Bulan Madu

Rasanya aku mengerti apa yang dipikirkan oleh Veronika saat dia berniat untuk mengakhiri hidupnya. Atau mungkin juga tidak. Namun, apa yang menghinggapi kepalaku saat ini, kurang lebih sama dengan apa yang ada di kepala pustakawan berusia dua puluh empat tahun itu ketika dia menelan pil-pil tidur kemudian menunggu kedatangan malaikat maut sambil dengan santai membaca artikel tentang Slovenia dalam sebuah majalah bulanan berbahasa Prancis. Tetapi, aku tidak menenggak pil tidur sambil membaca majalah. Malah, aku masih bingung menimbang-nimbang dengan cara apa aku akan menjemput kematianku.

Kurasa sangatlah menarik jika kita bisa memilih bagaimana kita mati, pada saat yang bisa kita tentukan sendiri. Kira-kira, apakah aku akan memilih cara maskulin dan kasar dan berdarah-darah dengan melompat dari ketinggian 23 lantai tempatku bekerja? Ataukah menabrakkan diri ke depan sebuah truk yang melaju kencang? Memenggal leherku sendiri dengan pisau cutter, melibatkan diri dalam bentrokan massal dan mengorbankan diri untuk lebih banyak dipukuli dan ditendangi? Yang terakhir itu pasti bisa dilakukan, mengingat begitu banyaknya tawuran dan unjuk rasa berdarah yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini.

Atau, apakah akan kulakukan dengan cara lembut dan feminin seperti yang dilakukan Veronika? Menikmati obat nyamuk cair yang dicampur dengan mint sahi favoritku, menelan dosis berlebih obat-obat berbahaya dan kedaluwarsa? Mengerat pergelangan tangan dengan silet perapi bulu ketiak? Menenggelamkan diri di bath tub?

Belum. Aku belum memutuskan.

Apakah kematian itu sakit? Mereka bilang iya. Namun, aku tak tahu, karena aku tak mengenal siapa pun yang kembali dari kematian. Pada ulang tahun kedua puluh delapanku yang soliter dan sepi, sebuah pemikiran bersayap muncul dalam kontemplasi malamku. Aku merasa telah cukup. Hidupku tidak bisa lebih berarti lagi dari sekarang. Aku harus berhenti. Aku lelah, dan aku tak ingin hidup lebih lama lagi. Jika kalian berpikir aku sedang patah hati, kalian salah. Tidak ada pria yang bisa kutangisi saat ini. Aku sendirian. Lajang, cantik, menarik, berada di puncak kematangan, bahagia.

Bahagia? Apakah kebahagiaan itu? Lex Luthor dalam drama seri Smallvile pernah berkata pada Chloe; Kebahagiaan adalah makhluk yang sukar dimengerti. Kita semua mengharapkannya, tetapi hanya sedikit yang bisa menemukannya. Apakah kebahagiaan yang kurasakan ini hanyalah ilusi? Semu. Bahagia yang sudah tercemplung dalam zona nyaman sehingga aku lupa bagaimana rasanya. Aku tahu ini bernama bahagia, tetapi tidak ada rasa lain sebagai pembanding. Mengapa bahagia ini terasa hampa? Apakah sebenarnya aku tengah membohongi diriku sendiri? Kebetulan saja jika kebosananku ini mirip dengan apa yang dirasakan Veronika.

Tak ada niat sedikit pun untuk menjadikan gadis fiktif ciptaan Paulo Coelho itu panutanku hingga aku mengikuti jejaknya bunuh diri. Namun, itulah yang berputar-putar riuh di atasku, mencengkeramku seperti tentakel-tentakel gurita. Hidupku terlalu biasa, seolah-olah aku mengulangi kehidupan milik orang lain yang sudah mati. Tidak ada yang istimewa yang datang kepadaku. Semua ini tak lagi menarik untuk dijalani.

Jadi, daripada aku buang-buang waktu dan biaya untuk menjalani kehidupan yang biasa-biasa ini, lebih baik aku mati. Biarkan sumber daya alam dimanfatkan oleh orang ambisius yang optimistik. Waktuku telah saatnya diakhiri. Hidupku bergerak mekanis dengan ritual-ritual monoton yang lama-kelamaan membakar kepalaku perlahan.

Aku membayangkan diriku berada dalam sebuah adegan film. Saat tokoh utamanya sendirian dan berpikir, tetapi tanpa musik pengiring seperti dalam film. Saat kau terserap tenggelam masuk dalam dirimu sendiri, suara latar adalah bising lalu lintas, derungan mesin kopaja, teriakan pedagang asongan, suara pengamen mengiris-iris telingamu, decitan rem, suara timer menyuruh calon penumpang masuk kopaja tertentu. Suara dentingan sendok dan gelas. Dering telepon genggam. Pemantik api. Sedotan plastik saat menusuk penutup minuman dalam gelas.

Saat kau ingin hening, atau mendengarkan bebunyian yang beradab dari alat musik tertentu, semua suara dunia normallah yang bertabrakan menggetarkan organ korti dalam gendang telingamu. Semua ritual itu kujalani. Begitu lepas kilatnya waktu melesat, tak ada waktu untuk mengeluh, untuk membanding-bandingkan dengan dunia ideal. Kau dituntut untuk secepat superhero, mengejar sesuatu dengan sangat, tapi malah lupa sedang mengejar apa.

Aku sudah tidak cocok dengan semua kekacauan ini. Dan karena aku tak dapat menghentikan atau memperlambat dunia, maka aku saja yang akan berhenti. Aku membenci segala sesuatu yang tak dapat kukendalikan. Aku tak suka harus mengenakan topeng setiap saat, mengikis sedikit demi sedikit diriku untuk menyenangkan orang lain. Hanya agar mereka tak menganggapmu bukan bagian dari mereka. Hanya agar kau tak sendiri. Padahal kenyataannya aku memang sendirian. Aku hanya mencegah mereka mengirimku ke rumah sakit jiwa.

Bagaimana rasanya berada di rumah sakit jiwa?

Aku tak ingin tinggal di rumah sakit jiwa. Karena aku tidak gila. Tetapi mengapa rasanya cara berpikirku kini semakin kacau balau seolah-olah memang sudah selayaknya aku tinggal di rumah sakit jiwa? Aku takut memperlihatkan wujud asliku. Aku takut manusia-manusia di sekitarku menyebar menjauh, menatapku seperti wabah. Aku takut aku akan takut menatap jelmaanku di cermin. Aku takut menjadi gila. Aku takut dianggap tak lazim. Aku takut ditanya dan tak dapat menjawab. Bukan karena aku tak punya jawabannya, tetapi karena aku takut pada efek dari jawaban itu. Aku bosan berpura-pura. Bermanis-manis. Menjilat. Menyetujui sesuatu yang bertentangan dengan keyakinanku. Munafik. Tapi itu cara bertahan hidup, dengan menyebar kebohongan, membuat muka palsu, atau menempelkan hidung palsu berwarna merah. Lihat, aku badut yang tersenyum. Maka aku ingin mati. Dengan cara apa, Itu yang sedang aku cari. Mungkin sebentar lagi aku akan tahu.

***

Lantai 13 masih gulita saat aku tiba pagi itu. Cahaya tak datang ke daerah dekat lift karena tak ada jendela di situ. Aku baru bisa melihat saat membuka pintu masuk. Cahaya memantulkan citra yang diserap otakku hingga diterjemahkan menjadi sebuah benda. Sinarnya lemah karena terhalang tirai, meja, dan filing cabinet. Mendekat mejaku yang di sebelah dinding kaca, cahaya semakin kuat. Matahari hangat membanjir di sana. Kunyalakan komputer. Memulai hari membosankan yang sama dengan kemarin. Manager datang, berucap selamat pagi. Sedikit berbasa-basi tentang dua manga yang kutaruh di meja – lupa kusembunyikan. Lalu berceloteh tentang hal-hal yang tak ingin kudengar.

Saat ini aku hanya ingin berinteraksi dengan komputer, bukan manusia. Tetapi, mulutnya terus mengalirkan kata-kata, racauan tentang akhir pekannya di sebuah cottage di pulau terpencil. Aku hanya menanggapinya sekilas demi terlihat sopan. Sebenarnya yang ingin kukatakan hanyalah : ”Tinggalkan aku sendiri!” Lelaki itu baru pergi setelah merasa cukup menyanyah. Aku menatap punggungnya menghilang di balik filing cabinet.

Apa yang akan dia pikirkan kelak jika aku mati bunuh diri?

Pesawat telepon berdering. Di ruangan yang masih hening ini, suara itu memonopoli semua bunyi. Aku mengangkatnya enggan.

“Travel Galaksi selamat pagi! Dengan Ratnasari bisa dibantu?” Suara ceriaku tak menunjukkan isi hatiku.

“Selamat pagi, Mbak. Saya ingin memesan tiket ke luar angkasa!” ujar suara itu. Dia terdengar sangat jauh, mungkin ratusan mil dari dunia nyata.

“Maaf, Mas?”

“Saya ingin memesan tiket ke Luar Angkasa!”

“Maaf, Mas, kami tidak melayani perjalanan Luar Angkasa!” jawabku masih sabar.

“Saya ingin memesan tiket ke Luar Angkasa untuk dua orang!”

“Tetapi, Mas. Tidak ada yang namanya perjalanan ke Luar Angkasa. Bukankah hal-hal seperti itu hanya dilakukan oleh astronot?”

“Saya ingin memesan tiket ke Luar Angkasa untuk dua orang. Saya akan segera menikah, dan kami berencana untuk berbulan madu di luar angkasa!”

“Maaf, Mas. Saya tidak bisa menolong Mas untuk permintaan itu!” Aku menutup telepon dengan gusar. Aku mendengus pada pesawat telepon. Orang aneh. Aku membuka program database pemesanan tiket di komputerku. Telepon berdering lagi.

“Travel Galaksi selamat pagi! Dengan Ratnasari bisa dibantu?”

“Mbak Ratnasari…Saya benar-benar minta tolong! Saya ingin memesan tiket ke Luar Angkasa!”

“Mas … travel ini hanya melayani perjalanan dalam angkasa, bukan ke luar angkasa!” jelasku.

“Tapi, mbak, benar kan ini Travel Galaksi? Harusnya bisa, kan, melayani perjalanan antarplanet?”

“Mas, itu hanya namanya saja!”

“Tapi Mbak, kami benar-benar HARUS bulan madu di Luar Angkasa!”

“Mas cari travel lain saja. Maaf saya tak bisa membantu!”

“Saya sudah mencari semua travel. Mbak harapan terakhir saya!” “Tapi saya tak dapat membantu Mas. Kami tidak melayani pemesanan tiket semacam itu!”

“Mbak…saya benar-benar minta tolong. Jika mbak menemukan travel yang bisa membawa saya ke luar angkasa, tolong hubungi saya, Radana, 08223456790!”

Orang itu gila. Itu jelas sekali.

***

Aku pulang dalam keadaan sangat lelah. Dan entah kenapa, suara lelaki yang menelepon paling pagi itu selalu terngiang dalam ingatanku. Lebih aneh lagi, aku bisa mengingat nomor teleponnya. Jika ia segila itu, mungkin ia punya ide yang cemerlang untuk bunuh diriku. Ide untuk jalan-jalan ke luar angkasa benar-benar menggodaku. Andai saja benar-benar ada travel yang melayani perjalanan ke luar angkasa. Aku bisa bunuh diri di sana, menjatuhkan diri ke ruang hampa gravitasi.

Selesai mandi, aku berbaring menatap langit-langit kamar. Di sudut arah jam dua pandangan mataku, langit-langit itu lembap dan ada rembesan air berwarna kekuningan membentuk gambar dua dimensi. Aku menatapnya lekat-lekat. Mirip seseorang tengah membungkuk menghadap sesuatu, dengan tangan terentang ke belakang memegang belati, bersiap menusuk. Aku mengucek mata, gambar itu hilang, berganti rembesan air yang tidak membentuk sesuatu yang berarti. Hanya rembesan lembap berwarna kuning.

Angka-angka bertaburan dalam ingatanku. Kombinasi sebelas angka yang disebutkan lelaki gila bernama Radana itu tepat urutannya, berbaris seperti sekumpulan prajurit perang. Kosong. Delapan. Dua. Dua. Tiga. Empat. Lima. Enam. Tujuh. Sembilan. Kosong. Dengan cepat nomer-nomer itu kuketikkan lewat tombol ponselku. Kutekan tombol panggil. Nada tunggu. Satu. Dua. Tiga. Empat. Aku gelisah.

Apa yang kulakukan? Menelepon orang asing seperti ini, untuk kepentingan yang abstrak pula? Aku hampir menutup teleponnya ketika ada suara yang menyahut.

“Halo?”

“Mas Radana?”

“Mbak Ratnasari?”

Dia mengenaliku!

“Mbak Ratnasari sudah dapat travel itu ya?”

“Belum…!”

“Oh bagus … saya tidak mau merepotkan Mbak Ratnasari. Saya baru saja diputuskan calon istri saya! Jadi rencana bulan madu ke luar angkasa itu dibatalkan. Mbak Ratnasari belum mencari travel itu kan?”

“Belum…!”

“Oh…!”

“Tapi tiba-tiba saya juga ingin pergi ke luar angkasa!” ucapku tanpa sadar.

“Benarkah? Apakah menurut Mbak Ratnasari kita bisa pergi bersama-sama?”

“Mungkin!” suaraku semakin lirih seperti tercekik.

“Apakah kita akan meninggalkan bising bumi jika kita pergi? Apakah kita bisa santai terus menerus dan tak usah berlari terengah-engah untuk mengejar yang lain? Apakah kita bisa menikmati hidup dan bahagia di sana?”

“Saya belum tahu, Mbak!”

“Mas, Apakah kita hanya bulan madu atau tinggal di sana?” Pertanyaanku semakin absurd.

“Kita lihat saja nanti keadaannya. Jika memungkinkan tempat kita terdampar itu ditinggali oleh manusia, mungkin kita akan membentuk koloni baru di sana. Untuk bersiap-siap, saya akan membawa sepasang kambing untuk diternakkan.” “Kambing? Mengapa kambing?”

“Hanya itu daging yang bisa saya makan. Saya sangat menyukai daging kambing.”

***

Aku sudah mencoret semua kemungkinan mati di dunia. Kemungkinan aku akan melepaskan nyawaku di luar angkasa sungguh membuatku sangat bersemangat. Menarik, karena kita tak tahu apa yang akan terjadi di sana. Berapa lama kita akan bertahan di atmosfer yang tidak dikenali ritme tubuh kita? Apa yang akan kita lakukan di sana? Semua pemikiran itu membuatku menekuni situs-situs pencari. Mencari berbagai kemungkinan kehidupan di luar angkasa. Dan jika tak ada kehidupan di sana, jadilah.

Itu adalah cara bunuh diri yang paling fantastis. Bunuh diri bombastis. Tubuh manusia didesain untuk berada dalam pengaruh gravitasi. Beberapa kosmonot yang pernah dikirim ke luar sana mengalami penurunan massa otot dan tulang sekitar 15 persen. Butuh tiga hari bagi mereka dapat mengembalikan kekuatan tubuh mereka untuk bergerak dalam pengaruh gravitasi. Semakin kita menjauhi Bumi, semakin mendekati Jupiter, tulang kita akan mulai retak. Lalu, saat kita mencapai Saturnus, tulang kita hancur karena terlalu lama berada pada lingkungan dengan gravitasi nol. Tentunya dengan seorang pengikut, bunuh diri itu seperti legal. Karena ada yang membantuku melakukannya. Biar Radana yang mendapat imbas risikonya.

Esoknya, aku pergi kerja dengan hati riang. Senang rasanya memiliki rencana. Memiliki rencana dan menikmati prosesnya membuatku merasa hidup. Ironisnya, aku tengah merencanakan kematianku. Tapi aku yakin aku mati bahagia, karena aku yang memilih.

Radana meneleponku pada sore hari, mengabarkan hal yang membuatku girang. Dia yakin bahwa makhluk luar angkasa tak kasatmata pernah mendarat di bumi untuk melakukan bulan madu luar angkasa di Bumi. Menurutnya, Patung Dirgantara di Pancoran itu adalah salah satu stasiun transmisi mereka. Alien-alien dari berbagai penjuru galaksi berbondong-bondong pergi ke bumi untuk merayakan kopulasi mereka. Bumi adalah tempat favorit untuk reproduksi. Seminggu di Bumi, mereka pulang membawa benih anak-anak mereka yang tersimpan dalam kepala yang bervolume besar. Ingatkah UFO yang sempat terlihat di Jakarta beberapa waktu lalu? Mereka lupa memasang tabir penyembunyi saat mereka hendak mendarat di Patung Dirgantara.

Dia mengajakku pergi akhir pekan ini. Kami akan memanjat stasiun luar angkasa itu pada tengah malam, karena jadwal keberangkatan memang selalu disetel tengah malam, tatkala tak banyak mobil dan manusia berlalu lalang. Stasiun Luar Angkasa itu sungguh berdebu. Baru saja kusentuhkan tanganku, debu hitam berminyak menempel tebal di telapakku. Bentuk tapak tanganku tertinggal di kaki patung berusia 42 tahun itu. Radana memberiku sarung tangan khusus yang bisa menempel dalam permukaan berdebu dan licin. Kami mulai memanjat pukul satu pagi. Saat itu lalu lintas lengang, tak ada yang memperhatikan dua manusia memanjat patung setinggi 38 meter. Kami merangkak naik, perlahan, sambil menikmati desir angin, sesekali saling memandang penuh semangat. Kami tiba di puncak voetstuk dengan tubuh yang kotor.

Masih sebelas meter lagi untuk mencapai kepala patung, tetapi Radana bilang, Stasiun Luar Angkasa ini memang terletak di kaki sang patung perunggu seberat 11 ton tersebut. Tak ada tanda-tanda bahwa ini adalah sebuah stasiun yang menghubungkan bumi dengan planet-planet dan benda luar angkasa lain. Hanya dingin yang menusuk menggeletukkan gigi. Tak ada satu pun benda yang mirip pesawat atau kendaran apa pun. Radana tampak tengah berada di loket tak terlihat, membeli karcis yang tak terlihat. Di tempat yang sama, ia seperti membuka pintu yang tak kasatmata, mengajakku serta. Namun, kakiku kram dan tak dapat digerakkan karena dingin ini.

Radana meloncat. Berteriak bahagia.

“Bulan madu luar angkasaaaaaa …. Kami datang!”

Aku melihatnya jatuh. Seperti gerakan slow motion dalam film. Dia melewati penyangga Patung Pancoran, semakin lama semakin ke bawah. Lalu. Brukkkk. Badannya berserakan di aspal. Aku menatapnya dalam tubuh yang beku. Dalam ketakutan yang mencekam. Dalam horor akan kematian yang mengerikan. Aku tetap diam di sana hingga ada orang yang menemukan mayat Radana. Aku tetap menggigil hingga ada orang yang menyadari keberadaanku di puncak patung Dirgantara. Aku tetap diam ketika mereka mengevakuasiku dan membawaku turun. Aku tetap diam. 6/7/2008 11:45:09 AM

Advertisements

5 thoughts on “Bulan Madu

  1. tante jia.
    cerita awaL cerpen ini adaLah saya banget.
    terdengar bodoh, tapi saya terobsesi dengan bunuh diri.
    dan saya sering membayangkan tubuh saya meLayang dari gedung tinggi LaLu menghempas ke tanah. menurut saya itu adaLah cara mati yang menyenangkan.
    jika saya akaL sehat saya sudah hiLang, mungkin saya sudah meLakukannya sejak duLu.
    tapi, rupanya saya masih takut mati.
    banyak haL yang masih ingin saya cari dan wujudkan di dunia ini.

    cerpen ini seperti biasanya ‘geLap’. tapi saya seLaLu suka.
    saya meLebur daLam cerita, karena saya seperti bercermin pada diri sendiri.
    dan ternyata hanya kambing yang bisa membuat saya tertawa. 😀

    masuk di emagz ketiga kah? ada di fb?

  2. Konon, kebahagiaan terbesar adalah tidak pernah dilahirkan. Tapi karena kita sudah dilahirkan, dan kita tidak bisa kembali ke saat kita belum ada, ya jalani sajalah hidup ini, rela ataupun tidak. Tentunya menjalani hidup dengan rela akan lebih membahagiakan kita. Good story.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s