Peri Gula dan Pangeran Idiot

in collaboration with Galuh Parantri

Ajaib.

Ketika pertama kali bertemu dengannya, kupikir dia adalah peri gula.

Manis, senyumnya yang berkemiringan sekian derajat, crecsent moon, orang barat bilang. Pucuk bibir sebelah kirinya agak tertarik ke atas, seolah hendak menusuk lesung pipitnya yang hanya sebelah.

“Aku kirigenic, jangan difoto dari sisi kanan, ya?” Suatu hari dia pernah berkata.

Kenapa kubilang ajaib? Karena ketika pertama kali bertemu dengannya memang aneh sekali, seperti Alice yang meluncur tersesat ke negeri Wonderland.

Seperti biasa, aku ceroboh. Aku tidak melihat lubang di depanku ketika aku berjalan, dan aku terjatuh dengan sukses ke dalam lubang itu. Ada pekerjaan umum, makanya tutup beton lubang itu terbuka. Padahal ada tanda hati-hati, dan dua kerucut oranye terang menghalangi lubang itu. Seharusnya aku jalan memutar, tetapi aku seperti boneka jerami yang tak punya otak. Jangan-jangan aku harus pergi menemui Oz untuk meminta otak.

Tentu saja, aku langsung basah kuyup. Basah dan bau. Tentu saja, aku masuk selokan berair hitam, entah kuman dan makhluk apa saja yang ada di dalamnya. Aku mengerang. Sepertinya blackberryku juga jatuh, dan aku tak sudi mencari-carinya di dalam air yang sehitam itu, aku terpaksa merelakannya hilang, atau rusak, atau apalah. Blackberry itu tak lagi jadi milikku.

Aku mendongak, menantang matahari, memandang sekeliling, mencari alat yang bisa menolongku naik — tentu saja sambil misuh-misuh. Tolol sekali! Orang macam apa yang akan jatuh ke selokan dengan cara idiot kayak gitu? Dasar imbisil!

Pada saat itulah aku melihatnya. Sebentuk wajah melongok, memeluk map, dengan tas tersampir di bahunya. Awalnya dia berdiri, tapi kemudian dia berjongkok, mungkin ingin melihat lebih jelas, makhluk malang seperti apa yang begitu bodohnya masuk got dan tak bisa naik lagi?

“Halo?” Sapanya ragu-ragu.

“Hai!” Seruku, berharap dia memanggil bala bantuan.

“Apa kabar?” Tanyanya. Dia menelengkan kepalanya. Persis seperti anak anjing yang penuh rasa ingin tahu.

“Emm, tidak-baik-baik-saja?” Jawabku sambil merentangkan tangan. Memperlihatkan keadaan diriku yang malang. Tolol sekali.

“Kamu ngapain di situ?” Dia kembali bertanya.

“Lagi nyari belut,” aku menjawab asal, sedikit kesal.

“Emang ada belut ya di situ? Emang belut bisa hidup di situ? Terus belutnya diapain? Dimakan? Emang boleh dimakan? Bukannya aer kotor gitu banyak racun? Emangnya belutnya enggak terkontaminasi? Belut racun dong. Hihihi.”

“Tolong, dong!” Akhirnya aku berkata, tak tahan lama-lama terendam dalam air got yang hitam. Sepertinya kakiku mulai meleleh digerogoti zat asam.

Pada saat itulah dia tersenyum. Wajah bodohnya yang seperti anak anjing yang lucu menghilang digantikan senyuman peri gula yang menenangkan. “Tunggu ya, aku nyari tangga dulu.”

Satu menit, dua menit, enam menit, sepuluh menit, perempuan itu tak kembali. Mungkin dia sudah lupa, ada makhluk ganteng tak berdaya terjebak di sebuah lubang got dan tak lama lagi akan terkubur dan terlupakan hingga ia ditemukan lagi dua juta tahun kemudian berupa fosil.

Lima belas menit kemudian, aku benar-benar merasa tubuhku perlahan berubah jadi batu. Juga rasa nyut-nyut nyeri memar akibat terjatuh semakin bertalu-talu. Aku ini laki-laki apa bukan sih? Masa ga bisa naek dari lubang ini sendiri? Aku mendongak lagi. Lalu meloncat, berusaha meraih pinggiran lubang di atas, kueratkan peganganku. Kucoba mengangkat tubuhku. Gagal. Seharusnya memang, aku menurunkan berat badanku 10 kilogram lagi. Mungkin aku terlalu banyak ngemil coklat sama keju. Aku ini laki-laki apa bukan, sih?

Lima belas setengah menit kemudian, aku pasrah. Si peri gula kembali dengan napas terengah-engah. Rambut panjangnya yang tadi terurai kini diikat, anak-anak rambutnya berjatuhan, bagian atasnya agak sedikit basah, menempel ke pipinya oleh keringat. Astaga, cantik sekali!

“Sori lama,” katanya ngos-ngosan. “Ga dapet tangga. Tapi dapet bala bantuan,” dia menyeringai lalu menyingkir, meninggalkan pemandangan teman-temannya yang juga menyeringai. Dua orang laki-laki besar.

Singkat kata, akhirnya aku berhasil kembali ke atas. Dengan badan bau. Kaki diselimuti lumpur hitam, dan mulai gatal-gatal.

Si peri gula dan teman-temannya tertawa melihat keadaanku. Tetapi dia agak baik hati dengan berhenti ketawa dan bertanya cemas: “Kamu gak apa-apa?”

Lalu hujan turun.

Ajaib. Karena baru saja, matahari bersinar terik. Kini hujan turun dan membasuh tubuhku yang kotor.

“Ya sudah, aku pergi dulu, ya?” Kata si peri gula. “Jangan jatuh ke lubang lagi, ya?”

“Eh, tunggu!” Aku mencegahnya, bagaimana pun aku harus tahu namanya, dan harus berterimakasih dengan pantas. Misalnya dengan menraktirnya makan malam?

“Ya?” Matanya mendelik. Amboi, aduhai, olala, CANTIK SEKALI!

“Siapa namamu?”

“Ayu.”

“Ayu, seperti namanya,” aku berkata tanpa sadar. Lalu ketika dibangunkan dari bengong, rasanya aku ingin menampar diriku sendiri. Maksudnya apa coba ngomong begitu?

Tetapi dia tak tersinggung, hanya tersenyum dan berlalu. Tasnya berayun-ayun di pinggulnya.

“Eh!”

Dia berhenti, menoleh sejenak.

“Maukah makan malam denganku? Sebagai ucapan terima kasih?” Aku bertanya ragu.

***

“Buruan, kasian laki-laki itu!”

“Matanya dikemanain sih sampe gak bisa liat ada gorong-gorong yang lagi dibuka?” Aku bertanya.

“Gak usah banyak tanya, ayo bantuin dia!”

Dia menggeret tanganku. Karibku yang satu ini memang paling hebat. Hebat membuat semua laki-laki tak bisa menolak permintaannya.

Rokok yang tadi masih setengah utuh terpaksa rela kumatikan. Kopi yang masih bisa diteguk beberapa kali hingga isapan rokok terakhir pun ikhlas kutinggalkan. Begitu juga rekanku, kini kami berada dibelakangnya, untuk menjadi pengawal si peri yang baik hati.

Cukup memakan waktu untuk mencapai tempat kejadian. Nafasku terengah-engah mengikutinya yang berlari-lari kecil. Rambutnya seirama mengikuti tapak kakinya yang bergerak cepat. Kalau bukan karena si peri baik hati ini, aku tak sudi mengikhlaskan kopi dan rokokku tadi. Huh.

“Itu lubangnya!” teriaknya sambil menunjuk tutup beton yang terbuka lengkap dengan penanda kerucut berwarna oranye di sekitarnya.

“Sori lama,” katanya ngos-ngosan. “Ga dapet tangga. Tapi dapet bala bantuan,” dia menyeringai. Aku dan temanku ikut melongok ke dalam lubang itu.

Manis juga rupanya laki-laki ini. Aku semakin tak menyesal bila mengingat rokok dan kopiku tadi. Wajahnya yang lucu, berpenampilan rapi, potongan rambut cepak, sosok idaman laki-laki seperti aku.

Ah, peri baik hati ini ternyata juga jelmaan cupid, kupandangi wajah Ayu yang cemas pada laki-laki bodoh yang terjatuh ini. Meski bodoh, tapi dia tetap ganteng. Ya, Pangeran idiot nan rupawan.

Bukan hal yang mudah mengeluarkannya dari dalam lubang ini. Tapi apa pun demi dia. Seandainya aku harus jatuh di lubang yang sama dan memberikan punggungku untuk diinjaknya, aku rela. Singkat kata kami berhasil keluar dari lubang itu.

Aku dan temanku tertawa melihat penampilan laki-laki ini yang dekil penuh lumpur. Meski dia tampak kacau sekali, mukanya yang idiot ini membuatnya semakin pantas diberi gelar Pangeran idiot nan rupawan.

“Kamu gak apa-apa?” tanya Ayu padanya.

Tiba-tiba hujan turun. Sayang sekali, aku tak bisa berlama-lama lagi melihatnya.

Ayu si peri baik hati tak lagi terlihat cemas. Senyumnya sudah kembali.

“Ya sudah, aku pergi dulu, ya?” Ayu berpamitan dan berpesan. “Jangan jatuh ke lubang lagi, ya?”

Sedikit berat aku mengikuti langkah Ayu bersama temanku. Lagi-lagi kami membuntutinya.

“Eh, tunggu!” Langkah kami terhenti. Hah? Apa Pangeran idiot memanggilku?

“Ya?”

Ah… ternyata Ayu yang menjawab.

“Siapa namamu?”

“Ayu.”

“Ayu, seperti namanya,” kata si pangeran idiot. Argh. Ini kisah klasik, cinta pada pandangan pertama? Dan aku cinta bertepuk sebelah tangan?

Ayu tak menggubris dan melanjutkan langkah disusul aku yang ngedumel di dalam hati. Bagaimana bisa? Rayuan pangeran idiot ditujukan pada Ayu, bukan untukku.

Bangun Adam! Mana ada laki-laki normal jatuh cinta padamu yang juga laki-laki dalam waktu sekejap? Jelas dia memilih Ayu, peri baik hati dengan senyum manis semanis gula!

“Eh!”

Pangeran idiot memanggil lagi? Apa kali ini? Menanyakan nama kedua teman yang telah membantu menolongnya? Namaku? Kau ingin tahu namaku?

“Maukah makan malam denganku? Sebagai ucapan terimakasih?” tanyanya sambil menatap Ayu lekat.

Ah ternyata bukan untukku. Memang pangeran idiot itu berjodoh dengan peri gula.

Advertisements

4 Comments Add yours

  1. Hangga Ady says:

    Wah keren, kolaborasi yang hebat 🙂
    Salam kenal yah @hanggaady

    1. Jia Effendie says:

      Hai Hangga, makasih udah baca 🙂

  2. koprolkata says:

    To be continued kan? Kan? Kan? Sayang banget kalau ngga.. Pingin lebih kenal Adam, Peri Gula, Pangeran Idiot dan pria kekar satu lagi. Aku yakin kalian bisa bikin cerita ini makin meliuk genit. 😀

    1. Jia Effendie says:

      Hahaha enggak, Uni. Cerpennya udah selesai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s