Menonton Bola

Minggu, 9 Juli 2006, dinihari.

Mia terjaga. Dia memang harus bangun. Ada pesta. Pesta di televisi. Mia mengucek-ngucek mata, menatap jam dinding Winnie the Pooh di salah satu dinding kamarnya yang bercat limau. Masih satu jam lagi sebelum pestanya dimulai.

Mia memejamkan mata, membukanya lagi setelah beberapa saat, kemudian menatap jam dinding Winnie the Pooh. Tetap, masih satu jam hingga pesta itu dimulai. Rupanya dia tak bisa tidur lagi. Pelan-pelan dia bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke ruang tv.

Pintu berderit saat ia membukanya. Mia duduk di sofa depan tv. Dia menyalakannya, menyetelnya dengan volume rendah. Di televisi, pesta itu sudah berlangsung. Bukan pestanya, hanya pesta-pesta orang yang datang ke sana.

Ada band-band lokal sedang menyanyikan lagu-lagu hits mereka. Lagu perselingkuhan, seperti biasa. Rupanya itu yang sedang laku. Tanpa sadar Mia mulai bersenandung mengikuti vokalis yang berkaos coklat itu. “Dan demi waktu, yang bergulir di sampingku….”

Lagu selesai, digantikan jeda. Iklan-iklan yang berhubungan dengan bola mulai mengerubungi televisi. Hoaaam, Mia menguap. Dia tertidur di sofa.

“Prang!”

Suara itu yang membangunkan tidurnya, suara kaca pecah. Mia menatap tv, orang-orang berpakaian rapi sedang berdiskusi tentang permainan yang akan berlangsung. Mia mengenali salah satunya, pemain sinetron, presenter spesialis bola.

Mia menguap lagi, dan berjalan ke sumber suara sambil mengucek-ngucek mata. Kalau saja bukan karena teman-temannya di sekolah, ia tak akan memaksakan diri bangun dan menonton tv. Dia akan ketinggalan cerita dan dikucilkan bila dia tak ikut menonton. Dan ya, teman-teman sekelasnya adalah pecinta detail. Tak cukup hanya mendengar ceritanya, tetapi kau harus melihat semuanya. Anak SMP memang suka berlebihan, tahu kan?

“Mau kemana lagi? Baru pulang kok udah mau pergi lagi. Jam berapa ini?” Mia bisa mendengar suara Ibunya sayup-sayup dari kamar orangtuanya.

“Nonton bola,” suara Bapak, acuh tak acuh. “Ibu megang duit ga? Lima ratus ribu?”

“Buat apa?”

“Buat taxi, cepetan mana duitnya?”

“Ya buat apa dulu, kenapa harus pergi malam-malam begini? Kenapa ga nonton di rumah aja?”

“Alah cerewet! Aku mau ketemu klien potensial, Bu! Butuh modal!”

Sudah hampir dua tahun Bapak tidak bekerja. Masalah klise. PHK. Lalu susah mendapatkan pekerjaan baru. Selama dua tahun pula Ibu yang bekerja untuk menghidupi mereka bertiga. Awalnya, Bapak masih rajin mencari kerja. Lama kelamaan, dia mulai kreatif menciptakan ‘pekerjaan’ baru yang lebih sering mengeluarkan banyak uang dibandingkan menghasilkan. Pertemuan dengan klien-klien Bapak sungguh menghabiskan banyak uang, dan hampir tidak memberikan keuntungan apa-apa. Tetapi Ibu selalu memodali Bapak. Dia berharap, pada akhirnya salah satu proyek Bapak berhasil, dan dia tak perlu lagi menaikkan rasa percaya diri Bapak yang kian lama kian menghilang. Lelaki optimis yang dulu dicintainya, lama kelamaan berubah menjadi pemabuk. Ibu tahu, tapi menutup mata.

Malam ini, sepertinya kesabaran Ibu habis. Mungkin dia sedang PMS, atau apalah. Ibu mulai berteriak-teriak sambil meracau histeris. Kata-kata kasar berhamburan dari mulutnya serupa got bawah tanah yang bau dan lengket. Mungkin Ibu kesurupan, pikir Mia. Anak itu bangkit dari sofa dan mulai mendekati kamar orangtuanya.

“Ssst, Ibu! Ibu, jangan teriak-teriak gitu, nanti Mia bangun!” kali ini Mia mendengar suara Bapak yang pelan.

“Biar! Biar dia tahu! Biar dia dengar! Biar dia ngerti pecundang macam apa bapaknya!”

Suara Ibu teredam. Mia pelan-pelan mendekati lawang pintu, pelan-pelan membukanya, sedikit saja, hanya lima senti. Suasana di dalam temaram, berasal dari lampu tidur yang dicolokkan ke stop kontak di sebelah pintu. Mia melihat bapaknya membekap mulut ibunya yang meronta-ronta, menggapai-gapai meja rias dan meraih,

gunting.

Benda itu mulai ditusukkan dengan membabi buta ke tubuh Bapak yang bisa diraih tangannya. Bapak mengalihkan bekapan tangannya dari mulut dan lengannya mulai mengelilingi leher Ibu.

“Sundal! Lo pikir gue seneng kawin sama elu, hah!” Bapak tak lagi memelankan suaranya.

Mereka bergulat. Mia membuka pintu lebar-lebar, menghambur masuk, “Bapak!”

***

Mia belum sempat menonton pertandingan final antara Italia lawan Prancis. Dia bahkan tidak tahu kalau pada pertandingan itu ada kejadian heboh; Zidane menanduk Materazzi. Tapi dia tak perlu tahu itu, karena Mia takkan ada di sekolah untuk mendiskusikan hasil akhir piala dunia dengan teman-temannya.

Hari senin pagi, tetangga-tetangga Mia geger dengan kedatangan polisi dan ambulans. Lalu dari dalam rumah Mia, dua orang mengangkut sesuatu yang tampak seperti kantung mayat. Kemudian Ibu Mia yang digelandang keluar dengan tangan terborgol. Sementara itu, Mia dibawa oleh paramedis, ke rumah sakit.

Ibu dan Bapak datang dari jauh, tak ada keluarga yang datang saat kejadian itu. Lagipula, Ibu tidak berniat menelepon mereka setelah dia menelepon polisi dan mengatakan apa yang telah terjadi di kamarnya. Ibu membunuh suaminya sendiri. Mia masih syok karena kejadian itu. Dia belum membuka mulutnya sejak tadi. Matanya nyalang menatap satu titik di kejauhan. Seseorang dari LSM Perlindungan Anak membawanya pada psikiater dan psikolog.

Skizofrenia akut, kata psikiater setelah beberapa sesi konsultasi. Mia berhenti sekolah dan mulai menempati salah satu kamar di rumah sakit jiwa. Sehari-harinya, dia tidak melakukan apa-apa. Hanya menatap nyalang pada satu titik di kejauhan, lalu tiba-tiba berteriak, tersedu-sedu, dan selalu ingin mencari benda tajam untuk mengerat pergelangan tangannya. Setiap sehari tiga kali, perawat menyuntikkan obat. Dan setiap hari kamis, Dokter Teddy akan mendatangi kamarnya untuk melihat kemajuannya.

Mia mulai melakukan interaksi setelah tiga bulan tinggal di sana. Mungkin obatnya mulai bekerja. Dia tak lagi disuntik, dan diberi tablet-tablet penenang dalam pisin. Perawat akan menungguinya minum obat sementara Mia mengoceh tentang ibu bapaknya, seolah-olah Bapak masih hidup, dan Ibu tidak membunuhnya. Sehari tiga kali, Mia akan menelan Ludiomil, Trihexypenidil, dan Haloperidol.

Mia membenci tempat ini, karena sejak pindah ke sini, dia sering melihat kunti. Kadang-kadang perempuan berambut putih itu bertengger di ujung ranjangnya sambil menatapnya dengan matanya yang bolong. Kadang Mia takut, walaupun kadang-kadang Mia merasa aman karena ada yang menemani. Ngomong-ngomong Ibu dan Bapak ke mana, ya? Kenapa jadi kunti yang tak bisa dandan ini yang duduk di ujung ranjangnya sambil menggumamkan nyanyi-nyanyian?

Di lain waktu, sering dia mendengar suara-suara yang memberitahunya kalau saat ini dia dipenjara atas kejahatan yang tidak dilakukannya, dan dia harus melarikan diri. Suara-suara itu seperti Tuhan. Kedengarannya begitu lembut, begitu agung, begitu benar. Tak mungkin bukan Tuhan. Diam-diam Mia mulai mencuri barang-barang yang dibawa perawat. Pulpen – pulpen yang paling banyak. Tetapi dia yakin, benda itu bisa membantunya meloloskan diri. Dia kan, McGyver. Mia terkekeh saat memikirkan ide itu.

Terkadang, suara itu juga menyuruhnya untuk membunuh. Orang-orang berpakaian putih yang keluar masuk kamarnya adalah zombie. Mia harus hati-hati, karena mereka bisa memangsanya kapan saja. Bapak dan Ibu sudah jadi korbannya. Lha buktinya, mereka tidak ada di sini menemaninya. Malah sih kunti berambut kusut itu. Mia masih tak habis pikir, ada apa dengan selera fashion si kunti? Buruk sekali!

Maka Mia menyusun rencana untuk melarikan diri dari penjara para zombie ini. Sayang, mereka terlalu cerdas. Setiap rencana Mia selalu digagalkan. Mungkin karena dia melakukannya dengan cara yang terlalu kentara. Ya, berlari menyelinap keluar jeruji saat ada pengunjung memang agak amatiran. Dia tahu, seharusnya dia bisa melakukan sesuatu yang lebih baik. Jika dia ketahuan melarikan diri begitu, mereka akan meringkusnya dengan straight jacket karena Mia mengamuk dan meronta-ronta.

Orang-orang berbaju putih itu selalu memberitahunya kalau ini bukan penjara Zombie, dan mereka di sini untuk membantunya. Tapi Mia tahu lebih baik, obat-obat itu memang dicekokkan padanya untuk melumpuhkannya. Buktinya, sekarang dia sering tremor, gemetaran tak karuan. Dia mulai menyadari kalau pemimpin para Zombie itu adalah orang berjas putih yang mengaku-ngaku sebagai Dokter Teddy. Jadi, pikirnya, target utamanya adalah dokter itu! Dokter yang pura-pura baik padanya dengan bersikap lembut dan menyuruhnya menceritakan hal-hal menyenangkan. Palsu!

Dokter Teddy pintar. Tetapi Mia merasa kalau dirinya lebih pintar lagi. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu. Dia akan bersikap baik. Memang, orang-orang ini bilang kalau mereka bukan Zombie, dan Mia boleh pulang kalau sudah sembuh. Mia boleh pulang kalau tidak berteriak-teriak dan melempari perawat dengan pulpen. Mia boleh pulang kalau dia tidak menyebut-nyebut zombie lagi. Maka Mia menunggu. Menunggu sampai para zombie ini percaya kalau dia sudah sembuh.

***

17 Juni 2010

Ibu menghirup udara bebas. Dia langsung ke rumah sakit jiwa untuk menemui anaknya. Dokter Teddy telah menandatangi surat pernyataan bahwa Mia sudah sehat dan diharuskan kontrol setiap seminggu sekali. Mia masih harus meminum obat-obatnya, tapi dia sudah bisa dirawat di rumah.

Ibu dan anak pulang dengan bahagia, berpeluk-pelukan. Mereka mengobrol di depan televisi, menceritakan hal-hal yang terjadi selama mereka terpisahkan. Tak sekali pun mereka membahas Bapak yang sudah mati.

Mereka mengobrol sambil mengudap, sesekali mata mereka melirik televisi, sesekali tangan salah satunya menekan-nekan tombol remote control mencari acara yang bagus. Tangan Mia berhenti pada pemandangan lapangan hijau di televisi, pria-pria menggiring bola. Prancis melawan Meksiko.

Seketika ingatan membanjir.

***

“Bapak!” teriaknya. Mia menghambur mendekati keduanya untuk menengahi mereka berdua dengan air mata bercucuran. “Jangan Bapak, jangan Ibu, jangan bertengkar!”

Mia menyelinap di antara Bapak dan Ibu, dan mencoba mengambil gunting yang sedang ditusuk-tusukkan dengan membabi-buta oleh Ibunya. “Berhenti, Bu!”

Gunting itu terlepas dari tangan ibunya. Mia memungutnya untuk menyingkirkan benda tajam itu. Kesempatan ini digunakan Bapak yang tadi sudah melepaskan cengkeramannya untuk kembali mencekik leher Ibu. “Sundal! Sundal! Sundal frigid!”

Ibu terhentak-hentak dalam cekikan Bapak, hampir kehilangan napasnya. Mia menatap keduanya ngeri, “berhentiiii!” teriaknya. Tapi bapaknya masih saja mencekik Ibu, seolah tak mendengar apa pun. Mia harus melakukan sesuatu. Dia menusukkan gunting itu di leher bapaknya.

Cekikan di leher ibunya mengendur perlahan, dan tubuh Bapak jatuh bersimbah darah.

Mia memeluk Ibunya, matanya buram oleh air mata.

Depok | 4/15/2010 9:35:32 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s