Pesawat Kertas

Pacarku,

Pesawat kertas yang kauterbangkan kemarin dulu itu telah kuterima. Ajaib sekali bagaimana ia datang dan tiba-tiba jatuh di pangkuanku. Pluk. Jatuh begitu saja seperti daun kering yang sudah waktunya gugur demi kesehatan sang pohon.

Kertasnya sudah agak kumal dan ujung-ujungnya tergulung-gulung. Dapat dimengerti, karena tentu saja pesawat kertas yang malang itu harus menempuh ribuan kilometer untuk sampai di sini. Sendirian. Menerjang hujan dan terik. Untunglah pesawat kertasmu itu tabah. Ia terbang tanpa mengeluh, menyampaikan pesanmu.

Dan kuterima.

Kuterima dengan hati terbuka, biar jejalan rindumu itu masuk dan menghuni hatiku dan berkembang biak di sana dengan riang gembira. Biar mereka bersahabat dengan rindu-rinduku yang sama berjejalnya.

Oleh karena itu, biarkan kapal kertasku yang bertugas selanjutnya. Kularungkan di Pantai Utara dengan muatan rinduku yang sebentar lagi matang, sebentar lagi ketika sampai di tanganmu, kau akan menyecap manisnya. Buah-buah rindu yang ranum dan legit. Biarkan ia berlayar. Aku yakin kapal kertas itu akan menemukan jalannya, dari muara, ke sungai, lewat selokan dan parit-parit, lalu sampai kepadamu.

Mungkin keadaannya akan tampak mengenaskan, kuyup dan kotor. Namun kau tak perlu khawatir, pacarku yang baik, buah-buah rindu di dalamnya telah kukemas baik-baik, pun kapal kertas itu mengerti bagaimana menjaga rindu yang harus ia sampaikan.

Kabari aku jika kapal kertas itu sampai ke genggamanmu. Mungkin ia muncul dari lubang toilet… atau tiba-tiba mengapung di bak mandimu. Terkadang ia memang suka mencari jalan yang ganjil demi sampai di tujuannya, tak peduli caranya itu jorok. Tetapi yakin saja, cintaku untukmu, masih murni.

Peluk cium,

Kekasihmu.

Advertisements

Reuni

Kisah yang akan kuceritakan ini, lazim kaudengar di hampir setiap acara reuni. Jika kau sudah pernah datang ke acara reuni sekolahmu, besar kemungkinan kau akan menguap-nguap bosan. Walaupun, tentu saja, aku tak ingin membuat siapa pun bosan oleh racauanku.

Ada beberapa kelompok yang datang ke acara reuni. Aku tidak akan menjelaskannya secara detail, hanya untuk gambaran saja, bagi kalian yang berencana untuk datang ke acara reuni sekolah dalam waktu dekat. Orang-orang itu, mengaku teman-temanmu. Dan oh, tentu saja kaupun mengakui mereka temanmu. Bukankah, mereka pernah satu kelas denganmu sewaktu culun dulu? Memang, beberapa di antara mereka memang sudah gaya sejak dulu – dan itu, membuat orang-orang culun seperti kalian akhirnya punya motivasi untuk bertransformasi menjadi orang keren. Maka, biarkan aku membuat daftarnya.

Pertama, adalah teman-teman saling menganggap teman hanya karena kalian pernah satu kelas. Setelah lulus, kalian tak pernah ketemu dan hanya ketemu lagi pas reuni. Jenis ini hanya akan berbasa-basi sebentar, bertanya apakah kau sudah menikah, atau sudah berapa anakmu, atau bekerja di mana suamimu. Tentu saja, itu pertanyaan yang paling lazim, bukan? Kau bisa dengan segera melarikan diri dari jenis ini dan pura-pura bergabung dengan gank sahabat sejatimu.

Kedua, adalah sahabat sejati. Teman bolos. Main sepulang sekolah, curhat-curhatan. Sehidup semati senasib sepenanggungan. Tunggu dulu… senasib? Kau pasti akan mencoret kalimat tadi ketika mendengar hal ini.

“Dinda! Kamu ke mana aja, sih? Di antara temen-temen cuma kamu deh yang nggak kedengaran  kabarnya. Ngilang gitu. Ahhh, pasti udah sukses, ya sekarang? Kamu kelihatan… ehm, makmur.” Orang yang berbicara itu namanya Lulu. Dulu dia duduk di belakangku, hobi mencontek ulangan bahasa Inggris. Tetapi, fakta itu sudah tak penting lagi, bukan?

“Ah, aku ada aja kok, ga ke mana-mana,” aku menjawab rendah hati.

“Beneran. Kangen lho. Ga kerasa, ya, udah sepuluh tahun aja. Aku udah punya Abizel, udah mau sekolah TK. Momonganmu udah berapa? Suamimu mana, ga ikut ke sini?”

Tuh kan, jenis pertanyaan seperti itu sudah pasti terlontar.

“Haha iya, rasanya baru kemaren kamu lempar-lemparin kertas minta jawaban soal essay.”

“Ah, masih inget aja, kamu. Ya, dulu kan kamu yang paling jago bahasa Inggris. Eh, sudah, ya. Itu kayaknya Ega baru dateng. Mau nyapa dia dulu.” Lulu mohon diri dan segera menghilang di antara kerumunan.

Lalu, ada juga gebetan seumur hidup. Semacam cinta pertama. Sepertinya tadi aku melihatnya. Dulu dia cowok paling ganteng di kelas. Sekarang juga masih sih, seandainya saja tubuhnya tidak membengkak sampai dua puluh kilogram begitu. Dua puluh. Ya, kira-kira seperti itu. Padahal, terakhir aku melihatnya beberapa tahun lalu, dia tampak liat dan seksi. Tentu saja, karena dia bekerja di lepas pantai. Otot-ototnya terbentuk dari tubuhnya yang mulai pejal, dan matahari mematangkan kulitnya yang mengilap.

Diam-diam aku mengusap liur.

Tetapi, pemandangan di depanku itu, bukanlah pemuda macho berotot kekar, melainkan bapak berperut tambun, menyaingi perut istrinya yang hamil besar. Tangan kirinya menggendong bayi laki-lakinya yang baru berusia satu tahun. Mata kami bertatapan. Aku melempar senyum. Istrinya melengos. Aku mengedarkan pandanganku ke tempat lain.

Dan sorot mata itulah yang kutemukan. Tajam menusuk. Seperti magnet yang menggiring kakiku mendekatinya. Aku berhenti di hadapannya. Kami bertatapan. Lalu ia memecahkan kebekuan. Es bertebaran, berjatuhan menusuk-nusuk.

“Hai, Dinda. Sudah sepuluh tahun, ya?”

“Hai Rahman. Sudah sepuluh tahun.”

“Apa kabarmu?”

“Baik. Kau tampak bahagia.”

“Haha, kau tak tahu saja. Kau yang tampak bahagia.”

“Aku ingin bicara denganmu.” Aku berkata.

***

Oke, matikan dulu kameranya. Biar kuputar sebuah film hitam putih. Sepuluh tahun lalu. Ah, sepuluh tahun? Tepatnya dua belas tahun lalu. Cukup lama? Ya. Kalian tidak pernah tahu bagaimana hebatnya ingatan memperbarui dirinya sendiri sehingga kau merasa seolah-olah hal yang terjadi berpuluh-puluh tahun lalu, baru saja melintas di depan mata. Ingatan itu kejam, tetapi ia juga penuh kasih. Ia bisa membelai hatimu dan mengisinya dengan kehangatan, tetapi juga bisa menyalakan bara dendam. Ingatan itu sakti.

Jumat itu cerah. Kami sudah bergerombol di depan gerbang sekolah pukul sebelas siang, siap-siap berjalan pulang sambil bergunjing. Aku berjalan bersama Lulu saat Rahman menjejeri langkahku. Perasaanku tidak enak. Mengapa teman-temanku yang lain menyingkir seolah-olah mereka tahu apa yang akan dia lakukan. Di depanku, mereka bertiga seperti tengah berbisik-bisik membicarakanku. Ada apa?

Dia meminta nomor telepon rumahku. Aku memberinya tanpa perlawanan. Hei, dia kan teman sekelasku. Aku menaiki angkutan kota dengan perasaan bingung, apalagi saat Marini berbisik di telingaku: “Sssst, dia suka padamu.”

Kutunggu deringan telepon dengan gelisah. Bolak balik aku melewati meja telepon untuk memastikan kalau teleponnya diletakkan dengan benar, kabelnya terpasang sempurna, suara deringnya dalam volume cukup. Entah kenapa, ini jadi menegangkan. Dia suka padaku? Sungguh tak dipercaya. Mengapa tidak Akbar saja, yang sudah aku suka sejak kelas dua SMP?

Aku mengangkat telepon pada deringan ketiga. Setelah sedikit berbasa-basi soal PR Kimia, dia mengatakan itu. Dengan suara tarikan napasnya jelas terdengar, kau tahu, jenis tarikan napas yang dimaksudkan untuk memantapkan hati.

“Din, saya mencintaimu,”

Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Saat Lulu memberitahuku, aku hanya merasa syok. Tetapi saat Rahman yang mengatakannya langsung, rasanya napasku terhenti.  Yang berputar-putar dalam kepalaku hanyalah: Oh Tuhan, bagaimana caranya menolak tanpa menyakiti dia? Lalu kuputuskan untuk menunda jawabannya, sambil menyusun kata-kata penolakan. Dia teman yang baik. Teman yang menyenangkan. Tetapi aku sudah terlalu parah terkontaminasi oleh dongeng-dongeng barat tentang romantisisme, pangeran dan putri, ksatria berbaju zirah. Dia tidak masuk kategori itu.

“Aku tak bisa menjawabnya sekarang. Mmm, beri aku waktu untuk berpikir. Aku akan menjawabmu hari Senin.”

Jika saja hari Senin itu bisa kulompati, aku akan dengan senang hati menghapus hari itu pada minggu tersebut. Dengan begitu, aku tak perlu mengungkapkan kata-kata penolakan itu. Kata-kata penolakan yang diucapkan dengan lidah yang terpelintir. Dia salah sangka. Esoknya, seluruh sekolah tahu kalau aku pacaran dengannya.

Aku menghindarinya setelah itu. Ini salah. Aku bukan pacarnya. Aku hanya temannya. Kenapa semua orang menganggapku ada apa-apa dengan dia?

***

“Aku mencarimu ke mana-mana,” dia berkata.

Jantungku meletup-letup. Tak bisa memutuskan apakah harus bahagia ataukah jengah mendengar pengakuannya.

“Kamu pasti sudah lupa padaku, Dinda.”

“Tidak, aku tidak lupa. Aku ingat kamu. Aku nyariin kamu juga, aku ingin minta maaf. Tapi kamu susah banget dicari. Sejak lulus SMA kayaknya kamu menghilang gitu.”

“Aku memang sengaja menghilang. Sejak kejadian itu, aku bertekad untuk jadi orang sukses, dan kembali meminangmu.”

“Kamu berlebihan.”

“Kamu cinta pertamaku.”

Aku terdiam.

“Sayang, aku tak berhasil menemukanmu dan terlanjur menikah.”

Aku tak berkomentar. Tanganku berkali-kali menyelipkan anak rambut ke belakang telinga karena gugup. Tak mengerti arah pembicaraan ini. Aku bertemu dengannya hanya untuk minta maaf, karena telah melakukan tindakan kekanak-kanakkan sewaktu umurku kanak-kanak. Aku tersenyum gugup.

“Kamu obsesiku.”

Aku tercekat dan mulai merasakan bulu kudukku meremang.

“Suaramu di radio selalu terngiang-ngiang di telingaku. Setiap katanya, setiap jeda napasnya. Aku takkan pernah lupa. Aku takkan pernah melupakan suaramu yang menorehkan luka.”

“Tapi, itu kan dua belas tahun lalu, Man.”

“Kamu cinta pertamaku. Dan yang kudapat adalah patah hati. Kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Aku ini laki-laki.”

Dudukku mulai merasa tak nyaman. Sudut mataku liar mencari pertolongan. Semua orang tampak asyik dengan kelompoknya sendiri-sendiri.

“Aku nggak makan selama seminggu setelah kejadian itu. Setiap harinya hanya menyentuh secomot nasi dan setetes air. Aku sampai pingsan. Apakah kamu sempat memperhatikanku semakin kurus waktu itu? Tidak? Aku yakin kau pasti tidak memperhatikan itu.”

Aku menelan ludah. Benakku mulai merangkai firasat buruk. Mungkinkah dia melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan?

“Aku berdoa kamu takkan pernah bahagia. Kamu boleh saja bersama siapa pun, tapi kamu takkan bahagia. Hubunganmu takkan pernah berhasil. Apakah aku benar? Apakah kamu selalu bersama laki-laki yang salah?”

Aku mencengkeram pinggiran kursi erat-erat.

“Apakah perasaanmu selalu hampa? Kamu tak pernah puas dengan pacarmu, kamu selalu ragu? Tentu saja. Karena aku tak rela kamu dengan siapa pun selain aku.”

Seharusnya, ketika dia mengatakan itu, ada efek petir menggelegar. Sayangnya ini bukan sinetron. Tak ada musik pengiring yang sesuai. Hanya ada suaranya, dan suara riuh rendah orang-orang yang saling melepas rindu, sayup dari kejauhan. Serta musik dangdut yang ceria. Aku menghela napas, berat.

“Aku ini laki-laki. Kamu seharusnya tahu apa yang bisa dilakukan oleh seorang lelaki yang patah hati. Dan kamu adalah cinta pertamaku, kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan.”

“Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud melakukan itu semua. Seharusnya aku mengatakan semuanya baik-baik padamu. Namun, aku begitu kekanakkan. Seandainya saat itu aku tahu seharusnya aku tidak melakukannya.”

“Kenapa sih kamu tega sekali? Salah aku apa sih sampai kamu melakukan itu? Kamu pasti nggak ngerasa apa-apa. Kamu pasti lupa apa yang kamu ucapkan di sana. Kamu tidak peduli perasaan orang lain.”

“Aku tahu aku salah. Makanya aku nyari kamu buat minta maaf.”

“Tapi aku harus ngucapin makasih banget sama kamu. Tanpa kamu, aku tidak bisa seperti sekarang ini. Tanpa kamu aku takkan sebegitu terobsesi dan pasti pencapaianku takkan setinggi ini. Jadi, aku berterimakasih padamu. Ini tulus.”

Rasanya aku ingin memutar bola mataku. Bagaimana mungkin dia berkata tulus kalau dia membaca jampi-jampi agar aku tidak bahagia?

“Aku juga minta maaf. Karena telah melakukan itu. Tetapi kamu tidak tahu apa yang bisa dilakukan laki-laki yang patah hati. Karena cinta pertamanya.”

Aku sudah tak ingin mengatakan apa-apa lagi.

“Aku menyesal kita baru bertemu sekarang. Hanya beberapa saat setelah aku menikah. Kenapa kita tidak bertemu sebulan lalu? Aku mencarimu ke mana-mana, tetapi aku tidak berhasil.”

Aku bersyukur dia tidak menemukanku.

“Mungkin bukan jodoh,” gumamnya.

“Bukan….” Timpalku lirih. “Sebaiknya aku pergi. Nanti dicariin yang lain.”

***

Ngeri? Bayangkan itu terjadi padamu, di sebuah reuni. Seorang lelaki dari masa lalu mengaku telah mendatangi orang pintar untuk meminta jampi-jampi agar kau tidak bahagia. Jangan tanya, aku sangat terkejut. Aku syok. Memang sejak awal aku malas datang ke acara reuni SMA ini. Karena aku tahu, beberapa hal akan berulang. Beberapa pertanyaan mengganggu akan dilontarkan. Tetapi, pengakuan seperti ini? Tidak terjadi di setiap reuni, kisanak.

Percaya?

Tunggulah sebentar. Mungkin lima belas menit lagi. Biarkan teman-temanmu yang telah menikah itu senang sejenak telah membuatmu kesal karena menanyakan kapan kau menikah dan mendapati jawaban belum atau tidak tahu. Lalu biarkan mereka membanggakan suami mereka yang pegawai kilang minyak dan anak mereka yang sudah jago berhitung dari satu sampai sepuluh padahal dia baru belajar bicara, sambil menyayangkan kenapa kau belum juga kawin. Padahal umurmu sudah kepala tiga. Lalu mereka akan menyalahkan pekerjaanmu yang sangat kaucintai itu. Dan biarkan lelaki dari masa lalu itu melampiaskan dendam yang sudah berkobar di dadanya sejak sepuluh tahun lalu. Biarkan dia mendinginkan baranya. Biarkan dia merasa puas telah mengungkap semuanya. Biarkan dia merasa lega. Tunggu lima belas menit lagi.

Telepon genggamku berbunyi.

“Halo?”

“Halo, sayang? Pak Timan sebentar lagi nyampe buat jemput kamu. Tiket udah disiapin. Nanti kita ketemu di pesawat, ya?”

“Oke.”

“Love you.”

“Love you too.”

Aku menutup telepon dan melenggang keluar. Keluarga calon suamiku sudah menunggu. Kami akan mencari cincin kawin di Paris.

Depok | 12/17/2010 9:02:37 PM

 

Langit Jeruk

Sebuah senja di pantai adalah kala yang mempertemukan mereka.

Langitnya berwarna oranye. Gadis itu membawa sedotan dan mengisap jus jeruk dari awan-awan cumulus yang bergerumul putih, berkilauan. Cahaya matahari bersemburatan dari sela-selanya. Laki-laki itu membidikkan kameranya, menangkap gambar gadis yang tertawa lepas. Gadis yang menyedot jus jeruk dari langit.

Kemudian awan-awan bergerak menutupi matahari yang sebentar lagi tenggelam di balik batas laut dan langit lazuardi. Awan-awan nakal yang ikut tertawa-tawa bersama gadis itu, berjalan miring seperti kepiting.

Klik. Klik. Klik.

Bidik, tembak, tangkap. Bidik, tembak, tangkap.

Gadis itu begitu asyik dengan dunianya. Dengan sedotan putih di tangannya, dengan langit sewarna jus jeruk, dengan awan-awan, dengan pasir-pasir yang berkeresak di kakinya yang telanjang, dengan angin yang menderu membawa nyanyian laut ke telinganya—suara peri, suara ikan paus, suara karang-karang, suara nyiur, suara ombak, suara-suara, suara, klik. Klik. Klik.

Gadis itu menoleh.

Laki-laki itu terkesiap.

Tertangkap basah.

Eh.

Mereka berpandang-pandangan. Keduanya membeku, tapi tak ada yang membekukan adegan itu dalam kamera. Mereka mematung, saling menatap. Tangan si gadis tergantung di udara, memegang sedotan. Rok selututnya melayang-layang tertiup angin, tetapi dia tidak bergerak barang sedikit pun. Tangan si lelaki masih memegang kamera di depan dadanya. Saling berpandangan. Dunia berhenti berputar, mengabadikan sebuah pertemuan.

Ketika ibu bumi kembali berputar mengelilingi porosnya dan mengelilingi matahari, keduanya menghela napas, seperti dilontarkan keluar dari sebuah foto.

“Halo!” Si laki-laki yang menyapa terlebih dahulu.

Rambut legam gadis itu berkibar-kibar menutupi wajahnya. Sedotan di tangannya jatuh, terbang lalu hilang, dia tak sempat memungutnya, tak ada lagi sedotan untuk menyesap jus jeruk di langit.

“Ha-lo?” dia menyapa ragu.

“Maaf, memotretmu tanpa izin. Boleh, kan?”

“Eh?”

“Mau lihat?”

Gadis itu tersenyum.

Laki-laki itu bersila di pasir. Si gadis mengikutinya. Menatap titik-titik pasir di betis si lelaki.

“Eh, mataharinya tenggelam.”

Keduanya lupa pada tujuan mereka semula, melihat-lihat foto. Keduanya lupa pada tujuan utama mereka sebelum sejenak dunia berhenti berputar ketika mereka berpandangan. Si laki-laki lupa memotret matahari terbenam. Si gadis melupakan kegiatannya mengumpulkan kerang.

“Aku Rio.” Lelaki itu mengulurkan tangannya.

“Gaia.” Gadis itu tersenyum lagi.

Matahari telah separuh menghilang dari garis cakrawala, dan kamera Rio, pelak mengarah pada Gaia.

“Nama kamu bagus,” ujar Rio. “Gaia. Ibu bumi.”

“Aku tidak suka namaku, aku ingin menggantinya dengan sesuatu yang lebih sederhana.”

“Maksudmu?”

“Namaku terlalu besar dan berat. Rasanya seperti Atlas yang memanggul-manggul Bumi sepanjang waktu. Bahu dan tanganku pegal sekali. Walaupun perumpamaan itu aneh juga. Gaia kan Ibu Bumi. Dan Atlas adalah salah satu dari Titan, dan para Titan adalah anak-anakku. Anak-anak Gaia, maksudku.”

Gaia menghela napas, menatap kamera yang sedang menatapnya, lalu berkata lagi, “Aku telah membuatmu bosan, ya? Aku meracau.”

Dan Rio, yang sesungguhnya memang berpikir seperti itu, mengatakan dusta yang paling kentara. “Tidak, kok. Aku senang dengar ceritamu.”

“Mataharinya sudah menghilang. Aku harus pergi.” Gaia bangkit dan menepuk-nepuk pasir dari roknya. “Sampai nanti, Rio.”

***

Rio mencari Gaia di pantai yang sama keesokan harinya. Pada senja yang sama. Ah, apakah senja pernah sama? Apakah galur-galur awannya pernah sama? Bukankah senja seperti sidik jari yang unik? Tak pernah sama setiap harinya. Kali ini, langitnya tak berwarna jeruk. Ungu seperti anggur. Apakah gadis itu akan datang lagi kemari sambil membawa-bawa sedotan?

Tetapi hingga malam menghamparkan selimut hitam di pantai itu, Gaia tak kunjung datang. Lalu dia mulai gila, menganggap Gaia adalah benar-benar penjelmaan Ibu Bumi. Bukankah mitologi hanyalah cara orang-orang di masa lalu untuk menjelaskan sesuatu yang tak mereka mengerti? Karena pada saat itu pengetahuan belum seperti sekarang, dan satu-satunya cara untuk mengerti dari mana bumi dan segala isinya berasal adalah dari dongeng yang mula-mula diceritakan oleh entah-siapa?

Dan bukankah dia punya keyakinan sendiri tentang bagaimana bumi diciptakan? Jadi mana mungkin Gaia benar-benar menjelma dari Ibu Bumi, yang lahir dari Chaos, kemudian menjelmakan langit berbintang bernama Uranus untuk menyelimutinya.

Rio menatap layar kameranya, hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau gadis yang sedang dinantinya adalah seseorang yang nyata dan bukan berasal dari khayalannya. Dan dia di sana, kepala tengadah menatap langit oranye, dengan sedotan di mulutnya, menyesap jus jeruk dari awan.

“Orang gila,” dia berkata sendiri, tertawa menatap pemandangan di layar display kameranya. “Orang gila yang cantik.”

“Aku lebih gila. Menantinya di sini padahal dia belum tentu datang. Janjian aja enggak.”

Rio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menyusuri pantai, mencari lampu paling terang, mencari kopi.

Musik hingar bingar terdengar ketika dia mendekati tenda-tenda berlampu terang benderang itu. Jika kau masuk ke sana, kau harus berteriak-teriak demi bisa mengobrol dengan teman sebelahmu.

Sekelebat Rio melihat seseorang dengan rambut yang sama. Sama legam dan panjangnya dengan Gaia. Mungkinkah itu dia? Gadis itu menenggak minuman di tangannya sekali teguk kemudian meminta untuk diisi lagi pada lelaki di belakang bar.

Kemudian gadis itu berjalan meloncat-loncat menuju panggung. Dia menari, berputar, terbang, berdansa mengikuti musik.

Rio mengikutinya, ingin terang pada wajahnya. Apakah itu Gaia?

Musik berdentum-dentum menusuk telinga. Bau keringat bercampur dengan aroma yang terbawa angin laut. Musik mengentak-entak dan semakin banyak orang menari di panggung. Separuh mabuk. Gadis itu merunduk, kedua tangannya serupa sayap angsa yang menutup dan mengepak. Kemudian lampu menyorot wajahnya.

Gaia.

Gadis itu terjatuh di lantai.

Rio memburunya. Bahu gadis itu terguncang-guncang, seolah semua bulu di sayap-sayapnya berguguran, dan kini tinggal kerangka dan ia tak lagi bisa terbang. Rio memapahnya berdiri, ke sudut. Musik yang mengentak itu kini seperti jarum yang menusuk-nusuk kepalanya.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Menurut lo?” sergah Gaia.

“Aku antar kamu pulang, ya….”

“Emang gue punya rumah?”

“Ke mana pun, Gaia, asalkan nggak di sini. Kamu mabuk.”

“Sekarang lo liat gue kayak gini, lo masih nganggap gue Gaia Ibu Bumi yang menciptakan bumi dan seluruh isinya itu? Nggak… gue itu nol besar. Makanya gue benci nama gue. Nama gue terlalu mengandung banyak harapan. Dan pundak gue terlalu kecil untuk dibebani harapan seperti itu. Gue bukan dewa. Gue bukan cewek kuat. Gue ga bisa bersikap tegar seperti layaknya perempuan kuat ketika nyokap gue dituduh korupsi. Enggak. Gue ga sekuat itu. Gue malah lari. Gue malah ke sini. Gue malah mabuk, bukannya di rumah dan menguatkan keluarga gue.” Gaia terus meracau, meracau dan menangis.

Setelah itu keduanya terdiam. Rio hanya mendengar sisa sengal, dan udara semakin canggung.

“Jadi, kamu mau diantar ke mana?” Rio bertanya.

“Pulang.”

***

Gaia terbangun di tempat asing. Dia tergeragap, langsung bangkit, memeriksa pakaiannya. Lengkap. Di ujung ranjang, lelaki itu duduk dengan canggung.

“A-aku….” Gaia mencari kata-kata keluar dari mulutnya.

“Kamu mabuk. Karena kamu ga bilang di mana kamu tinggal, jadi aku bawa kamu ke sini. Ini hotelku. Tapi eh, jangan khawatir…. Nggak terjadi apa-apa, kok.”

“Eh, aku… maaf ya. Seharusnya kamu tak pernah melihatku dalam keadaan seperti ini. Apa saja yang kuracaukan semalam? Ah, lagi sober aja aku meracau, apalagi pas mabuk kayak kemarin, ya.”

Rio tersenyum canggung.

“Err, makasih ya.”

“Nggak apa-apa, kok.”

“Aku pergi dulu. Daah.”

Gaia melangkah keluar pintu kamar Rio. Lelaki itu menghitung langkah-langkahnnya, tujuh langkah cepat, lalu berhenti. Seperti ragu. Kemudian suara langkah berbalik, pintu yang diketuk lagi. Rio melonjak, hampir kegirangan.

“Eh,”

“Ya,” Rio menjawab agak terlalu antusias.

“Aku boleh minta uang ga, buat ongkos?”

“Eh,” Rio bergegas mencari dompetnya, mengeluarkan selembar merah seratus ribuan.

“Nanti aku ganti. Kamu masih lama di sini? Kapan-kapan aku ke sini lagi bawa uangnya. Makasih, ya.”

Hingga Rio kembali ke Jakarta, Gaia tak pernah datang lagi. Mengambil salah satu lembaran terakhir uang simpanannya.

***

Langit di atas Sudirman sore ini sewarna jus jeruk. Rio setengah berharap akan menemukan sesosok gadis cantik yang menyedot jus jeruk dari awan senja ini. Tak mungkin, tentu saja, tak ada yang cukup gila melakukan itu di pinggir jalan Jalan Sudirman yang ramai dengan lalu lalang manusia dan kendaraan. Rio berjalan tergesa, memburu bus transjakarta yang akan membawanya ke titik berikut yang ditujunya. Rapat lainnya.

Aroma keringat dan wajah-wajah lelah memburu mata dan penciumannya ketika dia masuk bus. Sebuah aroma samar menggelitik hidungnya. Seperti sesuatu yang dikenalinya. Jeruk. Kemudian mata mereka bertabrakan.

“Halo,” gadis itu menyapa.

“Hai,”

“Apa kabar, Rio?”

“B-baik. Kamu?”

Gaia tersenyum. “Aku masih utang seratus ribu sama kamu.”

“Lupakan.”

“Halte Gelora Bung Karno. Periksa barang bawaan anda dan hati-hati melangkah. Terima kasih. Gelora Bung Karno Shelter. Check your belongings and step carefully. Thank You.”

“Apakah kamu selalu tergesa-gesa, selalu pergi sebelum aku sempat menanyakan sesuatu?” tanya Rio.

Gaia menggeleng.

“Apakah kamu mau pergi sekarang, turun di halte ini?”

Gaia kembali menggeleng.

Rio menarik napas lega. “Syukurlah, karena aku punya banyak sekali pertanyaan yang ingin kuajukan padamu.”

“Kau boleh mulai menanyakan apa pun yang ingin kautanyakan.”

Keduanya tersenyum.

Kemang, 2/20/2011 11:37:57 PM

arumanis

kekasih,
rindu itu bisa jadi arumanis.
sejak gula dan pewarnanya,
berubah menjadi serabut-serabut,
jaring-jaring yang bersaling-silang,
kompleks.

kemudian,
pedagang arumanis akan memuntir-muntirnya
jadi gumpalan merah muda atau biru atau ungu.
lalu menyerahkannya kepada bocah yang
tersenyum selebar lengkung pelangi.

bisa jadi,
rindu seperti itu.
manis
berserabut
dan kompleks.

tetapi, jika udara menerpanya terlalu lama,
ia akan menjadi padat,
tak lagi seperti gumpalan awan merah muda,
mengempis,
seperti permen karet yang baru dibuang.

bisa jadi,
rindu seperti itu.
manis,
berserabut,
jaring laba-laba yang kompleks,
dan agak rapuh.

maka,
biarkan mata kita saling menatap lagi,
tangan saling menggenggam lagi,

sebelum udara membunuh arumanis kita,

jadi seonggok merah muda yang kebas.

Kemang| 11022011 | 13.30

Ide

Hari ketiga dengan mata nyalang.

Seandainya wajahku adalah gambar karikatur, sudah pasti mataku akan menonjol, dengan serat-serat merah di bagian putih mataku, bulat keluar. Aku harus tidur. Tubuhku sudah sempoyongan, dan rasanya urat-urat dalam tubuhku mringkel seperti hewan melata berlendir yang ditaburi garam. Aku lelah. Aku harus tidur segera.

Tetapi aku tak boleh memejamkan mata. Aku tidak boleh tidur, aku harus tetap terjaga. Aku harus menjaga agar tubuhku tidak tidur, karena kalau aku sampai kalah dan tertidur, aku tak tahu lagi bagaimana cara membedakan alam nyata dan alam mimpi. Aku membuatku gelisah. Gemetar dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah aku berada dalam balok es di sebuah kulkas raksasa. Seolah-olah aku disuruh berjalan di atas bara api dengan kaki telanjang. Dan aku takut.

Aku tidak tahu apa yang membuatku takut. Namun, seperti ada yang menanamkan sebuah ide di kepala. Ide itu, tiba-tiba merasuk dan aku tidak tahu dari mana awalnya. Seperti ada yang membisikkannya pelan-pelan. Seperti putri duyung bersuara merdu yang membuat para pelaut membelokkan arah tujuan mereka dan karam menabrak karang. Aku tidak tahu mau diapakan ide ini.

Aku mencoba untuk menuliskannya, setengah mati menerjemahkannya ke dalam bahasa. Aku mencoba untuk mengatakannya, tetapi ada yang mencegahku bicara. Seolah-olah ada yang langsung membekap mulutku begitu membuka mulut. Jadi aku berusaha mengingat ide ini. Aku mencegah kepalaku memikirkan hal lain, agar ide ini tidak hilang. Kuperam kutimang kuerami seperti telur. Ide cemerlang ini tidak boleh hilang. Ide ini adalah kemaslahatan umat manusia. Jika aku berhasil merumuskannya, menuliskannya, menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dimengerti manusia lain, aku yakin, aku bisa mengalahkan tuhan. Ide ini surgawi, andai aku bisa menuliskannya.

Jadi, aku mencegah diriku sendiri untuk tidur.

Aku tidak boleh tidur. Saat tidur, aku tak bisa mengendalikan pikiranku, alam bawah sadarku yang akan mengambil alih. Jika itu terjadi, ia akan mencuri ide dari kepalaku dan mengakuinya sebagai idenya sendiri. Siapa yang tahu siapa yang berkunjung ke dalam pikiranku? Siapa yang tahu itu?

Maka aku tetap terjaga. Aku mencegah mataku terpejam dengan bergalon-galon kopi. Aku terus terjaga. Hingga hari ini, hari ketiga. Mataku lengket, seperti ada perekat kuat yang diolesi di setiap kelopak, takkan mengering kecuali aku mengatupkannya. Seandainya aku berkedip, mataku terpejam selamanya.

Aku tidak boleh tidur.

Tetapi, semakin lama aku berusaha mengingat ide ini, semakin terkikis kebulatannya. Seperti rembulan yang perlahan dilahap naga. Kau tahu kan? Gerhana bulan itu bukan karena bumi menutupi matahari yang dari mana cahaya bulan berasal, melainkan karena bulan digigit naga, lalu dengan penuh kenikmatan, dijilatinya bulan seperti eskrim, terus hingga seluruhnya masuk kerongkongannya. Ketika manisnya habis, naga akan memuntahkan kembali bulan itu dan malam kembali terang. Bukankah bulan seperti permen karet?

Eh, barusan aku ngomong apa?

Sepertinya ada alasan kenapa aku belum tidur hingga saat ini, tetapi aku lupa. Apa tadi? Mengapa mataku rasanya perih sekali. Sepertinya ada sesuatu yang harus kuungkapkan. Ada yang mendesak dari dalam kepala. Sesuatu yang tajam. Sebuah ide. Ide besar. Ide yang bisa membuat umat manusia bahagia selamanya. Mungkin kalian semua menganggapnya ide utopis, tetapi kita tidak tahu bukan sebelum mencobanya?

Dan sekarang kepalaku menonjol ke sebelah kiri, sepertinya di situlah kusimpan ide besar itu. Tajam dan besar, seperti kepala boneka ladang dalam cerita Penyihir Hebat dari Oz. Kepala berisi otak dedak dan peniti dan jarum yang diberi oleh Penyihir palsu dari Oz. Tajam dan besar. Ide itu, ide agar umat manusia saling menyayangi satu sama lain. Agar lebih banyak orang-orang baik daripada orang jahat. Agar tak ada penjahat di muka bumi. Aku menyimpan ide itu. Aku mencoba menuliskannya. Aku mencoba merumuskannya. Tetapi ide itu seperti telur yang belum menetas, aku tidak tahu bagaimana rupanya.

Hari ketiga dengan mata nyalang.

Dan kepalaku menyimpan sebuah ide yang disuntikkan oleh sosok tak kasat mata, langsung ke pusat kepalaku. Aku ingin tidur, tetapi aku harus menghangatkan ide itu agar tak hilang dari kepalaku.

Tetapi kepalaku semakin berat, dan tubuhku limbung. Aku jatuh, dengan asam lambung yang menyodok naik hingga ke tenggorokan (Aku berlebihan, memang).

***

Kalian pasti mengira ketika kukatakan aku jatuh, aku jatuh tertidur. Kalian salah. Aku hanya jatuh. Jatuh berbaring. Aku tidak tidur. Sama sekali tidak tidur. Aku memiliki ide besar ini. Ide untuk mengubah dunia. Dan aku, HANYA AKU, yang dipilih tuhan untuk menggenggam ide ini.

Ide ini begitu baru hingga aku tidak memiliki kata yang tepat untuk mengungkapkannya. Tak seorang pun yang pernah memikirkan ini sebelumnya. Aku yakin sekali akan hal itu, karena aku yakin, ketika membisikkannya, tuhan pun berkata kalau akulah yang terpilih, dia sendiri yang mengatakan kalau aku bisa mengembangkan ide ini, aku bisa mengalahkannya. Ide ini hanya bisa dikatakan dengan bahasa tuhan. Hanya orang-orang yang mengerti bahasa itu yang bisa mengerti apa yang menghuni kepalaku.

Aku tidak tidur, sungguh.

Ayo, tes aku. Aku pasti bisa menjawab pertanyaanmu dengan telak. Karena aku tidak tidur. Ayo, siapa yang mau bertanya? Aku tidak tidur. Aku mendengar kalian semua bicara, dan telah kuselamatkan ide besar itu dalam sebuah selubung, dan kini menonjol di otak kiriku. Pada saatnya, ketika aku berhasil menemukan kata yang kubutuhkan, akan kusebarkan pada dunia. Tetapi, sebelum waktu itu tiba, aku tidak boleh tidur. Kalian dengar, kan, kata-kataku? Mengerti apa yang kuucapkan? Mungkin aku harus mulai menyusun sesuatu yang disebut bahasa tuhan ini. Aku benci keterbatasan tubuhku. Seharusnya aku bisa terus terjaga. Aku benci darah dan daging ini. Aku benci merasa lelah.

Tetapi aku hebat, aku masih terjaga, dengan urat-urat merah menari-nari di bagian putih mataku. Aku hebat. Aku dipilih tuhan untuk menyangga ide ini di kepalaku. Ide untuk menyelamatkan umat manusia. Lihat saja, kalian semua akan memujaku. Aku akan membuat negeri kalian seperti Kota Zamrud. Indah permai dengan segala kesempurnaannya. Tapi tidak, aku tidak akan membuatnya berwarna hijau. Aku akan membuat segalanya ideal teratur sebagaimana mestinya. Lihat saja.

Aku akan…

Tidur.

Tidak, aku tetap terjaga. Aku masih bangun. Tak ada yang bisa mengalahkanku, tidak juga tubuhku.

***

Bau tidak mengenakkan menguar dari rumah sebelah, begitu para tetangga berbisik-bisik. Sudah tiga hari rumah itu terkunci, seperti tak ada aktivitas di dalamnya. Lampu-lampu mati, bahkan lampu beranda. Tak ada suara apa pun dari dalamnya. Tidak suara manusia, tidak suara televisi, tidak pula dengung mesin, tidak percik minyak. Tak ada aroma apa pun selama sampai dua hari kemarin, tak ada aroma bumbu-bumbu, tak ada wangi nasi ketika ditanak. Pokoknya tak ada aktivitas apa pun.

Penghuni rumah itu memang jarang berada di rumah. Seorang gadis yang bekerja di Jakarta. Salah satu tetangga bergunjing kalau gadis itu seringkali pulang pagi, suara derum motor melatari kepulangannya. Dia tak punya kendaraan, jadi pasti suara itu dari siapa pun yang mengantarnya. Mungkin dia menjajakan tubuhnya pada pengantar itu. Tetapi, hari gini banyak kok perempuan baik-baik pulang malam. Jadi tetangga yang lain tak percaya gunjingan itu.

Namun, hari ini, ada bau tak sedap menguar dari dalam rumah itu. Memang sih, di lingkungan ini sering sekali ditemukan tikus besar. Mungkin ada tikus mati di dalam sana. Tetapi mungkinkah binatang sekecil itu menimbulkan bau segeger ini?

Bisik-bisik itu masih terus berlangsung hingga sore hari, karena bau itu semakin menyengat, dan semakin jelas kalau bau busuk itu disebabkan oleh makhluk hidup yang mati. Dengan bau seperti ini, kemungkinan adalah bau organ tubuh manusia yang telah membusuk. Mungkin pemilik tubuh itu habis menyantap bangkai hingga bisa sebau itu.

Para tetangga memutuskan untuk mendobrak rumah itu. Bau itu sangat mengganggu hingga mereka tak dapat konsentrasi melakukan apa pun. Ayam goreng mentega yang sedang dimasak tetangga sebelah kiri rumah bercampur dengan aroma itu. Bayi-bayi tak mau makan karena makanannya bercampur aroma itu. Bau itu mengganggu. Harus disingkirkan.

Rumah itu berantakan. Buku-buku berserakan di setiap sudut. Di atas meja, menumpuk di kursi jati model klasik buatan tahun 1934, satu di atas microwave, satu di atas televisi, dan di sebelah televisi dan tentu saja tak terhitung juga di empat rak buku yang tersebar di setiap kamar – kelak ketika mereka masuk kamar-kamar mereka akan mengetahuinya. Selain buku, juga lembaran-lembaran kertas, kabel-kabel berseliweran membuat salah satu tetangga tersandung dan terjengkang. Gelas-gelas kotor bekas kopi, tak ada ampasnya. Piring-piring kotor, beberapa diantaranya sudah berjamur. Laptop terbuka di salah satu meja. Salah satu tetangga melirik kanan kiri, melipatnya, diam-diam membawanya pergi. Untunglah laptop itu ukurannya kecil.

Baunya tak keruan, sungguh. Semakin ke dalam, bau itu semakin kuat.

Sumber bau ditemukan tetangga di sebuah kamar. Tubuh itu kaku, duduk tegang, dengan sesuatu menyembul di kepala kirinya, berasap. Tetangga menatapnya terkesiap. Wajahnya tampak mengerikan, seperti tengah menahan beban berat, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak dapat. Matanya terpejam, tetapi entah kenapa, seolah bola mata menonjol dari mata terpejam itu. Bukankah seharusnya mata yang terpejam tidak menonjol seperti itu? Dan bau busuk menguar dari tubuh itu. Dari baunya sepertinya sudah meninggal berhari-hari.

Lalu mata itu membelalak.

Para tetangga serentak mundur.

Bibirnya bergerak membentuk senyum.

Beberapa tetangga lari terbirit-birit keluar rumah. Hanya satu bertahan, orang yang membawa alat untuk mendobrak pintu.

“Halo, aku tidak tidur, kan?”

Orang yang bertahan itu mengangkat senjatanya, sebuah linggis. Tetapi tubuh itu masih menatapnya ramah dengan mata yang membelalak keluar itu, dengan garis-garis merah di bagian putihnya, hampir keluar dari kelopaknya.

“Duduk di sini, temani aku, aku tidak boleh tidur,” katanya lagi. Tetangga yang bertahan mulai mengkerut dan gemetaran, dia mengeratkan pegangannya pada linggis.

“Aku sedang menjaga sebuah ide,” tubuh itu kembali bersuara. “tuhan yang membisikkannya langsung padaku.”

Setiap kali dia berbicara, bau busuk menguar dari mulutnya.

Tetangga yang tertinggal pipis di celana. Sementara suara sirine menguing-nguing di kejauhan.

“Sini kukatakan padamu, mendekat sini,”

Jari-jarinya yang kurus terangkat dan melambai, menyuruh lelaki yang tinggal sendirian itu mendekat. Takut-takut, lelaki itu beringsut mendekat.

“Apakah kau tahu bahasa tuhan? Aku cuma bisa menceritakannya dengan satu bahasa itu saja.”

Lelaki itu menggeleng. Dengan ngeri dia memperhatikan bagian menonjol di kepala kiri gadis itu. Seperti ada jarum dan peniti yang mencuat dari atasnya. Bau busuk semakin kentara dari bagian yang menggembung itu.

“Tak apa-apa, aku akan tetap mengatakannya padamu. Ide ini sangat besar hingga otakku mengepuh begini. Aku yakin, ketika aku berhasil menyebarkan ide ini pada seluruh umat manusia, kita semua akan hidup bahagia dan tenteram. Semua orang mendapatkan apa yang diinginkannya. Kehidupan dunia damai. Tak ada peperangan. Aku yakin, karena tuhan yang mengatakannya langsung padaku. Dan kau harus bahagia, karena kau adalah orang pertama yang kuberitahu.

“Kukatakan padamu apa yang dikatakan tuhan padaku. Bumi akan menjadi surga. Begini caranya. Dengarkan kata-kataku dengan saksama.

“ ‘-(*  42._*  :*3_4  4*”-‘/  .2’/*4-:- ”

“Luar biasa, bukan? Aku baru mengatakan satu kalimat dan rasanya sudah sangat luar biasa.”

Tetangga yang membawa linggis itu mau tak mau mendengarkan, tapi tak satu pun dari semua perkataan gadis itu yang dia mengerti. Dia masih gemetar menatap gundukan lebih di kepala sebelah kirinya. Menonjol, dengan peniti dan jarum-jarum yang mencuat.

“Kenapa kau memperhatikan kepalaku?” dia bertanya sambil memegang benjolan kepala kirinya. “Jarum-jarum dan peniti ini adalah tanda kalau pikiranku tajam, tajam besar dan cerdas.” Kemudian dia kembali berbicara dengan bahasa yang disebutnya bahasa tuhan.

Tetangga yang tertinggal sendiri mengangkat linggisnya tinggi-tinggi, dilatari suara sirine yang mendekat. Dihunjamkannya benda itu ke kepala gadis di depannya, kepala sebelah kiri tepatnya. Isi kepalanya muncrat.

***

Aku membuka mata.

Aku tidak tidur. Aku masih terjaga, di hari keempat. Mengemban ide besar tentang perdamaian dunia. Mencoba menuliskannya. Mencoba mengatakannya. Mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa.

Aku masih bangun.

Hari keempat dengan mata nyalang.

Depok, 7/31/2010 11:02:22 PM

(salah satu sesi menulis writing session)