Sayembara Ya Lyublyu Tebya

Mari bersenang-senang.

Saya mau memberikan 3 buku karya saya untuk 1 orang pemenang yang beruntung. Ada Nyonya Perca, kumpulan cerpen saya yang pertama. Kemudian Ya Lyublyu Tebya yang baru terbit, serta Dead Until Dark, karya terjemahan saya yang pertama.

Sayembara ini akan berlangsung mulai pukul 9.00 WIB pagi ini (16 Desember 2010) sampai tanggal 19 Desember 2010 pukul 9.00 WIB. Siapa pun boleh berpartisipasi.

Caranya mudah. Karena saya lagi seneng mengarang, sayembara ini pun akan melibatkan itu. Kalian tinggal tulis di comment postingan ini, sebuah cerita pendek yang terdiri dari 21-99 kata. Kenapa 21? Well, simple aja sih, it’s my birth date. Hahaha. Temanya bebas. Jadi, kalian bisa nulis apa pun yang ada di pikiranmu.

Sayembara ditutup tanggal 19 Desember pukul 9.00 kemudian saya akan memilih 5 cerita terbaik. Setelah itu, tugas pembacalah untuk menentukan 1 pemenangnya melalui polling.

Begitu saja. Silakan mengarang bebas.

Advertisements

26 thoughts on “Sayembara Ya Lyublyu Tebya

  1. “Permisi, Nyonya Perca ada?” terdengar suara dari balik pintu.
    Nyonya Perca membuka pintu, tampak pemuda tampan berdiri di hadapannya,
    “Ya Lyublyu Tebya, krasivyi.” kata pemuda itu sambil tersenyum manis.
    Nyonya Perca tersipu, “ayo masuk.” ajaknya.
    “Tidak, aku hanya ingin memberikan buku ini kepadamu.” pemuda itu mengulurkan tangannya, memberikan sebuah buku kepada Nyonya Perca.
    Nyonya Perca terkejut melihat buku bergambar dua orang perempuan, “Dead Until Dark.” ia membaca judul yang tertera di sampulnya, “untuk apa ini?”
    “Bacalah, kau akan menemukan karya terjemahan penuh cinta di dalamnya.”
    “Terimakasih, suamiku.” Nyonya Perca senang mendapatkan hadiah di hari ulang tahun nya yang ke-tujuhpuluh.

  2. “Permisii…” Sebuah ketukan di pintu kos membangunkan seorang gadis dari lelapnya tidur.
    Dengan malas-malasan gadis itu membuka pintu kosnya dan menemukan seorang pria kurus sedang berdiri menyeringai kepadanya.
    “Nona Naga?”
    Gadis itu mengangguk malas. “Iya saya. Ada apa?”
    Pria itu menyerahkan sebuah bingkisan coklat ke gadis itu. “Kiriman ekspress khusus buat Nona Naga.”
    Gadis itu menerima paket itu dan penasaran. Ia menggoyang-goyangkan paket itu, berusaha menebak isinya.
    “Dari siapa ini? Ada yang harus saya tanda tangani?”
    Pria itu tersenyum lebar. “Itu dari cinta kepada seorang gadis yang kehilangan hati.”
    “Hah?!?” Gadis itu menoleh kearah pria itu. Tidak ada siapa-siapa disana. Pria itu hilang.
    Bulu kuduk gadis itu naik, pagi-pagi buta ia kedatangan tamu dan tamunya hilang dalam sekejap. Merinding.
    Gadis itu menutup pintu kosnya dan cepat-cepat membuka bingkisan itu. Isinya sebuah kotak karton yang isinya potongan-potongan koran. Gadis itu menumpahkan semua isi kotak itu ke lantai kosnya.
    Sebuah hati terbuat dari kaca tebal jatuh bersamaan dengan potongan-potongan koran. Di hati itu terukir tulisan sambung,

    “Jagalah hati ini Nagaku sayang, meski aku tak bisa memberimu hatiku.”

    ***

    As_3Ð
    Nb: itu si sookie gw msh ga dibalik2in dong ma mantan bos gw. Menangin gw sookie dong dong dong..

  3. Jadi juga! Pas 99 kata, hehehe…

    ”Scraps!”
    Aku menoleh. Dorothy berlari ke arahku, dan memakaikan sebentuk tiara dari bunga daisy putih di puncak kepalaku.
    ”Kau cantik! Sekarang pergi, mempelai priamu menunggu!” serunya.
    Aku hanya sekilas melihat pantulanku di cermin, namun aku tahu Dorothy tidak berbohong. Dia sudah bekerja keras membuatkanku gaun yang terbuat dari kain-kain perca yang semuanya berwarna putih untuk hari istimewaku. Tidak buruk untuk Nona Perca, batinku.
    Akhirnya aku berjalan di altar, tersenyum lebar memamerkan gigi-gigi mutiaraku. Scarecrow menunggu di ujungnya juga tersenyum, senyum paling indah yang bisa diberikan Boneka Jerami.
    Aku menghela nafas saat menyambut uluran tangannya.
    Akhirnya aku jadi Nyonya Perca.

  4. “Besok hari yang penting buatku. Setidaknya ini juga buat seseorang yang sedang menungguku di sana.”

    Aku bingung dengan percakapan ini. Lima belas diawali dengan Maya menangis. Lima belas menit kemudian kata-kata yang terlontar bernada gembira. Lima belas menit terakhir aku mendengar seperti ada keraguan dalam dirinya.

    “Sudah tidak perlu kau pikirkan. Besok kau harus datang ke rumahku. Aku dan Adi ada sedikit kejutan untuk kamu”

    Keesokan harinya aku langsung menluncur ke rumah Maya. “Terimakasih sudah datang.” Suara Maya terdengar sesegukan.

    “Sudah siap calon pengantin.” Teriak seseorang berpakaian penghulu. “Satu, Dua, Tiga.”

    Dan mereka pun melakukan bunuh diri bersama.

    “SAH!”

  5. Coba2 ya Mba Jia..
    @balonbiru

    “Ibu!” Seekor harimau kecil berteriak memanggil ibunya.

    “Darimana saja kamu nak? Apa itu yang kamu bawa?” Tanya sang ibu.

    Tiba-tiba ia tersentak melihat ukiran di atas kotak hitam yang dibawa anaknya. Terbaca disana, terukir rapi “Ya Lyublyu Tebya”.

    Mata ibu naga terbelalak.
    ” Tidak! Anakku tidak boleh membuka kotak ini. Aku tidak mau kehilangan anak untuk kedua kalinya, cemasnya dalam hati. “Apakah karmaku telah datang?”

    Ya Lyublyu Tebya,kotak yang pernah dikuburkannya diatas abu Perca,seekor induk harimau yang ia besarkan dengan penuh kasih sayang, anak pertamanya yang dibakarnya dengan mulutnya sendiri karena terbius isi kitab sihir Ya Lyublyu Tebya.

  6. “Tiara ini warisan leluhurmu”, kata ibuku. “Tiara yang menjadi rebutan para pencuri sedunia, kabarnya siapapun yang mengenakan tiara ini pada upacara pernikahannya, akan hidup bahagia bersama sang pangeran selama-lamanya.”

    Warnanya kehijauan, terbuat dari giok alami. Dingin dan angkuh, tidak gemerlapan seperti tiara para putri di kerajaan lainnya.

    Aku memang pernah berseteru dengan ibuku yang tukang tenung. Setelah mendapatan pelajaranku yang paling berharga,yaitu mati suri akibat memakan apel beracun pemberiannya, aku berpikir ulang untuk menerima pemberiannya.
    Tapi ini tentang pernikahanku dengan pangeran yang menghidupkanku kembali,aku ingin bahagia.

    Kupasang tiara itu diatas kerudung pengantinku. Burung-burung menjerit, inilah hari kematian Putri Salju.

  7. “Tiara ini warisan leluhurmu”, kata ibuku. “Tiara yang menjadi rebutan para pencuri sedunia, kabarnya siapapun yang mengenakan tiara ini pada upacara pernikahannya, akan hidup bahagia bersama sang pangeran selama-lamanya.”

    Warnanya kehijauan, terbuat dari giok alami. Dingin dan angkuh, tidak gemerlapan seperti tiara para putri di kerajaan lainnya.

    Aku memang pernah berseteru dengan ibuku yang tukang tenung. Setelah mendapatan pelajaranku yang paling berharga,yaitu mati suri akibat memakan apel beracun darinya, aku berpikir ulang untuk menerima pemberiannya.
    Tapi ini tentang pernikahanku dengan pangeran yang menghidupkanku kembali,aku ingin bahagia.

    Kupasang tiara itu diatas kerudung pengantinku. Burung-burung menjerit, inilah hari kematian Putri Salju.

  8. Kata adikku, ia diajak memasuki dunia ajaib oleh seekor kelinci putih yang membawa arloji emas.

    Ku katakan padanya, “Itu mimpi. Dunia ajaib yang sebenarnya ada dibalik lemari di bawah tangga. Masuk kesana, kau akan bertemu elf,dan banyak penyihir. Itulah dunia ajaib yang sebenarnya.”

    Kakakku menyahut, “Bagaimanapun kalian berkhayal,dunia ajaib itu ada di belakang perapian. Musim panas nanti akan kuajak kalian menjelajahinya. Aku kenal baik dengan kapten kapal bajak laut itu, ia orang baik. Tidak kejam sebagaimana banyak orang katakan tentangnya.”

    Kriiinggg..

    “Halo?” jawab Ibu. “aku? Ya lumayan sibuk. Sedang membujuk anak-anak untuk sikat gigi”.

    Oh,perkenalkan, Ibu kami: peri gigi.

  9. Asap hitam membumbung di kejauhan. Itu dari arah rumahku! Teriakku dalam hati. Aku berlari. Ketika sampai di mulut gang kampungku, semua orang sudah berkerumun menunggu aku. Mereka berebut tanya: bagaimana bisa seekor naga keluar dari rumahku?Naga itu dimana sekarang?” Tanyaku pada mereka. Mereka diam. Saling bertatapan heran. Aku berlari ke arah rumahku. “Naga itu sudah pergi.” Teriak seseorang. Tetapi tidak ada yang berusaha menghentikanku. Rumahku tinggal puing. Hanya sebuah buku dongeng dari ayah yang masih utuh, tanpa sedikitpun tergores lidah api. “Astaga, aku lupa menutup buku ini tadi pagi.” Sesalku dalam hati.

  10. Asap hitam membumbung di kejauhan.

    ‘Itu dari arah rumahku!’ Teriakku dalam hati. Aku berlari.

    Ketika sampai di mulut gang kampungku, semua orang sudah berkerumun menunggu aku. Mereka berebut tanya: ‘bagaimana bisa seekor naga keluar dari rumahku?’

    “Naga itu dimana sekarang?” Tanyaku pada mereka.

    Mereka diam. Saling bertatapan heran.

    Aku berlari ke arah rumahku. “Naga itu sudah pergi.” Teriak seseorang.

    Tidak ada yang berusaha menghentikanku.

    Rumahku tinggal puing. Hanya sebuah buku dongeng dari ayah yang masih utuh, tanpa sedikit pun tergores lidah api.

    ‘Astaga, aku lupa menutup buku ini tadi pagi.’ Sesalku dalam hati.

  11. Wajahnya merah padam, kemudian berubah pucat. Meskipun begitu, ia tetap tersenyum.
    Senyum yang kelak kuketahui mengandung kutukan maut.
    Sejak terakhir kali bertemu dengannya, buku-buku berubah menjadi monster. Aku terpaku pada setiap kata, koma, titik, tanda seru. Benakku berteriak: Ini jelek. Ini sampah. Ini kaku.
    Tapi aku tak bisa beranjak atau menutup buku di tangan, sebelum rampung hingga halaman terakhir.

  12. “Stop ! sudah kubilang, buang perca-perca itu”, dia memarahiku. Ditendangnya perca-perca itu hingga berserakan.

    Aku hanya bisa menangis terisak sambil mengumpulkan perca yang tercecer. Dia memang tak pernah setuju aku menjahit. Baginya boneka-boneka dari kain perca itu tak berguna. Toh, hasil penjualannya pun tak seberapa. Tak sebanding dengan gaji kantornya.

    “Aku masih sanggup menghidupimu tanpa boneka-boneka kainmu itu. Buang atau aku bakar semuanya”, dia meradang.

    “Tidak, aku tak kan membuangnya! Jika sampai kau bakar, kau akan membakar hati anak kita”, kulirik anak perempuanku yang sedang bermain boneka perca buatanku.

    “Ya, anak kita menyukainya. Apa kau tega melakukannya?”
    Diapun menunduk.

  13. “Di kedalaman lautan,ada kerajaan para naga dan raksasa. Banyak manusia dengan bodohnya mengatakan bahwa naga dan raksasa hidup di atas awan.” Kata kapten Jack.

    “Apakah selama pelayaranmu kau pernah bertemu mereka kapten?” tanya Tom kecil penasaran.

    “Tentu saja pernah. Aku hampir kehilangan nyawaku sewaktu aku tenggelam. Dua raksasa hampir menjadikan aku santapannya. Untung seekor naga berwarna putih menyelamatkanku. Naga itu cantik sekali.”

    “Aku ingin bertemu mereka suatu hari nanti. Maukah kau mengajakku dalam pelayaranmu berikutnya,Kapten?”

    “Baiklah. Akan kuajak kau. Tapi ingat,jika kau menemui mereka,kau tidak boleh membocorkan rahasia ini. Sekarang tidurlah.” Kata Jack Tua sambil menyelimuti cucunya.

  14. Penjual sayur memecah keheningan yang bangunkan para pemimpi, “selamat pagi sayang..”
    Sebuah kecupan mendarat hangat dipipiku, rasanya mata ini masih malas membuka, aku mulai mengatur nafasku perlahan dan membalas ucapannya lirih.
    Harum kopi yang tersaji di meja, entah kepalaku terasa sangat berat dan sebuah dekap pelukan melingkar dipinggangku, seraya tangannya membelai rambutku perlahan dan hembusan nafasnya hangat terasa di telingaku.
    “Aku hamil” lirihnya pelan, sontak mataku langsung terbuka, nafasku memburu cepat dan aku membalikkan badan dan memandang wajahnya.

  15. “Tidak mungkin itu naga! Aku tak percaya ada naga di dunia ini! Apalagi berwarna biru!” Teriakan nami membuat potongan-potongan kain perca bertaburan dari tubuhnya.
    Ruang tengah itu sekarang kosong. Tak lagi terdengar denting piano yang menyayat di keheningan.
    “Tapi, apa ini?” gumamnya pada cermin sambil mengamati gigi yang mulai meruncing.
    “Apakah ini hadiah?” Sebuah tanya menggantung di hari ke-21 menjelang separuh tahun.

  16. “Kamu sudah siap?”
    “Yakin bahwa kita harus melakukan ini?”
    “…”
    “Baiklah. Kita lakukan dengan sederhana.”
    Kita bersama-sama menyematkannya ke jari manisku. Cincin dari kain.

    “Sekarang aku resmi menjadi istrimu. Kita tak perlu lagi sembunyi-sembunyi untuk memadu kasih. Akhirnya aku menjadi Nyonya Perca. Ya lyublyu tebya.”
    Aku tersenyum puas kepada tumpukan perca di pangkuan. Mendekapnya. Menggenggam erat. Mengecupnya dalam-dalam.

  17. Mata kuliah Introduction of Bussiness yang membosankan. Handphone saya bergetar.

    1 msg(s) received : Pelangi

    “Kangeen…”

    Saya tersenyum membaca pesan darimu. Kita berada dalam ruang yang sama. Terpisah dua bangku. Kenapa tak langsung katakan saja?

    Cepat saya mengetik balasan singkat.

    “Me, too”

    Saya hendak menoleh untuk sekadar tersenyum padamu.

    Baru saja badan ini hendak membalik.

    “Siapa, yank?” tanya sosok tampan di sebelah saya.

    saya tersentak, “Bukan siapa-siapa” jawab saya pelan.

    Dia mengangguk berusaha memahami dan kembali memperhatikan kuliah.

    Saya melirik kearahmu. Bersanding dengan seorang gadis cantik. Pacarmu.

    itulah kenapa, jarak sedekat ini pun kita membutuhkan Handphone sebagai penyampai rindu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s