Puisi

kenang

Kini udara dingin membawa partikel-partikel kenangan menyeruak hadir.
menyembur deras seperti mata air.

ada satu masa saat ia memanggilku pigmalion.

“Kita berdua berbaring di ranjang
saling bertukar cerita masa lalu.

dengan berbinar kupuisikan lelakiku.

tak kulihat redup matamu berkata
-kenapa tak kaucintai saja aku?-
dan aku masih mengalirkan segmen
demi segmen ingatanku.
Kanker tumbuh di hatimu.

-Jie, kamu seperti pematung pigmalion
yang memahat batu menjadi jelita.
aphrodite merasakan deritanya dan
menjelmalah ia. Sayang sekali tak
ada lagi aphrodite yang bersedia
mengejawantahkan ide di kepalamu itu
menjadi lelakimu.
Tapi akulah lelakimu, Jie! Aku kekasihmu!-

Sore itu di ranjang itu kau memelukku erat.
Tubuh hati dan jiwaku mati rasa.
Mengembara pada satu titik waktu di ’99.”

Jakarta, 27 Januari 2007

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s