Langit Jeruk

Sebuah senja di pantai adalah kala yang mempertemukan mereka.

Langitnya berwarna oranye. Gadis itu membawa sedotan dan mengisap jus jeruk dari awan-awan cumulus yang bergerumul putih, berkilauan. Cahaya matahari bersemburatan dari sela-selanya. Laki-laki itu membidikkan kameranya, menangkap gambar gadis yang tertawa lepas. Gadis yang menyedot jus jeruk dari langit.

Kemudian awan-awan bergerak menutupi matahari yang sebentar lagi tenggelam di balik batas laut dan langit lazuardi. Awan-awan nakal yang ikut tertawa-tawa bersama gadis itu, berjalan miring seperti kepiting.

Klik. Klik. Klik.

Bidik, tembak, tangkap. Bidik, tembak, tangkap.

Gadis itu begitu asyik dengan dunianya. Dengan sedotan putih di tangannya, dengan langit sewarna jus jeruk, dengan awan-awan, dengan pasir-pasir yang berkeresak di kakinya yang telanjang, dengan angin yang menderu membawa nyanyian laut ke telinganya—suara peri, suara ikan paus, suara karang-karang, suara nyiur, suara ombak, suara-suara, suara, klik. Klik. Klik.

Gadis itu menoleh.

Laki-laki itu terkesiap.

Tertangkap basah.

Eh.

Mereka berpandang-pandangan. Keduanya membeku, tapi tak ada yang membekukan adegan itu dalam kamera. Mereka mematung, saling menatap. Tangan si gadis tergantung di udara, memegang sedotan. Rok selututnya melayang-layang tertiup angin, tetapi dia tidak bergerak barang sedikit pun. Tangan si lelaki masih memegang kamera di depan dadanya. Saling berpandangan. Dunia berhenti berputar, mengabadikan sebuah pertemuan.

Ketika ibu bumi kembali berputar mengelilingi porosnya dan mengelilingi matahari, keduanya menghela napas, seperti dilontarkan keluar dari sebuah foto.

“Halo!” Si laki-laki yang menyapa terlebih dahulu.

Rambut legam gadis itu berkibar-kibar menutupi wajahnya. Sedotan di tangannya jatuh, terbang lalu hilang, dia tak sempat memungutnya, tak ada lagi sedotan untuk menyesap jus jeruk di langit.

“Ha-lo?” dia menyapa ragu.

“Maaf, memotretmu tanpa izin. Boleh, kan?”

“Eh?”

“Mau lihat?”

Gadis itu tersenyum.

Laki-laki itu bersila di pasir. Si gadis mengikutinya. Menatap titik-titik pasir di betis si lelaki.

“Eh, mataharinya tenggelam.”

Keduanya lupa pada tujuan mereka semula, melihat-lihat foto. Keduanya lupa pada tujuan utama mereka sebelum sejenak dunia berhenti berputar ketika mereka berpandangan. Si laki-laki lupa memotret matahari terbenam. Si gadis melupakan kegiatannya mengumpulkan kerang.

“Aku Rio.” Lelaki itu mengulurkan tangannya.

“Gaia.” Gadis itu tersenyum lagi.

Matahari telah separuh menghilang dari garis cakrawala, dan kamera Rio, pelak mengarah pada Gaia.

“Nama kamu bagus,” ujar Rio. “Gaia. Ibu bumi.”

“Aku tidak suka namaku, aku ingin menggantinya dengan sesuatu yang lebih sederhana.”

“Maksudmu?”

“Namaku terlalu besar dan berat. Rasanya seperti Atlas yang memanggul-manggul Bumi sepanjang waktu. Bahu dan tanganku pegal sekali. Walaupun perumpamaan itu aneh juga. Gaia kan Ibu Bumi. Dan Atlas adalah salah satu dari Titan, dan para Titan adalah anak-anakku. Anak-anak Gaia, maksudku.”

Gaia menghela napas, menatap kamera yang sedang menatapnya, lalu berkata lagi, “Aku telah membuatmu bosan, ya? Aku meracau.”

Dan Rio, yang sesungguhnya memang berpikir seperti itu, mengatakan dusta yang paling kentara. “Tidak, kok. Aku senang dengar ceritamu.”

“Mataharinya sudah menghilang. Aku harus pergi.” Gaia bangkit dan menepuk-nepuk pasir dari roknya. “Sampai nanti, Rio.”

***

Rio mencari Gaia di pantai yang sama keesokan harinya. Pada senja yang sama. Ah, apakah senja pernah sama? Apakah galur-galur awannya pernah sama? Bukankah senja seperti sidik jari yang unik? Tak pernah sama setiap harinya. Kali ini, langitnya tak berwarna jeruk. Ungu seperti anggur. Apakah gadis itu akan datang lagi kemari sambil membawa-bawa sedotan?

Tetapi hingga malam menghamparkan selimut hitam di pantai itu, Gaia tak kunjung datang. Lalu dia mulai gila, menganggap Gaia adalah benar-benar penjelmaan Ibu Bumi. Bukankah mitologi hanyalah cara orang-orang di masa lalu untuk menjelaskan sesuatu yang tak mereka mengerti? Karena pada saat itu pengetahuan belum seperti sekarang, dan satu-satunya cara untuk mengerti dari mana bumi dan segala isinya berasal adalah dari dongeng yang mula-mula diceritakan oleh entah-siapa?

Dan bukankah dia punya keyakinan sendiri tentang bagaimana bumi diciptakan? Jadi mana mungkin Gaia benar-benar menjelma dari Ibu Bumi, yang lahir dari Chaos, kemudian menjelmakan langit berbintang bernama Uranus untuk menyelimutinya.

Rio menatap layar kameranya, hanya untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau gadis yang sedang dinantinya adalah seseorang yang nyata dan bukan berasal dari khayalannya. Dan dia di sana, kepala tengadah menatap langit oranye, dengan sedotan di mulutnya, menyesap jus jeruk dari awan.

“Orang gila,” dia berkata sendiri, tertawa menatap pemandangan di layar display kameranya. “Orang gila yang cantik.”

“Aku lebih gila. Menantinya di sini padahal dia belum tentu datang. Janjian aja enggak.”

Rio beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menyusuri pantai, mencari lampu paling terang, mencari kopi.

Musik hingar bingar terdengar ketika dia mendekati tenda-tenda berlampu terang benderang itu. Jika kau masuk ke sana, kau harus berteriak-teriak demi bisa mengobrol dengan teman sebelahmu.

Sekelebat Rio melihat seseorang dengan rambut yang sama. Sama legam dan panjangnya dengan Gaia. Mungkinkah itu dia? Gadis itu menenggak minuman di tangannya sekali teguk kemudian meminta untuk diisi lagi pada lelaki di belakang bar.

Kemudian gadis itu berjalan meloncat-loncat menuju panggung. Dia menari, berputar, terbang, berdansa mengikuti musik.

Rio mengikutinya, ingin terang pada wajahnya. Apakah itu Gaia?

Musik berdentum-dentum menusuk telinga. Bau keringat bercampur dengan aroma yang terbawa angin laut. Musik mengentak-entak dan semakin banyak orang menari di panggung. Separuh mabuk. Gadis itu merunduk, kedua tangannya serupa sayap angsa yang menutup dan mengepak. Kemudian lampu menyorot wajahnya.

Gaia.

Gadis itu terjatuh di lantai.

Rio memburunya. Bahu gadis itu terguncang-guncang, seolah semua bulu di sayap-sayapnya berguguran, dan kini tinggal kerangka dan ia tak lagi bisa terbang. Rio memapahnya berdiri, ke sudut. Musik yang mengentak itu kini seperti jarum yang menusuk-nusuk kepalanya.

“Kamu nggak apa-apa?”

“Menurut lo?” sergah Gaia.

“Aku antar kamu pulang, ya….”

“Emang gue punya rumah?”

“Ke mana pun, Gaia, asalkan nggak di sini. Kamu mabuk.”

“Sekarang lo liat gue kayak gini, lo masih nganggap gue Gaia Ibu Bumi yang menciptakan bumi dan seluruh isinya itu? Nggak… gue itu nol besar. Makanya gue benci nama gue. Nama gue terlalu mengandung banyak harapan. Dan pundak gue terlalu kecil untuk dibebani harapan seperti itu. Gue bukan dewa. Gue bukan cewek kuat. Gue ga bisa bersikap tegar seperti layaknya perempuan kuat ketika nyokap gue dituduh korupsi. Enggak. Gue ga sekuat itu. Gue malah lari. Gue malah ke sini. Gue malah mabuk, bukannya di rumah dan menguatkan keluarga gue.” Gaia terus meracau, meracau dan menangis.

Setelah itu keduanya terdiam. Rio hanya mendengar sisa sengal, dan udara semakin canggung.

“Jadi, kamu mau diantar ke mana?” Rio bertanya.

“Pulang.”

***

Gaia terbangun di tempat asing. Dia tergeragap, langsung bangkit, memeriksa pakaiannya. Lengkap. Di ujung ranjang, lelaki itu duduk dengan canggung.

“A-aku….” Gaia mencari kata-kata keluar dari mulutnya.

“Kamu mabuk. Karena kamu ga bilang di mana kamu tinggal, jadi aku bawa kamu ke sini. Ini hotelku. Tapi eh, jangan khawatir…. Nggak terjadi apa-apa, kok.”

“Eh, aku… maaf ya. Seharusnya kamu tak pernah melihatku dalam keadaan seperti ini. Apa saja yang kuracaukan semalam? Ah, lagi sober aja aku meracau, apalagi pas mabuk kayak kemarin, ya.”

Rio tersenyum canggung.

“Err, makasih ya.”

“Nggak apa-apa, kok.”

“Aku pergi dulu. Daah.”

Gaia melangkah keluar pintu kamar Rio. Lelaki itu menghitung langkah-langkahnnya, tujuh langkah cepat, lalu berhenti. Seperti ragu. Kemudian suara langkah berbalik, pintu yang diketuk lagi. Rio melonjak, hampir kegirangan.

“Eh,”

“Ya,” Rio menjawab agak terlalu antusias.

“Aku boleh minta uang ga, buat ongkos?”

“Eh,” Rio bergegas mencari dompetnya, mengeluarkan selembar merah seratus ribuan.

“Nanti aku ganti. Kamu masih lama di sini? Kapan-kapan aku ke sini lagi bawa uangnya. Makasih, ya.”

Hingga Rio kembali ke Jakarta, Gaia tak pernah datang lagi. Mengambil salah satu lembaran terakhir uang simpanannya.

***

Langit di atas Sudirman sore ini sewarna jus jeruk. Rio setengah berharap akan menemukan sesosok gadis cantik yang menyedot jus jeruk dari awan senja ini. Tak mungkin, tentu saja, tak ada yang cukup gila melakukan itu di pinggir jalan Jalan Sudirman yang ramai dengan lalu lalang manusia dan kendaraan. Rio berjalan tergesa, memburu bus transjakarta yang akan membawanya ke titik berikut yang ditujunya. Rapat lainnya.

Aroma keringat dan wajah-wajah lelah memburu mata dan penciumannya ketika dia masuk bus. Sebuah aroma samar menggelitik hidungnya. Seperti sesuatu yang dikenalinya. Jeruk. Kemudian mata mereka bertabrakan.

“Halo,” gadis itu menyapa.

“Hai,”

“Apa kabar, Rio?”

“B-baik. Kamu?”

Gaia tersenyum. “Aku masih utang seratus ribu sama kamu.”

“Lupakan.”

“Halte Gelora Bung Karno. Periksa barang bawaan anda dan hati-hati melangkah. Terima kasih. Gelora Bung Karno Shelter. Check your belongings and step carefully. Thank You.”

“Apakah kamu selalu tergesa-gesa, selalu pergi sebelum aku sempat menanyakan sesuatu?” tanya Rio.

Gaia menggeleng.

“Apakah kamu mau pergi sekarang, turun di halte ini?”

Gaia kembali menggeleng.

Rio menarik napas lega. “Syukurlah, karena aku punya banyak sekali pertanyaan yang ingin kuajukan padamu.”

“Kau boleh mulai menanyakan apa pun yang ingin kautanyakan.”

Keduanya tersenyum.

Kemang, 2/20/2011 11:37:57 PM

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. adit_adit says:

    huaaaa so swit ceritanya… suka suka 🙂

  2. Hangga Ady says:

    Wah bagus banget Mbak, keren!!
    Mbak, boleh tau email kamu tak? Aku punya beberapa cerita pendek juga, cuma membutuhkan masukan untuk memperbaikinya, kalau berkenan ya 🙂
    Terima kasih sebelumnya. Salam

    1. Jia Effendie says:

      Makasih Hangga 🙂
      Emailku jiaeffendie at gmail dot com

  3. Adek says:

    Bagus, salah satu story teller fav-ku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s