Pada Malam Natal Dia Menelepon

Malam itu sama seperti malam-malam liburan yang lain. Dua deadline yang menghantui di depan dan belakangku. Sendiri, hanya ditemani sunyi dan tiktok jam dinding serta bunyi jari-jariku menghantam keyboard. Kemudian tatkala otakku sedang buntu, kubiarkan laptop menyala, kunyalakan radio tape, memilih kaset paling tua. Kaset, bukan CD, kumpulan lagu dan puisi milik ayahku. Diam-diam menangis. Dengan sengsara, kukenang malam-malam itu, ketika ia mengecup jemariku satu demi satu. Mengucap janji-janji dan rencana-rencana, senyum lebar terpatri di bibir kami. Dipatri, karena senyum itu paten, seolah tak pernah menghilang dari wajah kami.

“Jika aku punya rezeki lebih, aku akan membeli teleskop buat rumah kita. Kita akan memasangnya di balkon, biar kita bisa menatap bintang setiap malam.” Bibirnya bergerak dari jari-jari ke hidungku. Aku ingin menangkap bibirnya, tetapi dia terus bermain-main, menciumi pipiku, malah ke mataku.

“Terus kita bikin anak di balkon? Ga mau, tar diliatin tetangga.” Aku cekikikan. Dia langsung membungkamku, kami berpagutan seru. Lidah kami menyambar-nyambar seperti ular meliuk-liuk.

Sekarang aku malah sudah lupa bagimana rasanya ciuman. Musik menyayat hati itu terus terngiang dan aku tak punya rencana untuk mematikannya. Kukenang wajahnya yang tirus itu. Kacamatanya yang seringkali lupa dibuka saat kami berciuman, hingga dahiku terantuk kacamatanya dan sambil tertawa-tawa dia melepaskannya.

“Seekor naga muncul di kepalaku,” ujarnya.

“Apa?”

“Naga.”

“Hah? Kamu lucu sekali. Kenapa naga?”

“Menciummu pertama kali, tiba-tiba berkumandang musik penuh semangat itu.”

“Apa hubungannya naga dengan musik?”

“Naga itu bermain piano!”

Aku tertawa. Dia yang paling membuatku bahagia. Pria mana lagi yang bisa memunculkan naga di kepalanya? Khayalannya terlalu tinggi. Mungkin itu pula yang membuatnya pergi. Khayalannya terlalu tinggi.

Dia pergi. Ya, ahli astronomi kesayanganku itu telah pergi. Meninggalkan lubang di hati. Lubang yang bagaimana pun caraku menambalnya, selalu kembali berlubang. Bulatan besar di tengah-tengah hati, tak bisa diisi. Bocor.

Mungkin memang hati yang berlubang tidak seharusnya ditambal, seharusnya diisi. Diisi cinta yang padat, yang lama-lama jalin menjalin menjahit pinggiran-pinggiran luka itu dan menutupnya.

“Janji kita, janji bumi dan bulan.” Suara dari tape mengiris telingaku, mencacah-cacah lagi hatiku.

Kami sering memandang bulan yang sama. Setiap purnama kami bertelepon sambil menatap bulan.

“Barusan abis beli makan dan liat bulan, langsung inget kamu, caang bulan opat belas.”

“Emang udah purnama, ya?”

“Lihat aja keluar. Sekarang rasi bintang Gemini lagi tampak di langit Jakarta.”

Lalu ia akan menjelaskan. Aku tak pernah mengingatnya, bukan karena tak ingin, tetapi aku pelupa. Otakku tidak disiapkan untuk mengingat nama-nama bintang yang kerlipnya jutaan di atas langit. Otakku hanya disiapkan untuk mengagumi indahnya. Kemudian pembicaraan itu akan diakhiri dengan “I love you full”, sambil terkikik-kikik, sambil mengenang video klip almarhum Mbah Surip.

Urusan mengenang ini bisa berlangsung berjam-jam jika aku tak menghentikannya sekarang, aku tahu. Dan diam-diam aku mulai menangis. Mungkin menangis itu benar, karena aku sudah lama tidak menangis, sementara aku begitu sesak, dan mungkin menangis bisa membersihkan debu-debu hati. Tapi kenapa harus mengingat itu?

Ketika akhirnya teleponku berbunyi, aku menyeka air mata.

Menatap layar, telepon dari nomor tak dikenal. Aku mengangkatnya.

“Hei,” suara yang akrab. Tetapi bukan dia, tentu saja bukan dia.

“Lagi apa?”

“Kerja.”

“Ga natalan?”

“Ga ada yang ngajakin.”

Renyah tawanya menghangatkan hatiku. Kami sama-sama tahu, kami berdua tidak merayakan natal.

“Malam natal kerja?”

“Singa mati.”

“Hah?”

“Dead Lion, dead line, singa mati. Hahaha.”

Aku sempat memanfaatkannya untuk menambal hatiku yang bocor. Tetapi hati tidak seperti ban yang jelas cara menambalnya, dan aku tak bisa sekenanya menyuruh dia menambal-nambal apaku yang bolong.

“Tahun baru di mana?”

“Entahlah, belum ada rencana.”

“Ohh. Aku mau ke sana.”

“Oh ya?”

“Iya.”

“Oh.”

“Ya sudah, sampai nanti. Dah.”

“Dah.”

Lelaki itu menutup telepon. Sepi semakin menyesak meremas jantung.

Depok, 24 Desember 2010

Advertisements

Bulan yang Terbakar

Malam itu kami berdua duduk di teras. Angin menampar-nampar tubuh kami, tetapi kami bertahan.  Sudah lama tak pernah ada malam sesantai ini, tatkala sehabis senja tak dicuri kertas-kertas, iluminasi dari layar laptop dan dering telepon genggam, atau bunyi-bunyian lain. Malam itu senyap, bulan sedang purnama, nyalanya kuning keperakan seperti kancing pemanis di atas bentangan kain berwarna biru gelap. Dan kami berdua duduk di teras depan rumah kami, mata tertuju ke langit, tangan kanannya mengait di tangan kiriku.

“Bulan agak terlalu terang,” ujarmu, menunjuk bulan dengan dagu.

“Biasa saja,” aku menyanggah. Mataku terpancang pada langit yang bersih. Kepalaku bersandar di bahunya. Dia melepaskan kaitan tanganku dan memindahkannya ke bahuku. Aku merapatkan diri. Udara semakin dingin.

“Apa kita mau masuk aja?”

“Tehnya belum habis.”

Dia meneguk tehnya yang tinggal separuh. “Ayo, nanti kamu masuk angin. Kita udah kelamaan di luar, kometnya ga lewat-lewat.”

“Bintang jatuh,” protesku.

“Nggak ada yang namanya bintang jatuh.”

“Ada.”

“Nggak. Itu komet, bukan bintang.”

“Kamu nyenengin hati aku sedikit aja kok ga mau. Bilang aja itu bintang jatuh apa susahnya, sih? Biar aku bisa memanjatkan harapan.”

Aku tahu dia memutar mata saat menggiringku masuk, tetapi mencium puncak kepalaku dari belakang sambil memelukku. Kami agak kesulitan berjalan jadinya.  Kemudian sesuatu yang terang terpantul di jendela depan rumah. Sontak kami berbalik.

Di langit, bulan yang bulat sempurna dan terang itu, tengah berkobar. Apinya berkeretak terdengar hingga ke bumi. Ia seperti akan melesat jatuh tergelincir dari porosnya. Warnanya jingga kemerahan, memancarkan percikan-percikan bunga api, menyambar-nyambar segala sesuatu yang ada di dekatnya, satelit, atau apalah benda-benda langit di angkasa luas sana.

Orang-orang keluar dari rumah mereka mendengar suara keretak-keretak dan terkesiap ketika melihat bulan yang terbakar. Mereka langsung memanjatkan doa. Dzikir berkumandang di setiap surau. Kiamat, ujar mereka. Dia memelukku erat.

“Kita masuk aja, ya.”

“Kalau rumah kita terbakar gimana?”

“Rumah kita enggak akan terbakar.”

“Tapi dunia akan kiamat!”

“Aku akan menjagamu.”

***

Gadisku akhirnya terlelap juga. Aku harus memeluknya sepanjang waktu agar dia mau dibujuk untuk memejamkan mata. Tadi dia mengajakku duduk di luar. Memandangi bintang-bintang, ujarnya. Dia ingin menggambar rasi-rasi bimasakti. Lalu menatap rembulan. Dan menanti bintang jatuh. Dia ingin memanjatkan harapan, agar putrinya yang tiba-tiba menghilang dari perutnya, kembali.

 

Lima Finalis!

Seperti janji saya, saya milih 5 cerita favorit saya untuk kalian pilih. Cerita yang mendapatkan vote terbanyak akan mendapatkan Nyonya Perca, Ya Lyublyu Tebya, dan Dead Until Dark. Untuk peserta lain, makasih ya udah ikutan. *cium satu-satu*

Melmarian

”Scraps!”

Aku menoleh. Dorothy berlari ke arahku, dan memakaikan sebentuk tiara dari bunga daisy putih di puncak kepalaku.

”Kau cantik! Sekarang pergi, mempelai priamu menunggu!” serunya.

Aku hanya sekilas melihat pantulanku di cermin, namun aku tahu Dorothy tidak berbohong. Dia sudah bekerja keras membuatkanku gaun yang terbuat dari kain-kain perca yang semuanya berwarna putih untuk hari istimewaku. Tidak buruk untuk Nona Perca, batinku.

Akhirnya aku berjalan di altar, tersenyum lebar memamerkan gigi-gigi mutiaraku. Scarecrow menunggu di ujungnya juga tersenyum, senyum paling indah yang bisa diberikan Boneka Jerami.

Aku menghela nafas saat menyambut uluran tangannya.

Akhirnya aku jadi Nyonya Perca.

Victor

Asap hitam membumbung di kejauhan.

‘Itu dari arah rumahku!’ Teriakku dalam hati. Aku berlari.

Ketika sampai di mulut gang kampungku, semua orang sudah berkerumun menunggu aku. Mereka berebut tanya: ‘bagaimana bisa seekor naga keluar dari rumahku?’

“Naga itu dimana sekarang?” Tanyaku pada mereka.

Mereka diam. Saling bertatapan heran.

Aku berlari ke arah rumahku. “Naga itu sudah pergi.” Teriak seseorang.

Tidak ada yang berusaha menghentikanku.

Rumahku tinggal puing. Hanya sebuah buku dongeng dari ayah yang masih utuh, tanpa sedikit pun tergores lidah api.

‘Astaga, aku lupa menutup buku ini tadi pagi.’ Sesalku dalam hati.

Tuannico

“Kamu sudah siap?”

“Yakin bahwa kita harus melakukan ini?”

“…”

“Baiklah. Kita lakukan dengan sederhana.”

Kita bersama-sama menyematkannya ke jari manisku. Cincin dari kain.

“Sekarang aku resmi menjadi istrimu. Kita tak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk memadu kasih. Akhirnya aku menjadi Nyonya Perca. Ya lyublyu tebya.”

Aku tersenyum puas kepada tumpukan perca di pangkuan. Mendekapnya. Menggenggam erat. Mengecupnya dalam-dalam.

Dheaadyta

Mata kuliah Introduction of Bussiness yang membosankan. Handphone saya bergetar.

1 msg(s) received : Pelangi

“Kangeen…”

Saya tersenyum membaca pesan darimu. Kita berada dalam ruang yang sama. Terpisah dua bangku. Kenapa tak langsung katakan saja?

Cepat saya mengetik balasan singkat.

“Me too.”

Saya hendak menoleh untuk sekadar tersenyum padamu.

Baru saja badan ini hendak membalik.

“Siapa, yank?” tanya sosok tampan di sebelah saya.

Saya tersentak, “Bukan siapa-siapa,” jawab saya pelan.

Dia mengangguk berusaha memahami dan kembali memperhatikan kuliah.

Saya melirik kearahmu. Bersanding dengan seorang gadis cantik. Pacarmu.

Itulah kenapa, jarak sedekat ini pun kita membutuhkan handphone sebagai penyampai rindu.

Novita

“Ibu!” Harimau kecil berteriak memanggil ibunya.

“Darimana saja kamu, Nak? Apa itu yang kamu bawa?” Tanya sang ibu.

Tiba-tiba ia tersentak melihat ukiran diatas kotak hitam yang dibawa anaknya. Terbaca disana, terukir rapi “Ya Lyublyu Tebya”.

Mata ibu naga terbelalak.

” Tidak! Anakku tidak boleh membuka kotak ini. Aku tidak mau kehilangan anak untuk kedua kalinya,” cemasnya dalam hati. “Apakah karmaku telah datang?”

Ya Lyublyu Tebya, kotak yang pernah dikuburkannya di atas abu Perca, seekor induk harimau yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, anak pertama yang dibakarnya dengan mulutnya sendiri karena terbius isi kitab sihir Ya Lyublyu Tebya.

 

 

Sayembara Ya Lyublyu Tebya

Mari bersenang-senang.

Saya mau memberikan 3 buku karya saya untuk 1 orang pemenang yang beruntung. Ada Nyonya Perca, kumpulan cerpen saya yang pertama. Kemudian Ya Lyublyu Tebya yang baru terbit, serta Dead Until Dark, karya terjemahan saya yang pertama.

Sayembara ini akan berlangsung mulai pukul 9.00 WIB pagi ini (16 Desember 2010) sampai tanggal 19 Desember 2010 pukul 9.00 WIB. Siapa pun boleh berpartisipasi.

Caranya mudah. Karena saya lagi seneng mengarang, sayembara ini pun akan melibatkan itu. Kalian tinggal tulis di comment postingan ini, sebuah cerita pendek yang terdiri dari 21-99 kata. Kenapa 21? Well, simple aja sih, it’s my birth date. Hahaha. Temanya bebas. Jadi, kalian bisa nulis apa pun yang ada di pikiranmu.

Sayembara ditutup tanggal 19 Desember pukul 9.00 kemudian saya akan memilih 5 cerita terbaik. Setelah itu, tugas pembacalah untuk menentukan 1 pemenangnya melalui polling.

Begitu saja. Silakan mengarang bebas.