Ya Lyublyu Tebya

Ya lyublyu tebya.

Kata itu yang kaupilih untuk diucapkan padaku karena kau tak berani mengatakannya dalam bahasa ibu kita. Tentu saja, aku tak mengerti apa maksudmu ketika aku menemukan secarik kertas bertuliskan: “Cia, ya lyublyu tebya” di dalam tas sekolahku. Aku langsung meremas kertas itu dan melemparnya ke tempat sampah. Setelah itu aku bergabung dengan teman-temanku mendiskusikan model sepatu yang baru dikeluarkan oleh salah satu merek ternama, dan dokter kulit mana yang bagus untuk perawatan wajah. Saat itu, mana aku tahu kalau ada anak lelaki patah hati di pojok kelas, menyaksikanku sejak awal – sejak kutemukan secarik kertas bertuliskan ya lyublyu tebya itu, meremasnya tak peduli, lalu melemparnya tanpa sedikit pun perasaan berdosa.

Sampai di sini, aku minta maaf. Seharusnya aku memperhatikan sekelilingku. Tapi kau harus mengerti aku. Apa lagi yang bisa dipikirkan oleh gadis dangkal sepertiku selain sepatu, tas, pakaian-pakaian mahal, dan pesta-pesta? Mana mungkin aku menyadari bahwa di pojok kelas ada seorang anak laki-laki culun mengharapkan sesuatu dariku?

Berikutnya, pesan ya lyublyu tebya itu semakin sering kuterima. Kau harus tahu. Bagiku sekolah adalah formalitas, tempatku memamerkan kekayaanku. Kekayaan ayahku pada tepatnya. Aku tidak bersekolah untuk menimba ilmu lalu mencari kerja biar jadi kaya dan punya banyak duit. Aku sudah kaya sejak lahir. Jadi, aku tak mau bersusah-susah payah belajar bahasa asing hanya untuk mengerti apa arti kata ya lyublyu tebya. Aku tak perlu tahu dari mana asal kata itu. Kecuali kalau dengan mengerti kata-kata itu aku bisa mendapatkan tas Hermes Birkin baru. Sudah, tak perlu membahas kenapa anak SMA sepertiku sudah terobsesi pada tas Hermes. Intinya, aku menerima pesan-pesanmu itu, tapi aku tak peduli. Carikan-carikan kertas serupa pasti berakhir di tempat sampah. Begitu pun mawar. Aku alergi mawar, seandainya kau belum tahu.

Hingga SMA berakhir, aku tidak tahu siapa yang mengirimiku pesan-pesan itu. Kau begitu setia meski aku tak peduli. Aku menganggapnya biasa karena hey, aku kan cewek paling gaul di sekolah. Wajar sekali kan kalau banyak cowok yang naksir aku? Dan cowok culun yang duduk di pojok kelas dengan potongan rambut yang tidak pernah berubah sejak dia TK tak mungkin terlihat oleh mataku.

Ya lyublyu tebya terakhir yang kuterima sewaktu SMA adalah sebuah CD dengan art-cover yang cantik. Untuk yang satu ini, aku tidak langsung meremas-dan-membuangnya. Diam-diam kubawa CD ini pulang. Dengan rasa ingin tahu yang tidak terlalu berlebihan, aku baru menyetelnya seminggu kemudian, ketika tak sengaja melihatnya tergeletak di meja belajar.

Di dalam CD itu ada lagi kertas dengan ilustrasi wajahku. Di baliknya hanya ada tulisan: CIA, YA LYUBLYU TEBYA. Di atas CD itu, dengan tulisan tangan yang sama dengan semua pesan sama yang pernah kuterima, ada tulisan: ACOUSTIC ALCHEMY – YA TEBYA LUBLIU. Apakah ada bedanya? Aku tak terlalu peduli. Kau tahu kan, pada masa-masa itu aku tak peduli pada apa pun kecuali diriku sendiri. Aku mendengarkannya dan langsung memutuskan bahwa aku tidak menyukainya. Musik macam apa, yang membuatku terkantuk-kantuk seperti ini. Musik itu seharusnya penuh semangat. Membuat kita ingin berjoget. Musik itu Beyonce. Aku mematikannya di tengah-tengah. Tak ada suara manusia dalam lagu itu.

Aku baru benar-benar memperhatikanmu setelah kuliah. Ketika kekayaan ayahku berangsur-angsur menghilang, dirampok oleh hukum yang mengatakan kalau ayah korupsi. Mau tidak mau aku harus menyesuaikan diri dengan keadaan baru ini. Seharusnya aku berada di Amerika, kuliah sambil hura-hura di sana. Tetapi, aku terdampar di sebuah universitas swasta, masih di Jakarta.

Aku tidak ingat bagaimana dirimu ketika masih menjadi bocah laki-laki culun di pojok kelas, kau sama sekali tak terlihat saat itu. Tetapi kini, ketika kau menemukan kepercayaan diri untuk mendekatiku, aku langsung memasukkanmu dalam jajaran temanku. Lalu statusmu meningkat menjadi pacarku. Kau tak pernah bilang kalau kau mencintaiku. Kita pacaran begitu saja, sejak kita bercinta di jok belakang Mercedesmu pada malam tahun baru di depan pagar rumahku.
***
Untuk pertama kalinya, kau mengajakku ke rumahmu. Aku membayangkan gedung sebesar istana dengan pembantu lebih banyak daripada anggota keluarga yang mendiami rumah, tetapi aku dibawa ke sebuah rumah kontrakan kecil di sebuah gang. Kau bilang padaku kalau di rumahmu kita takkan bebas bercinta, maka kita lebih baik menghabiskan akhir pekan dengan bergulingan berdua di rumah temannya yang sedang pergi ke luar kota.

Seharusnya sejak dulu aku tahu kalau engkaulah yang menulis pesan-pesan itu. Tapi melihat tampang dan gayamu sekarang, tak mungkin rasanya kau adalah orang yang sama dengan bocah pemalu sewaktu SMA. Seseorang yang bahkan tak kuketahui keberadaannya. Kini kau bahkan sukses membuatku menyerahkan diri.

Begitu kita sampai di rumah kontrakan itu, kau mengeluarkan tali, dan berkata kalau kau akan sangat bergairah kalau aku mau duduk di kursi dalam keadaan terikat. Aku tertawa-tawa cekikikan, menganggap ini eksperimen menyenangkan untuk permainan cinta kita. Dengan penuh semangat aku duduk di kursi yang kau tunjuk, sementara tanganmu menyusuri tubuhku sambil melilitkan tali ke sekelilingnya. Untuk pertama kalinya sejak kita bertemu kau berucap cinta, langsung di telingaku, dengan bisik yang membuatku merinding. Seolah aku bisa merasakan gumpalan cinta dalam dadamu, yang membuncah, meregang seperti balon karet, terus mengisi volumenya dalam ukuran tak terhingga.

Tak pernah aku merasa dicintai sedalam itu.

Pada saat itulah kau bercerita tentang pesan-pesanmu. Ya lyublyu tebya. Aku mencintaimu.
***

Tubuhku sudah tidak dalam keadaan terikat ketika kau membawaku keluar dari rumah kontrakan itu. Kau memasukkan tubuh mungilku yang tertidur pulas ke dalam sebuah samsonite super besar. Otakku tentu tidak ingat apa yang terjadi setelah itu, tetapi tubuhku tahu. Aku dibawa ke sebuah kulkas raksasa, tempat penyimpanan ikan, dan kau meninggalkanku di salah satu pojok tak terlihat dalam kulkas itu.

Kau baru kembali keesokan harinya, dan tubuhku sudah beku biru. Kali ini kau tak melipatku ke dalam koper, karena kau tak mau tubuhku yang beku ini patah ketika dimasukkan ke dalamnya. Dengan perlahan dan penuh kelembutan, kau memasukkanku ke dalam sebuah karung dari kain, lalu membawaku dengan troli dan membaringkanku di jok mobilmu.

Aku dibawa ke tempat yang tak pernah kudatangi sebelumnya. Kau membaringkanku di atas meja. Aku diam saja ketika kau melucuti pakaianku sampai telanjang bulat dan mencairkan kembali tubuhku. Sebenarnya apa yang akan dilakukannya setelah ini? Apa gunanya membekukanku lalu membawaku ke sini?

Lalu dimulailah empat proses plastinasi itu. Fiksasi, pengeringan, pengosongan, lalu pemadatan; sesuai dengan teknik yang pertama kali dikembangkan oleh von Hagens untuk mengawetkan mayat. Setelah isi tubuhku dikeluarkan, kau menyuntikkan sejenis plastik ke tubuhku hingga aku akan awet. Setelah semua proses itu selesai, kau memakaikan gaun yang paling cantik yang pernah kulihat, lalu mulai merias wajahku.

Selama itu, dia terus menerus menyetel Ya Lyublyu Tebya dari Acoustic Alchemy, terus menerus hingga aku hapal. Sesekali kau mengajakku mengobrol, tapi aku lupa, karena seperti biasa, aku sulit berkonsentrasi. Waktu kau meracau tentang betapa kau mencintaiku, aku sedang menatap langit-langit dan mendengarkan kicau burung, sambil menebak-nebak kira-kira waktu itu malam atau siang, karena kita berada di ruang tertutup tanpa cahaya. Sejak aku di sini, penerangan hanyalah dari lampu neon. Sepertinya selamanya aku takkan melihat matahari lagi. Ketika kau bilang kalau kau sangat membenciku karena aku telah mengabaikanmu sedemikian rupa, aku sedang menatap kuku-kukuku. Kau lupa merapikannya. Ada cukilan daging ikan di sela-selanya. Mungkin tak sengaja tercukil ketika kau tak sengaja membuatku membentur rak berisi ikan-ikan. Setelah ini, kau harus memberinya kuteks. Kepucatan tak cocok dengan warna kulitku.

Setelah semua proses plastinasi itu selesai, kau menatapku dengan pandangan puas.

“Cantik,” pujimu, “Fuschia, kekasihku selamanya. Ya lyublyu tebya.” Kaubilang, konsisten dengan bahasa Rusia yang tak kau kuasai itu.

Azure kekasihku, kau bisa bahagia sekarang. Aku takkan mengabaikanmu lagi, aku akan selalu menatapmu, memperhatikanmu, menjadi patung bagimu, Pygmalionku.
4/29/2010 9:01:09 PM

*) Ya Lyublyu Tebya (Rusia): Saya mencintaimu

Advertisements

One Comment Add yours

  1. uni dzalika says:

    aaaaaah ceritanya menyakitkan. cinta yang seperti itu bukan lagi cinta sejati, semacam cinta yang sudah sakit dan gila.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s