Cerpen

Ide

Hari ketiga dengan mata nyalang.

Seandainya wajahku adalah gambar karikatur, sudah pasti mataku akan menonjol, dengan serat-serat merah di bagian putih mataku, bulat keluar. Aku harus tidur. Tubuhku sudah sempoyongan, dan rasanya urat-urat dalam tubuhku mringkel seperti hewan melata berlendir yang ditaburi garam. Aku lelah. Aku harus tidur segera.

Tetapi aku tak boleh memejamkan mata. Aku tidak boleh tidur, aku harus tetap terjaga. Aku harus menjaga agar tubuhku tidak tidur, karena kalau aku sampai kalah dan tertidur, aku tak tahu lagi bagaimana cara membedakan alam nyata dan alam mimpi. Aku membuatku gelisah. Gemetar dari ujung rambut hingga ujung kaki, seolah-olah aku berada dalam balok es di sebuah kulkas raksasa. Seolah-olah aku disuruh berjalan di atas bara api dengan kaki telanjang. Dan aku takut.

Aku tidak tahu apa yang membuatku takut. Namun, seperti ada yang menanamkan sebuah ide di kepala. Ide itu, tiba-tiba merasuk dan aku tidak tahu dari mana awalnya. Seperti ada yang membisikkannya pelan-pelan. Seperti putri duyung bersuara merdu yang membuat para pelaut membelokkan arah tujuan mereka dan karam menabrak karang. Aku tidak tahu mau diapakan ide ini.

Aku mencoba untuk menuliskannya, setengah mati menerjemahkannya ke dalam bahasa. Aku mencoba untuk mengatakannya, tetapi ada yang mencegahku bicara. Seolah-olah ada yang langsung membekap mulutku begitu membuka mulut. Jadi aku berusaha mengingat ide ini. Aku mencegah kepalaku memikirkan hal lain, agar ide ini tidak hilang. Kuperam kutimang kuerami seperti telur. Ide cemerlang ini tidak boleh hilang. Ide ini adalah kemaslahatan umat manusia. Jika aku berhasil merumuskannya, menuliskannya, menerjemahkannya ke dalam bahasa yang dimengerti manusia lain, aku yakin, aku bisa mengalahkan tuhan. Ide ini surgawi, andai aku bisa menuliskannya.

Jadi, aku mencegah diriku sendiri untuk tidur.

Aku tidak boleh tidur. Saat tidur, aku tak bisa mengendalikan pikiranku, alam bawah sadarku yang akan mengambil alih. Jika itu terjadi, ia akan mencuri ide dari kepalaku dan mengakuinya sebagai idenya sendiri. Siapa yang tahu siapa yang berkunjung ke dalam pikiranku? Siapa yang tahu itu?

Maka aku tetap terjaga. Aku mencegah mataku terpejam dengan bergalon-galon kopi. Aku terus terjaga. Hingga hari ini, hari ketiga. Mataku lengket, seperti ada perekat kuat yang diolesi di setiap kelopak, takkan mengering kecuali aku mengatupkannya. Seandainya aku berkedip, mataku terpejam selamanya.

Aku tidak boleh tidur.

Tetapi, semakin lama aku berusaha mengingat ide ini, semakin terkikis kebulatannya. Seperti rembulan yang perlahan dilahap naga. Kau tahu kan? Gerhana bulan itu bukan karena bumi menutupi matahari yang dari mana cahaya bulan berasal, melainkan karena bulan digigit naga, lalu dengan penuh kenikmatan, dijilatinya bulan seperti eskrim, terus hingga seluruhnya masuk kerongkongannya. Ketika manisnya habis, naga akan memuntahkan kembali bulan itu dan malam kembali terang. Bukankah bulan seperti permen karet?

Eh, barusan aku ngomong apa?

Sepertinya ada alasan kenapa aku belum tidur hingga saat ini, tetapi aku lupa. Apa tadi? Mengapa mataku rasanya perih sekali. Sepertinya ada sesuatu yang harus kuungkapkan. Ada yang mendesak dari dalam kepala. Sesuatu yang tajam. Sebuah ide. Ide besar. Ide yang bisa membuat umat manusia bahagia selamanya. Mungkin kalian semua menganggapnya ide utopis, tetapi kita tidak tahu bukan sebelum mencobanya?

Dan sekarang kepalaku menonjol ke sebelah kiri, sepertinya di situlah kusimpan ide besar itu. Tajam dan besar, seperti kepala boneka ladang dalam cerita Penyihir Hebat dari Oz. Kepala berisi otak dedak dan peniti dan jarum yang diberi oleh Penyihir palsu dari Oz. Tajam dan besar. Ide itu, ide agar umat manusia saling menyayangi satu sama lain. Agar lebih banyak orang-orang baik daripada orang jahat. Agar tak ada penjahat di muka bumi. Aku menyimpan ide itu. Aku mencoba menuliskannya. Aku mencoba merumuskannya. Tetapi ide itu seperti telur yang belum menetas, aku tidak tahu bagaimana rupanya.

Hari ketiga dengan mata nyalang.

Dan kepalaku menyimpan sebuah ide yang disuntikkan oleh sosok tak kasat mata, langsung ke pusat kepalaku. Aku ingin tidur, tetapi aku harus menghangatkan ide itu agar tak hilang dari kepalaku.

Tetapi kepalaku semakin berat, dan tubuhku limbung. Aku jatuh, dengan asam lambung yang menyodok naik hingga ke tenggorokan (Aku berlebihan, memang).

***

Kalian pasti mengira ketika kukatakan aku jatuh, aku jatuh tertidur. Kalian salah. Aku hanya jatuh. Jatuh berbaring. Aku tidak tidur. Sama sekali tidak tidur. Aku memiliki ide besar ini. Ide untuk mengubah dunia. Dan aku, HANYA AKU, yang dipilih tuhan untuk menggenggam ide ini.

Ide ini begitu baru hingga aku tidak memiliki kata yang tepat untuk mengungkapkannya. Tak seorang pun yang pernah memikirkan ini sebelumnya. Aku yakin sekali akan hal itu, karena aku yakin, ketika membisikkannya, tuhan pun berkata kalau akulah yang terpilih, dia sendiri yang mengatakan kalau aku bisa mengembangkan ide ini, aku bisa mengalahkannya. Ide ini hanya bisa dikatakan dengan bahasa tuhan. Hanya orang-orang yang mengerti bahasa itu yang bisa mengerti apa yang menghuni kepalaku.

Aku tidak tidur, sungguh.

Ayo, tes aku. Aku pasti bisa menjawab pertanyaanmu dengan telak. Karena aku tidak tidur. Ayo, siapa yang mau bertanya? Aku tidak tidur. Aku mendengar kalian semua bicara, dan telah kuselamatkan ide besar itu dalam sebuah selubung, dan kini menonjol di otak kiriku. Pada saatnya, ketika aku berhasil menemukan kata yang kubutuhkan, akan kusebarkan pada dunia. Tetapi, sebelum waktu itu tiba, aku tidak boleh tidur. Kalian dengar, kan, kata-kataku? Mengerti apa yang kuucapkan? Mungkin aku harus mulai menyusun sesuatu yang disebut bahasa tuhan ini. Aku benci keterbatasan tubuhku. Seharusnya aku bisa terus terjaga. Aku benci darah dan daging ini. Aku benci merasa lelah.

Tetapi aku hebat, aku masih terjaga, dengan urat-urat merah menari-nari di bagian putih mataku. Aku hebat. Aku dipilih tuhan untuk menyangga ide ini di kepalaku. Ide untuk menyelamatkan umat manusia. Lihat saja, kalian semua akan memujaku. Aku akan membuat negeri kalian seperti Kota Zamrud. Indah permai dengan segala kesempurnaannya. Tapi tidak, aku tidak akan membuatnya berwarna hijau. Aku akan membuat segalanya ideal teratur sebagaimana mestinya. Lihat saja.

Aku akan…

Tidur.

Tidak, aku tetap terjaga. Aku masih bangun. Tak ada yang bisa mengalahkanku, tidak juga tubuhku.

***

Bau tidak mengenakkan menguar dari rumah sebelah, begitu para tetangga berbisik-bisik. Sudah tiga hari rumah itu terkunci, seperti tak ada aktivitas di dalamnya. Lampu-lampu mati, bahkan lampu beranda. Tak ada suara apa pun dari dalamnya. Tidak suara manusia, tidak suara televisi, tidak pula dengung mesin, tidak percik minyak. Tak ada aroma apa pun selama sampai dua hari kemarin, tak ada aroma bumbu-bumbu, tak ada wangi nasi ketika ditanak. Pokoknya tak ada aktivitas apa pun.

Penghuni rumah itu memang jarang berada di rumah. Seorang gadis yang bekerja di Jakarta. Salah satu tetangga bergunjing kalau gadis itu seringkali pulang pagi, suara derum motor melatari kepulangannya. Dia tak punya kendaraan, jadi pasti suara itu dari siapa pun yang mengantarnya. Mungkin dia menjajakan tubuhnya pada pengantar itu. Tetapi, hari gini banyak kok perempuan baik-baik pulang malam. Jadi tetangga yang lain tak percaya gunjingan itu.

Namun, hari ini, ada bau tak sedap menguar dari dalam rumah itu. Memang sih, di lingkungan ini sering sekali ditemukan tikus besar. Mungkin ada tikus mati di dalam sana. Tetapi mungkinkah binatang sekecil itu menimbulkan bau segeger ini?

Bisik-bisik itu masih terus berlangsung hingga sore hari, karena bau itu semakin menyengat, dan semakin jelas kalau bau busuk itu disebabkan oleh makhluk hidup yang mati. Dengan bau seperti ini, kemungkinan adalah bau organ tubuh manusia yang telah membusuk. Mungkin pemilik tubuh itu habis menyantap bangkai hingga bisa sebau itu.

Para tetangga memutuskan untuk mendobrak rumah itu. Bau itu sangat mengganggu hingga mereka tak dapat konsentrasi melakukan apa pun. Ayam goreng mentega yang sedang dimasak tetangga sebelah kiri rumah bercampur dengan aroma itu. Bayi-bayi tak mau makan karena makanannya bercampur aroma itu. Bau itu mengganggu. Harus disingkirkan.

Rumah itu berantakan. Buku-buku berserakan di setiap sudut. Di atas meja, menumpuk di kursi jati model klasik buatan tahun 1934, satu di atas microwave, satu di atas televisi, dan di sebelah televisi dan tentu saja tak terhitung juga di empat rak buku yang tersebar di setiap kamar – kelak ketika mereka masuk kamar-kamar mereka akan mengetahuinya. Selain buku, juga lembaran-lembaran kertas, kabel-kabel berseliweran membuat salah satu tetangga tersandung dan terjengkang. Gelas-gelas kotor bekas kopi, tak ada ampasnya. Piring-piring kotor, beberapa diantaranya sudah berjamur. Laptop terbuka di salah satu meja. Salah satu tetangga melirik kanan kiri, melipatnya, diam-diam membawanya pergi. Untunglah laptop itu ukurannya kecil.

Baunya tak keruan, sungguh. Semakin ke dalam, bau itu semakin kuat.

Sumber bau ditemukan tetangga di sebuah kamar. Tubuh itu kaku, duduk tegang, dengan sesuatu menyembul di kepala kirinya, berasap. Tetangga menatapnya terkesiap. Wajahnya tampak mengerikan, seperti tengah menahan beban berat, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak dapat. Matanya terpejam, tetapi entah kenapa, seolah bola mata menonjol dari mata terpejam itu. Bukankah seharusnya mata yang terpejam tidak menonjol seperti itu? Dan bau busuk menguar dari tubuh itu. Dari baunya sepertinya sudah meninggal berhari-hari.

Lalu mata itu membelalak.

Para tetangga serentak mundur.

Bibirnya bergerak membentuk senyum.

Beberapa tetangga lari terbirit-birit keluar rumah. Hanya satu bertahan, orang yang membawa alat untuk mendobrak pintu.

“Halo, aku tidak tidur, kan?”

Orang yang bertahan itu mengangkat senjatanya, sebuah linggis. Tetapi tubuh itu masih menatapnya ramah dengan mata yang membelalak keluar itu, dengan garis-garis merah di bagian putihnya, hampir keluar dari kelopaknya.

“Duduk di sini, temani aku, aku tidak boleh tidur,” katanya lagi. Tetangga yang bertahan mulai mengkerut dan gemetaran, dia mengeratkan pegangannya pada linggis.

“Aku sedang menjaga sebuah ide,” tubuh itu kembali bersuara. “tuhan yang membisikkannya langsung padaku.”

Setiap kali dia berbicara, bau busuk menguar dari mulutnya.

Tetangga yang tertinggal pipis di celana. Sementara suara sirine menguing-nguing di kejauhan.

“Sini kukatakan padamu, mendekat sini,”

Jari-jarinya yang kurus terangkat dan melambai, menyuruh lelaki yang tinggal sendirian itu mendekat. Takut-takut, lelaki itu beringsut mendekat.

“Apakah kau tahu bahasa tuhan? Aku cuma bisa menceritakannya dengan satu bahasa itu saja.”

Lelaki itu menggeleng. Dengan ngeri dia memperhatikan bagian menonjol di kepala kiri gadis itu. Seperti ada jarum dan peniti yang mencuat dari atasnya. Bau busuk semakin kentara dari bagian yang menggembung itu.

“Tak apa-apa, aku akan tetap mengatakannya padamu. Ide ini sangat besar hingga otakku mengepuh begini. Aku yakin, ketika aku berhasil menyebarkan ide ini pada seluruh umat manusia, kita semua akan hidup bahagia dan tenteram. Semua orang mendapatkan apa yang diinginkannya. Kehidupan dunia damai. Tak ada peperangan. Aku yakin, karena tuhan yang mengatakannya langsung padaku. Dan kau harus bahagia, karena kau adalah orang pertama yang kuberitahu.

“Kukatakan padamu apa yang dikatakan tuhan padaku. Bumi akan menjadi surga. Begini caranya. Dengarkan kata-kataku dengan saksama.

“ ‘-(*  42._*  :*3_4  4*”-‘/  .2’/*4-:- ”

“Luar biasa, bukan? Aku baru mengatakan satu kalimat dan rasanya sudah sangat luar biasa.”

Tetangga yang membawa linggis itu mau tak mau mendengarkan, tapi tak satu pun dari semua perkataan gadis itu yang dia mengerti. Dia masih gemetar menatap gundukan lebih di kepala sebelah kirinya. Menonjol, dengan peniti dan jarum-jarum yang mencuat.

“Kenapa kau memperhatikan kepalaku?” dia bertanya sambil memegang benjolan kepala kirinya. “Jarum-jarum dan peniti ini adalah tanda kalau pikiranku tajam, tajam besar dan cerdas.” Kemudian dia kembali berbicara dengan bahasa yang disebutnya bahasa tuhan.

Tetangga yang tertinggal sendiri mengangkat linggisnya tinggi-tinggi, dilatari suara sirine yang mendekat. Dihunjamkannya benda itu ke kepala gadis di depannya, kepala sebelah kiri tepatnya. Isi kepalanya muncrat.

***

Aku membuka mata.

Aku tidak tidur. Aku masih terjaga, di hari keempat. Mengemban ide besar tentang perdamaian dunia. Mencoba menuliskannya. Mencoba mengatakannya. Mencoba menerjemahkannya ke dalam bahasa.

Aku masih bangun.

Hari keempat dengan mata nyalang.

Depok, 7/31/2010 11:02:22 PM

(salah satu sesi menulis writing session)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s