Sumur Naga Rembulan

Di sebuah desa di negeri antah berantah, terdapat sebuah sumur. Sumur itu dalam sekali, dan airnya dangkal, jadi butuh tali timba yang sangat panjang untuk mengambil air dari sumur tersebut. Memang, sumur itu sudah sangat tua. Lebih tua dari umur lelaki paling tua di desa itu dikalikan tiga. Bayangkan betapa tuanya. Sudah lama tak ada lagi orang yang mengambil air dari sumur itu karena dalamnya. Tak banyak orang yang memiliki tali cukup kuat untuk menimba air dari sana, juga karena akan membutuhkan waktu yang sangat lama hingga mereka mendapatkan seember air. Sumur itu ditinggalkan.

Walaupun begitu, tak ada yang menutup sumur itu. Mungkin karena sumur itu setua orang paling tua di desa dikali tiga, atau karena mereka tak mau repot-repot menutup sebuah sumur tua. Tetapi, dari cerita yang dikisahkan turun menurun, di dalam sumur itu, ada seekor naga betina yang terpenjara. Konon, naga itu disekap di dasar sumur karena dahulu, dahuluuuu sekali, naga betina itu pernah memangsa rembulan.

Bolehkah kita menyebut desa itu Desa Gerhana Bulan? Biar mudah saja, karena biasanya orang-orang menyebut desa itu dengan berbagai nama. Desa Dekat Hutan. Desa Tepi Hutan. Desa Sumur. Desa Naga. Dahulu, desa itu bernama desa Hujan Rembulan, jauh sebelum naga itu ditemukan dan disekap dalam sumur.

Di desa itu, rembulan selalu bersinar sepanjang malam. Mereka tak pernah tahu kalau ada yang bernama bulan sabit, bulan separuh, bulan tua, bulan muda. Mereka hanya mengetahui bulan purnama. Memang, sesekali rembulan tak terlihat, tetapi mereka tahu, itu hanya karena awan menghalanginya, atau datang hujan. Pokoknya, bagi mereka, bulan adalah sesuatu yang bulat, dan itu wajib ada setiap malam. Karena mereka menenun emas di bawah sinar bulan, dan tanpanya, mereka tak bisa bekerja.

Dahulu, sumur yang terletak tepat di perbatasan desa dan hutan itu adalah sumber mata air yang subur. Mereka tinggal mencidukkan tangannya dan meminum airnya yang jernih dan agak manis. Jika malam tiba, ditimpa sinar bulan, warna airnya menjadi perak keemasan, dan dengan air itulah mereka menenun emas. Awalnya, air yang encer itu dimasukkan ke dalam ember kayu. Mereka menyimpannya dalam lumbung yang hangat. Setelah beberapa hari, air sumur itu mulai mengental seperti karamel. Mereka menggoyang-goyangkan ember, lalu mengaduknya, aduk-aduk hingga berubah menjadi lembaran benang-benang tebal. Setelah itu, mereka menyisirinya dengan sikat emas hingga berupa benang tipis, sama seperti bahan pakaian kita sekarang. Mereka akan menjemurnya di bawah matahari hingga kering, kemudian mulai menenunnya menjadi kain.

Penduduk desa itu tak pernah kekurangan sesuatu apa pun. Penghasilan mereka menjual kain dan benang emas sudah lebih dari cukup. Maka, ketika tiba-tiba naga betina yang serampangan itu datang, mereka sangat marah…

Naga betina itu baru saja bangun dari tidur panjangnya. Ia lapar, teramat lapar. Lima ratus tahun bukanlah waktu sekejap untuk tertidur. Makanan yang dulu disantapnya sebelum tidur sudah habis tercerna. Seantero planet yang kini hilang. Ilmu pengetahuan saat itu belum cukup canggih hingga planet hilang itu tercatat dalam sejarah. Sebut saja Alpha-21.

Lima ratus tahun lalu, Sima, naga betina itu mempersiapkan tidur panjangnya dengan menelan sebuah planet beserta segala isinya. Pohon, binatang, monster, penyihir, dinosaurus, ikan paus, semua, tak bersisa. Makanya, tidurnya nyenyak. Ketika ia membuka mata, tanah yang menyelimutinya lima ratus tahun lalu telah berubah menjadi gunung yang tinggi. Ia memicingkan sebelah mata dan merasakan kegelapan melingkupinya. Ia menguap, membuka sebelah matanya lagi. Ia terkubur.

Naga itu menggoyang-goyangkan tubuhnya. Bumi ikut bergoyang. Tanah berjatuhan ke matanya. Ia kembali menguap, kali ini tak sengaja menyemburkan api. Rongga tanah memantulkan kembali api itu ke sisik-sisiknya yang hitam mengilap. Sima mulai merasa kepanasan dan mengais-ngais ujung kerucut gundukan tanah dengan cakar depannya, menyundul-nyundulnya dengan tanduknya yang tajam. Awan bergemulung di atas puncak kerucutnya. Tanah, debu, dan api berputar-putar, bercampur dengan liur Sima yang panas, mengalir ke arah lerengnya.

Di puncak, mulai timbul rekahan. Sima berusaha meloloskan tubuhnya lewat lubang mungil itu. Dorongan dari tubuhnya membuat rekahannya semakin besar, seperti kawah. Ia terus mendorong, naik, terbang, melesat!

Sesungguhnya ia sangat lapar. Disambarnya elang yang cukup sial untuk terbang di atas kerucut gunung yang panas dan langsung lumat, masuk perutnya. Elang bakar! Tak ada yang lebih menyenangkan dari makan setelah tidur!

Kemudian, berturut-turut, ia memangsa sapi-sapi yang tersesat di padang rumput karena ditinggalkan penggembalanya yang lari ketakutan melihat naga yang tiba-tiba muncul dari pucuk gunung. Tetapi perutnya yang besar itu belum juga kenyang. Ketika malam tiba, ia sampai di Desa Hujan Rembulan dan menatap bulan menempel di langit biru tua, seperti dorayaki yang bersinar-sinar.

Lalu,

Tanpa pikir panjang, Sima mencaplok rembulan. Awalnya, ia menggigit pinggirannya, mengunyahnya seperti kue kering. Krauk-krauk-krauk. Ia makan sangat rakus hingga penduduk desa yang tertidur pulas semua terbangun, mulai memukul-mukul kentongan, mencoba mengusir naga dari rembulan mereka yang berharga. Tetapi terlambat, naga itu terlalu cepat, ia keburu menelan semuanya. Masuk ke perutnya, yang seketika membulat oleh bulan.

Seorang kesatria yang sedang menginap di desa itu untuk membuat pakaian baru, tanpa pikir panjang memanah perut sang naga yang menggembung, ujung anak panahnya diikatkan ke benang emas panjang yang terhubung pada tiang timba sumur desa. Sima oleng. Ia tak bisa mempertahankan diri karena baru bangun – kekuatannya belum pulih. Lagi pula, ia kekenyangan dan merasa berat karena bulan belum tercerna di ususnya. Sang kesatria menarik benang emas seperti bermain layang-layang. Sima berusaha untuk meloloskan diri, tetapi panah yang tertancap ke perutnya mulai melukainya. Darah ungu menetes-netes hingga desa itu dihujani darah ungu. Tanah yang ditetesi darahnya berubah menjadi tanaman lavender. Semilir wanginya mulai membuai.

Sima jatuh bergedebuk di atas sumur. Pingsan. Kesatria dan orang-orang desa berlari memburunya dan mulai menginjak perut Sima yang bulat. Meloncat-loncat agar rembulan keluar dari mulutnya. Rembulan mereka yang cacat perlahan muncul kembali di udara, ujungnya sempak karena digigit. Sejak saat itu, rembulan mereka tak pernah bulat lagi.

Dengan terampil, semua orang mengikat Sima dan menceburkannya ke dalam sumur. Air langsung memancar ke udara, sejauh sepuluh kilometer ke udara, lalu menghujani desa itu, melapisinya dengan warna emas selama beberapa saat, kemudian merembes dalam tanah.

Sejak saat itu, rembulan dan sumur mereka tak bisa lagi menjadi emas, dan mereka terpaksa mencari mata pencaharian lain. Sementara Sima, tersekap oleh kekuatan magis sumur tersebut, menciut, dan tak bisa meloloskan diri.

Penduduk desa ini sudah melupakan masa kejayaan mereka sebagai penenun emas. Kini mereka hanya puas dengan menanam padi yang selalu menguning dan rembulan cacat yang pinggirannya semplak seperti terkena bekas gigitan. Mereka bahkan sudah melupakan kisah bahwa sesungguhnya di dalam sumur tua mereka, terdapat seekor naga betina yang menderita. Menderita dan lapar.

Alkisah, di tempat lain, hidup seekor serigala. Ia adalah serigala pemimpin, dari ras yang paling baik. Serigala paling tampan yang pernah ada. Ia memimpin kawanan serigala paling baik di hutan paling liar. Ia serigala yang paling buas. Ia adalah serigala jantan yang paling diimpikan oleh serigala betina mana pun. Ia menghasilkan anak-anak serigala yang sama kuatnya. Kebersamaan dengannya adalah prestise bagi serigala-serigala betina. Tetapi, tak satu pun serigala betina memuaskan hatinya, maka ia pergi berkelana.

Ia mencari, tetapi tak menemukan jawabannya. Hingga seekor burung hantu yang gila menceritakan sebuah kisah gila tentang naga betina yang disekap di bawah sumur. Tentu saja ia tak percaya, naga itu tidak ada. Tak pernah ada yang melihat naga. Jika ada kisahnya, pasti itu hanyalah rekaan. Tetapi jika benar ada seekor naga terkurung di bawah sumur, bukankah akan seperti cerita pangeran yang menyelamatkan Rapunzel dari menara yang mengurungnya?

Serigala jantan alpha itu menyeringai. Tersenyum sendiri, memikirkan kemungkinan kalau ia adalah satu-satunya makhluk yang mampu menyelamatkan naga, dan membuka kembali eksistensi naga. Akhirnya ia mempersempit tujuannya. Ia akan mencari sumur naga bulan.

Sima sudah sejak lama bangun, tetapi ia tak berdaya. Ia tak bisa melakukan apa pun. Kandungan emas dalam air sumur ini melemahkannya. Ia harus kembali mencaplok bulan, hanya itu obatnya, agar ia bisa kembali terbang berkeliaran di langit. Seandainya penduduk desa itu tahu, kalau dia tidak akan menghilangkan rembulan dari langit mereka, bahkan akan membarukannya kembali. Selesai meluncur di ususnya, rembulan yang dicaploknya akan kembali tergantung di langit malam, dalam keadaan lebih terang dan cemerlang. Penduduk desa akan menjadi penenun emas yang lebih kaya. Tetapi mereka tak tahu itu, mereka menganggapnya musuh. Ia lapar, ia menginginkan rembulan itu. Dan ia, hanya dapat menatapnya dari dasar sumur, rembulan yang semplak bekas gigitannya itu.

Malam itu ada yang lain. Hening menyelimuti desa. Bahkan katak yang biasa berbunyi pun membisu. Kucing, anjing, sapi, domba, binatang-binatang lain khidmat di tempat masing-masing, menyambut kedatangan sang raja: serigala alpha.

Ia melolong. Auuuuu. Rembulan membalasnya dengan memberi sedikit terang pada cahayanya yang pucat. Rembulan itu sekarat. Ia butuh berada di dalam usus sang naga. Sima berusaha mengepakkan sayap lemahnya berkali-kali, akan tetapi ia kembali terjatuh bergedebum kecipak di atas air. Warna sisiknya yang dahulu hitam mengilap kini berubah menjadi ungu muda yang pucat. Ia sama sekali tidak sehat.

Di tepi sumur, serigala alpha melolong pada rembulan. Naga menatapnya dari dasar sumur, sebagai pemandangan paling seksi yang pernah dilihatnya.  Bulunya tebal menyelimuti tubuhnya yang tegap, berkibar-kibar ditiup angin malam yang lembut. Sima mengerahkan sisa-sisa kekuatannya dan menyemburkan api dari moncongnya. Api terakhir, yang bisa menyelamatkannya, atau bahkan memusnahkannya.

Hangat langsung menjalar di tubuh serigala ketika ujung api Sima sampai di cakar-cakarnya. Tak sempat mengenainya, karena api itu terlalu lemah, tidak seperti kekuatan Sima yang biasanya. Matanya yang tajam langsung mencari tahu asal rasa hangat itu, dan di dasar sumur, ia menatap sepasang mata yang meredup melemah.

Apakah ini naga itu, pikir serigala. Ia tidak mengharapkan naga lemah yang sekarat, ia mengharapkan naga sesungguhnya yang terbang di langit, menguasai awan-awan dan bebintang. Tetapi yang berada di dasar sumur itu, begitu kecil, begitu ringkih, begitu ingin diselamatkan, begitu ingin … ia menelan ludah … seperti ingin, disantap!

Serigala merasakan nafsu berkumpul. Ia meloncat, dan menerkam!

Sima merasakan serigala itu melompat menujunya. Sapuan angin yang bergesekan dengan bulu-bulu tebalnya bahkan sampai ke dasar sungai. Ia sudah pasrah. Ia tak punya kekuatan lagi. Ia siap menjemput ajal.

Serigala mengigit bagian bawah lehernya, hanya bagian yang tak bersisik dalam tubuhnya. Lagi-lagi darah ungu menyembur,  begitu banyaknya hingga menetralkan kandungan emas dalam perigi. Serigala menarik naga memanjat dengan menggigit lehernya. Mereka berdua memanjat susah payah. Mereka terus naik, terpeleset, naik, terpeleset, hingga mencapai tepi sumur. Rembulan di atas masih sama seperti beratus tahun lalu ketika Sima dijatuhkan ke dalam sumur.

Sang naga semakin melemah. Serigala bersiap untuk menyantapnya. Namun, ada sesuatu dalam matanya yang membuatnya mengurungkan niat. Ia kembali melompat ke udara, meraih rembulan yang cacat, dan memberikannya pada Sima.

Kegelapan kembali ditaburkan di atas desa itu ketika lagi-lagi naga mencaplok rembulan. Serigala duduk menungguinya. Menatap naga pucat di hadapannya. Menatap bulatan  bulan dalam perutnya. Sisiknya yang ungu muda berangsur-angsur berubah hitam, pekat, mengilap. Serigala terus mengamatinya, hingga dari ekornya keluar bulan kecil sebesar bola, yang membubung naik, naik, naik, semakin membesar, hingga bertengger di pucuk tertinggi sebuah pohon.

Sima bangkit. Ketika berdiri, tubuh mungilnya tak lagi terlihat. Ia menjulang sebesar rumah, menjilat ubun-ubun serigala dan mengecupnya.

“Terima kasih,” ujarnya.

Kemudian, naga betina berwarna hitam itu menelannya.

Cilandak, 11/9/2010 12:11:10 AM

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. as_3d says:

    Bagosssss…
    Satu hal. Dongeng ini ga cocok buat anak kecil. :p

    1. Jia Effendie says:

      emang bukan buat anak kecil :))

  2. nona perak says:

    Seandainya mau bikin buku lg, yg ini bisa dimasukin. Tp bagian yg “you know which one” edit dooooong. 😀

    Kalo jd dongeng buat anak2 gpp si, toh bbrp dongeng trkenal itu aslinya ga seindah yg kita baca :p

  3. dansapar says:

    aku suka lho jia
    bagguuuusss

  4. tuannico says:

    kisah yang ajaib.
    hebat, kepikiran aja nulis yang kayak gini. wow.

    1. Marco Tefa Fallo says:

      Love story,…………..!!!

  5. aFifa says:

    Hahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s