Cerpen

Tunangan

[menemukan cerpen ini di folder cerpen lama. Haha. Padahal ini hanya setahun yang lalu, tapi bahkan buatku, kerasa banget ya perubahan gaya penulisan dari tulisan setahun lalu dengan yang sekarang. Ini sih sebenarnya sudah melalui tahap penyuntingan (jadi secara ejaan sudah lebih benar), tapi dari segi gaya, keliatan kan betapa mentahnya cerpen ini. Hahaha.

Ya, menjadi editor membuatku menulis lebih baik. 😀

Well, hope you all like it. Enjoy!]

Kuakui, ini bukanlah pertunangan yang kuimpikan. Terlepas dari betapa romantisnya suasana malam itu. Bulan dalam puncak bundar, seperti koin perak berpendar di langit kelam dari jendela mobilnya. Jalanan Jakarta Jumat malam di daerah Senayan yang, tumben tidak macet. Restoran Cina di mall mewah yang tidak terlalu ramai. Lampunya yang temaram, menimbulkan kilau malaikat pada wajahnya yang menarik. Sungguh, itu malam yang sempurna, seandainya saja….

Seandainya saja aku tahu dia akan melamarku malam itu. Tentu aku akan bersiap-siap. Tidak dengan kalap memesan dua belas macam dimsum untuk kami berdua hanya karena namanya yang lucu dan fotonya yang tampak menggugah selera. Dia membiarkanku memesan semua itu sambil tersenyum menatapku, mungkin dalam hati berkata: gadis ini memang rakus, tapi aku mencintainya.

Seandainya saja aku tahu bahwa dia akan melamarku malam itu, aku akan bertingkah laku lebih sopan dan lebih mewanita. Akan kukenakan gaun, bukannya celana jeans dan t-shirt dan sepatu kets seperti ini. Paling tidak, akan kupadankan stiletto dengan gaun khayali itu. Atau, kalau pun bukan gaun, setidaknya, seharusnya, aku mengenakan pakaian yang lebih pantas. Tega sekali dia  membuatku harus mengenang seumur hidup bahwa aku berada dalam kondisi yang tidak prima ketika dilamar.

Seandainya saja aku tahu dia akan melamarku malam itu, aku tidak akan memesan dua belas macam dimsum macam macan kelaparan, aku akan bergerak hati-hati, makan pelan sekali, menghitung kunyahan sebelum menelannya, bukannya langsung menelan makanannya bulat-bulat seperti orang tidak makan lima hari.

Dan itulah yang kulakukan pada hari pacarku melamar. Makan dengan rakus. Lalu krek. Salah satu gigiku patah. Seketika mulutku beraroma karat dengan rasa asin. Mataku mulai menggenang, sementara kekasihku menatapku harap-harap cemas sambil tersenyum, menyangka itu tangis bahagia.

“Cakiitt!” kataku, sebisa mungkin tidak membuka mulutku saat berbicara.

“Apa?”

“Awku hawus ke cowiyet!”

“Hah?”

“Bewdawaaaah. Cakiiiittt.”

“Kenapa sih?”

Dia semakin bingung. Aku tak tahan lagi, mulutku tak lagi dapat menampung darah dan saliva yang semakin banyak, dicampur dengan siomay yang sedang kukunyah, dan benda keras yang membuat gigiku patah. Dengan terpaksa kukeluarkan isi mulutku di tanganku yang telah dilapisi tisu. Menjijikkan.

Aku mulai menangis. Dia sempat terpana sebentar sebelum akhirnya matanya mengabut dan menghampiriku dengan khawatir.

“Kenapa sih, babe?”

“Gigi aku pataaaah. Toiletnya dimanaaaa???”

Darah masih keluar dari gusiku. Aku harus kumur-kumur. Salah satu dari pelayan mengantarku menuju wastafel. Aku menangis lagi. Gigiku patah. Ga keren banget! Lagian dalam siomay itu ada apa sih? Keras banget. Sakiiittt. Dengan keadaan seperti ini, tampaknya aku takkan bisa makan hingga beberapa hari ke depan. Ah, aku harus pergi ke dokter gigi. Menyebalkan. Restoran apa sih ini? Kok siomay isinya besi sih?

Saat aku kembali, kekacauan yang kutimbulkan di meja kami sudah dibereskan. Tak ada lagi tisu berceceran darah dan sisa makanan. Kekasihku duduk dengan raut muka kecewa. Aku mulai meracau tentang siomay isi besi.

“Babe…!” ia mencoba menghentikanku. “Tasya…sayang….”

“Apa? Pokonya aku mau gigi patahku kembali. Enak aja. Restoran apa sih ini?”

“Tenang Sya. Diem dulu. Dengerin aku dulu. Jep. Diem. Yah,” bujuknya.

Aku berhenti bicara.

“Yang kamu makan tadi cincin.”

“Tuh kan bener … restoran yang aneh. Masa dimsum isi cincin,” ceracauku. Eits. Tunggu. Tunggu sebentar. Cincin? Bagaimana bisa sebuah cincin bisa masuk siomay? Aku menatapnya lekat-lekat, memicingkan mata penuh tuduhan. Dia menunduk pasrah, merasa bersalah.

“Tasya Ginatri, kamu mau menikah denganku?” ucapnya sambil mengangsurkan sebuah cincin, bersiap memasukkannya ke jari manisku.

Giliranku yang diam, setengah mati kaget. Rasanya pernikahan bukan gayanya deh. Selama ini dia selalu bilang kalau dia belum siap membina bahtera rumah tangga, jadi aku pun tak pernah mendesaknya meskipun kami sudah berpacaran hampir empat tahun.

“Sya….”

“Aku … uhm, aku … gigiku patah gara-gara cincin itu.”

Jawaban yang dengan segera kusesali.

“Kamu ga mau nikah, Sya? Mau pacaran terus kayak gini? Kita udah bukan abege lagi.”

Aku menelan ludah.

“Gila kali ya? Ya mau dong!” Aku menyambar cincin itu dan memasukkannya sendiri ke jariku. “There. Sudah. Resmi. Tunangan?”

Sumpah preman banget. Dua kali penyesalan. Apa susahnya sih nungguin dia masukin cincinnya?

Dia sudah tak heran dengan tabiatku. Lalu seakan-akan tak pernah ada pertunangan sebelumnya, dia dengan tenang mengunyah baksonya.

Seandainya saja sejak awal aku tahu bahwa dia akan melamarku malam itu, aku takkan serakus itu.

***

Gigi patah itu mengantarkanku ke dokter gigi, yang memberiku berita buruk lainnya, bahwa gigi geraham yang baru tumbuh di ujung kiri bawah, harus dicabut karena gigi itu membuat sebuah ceruk antara dirinya dan gigi geraham lain yang mengakibatkan makanan tersangkut di situ. Lama-lama makanan itu akan membusuk kemudian menyebabkan area sekitarnya ikutan membusuk, lalu gigimu akan menghitam dan akan sakit sekali. Saat itu terjadi, rasanya sudah terlambat. Karena kamu akan sangat menderita. Percayalah, sakit gigi itu tidak lebih baik daripada sakit hati. Sakit hati malah lebih baik, mendorongmu lebih produktif. Dan jika terjadi pada penulis-lagu ternama, akan mempertebal pundi-pundi uangmu sehingga saat kau tidak sakit hati lagi, kamu punya banyak uang untuk melakukan kegiatan hedon. Menyenangkan bukan? Jangan mau sakit gigi. Dan jangan percaya penyanyi dangdut. Mereka suka berlebihan.

Dan operasi pencabutan gigi geraham itu, mengakibatkan plafon asuransi kesehatanku dari kantor overlimit, yang berujung pada pemotongan gaji secara konsisten selama tiga bulan.

Sungguh pertunangan yang merepotkan. Sebaiknya pacarku bertanggung jawab. Ralat. Tunanganku. Ia dan keluarganya akan datang melamarku secara resmi minggu depan. Tapi rasanya, dengan tragedi gigi patah dan pemotongan gaji selama tiga bulan ini, pertunangan bukan ide yang menarik.

Tanpa sadar, aku mulai menjauh darinya. Aku menghindar bertemu dengannya. Aku jarang mengangkat telepon darinya, dan segera menutupnya saat kupikir tak ada lagi hal yang penting untuk dibicarakan. Bukankah orang pacaran lama-lama di telepon hanya untuk membicarakan hal-hal tak penting dan cuma saling merayu? Dan jika itu tidak dilakukan, tandanya ada masalah dengan hubungan itu.

Tapi, apa yang membuatku tidak bersemangat menghadapi pernikahan? Gigi patah dan potong gaji, ataukah aku memang belum ingin menikah?

“Kamu berubah,” ujarnya pertama kali saat berhasil mencegatku. Aku tak punya alasan lagi untuk menghindar darinya. “Sejak aku melamarmu kamu berubah. Kamu kan cewek. Harusnya kamu semangat dong. Cewek-cewek lain biasanya nyusahin pacarnya dengan janji ngukur baju pengantin, milih-milih undangan, nyari-nyari gedung, bahkan sampe tetek bengek kecil kayak lagu apa yang boleh dimaenin dan apa yang enggak boleh. Kamu bahkan ga semangat waktu diajakin foto prewed. Kenapa sih kamu?”

“Nunggu gigiku ga bengkak. Ga lucu aja foto prewed calon pengantin perempuannya tembem sebelah dan senyumnya kepaksa sambil nahan nyeri,” kilahku.

“Ya tapi kan bukan berarti kamu harus menghindar dariku, kan?”

“Aku males ngomong banyak-banyak. Sakit tauuuu. Dan ngomong-ngomong, siapa yang bertanggung jawab?”

Dia melengos. Aku tersenyum kecil. Satu nol. Siapa suruh masukin cincin ke dalam siomay? Monyet pake kacamata juga tau kalau itu ide buruk. Kalo keselek, gimana? Kalo cincinnya masuk sistem pencernaan, terus ngendon di usus besar dan ga mau keluar-keluar lagi, gimana? Mana kita tahu kalau dalam siomay itu ada cincinnya.

“Abis kamu juga sih … maen kunyah aja. Cewek kayak gitu sih, makannya rakus.”

“Ya udah lah, kalo nggak suka ngapain juga kamu pengen nikah sama aku?”

Dia diam. Skak mat.

“Ah bodo,” gumamnya. Lalu meninggalkanku.

Seminggu menjelang lamaran, giliran dia yang mendiamkanku. Selama seminggu itu, tak satu kali pun dia menghubungiku. Aku mulai khawatir, dan membombardirnya dengan sms, dan telepon-telepon tak terjawab, dan kunjungan sia-sia ke kantornya, juga ke rumahnya. Bagaimana kalau kalimat terakhir yang ia ucapkan padaku adalah “Ah bodo”, bagaimana kalau dia mengurungkan niatnya menikahiku?

Bagaimana kalau pada akhirnya sebuah kesadaran menyambar kepalanya seperti petir, bahwa aku tak cukup wanita untuk menjadi istrinya. Bahwa aku terlalu ajaib untuk menjadi seorang ibu. Bahwa aku tak cukup baik untuk mengerti dan menemaninya hingga akhir hayat. Bahwa dia tak cukup mencintaiku untuk mengambil keputusan tersebut. Bahwa pada akhirnya empat tahun yang sudah kami lewati hanyalah kesia-siaan, hanya terminal persinggahan untuk menuju stasiun kehidupan yang lain? Bagaimana kalau aku hanyalah numpang lewat dalam kehidupannya?

Memikirkan itu sungguh membuatku frustrasi. Tetapi rasanya, aku belum bisa menjadikan konsep pernikahan sebagai prioritas dalam hidupku. Aku takut tak dapat membuatnya bahagia. Aku egois dan kekanak-kanakkan. Aku takut tak dapat mengurusnya. Aku takut mempermalukannya karena dia telah memilih seseorang sepertiku.

Bagaimana jika dia dan keluarganya tak pernah datang untuk memintaku dari ayah ibuku? Sehari sebelum hari yang ditentukan, dia tak kunjung menghubungiku. Apa yang harus kukatakan pada kedua orang tuaku? Bahwa besok dia tak jadi melamarku karena aku bebal dan kacau?

Aku tak bisa tidur, tenggelam dalam frustrasi.

Jam sebelas malam. Layar teleponku menyala.

“Halo?” aku mengangkatnya dengan jantung berdebar.

“Kamu siap untuk esok, Sya?” tanyanya.

“Kamu kemana aja sih? Aku kan nyariin kamu. Aku … aku ga tau harus gimana lagi biar bisa ngobrol sama kamu. Aku melakukan semua yang aku bisa. Aku … aku nggak bisa kehilangan kamu.”

“Aku memberimu waktu untuk berpikir, Sya. Saat ini kutanyakan kembali. Apakah besok aku harus datang ke rumahmu dengan keluargaku, atau tidak?”

Aku diam.

“Aku ingin kalau kamu menerima lamaran ini, kamu sungguh-sungguh. Kamu sudah mengerti segala konsekuensinya. Bukan hanya karena kita sudah lama pacaran dan oleh karenanya kita harus menaikkan jenjang itu menjadi tunangan kemudian pernikahan. Tetapi karena kamu benar-benar menginginkannya, karena kamu benar-benar ingin bersamaku sampai akhir hidup kita. Karena kamu telah siap. Bukan karena kamu harus melakukannya. Aku sayang sama kamu. Aku ingin kamu jadi ibu anak-anakku. Aku ingin kamu jadi istriku. Jadi sahabatku. Jadi pendampingku. Jadi pendukungku. Aku mau kamu.”

“Aku takut tak bisa membuatmu bahagia.”

“Ah jangan lebay deh Sya. Menurutmu kenapa juga aku bertahan pacaran sama kamu selama empat tahun ini kalau aku enggak bahagia? Dasar aneh.”

“Iya juga siiih,” ujarku tak yakin.

“Jadi, besok aku ke rumahmu atau tidak? Kalo kamu nggak pengen aku ke rumahmu besok, sebaiknya kita nggak us-!”

“Masa sih nggak dateng? Ibu sama Bapak kan nungguin!”

“Aku nggak mau dateng cuma karena Ibu Bapak kamu nungguin. Aku dateng karena kamu mau aku dateng. Ya ampun kamu berbelit-belit banget sih? Kamu pikir enak ya nyuekin kamu seminggu ini? Bebal banget siih.”

“Iya. Aku mau kamu datang besok. Aku nungguin kamu. Aku mau kamu datang,” ujarku cepat-cepat, sebelum ia berubah pikiran.

“Sampai besok kalau begitu.”

Telepon dalam genggamanku merosot jatuh ke atas kasur begitu dia menutup teleponnya. Jantungku berdebar kencang sekali. Lamaran. Hanya selangkah lagi menuju pernikahan. Mengapa rasanya begitu menakutkan?

2/26/2009 9:29:01 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s