Mera Barbie*

Hanya selang satu hari, namun rumah Pak Nandang sudah kembali dipenuhi deretan bunga papan. Makanan katering sisa pesta kemarin masih memenuhi kulkas di dapur Bu Nandang. Rangkaian bunga mawar, krisan dan bunga lili dari gedung resepsi belum layu tersebar di berbagai ruangan. Rumah itu masih semerbak wangi bunga dan makanan enak. Kebaya-kebaya pinjaman dari “Mama Sonya: Rias Pengantin” masih tersampir di ruang keluarga, menunggu Ujang untuk mengembalikannya. Bahkan ronce melati yang berhasil dicuri dari sang pengantin, masih tergeletak kekuningan di kamar rias salah satu kamar.

Bi Amah yang berteriak heboh pertama kali saat menemukan Mera tergantung di kamar pengantin. Lehernya terkulai, disangga kabel setrika panjang yang diikatkan pada kayu yang melintang di atas lubang segiempat berukuran limapuluh kali enampuluh senti di langit-langit. Lidahnya terjulur, tangannya jatuh tergantung-gantung bersama setrika. Seluruh tubuhnya menghitam seperti terbakar. Matanya membelalak setelah menahan nyeri tak terkira. Di bawah kakinya, sebuah bangku plastik dalam keadaan terguling. Bangkai kutu berserakan di bawahnya.

Bi Amah pingsan setelah berteriak karena melihat anak asuhannya dalam keadaan mengenaskan begitu. Orang-orang yang masih ramai di rumah itu sontak menghampiri sumber suara dan menatap pemandangan yang sama. Mera, sang pengantin baru, mati. Mera tak mungkin bunuh diri. Ia gadis yang sangat mencintai hidup.

Sebagai penyanyi dangdut yang manggung dari kampung ke kampung, kesempatan untuk membuat album dan masuk televisi sangatlah langka. Tetapi Mera adalah bintang Suara Irama Jaya. Walaupun suaranya pas-pasan, tapi ia piawai membujuk para masteng memberikan saweran yang banyak. Hanya bergoyang sedikit, para lelaki itu langsung menggonggong seperti anjing, menurut bagai kerbau dicocok hidung. Tubuhnya mulus tanpa cacat, hingga ia mendapat julukan Mera Berbie. Rekan kerja sekaligus pesaingnya sesama penyanyi dangdut di SIJ yakin benar kalau Mera menggunakan susuk. Dinah, yang pernah menjadi temannya sewaktu sekolah menengah bersaksi bahwa dulu kaki Mera korengan akibat sering main di selokan. Rambutnya yang halus berkilau itu pun dulunya penuh kutu yang saking banyaknya sampai merayap ke baju seragamnya yang putih. Senyum dengan geligi rapi yang tak bisa dienyahkan dari pikiran hingga tujuh hari tujuh malam itu, dulu tak pernah menimbulkan efek seperti ini.

Dinah, dan penyanyi lainnya percaya, Mera menggunakan susuk sakti yang bahkan susuk-susuk mereka pun tak dapat menandinginya. Konon, susuk itu jugalah yang mengantarkan Mera kepada produser ternama yang mengorbitkan sejumlah bintang dangdut DVD menjadi bintang dangdut yang tampil di televisi nasional dan seluk beluk hidup pribadinya dibicarakan infotainment.

Sebelum bertemu Agus Kumpret sang produser, nama Mera Berbie sudah tak asing di lapak-lapak DVD bajakan di terminal-terminal. Goyangannya yang khas juga sudah terbiasa ditampilkan dalam televisi 14 inci milik pedagang-pedagang kaki lima itu. Banyak orang lewat berhenti sebentar saat melihat video Mera dan tubuh mulusnya tampil di sebuah lapak. Ia hanya satu langkah lagi untuk seterkenal Ratu Nanas yang baru saja bercerai dari Saekan Jamal dan kini diisukan menikah siri dengan pemain sinetron yang tidak jelas main sinetron apa.

Ia tak mungkin bunuh diri. Ia akan rekaman sebentar lagi, dan ia baru saja menikah kemarin.

Kemungkinan terbesar adalah, dia dibunuh. Masalahnya, siapa pembunuhnya?

Jari-jari akan otomatis menunjuk Bagus, sang suami baru, karena lelaki itu tak ditemukan di manapun dalam rumah itu. Saat ditelepon untuk dikabari perihal kematian Mera pun ponselnya tidak aktif. Lagipula, pengantin baru macam apa yang meninggalkan pengantinnya di malam pertama? Pasti ada sesuatu yang salah dengan Bagus.

Bu Nandang tidak pernah merestui pernikahan Mera dengan Bagus yang baru dikenalnya tiga bulan. Mera tergila-gila pada pemuda itu. Sementara Bu Nandang menganggap Bagus hanya menginginkan uang Mera. Mereka tidak satu level. Walaupun Bagus lulusan S1 sebuah Universitas Swasta Tak Terkenal, ia hanya bekerja sebagai tukang ojek. Tak peduli walau dia lulus cum laude dari Fakultas Ekonomi. Setelah tiga tahun mencoba peruntungan dengan melamar ke berbagai bank dan perusahaan lain, Bagus menyerah. Perusahan-perusahaan yang didatanginya hanya menginginkan lulusan Universitas Negeri dan Universitas Swasta Terkenal. Atau paling tidak, ada koneksi dari dalam. Bagus tak mengenal siapa pun. Ayahnya seorang tukang becak, ibunya berjualan kue basah keliling kampung. Tipikal orang miskin. Beruntung Bagus sempat kuliah karena kemurahan hati Pak Jarot yang rumah mewahnya berpunggungan dengan rumah kumuh bapaknya. Sejak SMP, ia sudah bekerja di rumah Pak Jarot. Mengetahui kemampuan otak Bagus yang lumayan, Pak Jarot menyekolahkannya hingga lulus kuliah. Sayang, kemudian Pak Jarot meninggal dan semua anggota keluarganya konon pindah ke luar negeri. Bagus tak lagi punya koneksi untuk mendapatkan pekerjaan.

Menjadi tukang ojek pun tak apa. Di jok ojeknyalah Bagus dan Mera berkenalan. Mera ketinggalan rombongan SIJ saat ada job di kampung Sukasirna. Dinah yang memberitahu Bang Jaki pemimpin SIJ bahwa Mera sakit dan tak bisa ikut menyanyi di pernikahan ketiga Ki Jalu, pawang hujan yang sering dipakai dalam acara-acara outdoor oleh televisi ternama, dengan seorang gadis desa berumur 15 tahun.

“Ngebut, Bang ya! Mera harus nyampe duluan sebelum Dinah.” Tuntut Mera sambil memamerkan senyum andalannya. Jantung Bagus seketika loncat dan pindah ke lambung, lalu pindah ke dengkul, pindah ke otak, hingga ia agak-agak gagap menyetir motornya. Jatuh cinta pada pandangan pertama, orang-orang bilang. Bagus tak pernah merasa kalau rasanya akan tak karuan begini. Seperti membonceng kuntilanak, seakan-akan setiap saat Mera akan menghilang dari jok belakangnya dan ia cuma bermimpi.

Pada saat itu Bagus belum tahu kalau Mera pun merasakan hal yang kurang lebih sama. Gadis sembilan belas tahun itu dag dig dug kepayahan mengatur posisi duduknya karena ia ingin terus lengket-lengketan dengan lelaki yang akan mengantarnya ke Kampung Sukasirna. Rambutnya yang membuatnya kepincut setengah mati. Dan bentuk jarinya. Entah kenapa, Mera selalu jatuh cinta dengan lelaki yang memiliki jari-jari seperti Bagus. Panjang dan besar, dengan pembuluh darah yang menonjol, indah seperti relief ular biru-ungu-kemerahan yang melingkar-lingkar. Jari-jari seperti itu membentuk tangan yang hangat dan melindungi, yang akan merengkuh bahunya, yang mengelus rambutnya, yang pas meremas payudaranya.

Pelan-pelan Mera melingkarkan tangannya ke pinggang lelaki itu, rambutnya yang wangi berkibar-kibar tertiup angin dan sesekali mampir di hidung Bagus, membuat perjalanan itu seakan tak pernah usai. Keajaiban besar mereka tidak mengalami kecelakaan sampai di Sukasirna.

Ki Jalu langsung melamar Mera untuk menjadi istri keempatnya begitu gadis itu tiba di tempat resepsi. Personil SIJ yang lain masih sepertiga perjalanan lagi untuk mencapai tempat Ki Jalu. Dengan halus Mera menolak lamaran Ki Jalu, berkilah bahwa Bagus adalah tunangannya – yang bahkan membuat Bagus lemas, tak mampu lagi menapak tanah.

Kedua sejoli itu menikah tiga bulan kemudian, yang sampai pada awal cerita. Pengantin perempuan mati tergantung. Pengantin lelaki menghilang, dan besar kemungkinan Bagus yang membunuhnya, setidaknya begitulah spekulasi Bu Nandang. Siapa lagi yang akan membunuhnya? Lagipula Bagus pergi setelah kejadian itu. Pasti ada sesuatu yang hilang dari kamar Mera. Begitu pikir Bu Nandang.

Ia mengacak-acak kamar mencari sesuatu yang seharusnya hilang dicuri oleh Bagus sehingga polisi, saat datang ke TKP, kesulitan mengumpulkan bukti.

***

Lalu ke manakah Bagus?

Ia pergi setelah memohon-mohon kepada Mera agar ia tidak bunuh diri. Susuk Mera memiliki pantangan. Dinah tahu pantangannya, karena ia yang mengantar Mera memasang susuk. Ia tak bisa mendapatkan susuk sedahsyat Mera karena ia sudah tidak perawan. Nyai pemasang susuk berbisik pada Dinah sebelum mereka meninggalkan tempat itu : “Khasiat susuk akan hilang kalau Mera bercinta dengan lelaki yang dicintainya. Kulitnya akan menghitam seperti terbakar.”

Mera menangis di malam pertama mereka, karena begitu ia mencapai puncak, sesuatu seperti melesat meloncat dari tubuhnya, lalu terdengar bunyi cling benda logam yang jatuh ke lantai keramik. Perubahan itu hampir instan. Kulit mulus cemerlangnya dengan segera digantikan dengan warna hitam gosong. Persis seperti saat Purbararang mengoleskan ramuan getah yang membuat kulit Purbasari menjadi hitam pekat. Kebahagiaan dan perasaan melayang yang tadi dirasakannya seketika menguap saat ia menyadari susuknya meloncat keluar dari tubuhnya.

“Mera lebih baik mati saja, Bang! Bagaimana mungkin Mera bisa rekaman dengan keadaan Mera seperti ini? Mera tidak tahu apa yang terjadi. Mengapa ini bisa terjadi? Mera mau mati saja, Bang. Mera sudah tak sanggup lagi hidup.”

“Kalau Mera mati, Abang juga tidak sanggup meneruskan hidup. Mera itu cahaya hidup Abang. Kalau Mera mati, dunia Abang gelap.”

“Tapi Mera seperti ini sekarang, Bang. Siapa yang mau mengelu-elukan Mera di panggung kalau begini caranya? Tak ada lagi yang mau nyawer Mera.”

“Yang penting kan Mera sama Abang. Abang tak peduli Mera seperti apa, Abang tetep sayang sama Mera. Abang akan bekerja giat untuk menghidupi kita, mungkin sudah jalannya kamu tak menyanyi lagi.”

“Mera mati saja, Bang. Apa gunanya Mera hidup kalau Mera tidak menyanyi?”

“Mera bisa menyanyi untuk Abang. Abang cinta sama Mera. Mera juga kan? Cinta sama Abang. Mera jangan khawatir, Abang akan melakukan apa pun untuk Mera. Abang akan mencari cara agar Mera seperti sediakala.”

Begitulah, malam itu juga Bagus pergi mencari Nyai Pemasang Susuk sambil membawa potongan susuk berlian yang terlepas, sementara Mera menunggu harap-harap cemas.

Ia tak melawan saat polisi menciduknya. Bagus kembali untuk menyampaikan kabar gembira bagi Mera. Ia membawakan berita tentang susuk lain yang walaupun tidak sekuat susuk sebelumnya, tetapi paling tidak akan mengembalikan keayuan Mera.

Bu Nandang memaki-makinya dengan gemas, berteriak frustasi meminta Bagus mengembalikan putri kesayangannya. Putri yang memberinya paling banyak materi. Bagus hanya bisa menceluk saat mengetahui cintanya sudah menyeberang ke dunia lain. Ia terus menyesali diri. Andai saja ia membawa istrinya serta. Mera pasti masih berada dalam dekapannya saat ini.

***

Bagus hanya bertahan tiga hari dalam tahanan polisi. Ia ditemukan tercekik celana kolornya sendiri di dalam sel. Mati dalam keadaan yang kurang lebih sama dengan istrinya. Tercekik. Kasus ditutup karena tersangka utama meninggal bunuh diri dan polisi pun sudah malas mengurusi kematian seorang penyanyi dangdut kawinan. Lagipula, tak ada gunanya mengurusi bintang yang sudah mati. Ada bintang baru yang bersinar. Dinah Ratu Ulekan, yang baru saja dipersunting menjadi istri keempat Ki Jalu.

Hang Lekir, 3/5/2009 9:31:02 PM

*) cerpen ini dipilih menjadi salah satu cerita FTV dalam Sinema 20 Wajah Indonesia, program ulang tahun SCTV yang kedua puluh.

Advertisements

2 thoughts on “Mera Barbie*

  1. Pingback: FTV Susuk Barbie was Mera Barbie by Jia Effendie « Hermesian's Write

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s