Bulan yang Terbakar

Malam itu kami berdua duduk di teras. Angin menampar-nampar tubuh kami, tetapi kami bertahan.  Sudah lama tak pernah ada malam sesantai ini, tatkala sehabis senja tak dicuri kertas-kertas, iluminasi dari layar laptop dan dering telepon genggam, atau bunyi-bunyian lain. Malam itu senyap, bulan sedang purnama, nyalanya kuning keperakan seperti kancing pemanis di atas bentangan kain berwarna biru gelap. Dan kami berdua duduk di teras depan rumah kami, mata tertuju ke langit, tangan kanannya mengait di tangan kiriku.

“Bulan agak terlalu terang,” ujarmu, menunjuk bulan dengan dagu.

“Biasa saja,” aku menyanggah. Mataku terpancang pada langit yang bersih. Kepalaku bersandar di bahunya. Dia melepaskan kaitan tanganku dan memindahkannya ke bahuku. Aku merapatkan diri. Udara semakin dingin.

“Apa kita mau masuk aja?”

“Tehnya belum habis.”

Dia meneguk tehnya yang tinggal separuh. “Ayo, nanti kamu masuk angin. Kita udah kelamaan di luar, kometnya ga lewat-lewat.”

“Bintang jatuh,” protesku.

“Nggak ada yang namanya bintang jatuh.”

“Ada.”

“Nggak. Itu komet, bukan bintang.”

“Kamu nyenengin hati aku sedikit aja kok ga mau. Bilang aja itu bintang jatuh apa susahnya, sih? Biar aku bisa memanjatkan harapan.”

Aku tahu dia memutar mata saat menggiringku masuk, tetapi mencium puncak kepalaku dari belakang sambil memelukku. Kami agak kesulitan berjalan jadinya.  Kemudian sesuatu yang terang terpantul di jendela depan rumah. Sontak kami berbalik.

Di langit, bulan yang bulat sempurna dan terang itu, tengah berkobar. Apinya berkeretak terdengar hingga ke bumi. Ia seperti akan melesat jatuh tergelincir dari porosnya. Warnanya jingga kemerahan, memancarkan percikan-percikan bunga api, menyambar-nyambar segala sesuatu yang ada di dekatnya, satelit, atau apalah benda-benda langit di angkasa luas sana.

Orang-orang keluar dari rumah mereka mendengar suara keretak-keretak dan terkesiap ketika melihat bulan yang terbakar. Mereka langsung memanjatkan doa. Dzikir berkumandang di setiap surau. Kiamat, ujar mereka. Dia memelukku erat.

“Kita masuk aja, ya.”

“Kalau rumah kita terbakar gimana?”

“Rumah kita enggak akan terbakar.”

“Tapi dunia akan kiamat!”

“Aku akan menjagamu.”

***

Gadisku akhirnya terlelap juga. Aku harus memeluknya sepanjang waktu agar dia mau dibujuk untuk memejamkan mata. Tadi dia mengajakku duduk di luar. Memandangi bintang-bintang, ujarnya. Dia ingin menggambar rasi-rasi bimasakti. Lalu menatap rembulan. Dan menanti bintang jatuh. Dia ingin memanjatkan harapan, agar putrinya yang tiba-tiba menghilang dari perutnya, kembali.

 

Advertisements

3 thoughts on “Bulan yang Terbakar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s