Kulit Rambutan

Aku patah hati. Puluhan kulit rambutan yang berserakan di kamarkulah buktinya. Loh, kalian pasti bertanya-tanya apa hubungannya rambutan dengan patah hati? Mau jawaban jujur atau jawaban sok serius?

Uhm, dua-duanya? Baiklah, akan kujawab dengan jawaban yang sok serius dulu. Analisisnya: aku adalah gadis yang sangat teratur. Kamarku sangat rapi dan bersih. Aku tak menyediakan tempat luas untuk menebar sampah di kamarku.

Satu-satunya sudut yang kuperkenankan menampung sampah hanya keranjang plastik di pojok dekat kamar mandi. Jadi, jika aku menebar kulit rambutan di lantai, tak mungkin aku berada dalam kondisi waras. Pasti aku lagi bermasalah.

Jawaban jujur? Hehehe, sebenarnya tak ada hubungannya sama sekali. Aku lagi senang makan rambutan saja, dan aku malas mengambil tempat sampah ke depanku, jadi kubiarkan saja kulit buah berwarna merah itu bertebaran di lantai sementara aku menikmatinya sambil tersedu-sedu menonton DVD serial Korea.

Tapi beneran, walaupun keliatannya aku masih bisa bercanda, aku memang patah hati. Aku tak tahan harus memendam perasaanku dan membiarkan Bayu bercerita padaku segala macam tentang perempuan yang ia gilai. Malah aku yang jadi gila. Aku frustrasi. Makin kuat upayaku melupakannya, makin ia berbekas di hatiku. Seperti cetakan tangan selebriti Hollywood di atas semen.Dan mengejarnya pun seakan mustahil, karena ia juga sedang jatuh cinta. Pada orang lain.

Ah … tuh kan … langsung deh band bau itu bernyanyi ¯tetes air mata basahi pipiku¯. Ah mewek deh gue. Tunggu bentar yah, aku mau nyari tissue dulu. Huhuhuhu … srrotttt … Ah maaf yah aku jorok. Udah cengeng jorok lagih. Manis rambutan bercampur rasa asin ingus dan air mataku. Ah, kalau aku kacau terus seperti ini, mana mungkin Bayu suka padaku? Halo … bumi pada Lila … menjejaklah tanah!! Beresin tuh cangkang rambutan, jangan nangis bombay kayak bintang film India, dan lupakan Bayu! Srotttt.

“Lilaaaa … neng Lila sayang … Bayu telfon!” teriak Mamah. “Bentar ya Bayu … Lila lagi di kamar, kayaknya lagi nonton DVD, soalnya dari tadi nggak keluar-keluar.” Sayup-sayup aku mendengar suara mamah mencoba merayu kecenganku. *cemburu mode on*. Separuh berlari aku menuju pesawat telepon dan merebutnya dari ibuku.

“Bayu?”

“Eh Lama … lagi ngapain lu?”

“Nama gue Lila! Bukan Lama!”

“Lila itu kan artinya lama, lelet, lemot! Hahaha…gak penting! Peer Kimia udah blom?”

“Ya penting lah … Nama gue Lila! Seenaknya aja maen ngubah nama! Peer kimia blom, gw lagi nonton DVD! Tar malem ajah. Atau klo males, besok pagi aja. Buat apa ada Rini di kelas kita?”ujarku malas.

“Tumben lu pemalas gitu! Biasanya kan lo kan rajin. Cuma dua nih yang bisa bikin miss rajin jadi miss males. Kalo nggak jatuh cinta…ya patah hati! Hahahaha! Eh tapi Li, ngerjain bareng yuks! Gue ke rumah lo ya?”

“Sok tau lo! Sapa juga yang jatuh cinta! Elo kan? Gw males ah ngerjain peer sama lo, Bay! Paling lo mau curhat soal Fary lagi!” sahutku ketus.

“Nggak kok … setengah jam lagi gw nyampe yah!Dah!”

Klik. Suara Bayu di sana terputus. Aku melongo dengan suara tiiiiiit panjang datang dari pesawat telepon dalam cengkeramanku. Aku belum mendapatkan kesadaranku kembali saat Mamah melintas di depanku dan melihatku mematung.

“Neng … masih bicara sama cep Bayu?” Aku tak menjawab. Mamah menatapku heran, ia melepaskan gagang telepon dari genggamanku dan meletakkannya di tempat semula. Aku masih kaku. “Lila, ari kamu teh kunaon? Edaaas … eh, ada apa kenapa sampe mematung gitu? Lila? Neng! Tong nyingsieunan Mamah lah! Tega mun mamah tiwas sakit jantung? Neng Lila!!”

“Bayu….!” Kataku sambil menunjuk-nunjuk telepon. Aku masih belum kembali ke dunia nyata.

“Kenapa cep Bayu?”

“Bayu Mah … aduh … Si Bayu mau kesini Mah! Ada cemilan gak? Minuman ada apa aja Mah? Capucinno Mah … Aduh, ruang tamu berantakan. Gawat. Si Ujang sih abis maen ga diberesin. Mamah, ini gimana? Aduh Mamah Bay mau ke sini!” kata-kataku merepet seperti kartu domino. Jarang-jarang Bayu datang ke rumah. Sejak sekelas dengannya 6 bulan lalu, Bayu baru sekali main ke rumahku. Kami memang berteman dekat, tapi cuma di sekolahan. Nelepon ke rumah aja jarang. Dia lebih sering SMS untuk menanyakan peer, atau curhat soal Fary. Nah tentang Fary, curhatannya ga ada kemajuan. Aku sampai gemes sendiri. Sebenarnya Bayu itu suka nggak sih sama Fary? Katanya suka, tapi kok nggak ada usaha. Maunya apa sih?

“Apa yang berantakan La? Semua baik-baik aja kok. Cemilan kan banyak di lemari. Ada es krim juga kan di kulkas. Ari kamu teh kenapa sampai panik kayak gitu?” tanya Mamah dengan logat sundanya yang sekental santan.

“Heeee!” aku menyeringai dengan gaya Agnes Monica di sinetron Kawin Muda. “Nggak apa-apa Mah! Lila ke kamar dulu ya?”

Aku langsung frustrasi saat kembali ke kamarku. Ampun. Berantakannya. Kulit rambutan, tissue bekas, dan keping DVD berceceran di mana-mana. Segera kuambil sapu dan pengki untuk membereskan kekacauan ini. Kulirik jam dinding yang tergantung di sisi kamarku yang berwarna kuning, masih duapuluh menit lagi hingga Bayu tiba disini. Saatnya mandi. Harus wangi waktu ketemu Bayu nanti. Ah, senangnyaaaa … asal jangan ngomongin Fary aja.

Sebelum mandi, aku memeriksa kantong kresek yang tadinya berisi tiga kilo rambutan. Masih ada setengahnya. Hmmm … masih bisa dihidangkan. Oke deh.

***

Bayu terlambat sepuluh menit dari yang dijanjikannya. OMG oh my god…pujaan hatiku datang, ujar hatiku norak. Kalau bisa, akan kujentik hatiku yang norak itu biar diam. Apa-apaan sih … pujaan hatiku. Iiiih … perasaan yang bikin alergi.

“Hai Lila …!” Bayu merentang senyum manis di wajahnya. Oh Lila, berjanjilah kamu nggak akan pingsan. Biasa aja. Cool … ini Bayu yang sama yang ada di sekolahan, yang pake putih abu itu. Ini Bayu, bukan Jesse McCartney. Tenang aja. Tapi oooh, kenapa dia charming banget. Uuuuh…Ah Lila, norak. Norak. Norak. Aku begitu terpesona sampai tak menyadari kalau Bayu nggak bawa tas, dan nggak bawa buku juga. Ia langsung kubawa duduk di sofa dan aku wara wiri bolak balik mencoba menghidangkan semua jenis makanan yang tersedia di kulkasku. Oke Lila, kamu mulai berlebihan.

“Li … udah gak usah repot begitu. Cukup-cukup. Lo duduk aja di sini!”

“Iya, tapi kan…!”

“Li…!”

“Tapi kan, lebih enak kalo belajar banyak makanan!”

“Li, lo gak liat gue ga bawa buku?”

“Bukannya … kita … mau … belajar bersama?” tanyaku linglung. Aku tertegun dan mulai memeriksa Bayu. Benarkah ia tak membawa buku? Trus kalau begitu untuk apa dia kemari? “Bay…bukannya kita mo ngerjain peer bareng?” tanyaku lagi. Bayu tak menjawab dan malah menyeringai. Tampangnya mengatakan; gue males! Tar aja nyontek Rini. Ah kacau.

“Tadi pas denger lo lagi nonton DVD gw jadi latah pingin nonton. Gue belom nonton Eragon, Li! Gue penasaran. Katanya pas bagian telur Saphira menetas tuh bagus banget visualisasinya! Gue pengen tau, apa filmnya sekeren bukunya!”

Haaa? Nggak salah nih? Bayu? Ngajakin aku nonton? Kok ga dateng ke Fary aja? Senyumku mulai mengembang. Bayu menatapku menunggu jawaban. Dalam hati aku sudah bersorak terlebih dulu. Yippe!!!

“Bawa rambutan ke bioskop boleh nggak Bay?” dengan senyum mengembang kusodorkan rambutan seplastik gede.

***

Aku sakit perut gara-gara overdsosis rambutan. Tenggorokanku juga sakit karena hujan turun lebat sekali sepulang kami dari Blitz Megaplex. Aku lupa nggak bawa payung. Hmmm, kupikir tak ada gunanya juga berpayung sambil boncengan di motornya Bayu. Mending hujan-hujanan aja sekalian. Lagipula, tanganku bisa bebas memeluk Bayu. Jika baju kami basah kuyup saat kami tiba di rumahku, itu resiko.

Aku mulai bersin-bersin setelah merasa hangat dan bersih. Hujan masih tercurah lebat ketika aku selesai mandi, dan Bayu menunggu hujan reda mengenakan kaos gombrang kering milikku. Kami bergabung dengan Ujang yang sedang menonton DVD film kartun di ruang tengah. Ujang adikku, nama aslinya adalah Panji. Entah kenapa tiba-tiba semua orang memanggilnya Ujang.

Sampai jam sembilan malam, hujan masih saja lebat. Acara menonton DVD digantikan dengan main PS. Ujang dan Bayu sangat asyik hingga melupakanku. Menyebalkan. Kutinggalkan saja mereka berdua lalu mengemil rambutan di kamarku sambil melanjutkan sisa episode serial Korea yang kutonton tadi pagi. Aku makan rambutan sampai perutku begah dan mulutku kesat.

Dan gara-gara rambutan itu, sekarang di sekolah, sejak jam pelajaran keempat tadi, aku harus berdiam di ruang UKS dengan dorongan ke kamar kecil setiap berapa menit sekali. Perutku sakit sekali jika berkonstruksi.

Berita bagusnya, aku berbunga-bunga. Sepanjang hari kemarin, tak ada satu kalimat pun menyangkut Fary. Hanya ada aku, dan Bayu.

“Hay La!” lamunanku terhenti. Di pintu, berdiri sosok Fary yang menjulang tinggi. Jilbab putih membingkai wajahnya yang ayu. “Kata Bayu kamu sakit yah?”

“Hehe, sakit yang norak Ry … menwa ..mencret wae … kebanyakan makan rambutan sih..! Eh tumben kamu ke sini?”

“Anak-anak lagi pada di kantin, aku puasa. Denger kamu sakit ya aku ke sini aja nemenin kamu. Kamu udah makan kan?”

“Udah ry… eh makasih ya kamu udah nengokin aku!”

“Bayu udah nengok kamu?” tanyanya tiba-tiba. Aku mendongak terkejut.

“Ah, ngapain Bayu nengokin aku?” aku balik bertanya.

“Kalian kan deket banget! Masa dia gak nengokin kamu!” aku tersenyum terpaksa ketika mendengar kata-kata Fary. Lalu hening. Hanya gaung AC yang terdengar. Aku bingung harus ngobrol apa sama Fary.

“Lila …!” panggil Fary ketika akhirnya salah satu dari kami buka suara. “Kamu beruntung..!”katanya lirih. Aku menatapnya bingung.”Bisa mendapatkan cinta Bayu!” Perutku tiba-tiba berkontraksi waktu Fary selesai mengucapkan kata-kata itu.

“Maksud kamu Ry?”

“Iya..dia sering cerita, kalau dia jatuh cinta sama kamu!” Sakit di perutku semakin menjengit meremas usus-ususku. “Kenapa kamu nolak cintanya Li? Padahal aku menanti dia mengucap kata-kata itu!” Suara Fary makin lirih, penuh sesal, menghujam, dan menghakimiku. Aku terpuruk dalam kebingungan. Maksud Fary apa?

“Lamaaaaa! Norak banget sih lo, kena diare! Hahahaha!” Bayu tiba-tiba menyeruak masuk. Ia langsung tertegun tatkala melihat Fary berwajah sendu menahan isak. “Eh, hey Ry! Udah lama?”

“Udah, Bay! Eh aku pergi dulu ya La, cepet sembuh!” Fary langsung pamitan waktu melihat Bayu.

“Makanya…jangan maruk! Rambutan tiga kilo diabisin sendiri!” celanya. Tak peduli pada Fary yang keluar dari ruangan ini membawa pedih. Pletak. Tangannya mampir di kepalaku. “Tenggorokan lo gimana? Masih sakit juga? Lo kuat balik lagi ke kelas ga? Klo ngga gw anterin lo balik yah!” Aneh. Bay, Fary, aneh banget.

“Bay …!”

“Apa sayaaaang …!” godanya. Masih dalam canda.

“Lo beneran sayang sama Fary?” tanyaku hati-hati. Bayu terkejut mendengar pertanyaanku. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, tiba-tiba … “Aduh!” perutku melilit-lilit lagi. Kali ini ada sesuatu yang ingin dikeluarkan dari tubuhku. “Bentar gue ke toilet dulu Bay!”

***

Aku sukses terkapar di ranjang selama 2 hari berikutnya. Diareku sudah sembuh, tapi penyakitku berganti dengan demam tinggi dan flu berat. Aku heran kenapa Bayu nggak ikutan sakit. Padahal kan dia sama-sama makan rambutan dan sama-sama ujan-ujanan juga. Pertanyaanku belum Bayu jawab gara-gara panggilan alam. Aku penasaran, sebenarnya perasaan Bayu sama Fary tuh kayak gimana sih? Kok Fary ngomong begitu ya? Bikin bingung aja.

Kenapa padaku Bayu bilang lagi jatuh cinta sama Fary, sedangkan pada Fary ia bercerita tengah kasmaran padaku, dan patah hati karena kutolak. Maunya apa?Dasar orang aneh.

“Lila….aya cep Bayu diluar. Gimana, mau disuruh masuk atau kamu yang ke luar?”

“Bentar mah … biar Lila aja yang keluar!” sahutku. Kamarku berantakan dan aku terlalu lemas dan sakit untuk membereskan kekacauan ini. Kuseret kakiku menuju ruang tengah dan menemukan laki-laki berhidung merah itu lagi mengupas rambutan. Hatchsyiw….

“Eh, hai Li…!” sapanya setelah bersin, lalu menarik ingus, membuangnya dengan tissue. Jorok.

“Pucet banget lu!” komentarnya setelah melihat wajahku. Rambutan yang tadi dikupasnya menghilang dibalik mulutnya.

“Basa basi gak penting tauuu! Ya iyalah pucet…gue kan lagi sakit, oon!!! Lo juga…kenapa idung lo merah gitu? Kayak Rudolf the red nose reindeer! Heuheuheue!” Aku duduk di sebelah Bayu dan merasakan badanku tambah merasa panas.

“Gak ada lu di kelas sekolahan sepi, Li!”

“Hahaha! Kenapa? Kangen ya sama gue?” tanyaku sambil meleletkan lidah. “Uhm, gimana yah, makhluk cantik kayak gue ini emang ngangenin sih!” kataku. Tangan Bayu meraih jemariku. Matanya menatapku dengan pandangan aneh. Eh, ada apaan nih?

“Kenapa lo Bay?” kutarik tanganku dari genggamannya.

“Nggak kenapa-napa…makhluk cantik kayak elu emang ngangenin!”

“Hee??” aku mulai menyeringai buas. “Trus Fary gimana??”

“Maksud lo Li?”

“Bukannya lo lagi pdkt sama Fary? Kenapa lo ngerayu-rayu gue? Beneran demam lo ya? Apa gue yang lagi disorientasi? Ga bisa bedain mana kenyataan mana hayalan?”

“Emang gue lagi pedekate sama Fary, Li!”

“Trus ngapain lo di sini? Datengin aja rumahnya!” sahutku ketus.

“Lu cemburu ya?”

“Ngapain gue cemburu?” tanyaku defensif padahal iya cemburu.

“Lu cemburu sama Fary!”tuduhnya. Aku melengos. Benar-benar tersinggung dan tidak terima pada kebenaran yang meluncur dari mulut Bayu. Menyebalkan, harus gitu dia membahas ini terang-terangan dan mempermalukanku seperti ini?

“Udah ah, gue mau tidur lagi!”

“Bentar Li! Jangan dulu balik ke kamar lo! Gue seneng kok elo cemburu! Soalnya itu berarti…berarti…” Bayu mulai tersipu-sipu nggak jelas. “Berarti lo sayang sama gue juga!”

“Sebaiknya lo pulang dan minum obat deh Bay! Lo kayaknya lagi ngigo deh! Sakit-sakit kok dateng kesini!” jawabku setelah susah payah menelan ludah dan mengatur pernapasan. Seluruh tubuhku gemetar, setengah lumpuh. Entah efek demam, kata-kata Bayu, atau keduanya.

“Gue serius, Li! Gue bukan mau maenin elu! Dulu gue emang pdkt sama Fary, tapi deket sama elo bikin gue berubah. Gue mau elu, Lila!”

Mendengar kata-kata Bayu barusan malah bikin aku hilang selera. Cepat sekali Bayu berubah pikiran. Rasanya baru kemarin dia curhat betapa ia mencintai Fary. Sekarang dengan mudahnya ia berpaling padaku. Kepalaku langsung migren.

“Bay …  sebaiknya lo pulang deh! Gue pusing!” kataku. Kutinggalkan ia di ruang tengah.

***

Saat aku keluar dari kamar untuk ke toilet, Bayu masih disana. Main PS sama Ujang. Kulit rambutan berserakan disekitarnya. Mereka tak mengindahkanku waktu aku lewat.

Uh … aku makin ilfiiiiiiiii!!!!!!!!!

Depok, 28 Desember 2006 | 21:39

(Kawanku, Maret 2007)

Advertisements

5 thoughts on “Kulit Rambutan

    • waaaa, makasih. selalu terharu baca pengakuan orang yang baca cerpenku di majalah 😀

      barusan baca lagi dan kok, tata bahasanya kacau, ga bisa membedakan di- sebagai kata depan dan di- sebagai imbuhan. Belum lagi… ah… :)) pokoknya cara penulisan yang udah pasti akan kucoret-coret :))

    • baca aja postingan blogku yang ada tag #menulis atau #writing, aku suka nulis tip menulis juga 🙂
      atau undang aku ke flores. pengin ke sana!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s