GEMINI

Gadis itu pertama kali kulihat di susuran tangga Monas. Ketika itu, aku dan kekasihku tengah menanti giliran untuk naik ke puncaknya. Lift itu hanya satu, hanya mampu mengangkut sepuluh orang sekali naik, sementara, antrean sudah mengular, melingkar panjang hingga tak dapat kulihat di mana ujungnya.

Kami sudah mengantre hampir satu jam. Matahari terik, kepalaku rasanya dipanggang. Ditusuk-tusuk ratusan tombak ultraviolet. Seharusnya aku tidak meloloskan permintaan kekasihku untuk menghabiskan hari libur ini di Monas. Seharusnya kami mencari tempat yang dingin, yang terlindung rapat pepohonan, atau dibawah bangunan beton ber-AC. Lebih sederhana. Lebih nyaman. Tak perlu mengantre berjam-jam. Tak perlu menyiksa diri seperti ini.

Tetapi demi kekasihku, aku rela. Aku tak tahan melihat mata bulatnya yang hijau zamrud itu menatapku penuh permohonan. Tentu saja, itu bukan warna mata aslinya, matanya hitam, sehitam gagak. Cantik dan tegas.  Tetapi tanpa kontak lens itu, pandangannya buram.

Aku melihatnya mulai lelah berdiri. Walaupun begitu, semangat masih terbaca jelas di wajahnya yang berbentuk hati. Kekasihku yang cantik, tentu saja akan aku akan melakukan apa pun untukmu.

Maka ketika kulihat tanda-tanda kaki jenjangnya mulai kelelahan, aku menyuruhnya untuk duduk di pinggir. Agak jauh. Di depan lift. Jadi jika nanti tiba giliran kami masuk, dia tinggal melangkah. Dia menolak awalnya, tentu saja. Dia tak tega membiarkanku mengantre sendiri. Tetapi aku bersikeras. “Kamu harus duduk, cantik!”

Akhirnya dia menurut, bergerak pelahan mendekati lift yang terbentang lima meter di depan kami. Sungguh, aku tak mengerti apa yang menyebabkan orang-orang ini datang membludak, berduyun-duyun pada hari nan terik ini.

Pada saat aku mengantre sendiri itulah aku menangkap sosok gadis itu. Dia duduk di susuran tangga. Aku hanya dapat menatap bagian kiri tubuhnya. Sosoknya ganjil. Tampak begitu ringkih dan kurus. Seperti anak kucing yang dipisahkan dari induknya. Aku tergoda untuk meninggalkan antreanku dan menghampirinya, menggendongnya, mengelus-elus lehernya – hingga aku menyadari kalau dia seorang gadis, bukan seekor anak kucing.

Aku penasaran ingin melihat wajahnya dari depan. Ada sesuatu pada wajah bagian kirinya yang membuatku sangat tertarik. Tetapi aku tak dapat meninggalkan antreanku. Kekasihku menunggu di ujung sana. Lagipula, mengapa aku harus menghampirinya? Apa urusanku dengannya?

Ada denting yang menyusup ke kepalaku.  Seperti lonceng nyaring bernada tinggi. Asalnya seolah dari gadis yang sedang duduk di susuran tangga itu. Tetapi mana mungkin? Suara itu ada di kepalaku, tetapi seakan berasal dari arah gadis itu. Mana mungkin? Apakah dia sedang melakukan telepati? Apa yang sedang ia katakan?

Denting itu semakin mendesak ketika antrean mulai maju dengan lambat. Ting ting ting ting. Awalnya aku tidak mengerti apa maksudnya, tetapi lama kelamaan seperti ada pemahaman yang merasuk.

Gemini sibuk memanen rindu,” ujarnya.

Menyusahkan. Aku tidak mengerti apa maksud denting itu. Dan ketika denting itu menerjemahkan dirinya sendiri menjadi kata-kata dalam bahasa Indonesia, aku malah semakin pening. Mungkinkah ini efek hunjaman ratusan sinar ultraviolet ke kepalaku? Aku mulai berhalusinasi? Siapa gadis itu?

Tidak mungkin dia Wendy, peri ciptaan J. M. Barrie yang berkomunikasi dengan Peter Pan lewat dentingan lonceng. Ini Indonesia. Lagipula, bukankah peri seperti itu tidak ada, bukan? Apalagi di tengah kota. Di siang bolong begini. Kalau pun peri memang ada, tidak mungkin dia nangkring di susuran tangga Monumen Nasional.

Tak mungkin pula dia Siren yang memantrai dengan musiknya yang indah, agar mendekat, dan menawannya. Tak ada air dekat-dekat sini kecuali air mancur, bukan? Dan tempat itu tak mungkin jadi habitat peri. Air itu terlalu sering diobok-obok anak jalanan untuk mandi dan mencuci. Siapa dia?

Semakin antrean mendekati elevator, aku semakin penasaran, semakin lupa pada tujuanku semula; mengantar kekasihku ke puncak Monumen Nasional. Mungkin dia cucu Maia, ibunda Hermes, pikirku lagi ketika mencuri pandang ke arahnya sekali lagi. Aneh sekali, sosoknya seperti mengikutiku. Aku selalu menatapnya dari sisi kiri. Dengan sudut pandang yang sama. Apakah dia yang mengikutiku, ataukah aku yang tidak bergerak?

Aku semakin dekat. Kekasihku menanti di dekat pintu. Sumringah. Perhatianku sudah terbelah, hampir tertuju sepenuhnya pada si gadis peri. Sudahkah kugambarkan seperti apa pakaiannya? Ia mengenakan rok putih yang tipis. Bagian bawahnya agak koyak dan kotor. Seperti habis bergulat di tanah. Ada percik-percik lumpur menodai pakaiannya – yang membuatnya jadi semakin ganjil. Kucing, Wendy, peri air, ataukah seorang gadis manusia?

Kekasihku memegang pergelangan tanganku. Aku terkesiap seolah dibangunkan dari mimpi. Aku menoleh lagi ke arah gadis peri. Dia menoleh.

Dan aku muntah.

***

Kekasihku menganggap kalau aku muntah karena terlalu lama berdiri disorot matahari. Panas seperti itu bisa menyebabkan kau migrain, dan jika kau terlalu keras menahan sakit kepala, perutmu akan mual-mual dan bergejolak. Itu alasan paling ilmiah, setidaknya buat kekasihku yang pintar dan banyak membaca.

Tetapi dia tak tahu, aku muntah karena aku tak tahan menatap wajah gadis peri itu. Sungguh, jika dia memang benar peri, dia tak tampak seperti peri mana pun dalam bayanganku.

Gadis ini, cantik rupawan jika kau lihat dari sebelah kiri. Tetapi, jika kau melihat keseluruhan wajahnya, mungkin reaksimu akan seperti aku: muntah. Atau bahkan, pingsan. Tetapi mungkin kekasihku benar, aku migrain hingga muntah. Aku berhalusinasi telah melihat gadis cantik. Seorang peri. Nymph. Wendy. Atau apa pun itu namanya. Hantu di siang bolong. Sebut saja. Tidak, jika kau pikir wajah sebelah kirinya begitu mengerikan, berdarah-darah, pucat, dikelilingi kantung mata, ngeri, berbelatung – melata menjalari setiap senti wajah bagian kanannya, kalian salah. Wajahnya mulus. Tidak ada koreng satu pun. Tak ada luka atau pun darah. Tak ada belatung. Tak ada ulat pemakan darah. Wajahnya mulus.

Tetapi, justru itulah yang menakutkan. Wajahnya mulus. Dia hanya punya satu mata, setengah hidung, setengah bibir, setengah telinga. Bagian wajahnya sebelah kanan mulus. Rata. Tanpa mata, tanpa hidung, tanpa bibir. Tanpa telinga. Dan aku, begitu melihatnya. Muntah di tempat. Keganjilan itu tak dapat diterima oleh penglihatanku, tidak juga oleh akal sehatku. Maka aku muntah. Aku tidak pernah muntah di tempat umum. Dan wajah yang mulus dan polos itu begitu mengerikannya hingga aku muntah. Ya, aku tahu, aku sudah menyebut kata ‘muntah’ sebanyak empat kali dalam satu paragraf. Tetapi memang begitu kenyataannya. Aku muntah.

***

Sejak saat itu, manakali aku ingat – dan itu cukup sering terjadi – aku membayangkan wajah gadis setengah kiri itu. Dia cantik sekali, seandainya sebelah kanannya juga normal. Aku bisa saja melupakan kekasihku yang bermata hijau zamrud dan mulai jatuh hati padanya. Ini aneh. Sepertinya aku sudah dimantrai oleh gadis itu.

Kini setiap malam, aku berdoa dengan puisi denting darinya: “Gemini sibuk memanen rindu”. Seketika aku merasa rindu. Rindu kepadanya. Kepada gadis peri yang kurus ringkih mirip kucing yang ingin kugendong dan kuelus lehernya, yang berbicara dengan denting lonceng yang mampu memengaruhi pengembara bagaikan Nymph.

Ini aneh. Tetapi hidupku memang jadi aneh sejak aku melihatnya. Karena tampaknya, setelah kupikirkan lebih jauh, tak seorang pun yang melihatnya. Sudah pasti. Ia adalah makhluk gaib. Dia tak mungkin manusia. Tentu saja. Mana ada manusia yang wajahnya hanya setengah?

***

Suatu hari, kekasihku menginap di kamar yang kusewa. Dia tidak pernah menginap sebelumnya. Semalam apa pun, dia selalu memintaku untuk mengantarnya pulang, meski pukul empat pagi sekali pun. Tetapi kali ini, dia menginap. Entah kenapa. Seakan-akan dia curiga padaku. Seakan-akan dia cemburu. Seakan-akan aku menyembunyikan perempuan lain jika dia tak ada. Ini aneh. Tetapi hidupku memang jadi aneh sejak aku melihat gadis-peri itu.

Aku membiarkannya, tidak mendesaknya untuk pulang. Lagipula, pasti lebih nyaman dan lebih enak kalau kau tidur dengan tangan hangat melingkarimu.

Maka malam ini aku tidur dengan senyum lebih lebar dari biasanya, dalam pelukan kekasihku.

Aku bangun tengah malam, merasa kesemutan. Sesuatu menindihku terlalu lama. Apakah kekasihku? Aku membuka mata perlahan, merasakan dengus napas teratur dari hidung kekasihku – menatapnya penuh kasih sayang, bertekad, kalau aku takkan berpaling pada siapa pun, termasuk pada si gadis peri penyihir itu.

Tiba-tiba matanya terbuka. Matanya yang sehitam gagak. Menatapku. Pandangannya ganjil.

Lalu seperti robot dia bangkit.

“Antar aku ke Monas,” ujarnya.

“Sudah malam,” aku berkata.

“Antar aku sekarang juga!”

“Tidur lagi, sayang ….”

“Tidak! ANTAR AKU SEKARANG JUGA!”

Kekasihku menggelepar. Kejang-kejang. Kemudian, sesuatu seperti meloncat dari tubuhnya.

Gadis itu. Gadis peri itu. Aku menatap bagian depan tubuhnya dan bersiap untuk muntah lagi. Bau asam kembali menyerang langit-langit mulutku. Tidak. Kenapa setiap kali aku menatap seluruh wajahnya aku harus muntah? Tetapi aku memang mual.

Tubuh kekasihku teronggok seperti sehelai kain perca. Gadis peri di hadapanku sedikit melayang.

“Antar aku ke Monas, SEKARANG!” perintah gadis berpakaian putih dengan noda-noda lumpur di roknya itu.

“Dan jangan pernah datangi lagi makhluk fana itu!” tambahnya sambil menunjuk kekasihku yang teronggok dengan dagunya. “Kami telah memilihmu. Kau tak boleh lagi berhubungan dengan makhluk fana.”

“Kami? Kamu siapa? Kami dengan siapa? Dipilih sebagai apa?” Aku bertanya bingung.

“Aku Gemini.”

“Lalu?” aku tak mengerti sepatah kata pun.

“Kau telah bertemu saudariku yang mendentingkan lonceng di Monas.”

Saudari? Pelan-pelan aku menatap wajahnya lagi, dan merasakan gelombang mual menghunjam lagi perutku. Ada yang berbeda. Di depanku ini, hanya ada bagian wajah yang kanan! Sebelah kirinya polos. Mulus. Tanpa mata, setengah hidung, setengah mulut, dan tanpa telinga.

“T-t-tidakkah kau bisa pergi sendiri ke Monas?”

“Tidak, kau harus menggendongku, bertemu saudariku, dan menjadi pengantin kami.”

Kengerian menyapu wajahku. Pengantin?

“T-t-tapi, aku sudah punya kekasih!” Aku menatap kekasihku yang masih tak sadarkan diri.

“Kau akan melupakannya,” ujarnya tak peduli. “Ayo cepat! Gendong aku!”

“Tidak.” Aku bersikukuh.

“Kau sudah dipilih, kau harus menerimanya. Kau bahkan telah mengucapkan kata-kata kutukan itu setiap malam.”

Kata kutukan yang mana?

“Gemini sibuk memanen rindu,” jawabnya dalam kepalaku.

“Bagaimana kalau aku tak mau?”

“Kau akan –.” Bahkan sebelum dia mengucapkannya, rasanya aku tahu apa yang akan diucapkannya kemudian.

“—mati.”

*Depok, malam-jumat-saat-banyak-orang-twit-soal-hantu 3/5/2010 12:52:12 AM

Advertisements

3 thoughts on “GEMINI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s