Kamu itu patung

Kamu itu patung.
Setiap hari aku mendatangimu, bercerita padamu, karena aku kesepian, karena aku tak punya telinga lain yang mau mendengar. Jadi aku jatuh padamu, pada patung yang setia.

Karena, jika kau kupu-kupu seperti aku, kau tidak akan membatu di situ hanya mendengar ceritaku. Karena kita akan terbang bersama, bertualang, membuat cerita.

Kamu itu patung, dan aku datang padamu sebab aku kesepian.

Advertisements

Perawan


“Aku mau pacaran sama kamu, tapi kamu masih perawan,” lelaki itu berkata demikian ketika mereka tengah berduaan di kamar kos si perempuan.

“Terus? Memangnya kenapa?”

“Ya, karena kamu perawan. Kamu belum diapa-apain. Kalau aku apa-apain kamu, nanti kamu ga perawan lagi, dong.”

“Ya, terus?”

“Terus nanti kalau kamu nikah, calon suami kamu ga kepingin sama kamu karena kamu udah ga perawan.”

“Ya kalau nikahnya sama kamu kan, kamu yang memerawani, sekarang.”

“Kamu kan tahu…”

“Oh iya.”

Perempuan itu terdiam. Memikirkan kata-kata yang akan dilontarkan selanjutnya.

“Ciuman juga ga bisa?” Perempuan itu bertanya.

“Aku mau aja sih nyium kamu. Tapi abis itu pasti aku jadi kepingin. Habisnya kamu seksi banget, sih.”

“Terus ngapain kamu di sini?”

“Ngeliatin kamu.”

“Terus?”

“Terus ya udah, aku ga mau memerawani kamu soalnya.”

“Kenapa?”

“Kan tadi aku udah bilang alasannya.”

“Cuma itu? Cetek bener. Nanti kan yang nanggung akibatnya aku. Dan aku udah siap.”

“Iya, tapi kan aku penyebabnya, yang bikin kamu ga perawan lagi.”

“Tapi aku bahagia kalau kamu yang bikin aku ga perawan lagi. Belajar dari ahlinya gitu lho.”

“Duh.”

“Jujur deh, kenapa? Aku ga bikin kamu kepingin, ya?”

“Bukan gitu.”

“Tapi?”

Si lelaki menarik napas berat.

“Kamu perawan soalnya.”

“Itu kan aku udah tau. Emang kenapa kalau aku perawan? Di tempat para geisha, keperawanan dijual mahal. Di sini aku kasih kamu gratis. Kamu ga mau? Kamu ga suka ya sama aku?”

“Aku suka… Kamu seksi banget. Beneran deh. Tapi, kamu perawan.”

“Kalau aku buka baju, kamu jadi mau, ga?” Perempuan itu meloloskan t-shirt dari kepalanya, meninggalkan payudara telanjang tanpa bra.

“Pake lagi, deh.”

“Sejak kapan sih kamu jadi sok suci gitu? Aku tahu kamu sexually active, tapi kenapa kamu ga mau sama aku?”

“Ya karena aku sayang kamu!” Suara lelaki itu meninggi. “Pake lagi bajunya!”

“Terus apa hubungannya sayang sama aku dan aku perawan? Kenapa kamu ga mau?” Suara perempuan ikut-ikutan meninggi.

“Kamu perawan, dan aku ga mau merusak kamu.”

Perempuan itu mendengus, dengan enggan kembali memakai t-shirtnya.

“Perawan itu ga enak, oke. Ribet harus ngajarin. Ga berpengalaman. Apalagi perempuan baik-baik kayak kamu.” Lelaki itu akhirnya berkata.

Perempuan itu mulai menangis, merasa dicampakkan. Untuk pertama kalinya, tiba-tiba dia menyesal jadi perempuan baik-baik. Jika satu-satunya cara untuk mendapatkan laki-laki ini adalah dengan bersenggama dengannya, dia akan melakukannya. Karena dia tahu, lelaki ini tak bisa selamanya. Petualang tak mungkin betah di satu tempat. Dia akan selalu berkelana mencari tempat baru, mengintip lubang baru yang lebih menarik.

“Jangan nangis, dong.”

“Abis kamunya gitu,” si perempuan berkata di sela-sela sedu sedannya.

“Ya kamu ngerti dong.”

“Kamu beneran sayang sama aku?”

“Iya.”

“Tapi kamu ga bisa nikahin aku?”

“Iya.”

“Kamu juga ga bisa ML sama aku sekarang.”

“Iya.”

“Berarti kamu ga sayang sama aku.”

“Emang indikator sayang itu nikahin dan ML?” Lelaki itu tertawa geli sambil mengacak-acak rambut si perempuan. “Aku beneran sayang kamu, kok.”

“Aku ga percaya.”

“Terserah kamu, kamu percaya atau enggak pun perasaanku tetap, sayang sama kamu.”

“Terus kita ngapain ini? Pacaran? Tapi ga ngapa-ngapain?”

Lelaki itu tertawa lagi. “Kamu polos banget sih.”

“Iya, abis belum kamu perawanin.”

Si laki-laki menggeleng-gelengkan kepalanya geli. “Ya sudah, aku pulang dulu, ya?”

Perempuan itu cemberut.

“Hey,” suara lelaki itu membujuk. “Perempuan baik-baik kayak kamu harusnya sama laki-laki baik-baik. Hidupku sudah terlalu kacau, nanti kamu kebawa kacau.” Tangannya mengangkat dagu si perempuan yang matanya berkilauan oleh air mata. “Sini,” dia mengecup keningnya. Matanya, hidungnya, bibirnya, lehernya … terus ke bawah.

Perempuan itu tersenyum.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Ini karya eksperimental. Hahaha, pengin tahu sejauh mana keberanian saya menulis tema ini. Ternyata baru segini aja keberaniannya! Terlebih sih, deg-degan sama komentar pembaca, trus nganggap saya macam-macam. Hahaha. Padahal seharusnya sesekali kita menulis bersenang-senang, ngaco, ringan, bebas, ga dibatesin kotak moral, dll. Tapi ternyata cerpen ini masih berkotak moral ya, belum berani nulis yang sangat vulgar. Hihihi. Silakan dikomentari 🙂

ps: saya nulis cerpen ini di kopaja 612 barusan, jadi juga 3 halaman word =)