Hijau

Banyak cerita yang diawali di kedai kopi. Cerita yang ini pun begitu. Kisah ini dimulai dengan seorang gadis yang tengah duduk di salah satu sofa kedai kopi ternama, menyesap Greentea Frapuccino. Pilihan yang sangat tidak kopi. Minuman berwarna hijau, disesap oleh seorang gadis mungil berpakaian serba hijau. Di atas meja, di sebelah minuman yang embunnya menetes-netes di pinggiran gelas, terbuka sebuah buku. Tangan kirinya yang lentik memberati lembaran kiri buku tersebut agar tetap pada halaman yang tengah dibacanya. Jika kau melihat lebih dekat, kau akan melihat tak hanya deretan teks, tetapi juga sebuah ilustrasi peri kecil yang diwarnai dengan cat air dalam gradasi hijau. Kau tentu berpikir gadis itu sangat menyukai warna hijau? Pakaian hijau, minuman hijau, dan membaca buku berilustrasi hijau. Tidak, ini hanya kebetulan saja. Terkadang kebetulan terjadi secara bersamaan.

Bukankah ini hanya alam yang berkonspirasi? Konspirasi. Betapa berat kata-kata itu. Padahal, ini hanyalah sebuah cerita romantis yang tidak melibatkan konspirasi politik. Hanya cinta.

Baiklah, sudah mulai penasaran? Atau malah bosan? Kau dipersilakan untuk mundur kapan pun, tuan dan nona. Aku tak ingin membuang-buang waktumu yang berharga itu untuk membaca kisah seorang gadis hijau yang sedang menyesap minuman teh hijau. Ini bukan Greeentea Frapuccino,
pikirnya. Ini Leprechaun Milkshake. Dia terkikik ketika memikirkan itu. Telepon genggamnya berbunyi. Dia mengangkatnya segera, memulai sapaan standar itu.

“Halo?”

“Ya, udah nunggu. Cepetan, leprechaun milkshakenya udah hampir abis nih. Aku diliatin orang-orang dari tadi.”

“Haha, maksudnya greentea frappuccino.”

“Oke, kutunggu. Love you.”

Apakah kau menguping cukup dekat? Aku baru saja menyamar jadi sedotannya agar bisa memperhatikan gadis ini lebih saksama. Oh tidak, bibirnya mulai menuju ke arahku, mengatupkannya di ujungku dan mulai menyedot minuman hijaunya dari tabungku.

Lelaki yang dipanggilnya sayang itu akhirnya datang juga. Minuman hijau pucat itu telah tandas. Mereka saling mencium pipi, lalu memanggil pelayan. Espresso, ujar si lelaki. Aku mau biskuit cokelat, kata si gadis hijau. Mereka mulai bertatap-tatapan hingga aku jengah harus mengintip pemandangan seperti itu. Keduanya mengobrol, berbagi cerita yang tercecer setelah tujuh hari absen bertemu, berbagi kisah yang tak sempat mereka utarakan melalui telepon ataupun fasilitas BlackBerry Messenger.

Telepon si lelaki bergetar. Dia sejenak ragu.

“Siapa, yang?” Gadis hijau bertanya.

“Bukan siapa-siapa,” jawabnya. Dengan gusar dijejalkannya kembali BlackBerry itu ke dalam kantong celananya. Namun telepon itu kembali menyalak-nyalak galak. Berteriak-teriak meminta perhatian. Lelaki itu semakin gusar. Dia mohon diri. Bolehkah aku ikut keluar dan menguping pembicaraannya? Ah, sungguh kurang kerjaan aku ini. Tidak boleh? Baiklah, aku akan duduk di dalam,
menemani gadis hijau dan menyamar menjadi serbet.

Lelaki itu tak lama berada di luar, ia segera kembali dengan wajah kusut.

“Aku harus pergi, sayang.”

“Kamu kan baru datang!”

“Ada teman kecelakaan.”

“Astaga. Siapa? Gimana keadaannya? Parahkah? Aku ikut, ya!”

“Ga usah.”

“Aku bawa mobil. Biar cepet sampai.”

“Ga apa-apa. Aku sendiri aja.”

“Aku maksa. Udah, kamu yang nyetir.”

Dengan enggan lelaki itu menerima kunci mobil dari si gadis hijau, sementara pacarnya sigap memanggil pelayan dan membayar tagihan.

“Siapa sih yang kecelakaan?” tanya si gadis hijau ketika mereka berdua mulai melaju.

“Temen.” Lelaki itu menjawab gelisah.

“Iya tahu temen kamu, tadi kan kamu udah bilang. Tapi siapa?”

Lelaki itu meminggirkan mobil di tempat sepi, mendesah berat.

“Anggra, sebenarnya tak ada yang kecelakaan.”

“Lalu?”

Lelaki itu kembali menarik napas susah payah dan dengan berat mengembuskannya kembali. Kepalannya memukul-mukul keningnya sendiri.

“Aku…”

Jeda itu agak terlalu lama. Anggra menanti tak sabar, tetapi dia tidak mengatakan apa pun.

“Aku, selingkuh. Yang tadi meneleponku Freya. Dia hamil.”

Anggra membayangkan kaca depan mobilnya dihantam oleh tinju raksasa dan membuat wajah manisnya yang tirus penyok terkena tonjokan itu dan pecahan-pecahan kaca kecil. Namun ia bergeming. Wajahnya tidak berubah.

“Maksud kamu? Freya?”

“Freya. Aku… kami… melakukannya, dan Freya… hamil.”

“Bagaimana bisa kau melakukannya dengan Freya dan tidak denganku?” Itu adalah kalimat tinggi pertama yang diucapkan Anggra. Padahal bukan itu maksudnya, bukan karena dia cemburu karena pacarnya melakukan seks dengan selingkuhannya dan tidak dengannya. Lebih karena dia tak percaya kekasihnya selingkuh, dan melakukannya pula.

Kali ini Anggra membayangkan tangan tak kasat mata menjawil kerah kemeja Fahmi dan melemparkannya keluar dari mobilnya, lalu dia jatuh di tengah jalan dalam keadaan berserakan.

“Bukannya kamu udah janji? Kita udah janji. Kita mau menikah akhir tahun ini. Kamu lupa?” Anggra dengan napas memburu. Marah.

“Aku, minta maaf.”

“Telan lagi maafmu! Kuharap kata itu menggerogoti dari dalam, gentayangan menghantuimu sampai kamu tak bisa hidup tenang. Keluar! Keluar dari mobilku!”

Laki-laki yang dicintai si gadis hijau keluar seperti penjudi yang kalah taruhan. Dengan kepala tertekuk dan tangan melunglai. Anggra mengambil alih kursi pengemudi dan mulai menangis.

***

“Kurasa dia tak sanggup berhadapan dengan semua permasalahan yang terjadi di keluargaku,” cetusku. Pohon di hadapanku tak menjawab, setia dengan daunnya yang melambai-lambai ditiup angin semilir. “Mungkin itulah sebabnya dia selingkuh,” pungkasku.

“Kenapa ada yang begitu bodoh berselingkuh darimu?” sebuah suara bertanya.  Aku menoleh ke kiri kanan, mencari sumber suara, tetapi aku tak menemukan siapa pun. Suara itu seperti suara anak kecil, tetapi entah kenapa ada muatan purba dalam gelombangnya. Seolah-olah ia berasal dari masa lalu, atau seolah-olah ia adalah sesuatu yang sangat tua.

“Siapa itu?”

“Aku.”

“Aku siapa?”

“Di depanmu.”

Sebuah, seekor, entahlah… seorang manusia sebesar ibu jari dan bersayap berdiri di atas benang sari dan putik sebuah bunga yang mekar. Warnanya hijau.

“Kau itu apa?”

“Peri.”

“Ha?”

“Biasanya aku tak pernah ikut campur dalam masalah seperti ini, bukan pekerjaanku, kau tahu. Soal-soal cinta itu tugas Cupid dan ibunya. Tapi aku terganggu melihatmu.”

“Terganggu?” mau tak mau aku kesal. Kenapa ada makhluk sekecil ini yang terganggu melihatku? Memangnya aku melakukan apa? Aku tidak sedang merusak apa pun di hutan ini, bukan?

“Kau tampak sedih sekali, aku tak suka menatap wajah sedih.”

“Ya sudah jangan lihat,” sergahku kekanak-kanakkan.

“Aku sedang menebar benang sari untuk putik-putik bunga, dan tak sengaja melihat ada manusia sedang bicara dengan pohon. Kautahu, pohon yang ini tidak bicara. Kalau kaumau, aku bisa mengantarmu ke pohon yang bisa menjawab pertanyaan-pertanyaanmu.”

“Tidak usah.”

“Lalu kamu kenapa?”

***

Dahulu, dua belas tahun lalu, rumah mereka adalah rumah paling ideal yang pernah ditinggali keluarga mana pun. Keluarga paling bahagia yang pernah ada. Setidaknya, bahagia itu menurut pendapat mereka, terutama putri satu-satunya, Anggraeni, yang mudah dibuat senang dengan permen kapas warna-warni di karnaval.

Kemudian, Ibu membakar rumah mereka.

Anggraeni tidak tahu apa yang terjadi, yang dia tahu hanyalah bahwa rumah mereka terbakar, dan ayahnya meninggal. Dan tentu saja, dia juga tidak tahu kalau ibunyalah yang membakar rumah, karena dialah yang dipeluk ibunya saat wanita berusia akhir dua puluhan itu menangis tersedu-sedu sambil berteriak menyayat-nyayat hati memanggil-manggil nama suaminya. Semua orang bersimpati pada keluarga ini. Pada istri yang ditinggalkan suaminya, dan seorang anak perempuan yang ditinggal ayahnya.  Kehidupan bahagia mereka langsung berubah. Ibu tak lagi jadi wanita baik hari yang menyiapkan sarapan bergizi setiap pagi, dengan segelas susu hangat agar putrinya tumbuh tinggi dan cerdas. Bukan lagi wanita yang mencium tangan suaminya tatkala sang suami dan sang putri semata wayang pergi bekerja dan sekolah. Bukan lagi wanita yang menyambutnya hangat, bertanya bagaimana tadi di sekolah, adakah yang mengganggunya, setelah itu ibu akan berbagi tips cerdas menghadapianak-anak jahat.

Perubahan bermula ketika ayah pulang malam dan ibu mulai ikut arisan berlian bersama ibu-ibu kompleks. Percekcokan semakin tak terelakkan. Ibu protes karena ayah tidak bisa memberikan nafkah yang cukup untuk keluarga – padahal dia selalu pulang malam. Ayah marah karena Ibu  tak bisa mengelola keuangan dengan baik, padahal keadaan ekonomi mereka belum sebaik itu. Ayah menyesalkan keiikutsertaan ibu dalam arisan berlian. Kedua sejoli itu bertengkar. Hingga ibu menemukan beberapa lembar rambut cokelat di celana dalam ayah. Rambutnya hitam legam, takpernah diwarnai cokelat. Lagi pula, rambut ibu tidak sepanjang itu. Jadi Ibu memilih untuk membakar rumah, dan ayah.

Kemudian mereka pindah ke rumah kontrakan. Di rumah lebih kecil dengan dua kamar yang disekat tripleks itu, Anggra sering mendengar lenguhan-lenguhan berbeda setiap malamnya. Dia yakin ibunya mulai gila. Karena tak seorang pun masuk rumah. Tak ada satu lelaki pun masuk rumah. Tetapi suara lenguhan itu adalah campuran suara ibu dan suara laki-laki.

Anggra tidak mengerti.

***

Fahmi, pacarku – mantan pacarku, tahu siapa laki-laki yang sering berkunjung ke kamar Ibu. Dia melihatnya menyelinap dari celah pintu, atau muncul dari langit-langit ruang tamu, menjalar lewat lubang kunci. Terkadang ia berupa udara hijau, namun seringkali ia menjelma buto ijo, begitu kata Fahmi.

Ketika dia menceritakan itu padaku, aku tak percaya. Mungkin karena aku tak melihatnya. Aku tak bisa bertanya pada Ibu karena dia tak lagi menyenangkan seperti ketika aku masih kecil. Kata Fahmi, makhluk itu mengikuti ketika kami pindah ke rumah baru yang kubeli dari hasil jerih payahku. Ia menetap di kamar Ibu.

Mungkin itu yang membuatnya selingkuh. Mungkin itu yang membuat Fahmi pergi dariku. Dia hanya tak enak jika harus bicara langsung padaku.

“Tapi itu kan bukan salahmu,” sergah peri kecil di hadapanku. Aku tidak menyadari keberadaannya ketika aku bercerita. Rasanya aku tersedot ke masa lalu. Rasanya perasaan tenggelam dan terbakar ketika Ibu memelukku sambil menangisi Ayah masih menghunjam jantungku, membuatku tak bisa bernapas.

Aku mengangkat bahu menanggapi kata-kata si peri. Lalu ia kembali bertanya, “Apa yang kaulakukan di sini? Di negeri ambang ini? Kau seharusnya tidak di sini. Ini bukan duniamu, kau tahu, kan?”

Kesadaran menghantamku. Aku melihat sekelilingku. Memang, ini bukan tempat yang biasa kukunjungi. Tempat hijau yang asing. Seharusnya aku menyadarinya dari tadi. Aku bukan seseorang yang bolak-balik mengunjungi hutan dengan mudah. Tak ada hutan di Jakarta. Aku bahkan bukan penggemar hutan. Aku jeri pada hutan. Hutan tempat hantu-hantu dan hewan buas, juga serangga-serangga pemakan darah. Aku ini manusia urban.

“Mau kubantu kembali?” tanyanya.

Aku mengangguk.

“Pejamkan matamu.”

Aku menurut, dan desing mesin langsung terindra telingaku. Aku membuka mata dan kembali berada di dalam mobilku. Dari kaca spion, aku melihat sebentuk kendaraan besar melaju dengan kecepatan tinggi, siap menghantamku.

Aku membanting setir.

Cilandak, 18 November 2010 | 20.32

Advertisements

One thought on “Hijau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s