponselnya tidak aktif. Lagipula, pengantin baru macam apa yang meninggalkan pengantinnya di malam pertama? Pasti ada sesuatu yang salah dengan Bagus.

Bu Nandang tidak pernah merestui pernikahan Mera dengan Bagus yang baru dikenalnya tiga bulan. Mera tergila-gila pada pemuda itu. Sementara Bu Nandang menganggap Bagus hanya menginginkan uang Mera. Mereka tidak satu level. Walaupun Bagus lulusan S1 sebuah Universitas Swasta Tak Terkenal, ia hanya bekerja sebagai tukang ojek. Tak peduli walau dia lulus cum laude dari Fakultas Ekonomi. Setelah tiga tahun mencoba peruntungan dengan melamar ke berbagai bank dan perusahaan lain, Bagus menyerah. Perusahan-perusahaan yang didatanginya hanya menginginkan lulusan Universitas Negeri dan Universitas Swasta Terkenal. Atau paling tidak, ada koneksi dari dalam. Bagus tak mengenal siapa pun. Ayahnya seorang tukang becak, ibunya berjualan kue basah keliling kampung. Tipikal orang miskin. Beruntung Bagus sempat kuliah karena kemurahan hati Pak Jarot yang rumah mewahnya berpunggungan dengan rumah kumuh bapaknya. Sejak SMP, ia sudah bekerja di rumah Pak Jarot. Mengetahui kemampuan otak Bagus yang lumayan, Pak Jarot menyekolahkannya hingga lulus kuliah. Sayang, kemudian Pak Jarot meninggal dan semua anggota keluarganya konon pindah ke luar negeri. Bagus tak lagi punya koneksi untuk mendapatkan pekerjaan.

Menjadi tukang ojek pun tak apa. Di jok ojeknyalah Bagus dan Mera berkenalan. Mera ketinggalan rombongan SIJ saat ada job di kampung Sukasirna. Dinah yang memberitahu Bang Jaki pemimpin SIJ bahwa Mera sakit dan tak bisa ikut menyanyi di pernikahan ketiga Ki Jalu, pawang hujan yang sering dipakai dalam acara-acara outdoor oleh televisi ternama, dengan seorang gadis desa berumur 15 tahun.

“Ngebut, Bang ya! Mera harus nyampe duluan sebelum Dinah.” Tuntut Mera sambil memamerkan senyum andalannya. Jantung Bagus seketika loncat dan pindah ke lambung, lalu pindah ke dengkul, pindah ke otak, hingga ia agak-agak gagap menyetir motornya. Jatuh cinta pada pandangan pertama, orang-orang bilang. Bagus tak pernah merasa kalau rasanya akan tak karuan begini. Seperti membonceng kuntilanak, seakan-akan setiap saat Mera akan menghilang dari jok belakangnya dan ia cuma bermimpi.

Pada saat itu Bagus belum tahu kalau Mera pun merasakan hal yang kurang lebih sama. Gadis sembilan belas tahun itu dag dig dug kepayahan mengatur posisi duduknya karena ia ingin terus lengket-lengketan dengan lelaki yang akan mengantarnya ke Kampung Sukasirna. Rambutnya yang membuatnya kepincut setengah mati. Dan bentuk jarinya. Entah kenapa, Mera selalu jatuh cinta dengan lelaki yang memiliki jari-jari seperti Bagus. Panjang dan besar, dengan pembuluh darah yang menonjol, indah seperti relief ular biru-ungu-kemerahan yang melingkar-lingkar. Jari-jari seperti itu membentuk tangan yang hangat dan melindungi, yang akan merengkuh bahunya, yang mengelus rambutnya, yang pas meremas payudaranya.

Pelan-pelan Mera melingkarkan tangannya ke pinggang lelaki itu, rambutnya yang wangi berkibar-kibar tertiup angin dan sesekali mampir di hidung Bagus, membuat perjalanan itu seakan tak pernah usai. Keajaiban besar mereka tidak mengalami kecelakaan sampai di Sukasirna.

Ki Jalu langsung melamar Mera untuk menjadi istri keempatnya begitu gadis itu tiba di tempat resepsi. Personil SIJ yang lain masih sepertiga perjalanan lagi untuk mencapai tempat Ki Jalu. Dengan halus Mera menolak lamaran Ki Jalu, berkilah bahwa Bagus adalah tunangannya – yang bahkan membuat Bagus lemas, tak mampu lagi menapak tanah.

Kedua sejoli itu menikah tiga bulan kemudian, yang sampai pada awal cerita. Pengantin perempuan mati tergantung. Pengantin lelaki menghilang, dan besar kemungkinan Bagus yang membunuhnya, setidaknya begitulah spekulasi Bu Nandang. Siapa lagi yang akan membunuhnya? Lagipula Bagus pergi setelah kejadian itu. Pasti ada sesuatu yang hilang dari kamar Mera. Begitu pikir Bu Nandang.

Ia mengacak-acak kamar mencari sesuatu yang seharusnya hilang dicuri oleh Bagus sehingga polisi, saat datang ke TKP, kesulitan mengumpulkan bukti.

***

Lalu ke manakah Bagus?

Ia pergi setelah memohon-mohon kepada Mera agar ia tidak bunuh diri. Susuk Mera memiliki pantangan. Dinah tahu pantangannya, karena ia yang mengantar Mera memasang susuk. Ia tak bisa mendapatkan susuk sedahsyat Mera karena ia sudah tidak perawan. Nyai pemasang susuk berbisik pada Dinah sebelum mereka meninggalkan tempat itu : “Khasiat susuk akan hilang kalau Mera bercinta dengan lelaki yang dicintainya. Kulitnya akan menghitam seperti terbakar.”

Mera menangis di malam pertama mereka, karena begitu ia mencapai puncak, sesuatu seperti melesat meloncat dari tubuhnya, lalu terdengar bunyi cling benda logam yang jatuh ke lantai keramik. Perubahan itu hampir instan. Kulit mulus cemerlangnya dengan segera digantikan dengan warna hitam gosong. Persis seperti saat Purbararang mengoleskan ramuan getah yang membuat kulit Purbasari menjadi hitam pekat. Kebahagiaan dan perasaan melayang yang tadi dirasakannya seketika menguap saat ia menyadari susuknya meloncat keluar dari tubuhnya.

“Mera lebih baik mati saja, Bang! Bagaimana mungkin Mera bisa rekaman dengan keadaan Mera seperti ini? Mera tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa ini bisa terjadi? Mera mau mati saja, Bang. Mera sudah tak sanggup lagi hidup.”

“Kalau Mera mati, Abang juga tidak sanggup meneruskan hidup. Mera itu cahaya hidup Abang. Kalau Mera mati, dunia Abang gelap.”

“Tapi Mera seperti ini sekarang, Bang. Siapa yang mau mengelu-elukan Mera di panggung kalau begini caranya? Tak ada lagi yang mau nyawer Mera.”

“Yang penting kan Mera sama Abang. Abang tak peduli Mera seperti apa, Abang tetep sayang sama Mera. Abang akan bekerja giat untuk menghidupi kita, mungkin sudah jalannya kamu tak menyanyi lagi.”

“Mera mati saja, Bang. Apa gunanya Mera hidup kalau Mera tidak menyanyi?”

“Mera bisa menyanyi untuk Abang. Abang cinta sama Mera. Mera juga kan? Cinta sama Abang. Mera jangan khawatir, Abang akan melakukan apa pun untuk Mera. Abang akan mencari cara agar Mera seperti sediakala.”

Begitulah, malam itu juga Bagus pergi mencari Nyai Pemasang Susuk sambil membawa potongan susuk berlian yang terlepas, sementara Mera menunggu harap-harap cemas.

Ia tak melawan saat polisi menciduknya. Bagus kembali untuk menyampaikan kabar gembira bagi Mera. Ia membawakan berita tentang susuk lain yang walaupun tidak sekuat susuk sebelumnya, tetapi paling tidak akan mengembalikan keayuan Mera.

Bu Nandang memaki-makinya dengan gemas, berteriak frustasi meminta Bagus mengembalikan putri kesayangannya. Putri yang memberinya paling banyak materi. Bagus hanya bisa menceluk saat mengetahui cintanya sudah menyeberang ke dunia lain. Ia terus menyesali diri. Andai saja ia membawa istrinya serta. Mera pasti masih berada dalam dekapannya saat ini.

***

Bagus hanya bertahan tiga hari dalam tahanan polisi. Ia ditemukan tercekik celana kolornya sendiri di dalam sel. Mati dalam keadaan yang kurang lebih sama dengan istrinya. Tercekik. Kasus ditutup karena tersangka utama meninggal bunuh diri dan polisi pun sudah malas mengurusi kematian seorang penyanyi dangdut kawinan. Lagipula, tak ada gunanya mengurusi bintang yang sudah mati. Ada bintang baru yang bersinar. Dinah Ratu Ulekan, yang baru saja dipersunting menjadi istri keempat Ki Jalu.

Hang Lekir, 3/5/2009 9:31:02 PM

*) cerpen ini dipilih menjadi salah satu cerita FTV dalam Sinema 20 Wajah Indonesia, program ulang tahun SCTV yang kedua puluh.

Menonton Bola

Minggu, 9 Juli 2006, dinihari.

Mia terjaga. Dia memang harus bangun. Ada pesta. Pesta di televisi. Mia mengucek-ngucek mata, menatap jam dinding Winnie the Pooh di salah satu dinding kamarnya yang bercat limau. Masih satu jam lagi sebelum pestanya dimulai.

Mia memejamkan mata, membukanya lagi setelah beberapa saat, kemudian menatap jam dinding Winnie the Pooh. Tetap, masih satu jam hingga pesta itu dimulai. Rupanya dia tak bisa tidur lagi. Pelan-pelan dia bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke ruang tv.

Pintu berderit saat ia membukanya. Mia duduk di sofa depan tv. Dia menyalakannya, menyetelnya dengan volume rendah. Di televisi, pesta itu sudah berlangsung. Bukan pestanya, hanya pesta-pesta orang yang datang ke sana.

Ada band-band lokal sedang menyanyikan lagu-lagu hits mereka. Lagu perselingkuhan, seperti biasa. Rupanya itu yang sedang laku. Tanpa sadar Mia mulai bersenandung mengikuti vokalis yang berkaos coklat itu. “Dan demi waktu, yang bergulir di sampingku….”

Lagu selesai, digantikan jeda. Iklan-iklan yang berhubungan dengan bola mulai mengerubungi televisi. Hoaaam, Mia menguap. Dia tertidur di sofa.

“Prang!”

Suara itu yang membangunkan tidurnya, suara kaca pecah. Mia menatap tv, orang-orang berpakaian rapi sedang berdiskusi tentang permainan yang akan berlangsung. Mia mengenali salah satunya, pemain sinetron, presenter spesialis bola.

Mia menguap lagi, dan berjalan ke sumber suara sambil mengucek-ngucek mata. Kalau saja bukan karena teman-temannya di sekolah, ia tak akan memaksakan diri bangun dan menonton tv. Dia akan ketinggalan cerita dan dikucilkan bila dia tak ikut menonton. Dan ya, teman-teman sekelasnya adalah pecinta detail. Tak cukup hanya mendengar ceritanya, tetapi kau harus melihat semuanya. Anak SMP memang suka berlebihan, tahu kan?

“Mau kemana lagi? Baru pulang kok udah mau pergi lagi. Jam berapa ini?” Mia bisa mendengar suara Ibunya sayup-sayup dari kamar orangtuanya.

“Nonton bola,” suara Bapak, acuh tak acuh. “Ibu megang duit ga? Lima ratus ribu?”

“Buat apa?”

“Buat taxi, cepetan mana duitnya?”

“Ya buat apa dulu, kenapa harus pergi malam-malam begini? Kenapa ga nonton di rumah aja?”

“Alah cerewet! Aku mau ketemu klien potensial, Bu! Butuh modal!”

Sudah hampir dua tahun Bapak tidak bekerja. Masalah klise. PHK. Lalu susah mendapatkan pekerjaan baru. Selama dua tahun pula Ibu yang bekerja untuk menghidupi mereka bertiga. Awalnya, Bapak masih rajin mencari kerja. Lama kelamaan, dia mulai kreatif menciptakan ‘pekerjaan’ baru yang lebih sering mengeluarkan banyak uang dibandingkan menghasilkan. Pertemuan dengan klien-klien Bapak sungguh menghabiskan banyak uang, dan hampir tidak memberikan keuntungan apa-apa. Tetapi Ibu selalu memodali Bapak. Dia berharap, pada akhirnya salah satu proyek Bapak berhasil, dan dia tak perlu lagi menaikkan rasa percaya diri Bapak yang kian lama kian menghilang. Lelaki optimis yang dulu dicintainya, lama kelamaan berubah menjadi pemabuk. Ibu tahu, tapi menutup mata.

Malam ini, sepertinya kesabaran Ibu habis. Mungkin dia sedang PMS, atau apalah. Ibu mulai berteriak-teriak sambil meracau histeris. Kata-kata kasar berhamburan dari mulutnya serupa got bawah tanah yang bau dan lengket. Mungkin Ibu kesurupan, pikir Mia. Anak itu bangkit dari sofa dan mulai mendekati kamar orangtuanya.

“Ssst, Ibu! Ibu, jangan teriak-teriak gitu, nanti Mia bangun!” kali ini Mia mendengar suara Bapak yang pelan.

“Biar! Biar dia tahu! Biar dia dengar! Biar dia ngerti pecundang macam apa bapaknya!”

Suara Ibu teredam. Mia pelan-pelan mendekati lawang pintu, pelan-pelan membukanya, sedikit saja, hanya lima senti. Suasana di dalam temaram, berasal dari lampu tidur yang dicolokkan ke stop kontak di sebelah pintu. Mia melihat bapaknya membekap mulut ibunya yang meronta-ronta, menggapai-gapai meja rias dan meraih,

gunting.

Benda itu mulai ditusukkan dengan membabi buta ke tubuh Bapak yang bisa diraih tangannya. Bapak mengalihkan bekapan tangannya dari mulut dan lengannya mulai mengelilingi leher Ibu.

“Sundal! Lo pikir gue seneng kawin sama elu, hah!” Bapak tak lagi memelankan suaranya.

Mereka bergulat. Mia membuka pintu lebar-lebar, menghambur masuk, “Bapak!”

***

Mia belum sempat menonton pertandingan final antara Italia lawan Prancis. Dia bahkan tidak tahu kalau pada pertandingan itu ada kejadian heboh; Zidane menanduk Materazzi. Tapi dia tak perlu tahu itu, karena Mia takkan ada di sekolah untuk mendiskusikan hasil akhir piala dunia dengan teman-temannya.

Hari senin pagi, tetangga-tetangga Mia geger dengan kedatangan polisi dan ambulans. Lalu dari dalam rumah Mia, dua orang mengangkut sesuatu yang tampak seperti kantung mayat. Kemudian Ibu Mia yang digelandang keluar dengan tangan terborgol. Sementara itu, Mia dibawa oleh paramedis, ke rumah sakit.

Ibu dan Bapak datang dari jauh, tak ada keluarga yang datang saat kejadian itu. Lagipula, Ibu tidak berniat menelepon mereka setelah dia menelepon polisi dan mengatakan apa yang telah terjadi di kamarnya. Ibu membunuh suaminya sendiri. Mia masih syok karena kejadian itu. Dia belum membuka mulutnya sejak tadi. Matanya nyalang menatap satu titik di kejauhan. Seseorang dari LSM Perlindungan Anak membawanya pada psikiater dan psikolog.

Skizofrenia akut, kata psikiater setelah beberapa sesi konsultasi. Mia berhenti sekolah dan mulai menempati salah satu kamar di rumah sakit jiwa. Sehari-harinya, dia tidak melakukan apa-apa. Hanya menatap nyalang pada satu titik di kejauhan, lalu tiba-tiba berteriak, tersedu-sedu, dan selalu ingin mencari benda tajam untuk mengerat pergelangan tangannya. Setiap sehari tiga kali, perawat menyuntikkan obat. Dan setiap hari kamis, Dokter Teddy akan mendatangi kamarnya untuk melihat kemajuannya.

Mia mulai melakukan interaksi setelah tiga bulan tinggal di sana. Mungkin obatnya mulai bekerja. Dia tak lagi disuntik, dan diberi tablet-tablet penenang dalam pisin. Perawat akan menungguinya minum obat sementara Mia mengoceh tentang ibu bapaknya, seolah-olah Bapak masih hidup, dan Ibu tidak membunuhnya. Sehari tiga kali, Mia akan menelan Ludiomil, Trihexypenidil, dan Haloperidol.

Mia membenci tempat ini, karena sejak pindah ke sini, dia sering melihat kunti. Kadang-kadang perempuan berambut putih itu bertengger di ujung ranjangnya sambil menatapnya dengan matanya yang bolong. Kadang Mia takut, walaupun kadang-kadang Mia merasa aman karena ada yang menemani. Ngomong-ngomong Ibu dan Bapak ke mana, ya? Kenapa jadi kunti yang tak bisa dandan ini yang duduk di ujung ranjangnya sambil menggumamkan nyanyi-nyanyian?

Di lain waktu, sering dia mendengar suara-suara yang memberitahunya kalau saat ini dia dipenjara atas kejahatan yang tidak dilakukannya, dan dia harus melarikan diri. Suara-suara itu seperti Tuhan. Kedengarannya begitu lembut, begitu agung, begitu benar. Tak mungkin bukan Tuhan. Diam-diam Mia mulai mencuri barang-barang yang dibawa perawat. Pulpen – pulpen yang paling banyak. Tetapi dia yakin, benda itu bisa membantunya meloloskan diri. Dia kan, McGyver. Mia terkekeh saat memikirkan ide itu.

Terkadang, suara itu juga menyuruhnya untuk membunuh. Orang-orang berpakaian putih yang keluar masuk kamarnya adalah zombie. Mia harus hati-hati, karena mereka bisa memangsanya kapan saja. Bapak dan Ibu sudah jadi korbannya. Lha buktinya, mereka tidak ada di sini menemaninya. Malah sih kunti berambut kusut itu. Mia masih tak habis pikir, ada apa dengan selera fashion si kunti? Buruk sekali!

Maka Mia menyusun rencana untuk melarikan diri dari penjara para zombie ini. Sayang, mereka terlalu cerdas. Setiap rencana Mia selalu digagalkan. Mungkin karena dia melakukannya dengan cara yang terlalu kentara. Ya, berlari menyelinap keluar jeruji saat ada pengunjung memang agak amatiran. Dia tahu, seharusnya dia bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Jika dia ketahuan melarikan diri begitu, mereka akan meringkusnya dengan straight jacket karena Mia mengamuk dan meronta-ronta.

Orang-orang berbaju putih itu selalu memberitahunya kalau ini bukan penjara Zombie, dan mereka di sini untuk membantunya. Tapi Mia tahu lebih baik, obat-obat itu memang dicekokkan padanya untuk melumpuhkannya. Buktinya, sekarang dia sering tremor, gemetaran tak karuan. Dia mulai menyadari kalau pemimpin para Zombie itu adalah orang berjas putih yang mengaku-ngaku sebagai Dokter Teddy. Jadi, pikirnya, target utamanya adalah dokter itu! Dokter yang pura-pura baik padanya dengan bersikap lembut dan menyuruhnya menceritakan hal-hal menyenangkan. Palsu!

Dokter Teddy pintar. Tetapi Mia merasa kalau dirinya lebih pintar lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu. Dia akan bersikap baik. Memang, orang-orang ini bilang kalau mereka bukan Zombie, dan Mia boleh pulang kalau sudah sembuh. Mia boleh pulang kalau tidak berteriak-teriak dan melempari perawat dengan pulpen. Mia boleh pulang kalau dia tidak menyebut-nyebut zombie lagi. Maka Mia menunggu. Menunggu sampai para zombie ini percaya kalau dia sudah sembuh.

***

17 Juni 2010

Ibu menghirup udara bebas. Dia langsung ke rumah sakit jiwa untuk menemui anaknya. Dokter Teddy telah menandatangi surat pernyataan bahwa Mia sudah sehat dan diharuskan kontrol setiap seminggu sekali. Mia masih harus meminum obat-obatnya, tapi dia sudah bisa dirawat di rumah.

Ibu dan anak pulang dengan bahagia, berpeluk-pelukan. Mereka mengobrol di depan televisi, menceritakan hal-hal yang terjadi selama mereka terpisahkan. Tak sekali pun mereka membahas Bapak yang sudah mati.

Mereka mengobrol sambil mengudap, sesekali mata mereka melirik televisi, sesekali tangan salah satunya menekan-nekan tombol remote control mencari acara yang bagus. Tangan Mia berhenti pada pemandangan lapangan hijau di televisi, pria-pria menggiring bola. Prancis melawan Meksiko.

Seketika ingatan membanjir.

***

“Bapak!” teriaknya. Mia menghambur mendekati keduanya untuk menengahi mereka berdua dengan air mata bercucuran. “Jangan Bapak, jangan Ibu, jangan bertengkar!”

Mia menyelinap di antara Bapak dan Ibu, dan mencoba mengambil gunting yang sedang ditusuk-tusukkan dengan membabi-buta oleh Ibunya. “Berhenti, Bu!”

Gunting itu terlepas dari tangan ibunya. Mia memungutnya untuk menyingkirkan benda tajam itu. Kesempatan ini digunakan Bapak yang tadi sudah melepaskan cengkeramannya untuk kembali mencekik leher Ibu. “Sundal! Sundal! Sundal frigid!”

Ibu terhentak-hentak dalam cekikan Bapak, hampir kehilangan napasnya. Mia menatap keduanya ngeri, “berhentiiii!” teriaknya. Tapi bapaknya masih saja mencekik Ibu, seolah tak mendengar apa pun. Mia harus melakukan sesuatu. Dia menusukkan gunting itu di leher bapaknya.

Cekikan di leher ibunya mengendur perlahan, dan tubuh Bapak jatuh bersimbah darah.

Mia memeluk Ibunya, matanya buram oleh air mata.

Depok | 4/15/2010 9:35:32 PM

Tunangan

[menemukan cerpen ini di folder cerpen lama. Haha. Padahal ini hanya setahun yang lalu, tapi bahkan buatku, kerasa banget ya perubahan gaya penulisan dari tulisan setahun lalu dengan yang sekarang. Ini sih sebenarnya sudah melalui tahap penyuntingan (jadi secara ejaan sudah lebih benar), tapi dari segi gaya, keliatan kan betapa mentahnya cerpen ini. Hahaha.

Ya, menjadi editor membuatku menulis lebih baik. 😀

Well, hope you all like it. Enjoy!]

Kuakui, ini bukanlah pertunangan yang kuimpikan. Terlepas dari betapa romantisnya suasana malam itu. Bulan dalam puncak bundar, seperti koin perak berpendar di langit kelam dari jendela mobilnya. Jalanan Jakarta Jumat malam di daerah Senayan yang, tumben tidak macet. Restoran Cina di mall mewah yang tidak terlalu ramai. Lampunya yang temaram, menimbulkan kilau malaikat pada wajahnya yang menarik. Sungguh, itu malam yang sempurna, seandainya saja….

Seandainya saja aku tahu dia akan melamarku malam itu. Tentu aku akan bersiap-siap. Tidak dengan kalap memesan dua belas macam dimsum untuk kami berdua hanya karena namanya yang lucu dan fotonya yang tampak menggugah selera. Dia membiarkanku memesan semua itu sambil tersenyum menatapku, mungkin dalam hati berkata: gadis ini memang rakus, tapi aku mencintainya.

Seandainya saja aku tahu bahwa dia akan melamarku malam itu, aku akan bertingkah laku lebih sopan dan lebih mewanita. Akan kukenakan gaun, bukannya celana jeans dan t-shirt dan sepatu kets seperti ini. Paling tidak, akan kupadankan stiletto dengan gaun khayali itu. Atau, kalau pun bukan gaun, setidaknya, seharusnya, aku mengenakan pakaian yang lebih pantas. Tega sekali dia  membuatku harus mengenang seumur hidup bahwa aku berada dalam kondisi yang tidak prima ketika dilamar.

Seandainya saja aku tahu dia akan melamarku malam itu, aku tidak akan memesan dua belas macam dimsum macam macan kelaparan, aku akan bergerak hati-hati, makan pelan sekali, menghitung kunyahan sebelum menelannya, bukannya langsung menelan makanannya bulat-bulat seperti orang tidak makan lima hari.

Dan itulah yang kulakukan pada hari pacarku melamar. Makan dengan rakus. Lalu krek. Salah satu gigiku patah. Seketika mulutku beraroma karat dengan rasa asin. Mataku mulai menggenang, sementara kekasihku menatapku harap-harap cemas sambil tersenyum, menyangka itu tangis bahagia.

“Cakiitt!” kataku, sebisa mungkin tidak membuka mulutku saat berbicara.

“Apa?”

“Awku hawus ke cowiyet!”

“Hah?”

“Bewdawaaaah. Cakiiiittt.”

“Kenapa sih?”

Dia semakin bingung. Aku tak tahan lagi, mulutku tak lagi dapat menampung darah dan saliva yang semakin banyak, dicampur dengan siomay yang sedang kukunyah, dan benda keras yang membuat gigiku patah. Dengan terpaksa kukeluarkan isi mulutku di tanganku yang telah dilapisi tisu. Menjijikkan.

Aku mulai menangis. Dia sempat terpana sebentar sebelum akhirnya matanya mengabut dan menghampiriku dengan khawatir.

“Kenapa sih, babe?”

“Gigi aku pataaaah. Toiletnya dimanaaaa???”

Darah masih keluar dari gusiku. Aku harus kumur-kumur. Salah satu dari pelayan mengantarku menuju wastafel. Aku menangis lagi. Gigiku patah. Ga keren banget! Lagian dalam siomay itu ada apa sih? Keras banget. Sakiiittt. Dengan keadaan seperti ini, tampaknya aku takkan bisa makan hingga beberapa hari ke depan. Ah, aku harus pergi ke dokter gigi. Menyebalkan. Restoran apa sih ini? Kok siomay isinya besi sih?

Saat aku kembali, kekacauan yang kutimbulkan di meja kami sudah dibereskan. Tak ada lagi tisu berceceran darah dan sisa makanan. Kekasihku duduk dengan raut muka kecewa. Aku mulai meracau tentang siomay isi besi.

“Babe…!” ia mencoba menghentikanku. “Tasya…sayang….”

“Apa? Pokonya aku mau gigi patahku kembali. Enak aja. Restoran apa sih ini?”

“Tenang Sya. Diem dulu. Dengerin aku dulu. Jep. Diem. Yah,” bujuknya.

Aku berhenti bicara.

“Yang kamu makan tadi cincin.”

“Tuh kan bener … restoran yang aneh. Masa dimsum isi cincin,” ceracauku. Eits. Tunggu. Tunggu sebentar. Cincin? Bagaimana bisa sebuah cincin bisa masuk siomay? Aku menatapnya lekat-lekat, memicingkan mata penuh tuduhan. Dia menunduk pasrah, merasa bersalah.

“Tasya Ginatri, kamu mau menikah denganku?” ucapnya sambil mengangsurkan sebuah cincin, bersiap memasukkannya ke jari manisku.

Giliranku yang diam, setengah mati kaget. Rasanya pernikahan bukan gayanya deh. Selama ini dia selalu bilang kalau dia belum siap membina bahtera rumah tangga, jadi aku pun tak pernah mendesaknya meskipun kami sudah berpacaran hampir empat tahun.

“Sya….”

“Aku … uhm, aku … gigiku patah gara-gara cincin itu.”

Jawaban yang dengan segera kusesali.

“Kamu ga mau nikah, Sya? Mau pacaran terus kayak gini? Kita udah bukan abege lagi.”

Aku menelan ludah.

“Gila kali ya? Ya mau dong!” Aku menyambar cincin itu dan memasukkannya sendiri ke jariku. “There. Sudah. Resmi. Tunangan?”

Sumpah preman banget. Dua kali penyesalan. Apa susahnya sih nungguin dia masukin cincinnya?

Dia sudah tak heran dengan tabiatku. Lalu seakan-akan tak pernah ada pertunangan sebelumnya, dia dengan tenang mengunyah baksonya.

Seandainya saja sejak awal aku tahu bahwa dia akan melamarku malam itu, aku takkan serakus itu.

***

Gigi patah itu mengantarkanku ke dokter gigi, yang memberiku berita buruk lainnya, bahwa gigi geraham yang baru tumbuh di ujung kiri bawah, harus dicabut karena gigi itu membuat sebuah ceruk antara dirinya dan gigi geraham lain yang mengakibatkan makanan tersangkut di situ. Lama-lama makanan itu akan membusuk kemudian menyebabkan area sekitarnya ikutan membusuk, lalu gigimu akan menghitam dan akan sakit sekali. Saat itu terjadi, rasanya sudah terlambat. Karena kamu akan sangat menderita. Percayalah, sakit gigi itu tidak lebih baik daripada sakit hati. Sakit hati malah lebih baik, mendorongmu lebih produktif. Dan jika terjadi pada penulis-lagu ternama, akan mempertebal pundi-pundi uangmu sehingga saat kau tidak sakit hati lagi, kamu punya banyak uang untuk melakukan kegiatan hedon. Menyenangkan bukan? Jangan mau sakit gigi. Dan jangan percaya penyanyi dangdut. Mereka suka berlebihan.

Dan operasi pencabutan gigi geraham itu, mengakibatkan plafon asuransi kesehatanku dari kantor overlimit, yang berujung pada pemotongan gaji secara konsisten selama tiga bulan.

Sungguh pertunangan yang merepotkan. Sebaiknya pacarku bertanggung jawab. Ralat. Tunanganku. Ia dan keluarganya akan datang melamarku secara resmi minggu depan. Tapi rasanya, dengan tragedi gigi patah dan pemotongan gaji selama tiga bulan ini, pertunangan bukan ide yang menarik.

Tanpa sadar, aku mulai menjauh darinya. Aku menghindar bertemu dengannya. Aku jarang mengangkat telepon darinya, dan segera menutupnya saat kupikir tak ada lagi hal yang penting untuk dibicarakan. Bukankah orang pacaran lama-lama di telepon hanya untuk membicarakan hal-hal tak penting dan cuma saling merayu? Dan jika itu tidak dilakukan, tandanya ada masalah dengan hubungan itu.

Tapi, apa yang membuatku tidak bersemangat menghadapi pernikahan? Gigi patah dan potong gaji, ataukah aku memang belum ingin menikah?

“Kamu berubah,” ujarnya pertama kali saat berhasil mencegatku. Aku tak punya alasan lagi untuk menghindar darinya. “Sejak aku melamarmu kamu berubah. Kamu kan cewek. Harusnya kamu semangat dong. Cewek-cewek lain biasanya nyusahin pacarnya dengan janji ngukur baju pengantin, milih-milih undangan, nyari-nyari gedung, bahkan sampe tetek bengek kecil kayak lagu apa yang boleh dimaenin dan apa yang enggak boleh. Kamu bahkan ga semangat waktu diajakin foto prewed. Kenapa sih kamu?”

“Nunggu gigiku ga bengkak. Ga lucu aja foto prewed calon pengantin perempuannya tembem sebelah dan senyumnya kepaksa sambil nahan nyeri,” kilahku.

“Ya tapi kan bukan berarti kamu harus menghindar dariku, kan?”

“Aku males ngomong banyak-banyak. Sakit tauuuu. Dan ngomong-ngomong, siapa yang bertanggung jawab?”

Dia melengos. Aku tersenyum kecil. Satu nol. Siapa suruh masukin cincin ke dalam siomay? Monyet pake kacamata juga tau kalau itu ide buruk. Kalo keselek, gimana? Kalo cincinnya masuk sistem pencernaan, terus ngendon di usus besar dan ga mau keluar-keluar lagi, gimana? Mana kita tahu kalau dalam siomay itu ada cincinnya.

“Abis kamu juga sih … maen kunyah aja. Cewek kayak gitu sih, makannya rakus.”

“Ya udah lah, kalo nggak suka ngapain juga kamu pengen nikah sama aku?”

Dia diam. Skak mat.

“Ah bodo,” gumamnya. Lalu meninggalkanku.

Seminggu menjelang lamaran, giliran dia yang mendiamkanku. Selama seminggu itu, tak satu kali pun dia menghubungiku. Aku mulai khawatir, dan membombardirnya dengan sms, dan telepon-telepon tak terjawab, dan kunjungan sia-sia ke kantornya, juga ke rumahnya. Bagaimana kalau kalimat terakhir yang ia ucapkan padaku adalah “Ah bodo”, bagaimana kalau dia mengurungkan niatnya menikahiku?

Bagaimana kalau pada akhirnya sebuah kesadaran menyambar kepalanya seperti petir, bahwa aku tak cukup wanita untuk menjadi istrinya. Bahwa aku terlalu ajaib untuk menjadi seorang ibu. Bahwa aku tak cukup baik untuk mengerti dan menemaninya hingga akhir hayat. Bahwa dia tak cukup mencintaiku untuk mengambil keputusan tersebut. Bahwa pada akhirnya empat tahun yang sudah kami lewati hanyalah kesia-siaan, hanya terminal persinggahan untuk menuju stasiun kehidupan yang lain? Bagaimana kalau aku hanyalah numpang lewat dalam kehidupannya?

Memikirkan itu sungguh membuatku frustrasi. Tetapi rasanya, aku belum bisa menjadikan konsep pernikahan sebagai prioritas dalam hidupku. Aku takut tak dapat membuatnya bahagia. Aku egois dan kekanak-kanakkan. Aku takut tak dapat mengurusnya. Aku takut mempermalukannya karena dia telah memilih seseorang sepertiku.

Bagaimana jika dia dan keluarganya tak pernah datang untuk memintaku dari ayah ibuku? Sehari sebelum hari yang ditentukan, dia tak kunjung menghubungiku. Apa yang harus kukatakan pada kedua orang tuaku? Bahwa besok dia tak jadi melamarku karena aku bebal dan kacau?

Aku tak bisa tidur, tenggelam dalam frustrasi.

Jam sebelas malam. Layar teleponku menyala.

“Halo?” aku mengangkatnya dengan jantung berdebar.

“Kamu siap untuk esok, Sya?” tanyanya.

“Kamu kemana aja sih? Aku kan nyariin kamu. Aku … aku ga tau harus gimana lagi biar bisa ngobrol sama kamu. Aku melakukan semua yang aku bisa. Aku … aku nggak bisa kehilangan kamu.”

“Aku memberimu waktu untuk berpikir, Sya. Saat ini kutanyakan kembali. Apakah besok aku harus datang ke rumahmu dengan keluargaku, atau tidak?”

Aku diam.

“Aku ingin kalau kamu menerima lamaran ini, kamu sungguh-sungguh. Kamu sudah mengerti segala konsekuensinya. Bukan hanya karena kita sudah lama pacaran dan oleh karenanya kita harus menaikkan jenjang itu menjadi tunangan kemudian pernikahan. Tetapi karena kamu benar-benar menginginkannya, karena kamu benar-benar ingin bersamaku sampai akhir hidup kita. Karena kamu telah siap. Bukan karena kamu harus melakukannya. Aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu jadi ibu anak-anakku. Aku ingin kamu jadi istriku. Jadi sahabatku. Jadi pendampingku. Jadi pendukungku. Aku mau kamu.”

“Aku takut tak bisa membuatmu bahagia.”

“Ah jangan lebay deh Sya. Menurutmu kenapa juga aku bertahan pacaran sama kamu selama empat tahun ini kalau aku enggak bahagia? Dasar aneh.”

“Iya juga siiih,” ujarku tak yakin.

“Jadi, besok aku ke rumahmu atau tidak? Kalo kamu nggak pengen aku ke rumahmu besok, sebaiknya kita nggak us-!”

“Masa sih nggak dateng? Ibu sama Bapak kan nungguin!”

“Aku nggak mau dateng cuma karena Ibu Bapak kamu nungguin. Aku dateng karena kamu mau aku dateng. Ya ampun kamu berbelit-belit banget sih? Kamu pikir enak ya nyuekin kamu seminggu ini? Bebal banget siih.”

“Iya. Aku mau kamu datang besok. Aku nungguin kamu. Aku mau kamu datang,” ujarku cepat-cepat, sebelum ia berubah pikiran.

“Sampai besok kalau begitu.”

Telepon dalam genggamanku merosot jatuh ke atas kasur begitu dia menutup teleponnya. Jantungku berdebar kencang sekali. Lamaran. Hanya selangkah lagi menuju pernikahan. Mengapa rasanya begitu menakutkan?

2/26/2009 9:29:01 PM