Reuni

Kisah yang akan kuceritakan ini, lazim kaudengar di hampir setiap acara reuni. Jika kau sudah pernah datang ke acara reuni sekolahmu, besar kemungkinan kau akan menguap-nguap bosan. Walaupun, tentu saja, aku tak ingin membuat siapa pun bosan oleh racauanku.

Ada beberapa kelompok yang datang ke acara reuni. Aku tidak akan menjelaskannya secara detail, hanya untuk gambaran saja, bagi kalian yang berencana untuk datang ke acara reuni sekolah dalam waktu dekat. Orang-orang itu, mengaku teman-temanmu. Dan oh, tentu saja kaupun mengakui mereka temanmu. Bukankah, mereka pernah satu kelas denganmu sewaktu culun dulu? Memang, beberapa di antara mereka memang sudah gaya sejak dulu – dan itu, membuat orang-orang culun seperti kalian akhirnya punya motivasi untuk bertransformasi menjadi orang keren. Maka, biarkan aku membuat daftarnya.

Pertama, adalah teman-teman saling menganggap teman hanya karena kalian pernah satu kelas. Setelah lulus, kalian tak pernah ketemu dan hanya ketemu lagi pas reuni. Jenis ini hanya akan berbasa-basi sebentar, bertanya apakah kau sudah menikah, atau sudah berapa anakmu, atau bekerja di mana suamimu. Tentu saja, itu pertanyaan yang paling lazim, bukan? Kau bisa dengan segera melarikan diri dari jenis ini dan pura-pura bergabung dengan gank sahabat sejatimu.

Kedua, adalah sahabat sejati. Teman bolos. Main sepulang sekolah, curhat-curhatan. Sehidup semati senasib sepenanggungan. Tunggu dulu… senasib? Kau pasti akan mencoret kalimat tadi ketika mendengar hal ini.

“Dinda! Kamu ke mana aja, sih? Di antara temen-temen cuma kamu deh yang nggak kedengaran  kabarnya. Ngilang gitu. Ahhh, pasti udah sukses, ya sekarang? Kamu kelihatan… ehm, makmur.” Orang yang berbicara itu namanya Lulu. Dulu dia duduk di belakangku, hobi mencontek ulangan bahasa Inggris. Tetapi, fakta itu sudah tak penting lagi, bukan?

“Ah, aku ada aja kok, ga ke mana-mana,” aku menjawab rendah hati.

“Beneran. Kangen lho. Ga kerasa, ya, udah sepuluh tahun aja. Aku udah punya Abizel, udah mau sekolah TK. Momonganmu udah berapa? Suamimu mana, ga ikut ke sini?”

Tuh kan, jenis pertanyaan seperti itu sudah pasti terlontar.

“Haha iya, rasanya baru kemaren kamu lempar-lemparin kertas minta jawaban soal essay.”

“Ah, masih inget aja, kamu. Ya, dulu kan kamu yang paling jago bahasa Inggris. Eh, sudah, ya. Itu kayaknya Ega baru dateng. Mau nyapa dia dulu.” Lulu mohon diri dan segera menghilang di antara kerumunan.

Lalu, ada juga gebetan seumur hidup. Semacam cinta pertama. Sepertinya tadi aku melihatnya. Dulu dia cowok paling ganteng di kelas. Sekarang juga masih sih, seandainya saja tubuhnya tidak membengkak sampai dua puluh kilogram begitu. Dua puluh. Ya, kira-kira seperti itu. Padahal, terakhir aku melihatnya beberapa tahun lalu, dia tampak liat dan seksi. Tentu saja, karena dia bekerja di lepas pantai. Otot-ototnya terbentuk dari tubuhnya yang mulai pejal, dan matahari mematangkan kulitnya yang mengilap.

Diam-diam aku mengusap liur.

Tetapi, pemandangan di depanku itu, bukanlah pemuda macho berotot kekar, melainkan bapak berperut tambun, menyaingi perut istrinya yang hamil besar. Tangan kirinya menggendong bayi laki-lakinya yang baru berusia satu tahun. Mata kami bertatapan. Aku melempar senyum. Istrinya melengos. Aku mengedarkan pandanganku ke tempat lain.

Dan sorot mata itulah yang kutemukan. Tajam menusuk. Seperti magnet yang menggiring kakiku mendekatinya. Aku berhenti di hadapannya. Kami bertatapan. Lalu ia memecahkan kebekuan. Es bertebaran, berjatuhan menusuk-nusuk.

“Hai, Dinda. Sudah sepuluh tahun, ya?”

“Hai Rahman. Sudah sepuluh tahun.”

“Apa kabarmu?”

“Baik. Kau tampak bahagia.”

“Haha, kau tak tahu saja. Kau yang tampak bahagia.”

“Aku ingin bicara denganmu.” Aku berkata.

***

Oke, matikan dulu kameranya. Biar kuputar sebuah film hitam putih. Sepuluh tahun lalu. Ah, sepuluh tahun? Tepatnya dua belas tahun lalu. Cukup lama? Ya. Kalian tidak pernah tahu bagaimana hebatnya ingatan memperbarui dirinya sendiri sehingga kau merasa seolah-olah hal yang terjadi berpuluh-puluh tahun lalu, baru saja melintas di depan mata. Ingatan itu kejam, tetapi ia juga penuh kasih. Ia bisa membelai hatimu dan mengisinya dengan kehangatan, tetapi juga bisa menyalakan bara dendam. Ingatan itu sakti.

Jumat itu cerah. Kami sudah bergerombol di depan gerbang sekolah pukul sebelas siang, siap-siap berjalan pulang sambil bergunjing. Aku berjalan bersama Lulu saat Rahman menjejeri langkahku. Perasaanku tidak enak. Mengapa teman-temanku yang lain menyingkir seolah-olah mereka tahu apa yang akan dia lakukan. Di depanku, mereka bertiga seperti tengah berbisik-bisik membicarakanku. Ada apa?

Dia meminta nomor telepon rumahku. Aku memberinya tanpa perlawanan. Hei, dia kan teman sekelasku. Aku menaiki angkutan kota dengan perasaan bingung, apalagi saat Marini berbisik di telingaku: “Sssst, dia suka padamu.”

Kutunggu deringan telepon dengan gelisah. Bolak balik aku melewati meja telepon untuk memastikan kalau teleponnya diletakkan dengan benar, kabelnya terpasang sempurna, suara deringnya dalam volume cukup. Entah kenapa, ini jadi menegangkan. Dia suka padaku? Sungguh tak dipercaya. Mengapa tidak Akbar saja, yang sudah aku suka sejak kelas dua SMP?

Aku mengangkat telepon pada deringan ketiga. Setelah sedikit berbasa-basi soal PR Kimia, dia mengatakan itu. Dengan suara tarikan napasnya jelas terdengar, kau tahu, jenis tarikan napas yang dimaksudkan untuk memantapkan hati.

“Din, saya mencintaimu,”

Aku tidak bisa mengatakan apa pun. Saat Lulu memberitahuku, aku hanya merasa syok. Tetapi saat Rahman yang mengatakannya langsung, rasanya napasku terhenti.  Yang berputar-putar dalam kepalaku hanyalah: Oh Tuhan, bagaimana caranya menolak tanpa menyakiti dia? Lalu kuputuskan untuk menunda jawabannya, sambil menyusun kata-kata penolakan. Dia teman yang baik. Teman yang menyenangkan. Tetapi aku sudah terlalu parah terkontaminasi oleh dongeng-dongeng barat tentang romantisisme, pangeran dan putri, ksatria berbaju zirah. Dia tidak masuk kategori itu.

“Aku tak bisa menjawabnya sekarang. Mmm, beri aku waktu untuk berpikir. Aku akan menjawabmu hari Senin.”

Jika saja hari Senin itu bisa kulompati, aku akan dengan senang hati menghapus hari itu pada minggu tersebut. Dengan begitu, aku tak perlu mengungkapkan kata-kata penolakan itu. Kata-kata penolakan yang diucapkan dengan lidah yang terpelintir. Dia salah sangka. Esoknya, seluruh sekolah tahu kalau aku pacaran dengannya.

Aku menghindarinya setelah itu. Ini salah. Aku bukan pacarnya. Aku hanya temannya. Kenapa semua orang menganggapku ada apa-apa dengan dia?

***

“Aku mencarimu ke mana-mana,” dia berkata.

Jantungku meletup-letup. Tak bisa memutuskan apakah harus bahagia ataukah jengah mendengar pengakuannya.

“Kamu pasti sudah lupa padaku, Dinda.”

“Tidak, aku tidak lupa. Aku ingat kamu. Aku nyariin kamu juga, aku ingin minta maaf. Tapi kamu susah banget dicari. Sejak lulus SMA kayaknya kamu menghilang gitu.”

“Aku memang sengaja menghilang. Sejak kejadian itu, aku bertekad untuk jadi orang sukses, dan kembali meminangmu.”

“Kamu berlebihan.”

“Kamu cinta pertamaku.”

Aku terdiam.

“Sayang, aku tak berhasil menemukanmu dan terlanjur menikah.”

Aku tak berkomentar. Tanganku berkali-kali menyelipkan anak rambut ke belakang telinga karena gugup. Tak mengerti arah pembicaraan ini. Aku bertemu dengannya hanya untuk minta maaf, karena telah melakukan tindakan kekanak-kanakkan sewaktu umurku kanak-kanak. Aku tersenyum gugup.

“Kamu obsesiku.”

Aku tercekat dan mulai merasakan bulu kudukku meremang.

“Suaramu di radio selalu terngiang-ngiang di telingaku. Setiap katanya, setiap jeda napasnya. Aku takkan pernah lupa. Aku takkan pernah melupakan suaramu yang menorehkan luka.”

“Tapi, itu kan dua belas tahun lalu, Man.”

“Kamu cinta pertamaku. Dan yang kudapat adalah patah hati. Kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan. Aku ini laki-laki.”

Dudukku mulai merasa tak nyaman. Sudut mataku liar mencari pertolongan. Semua orang tampak asyik dengan kelompoknya sendiri-sendiri.

“Aku nggak makan selama seminggu setelah kejadian itu. Setiap harinya hanya menyentuh secomot nasi dan setetes air. Aku sampai pingsan. Apakah kamu sempat memperhatikanku semakin kurus waktu itu? Tidak? Aku yakin kau pasti tidak memperhatikan itu.”

Aku menelan ludah. Benakku mulai merangkai firasat buruk. Mungkinkah dia melakukan hal yang tidak sepantasnya dilakukan?

“Aku berdoa kamu takkan pernah bahagia. Kamu boleh saja bersama siapa pun, tapi kamu takkan bahagia. Hubunganmu takkan pernah berhasil. Apakah aku benar? Apakah kamu selalu bersama laki-laki yang salah?”

Aku mencengkeram pinggiran kursi erat-erat.

“Apakah perasaanmu selalu hampa? Kamu tak pernah puas dengan pacarmu, kamu selalu ragu? Tentu saja. Karena aku tak rela kamu dengan siapa pun selain aku.”

Seharusnya, ketika dia mengatakan itu, ada efek petir menggelegar. Sayangnya ini bukan sinetron. Tak ada musik pengiring yang sesuai. Hanya ada suaranya, dan suara riuh rendah orang-orang yang saling melepas rindu, sayup dari kejauhan. Serta musik dangdut yang ceria. Aku menghela napas, berat.

“Aku ini laki-laki. Kamu seharusnya tahu apa yang bisa dilakukan oleh seorang lelaki yang patah hati. Dan kamu adalah cinta pertamaku, kamu tidak tahu apa yang bisa kulakukan.”

“Aku minta maaf. Aku tidak bermaksud melakukan itu semua. Seharusnya aku mengatakan semuanya baik-baik padamu. Namun, aku begitu kekanakkan. Seandainya saat itu aku tahu seharusnya aku tidak melakukannya.”

“Kenapa sih kamu tega sekali? Salah aku apa sih sampai kamu melakukan itu? Kamu pasti nggak ngerasa apa-apa. Kamu pasti lupa apa yang kamu ucapkan di sana. Kamu tidak peduli perasaan orang lain.”

“Aku tahu aku salah. Makanya aku nyari kamu buat minta maaf.”

“Tapi aku harus ngucapin makasih banget sama kamu. Tanpa kamu, aku tidak bisa seperti sekarang ini. Tanpa kamu aku takkan sebegitu terobsesi dan pasti pencapaianku takkan setinggi ini. Jadi, aku berterimakasih padamu. Ini tulus.”

Rasanya aku ingin memutar bola mataku. Bagaimana mungkin dia berkata tulus kalau dia membaca jampi-jampi agar aku tidak bahagia?

“Aku juga minta maaf. Karena telah melakukan itu. Tetapi kamu tidak tahu apa yang bisa dilakukan laki-laki yang patah hati. Karena cinta pertamanya.”

Aku sudah tak ingin mengatakan apa-apa lagi.

“Aku menyesal kita baru bertemu sekarang. Hanya beberapa saat setelah aku menikah. Kenapa kita tidak bertemu sebulan lalu? Aku mencarimu ke mana-mana, tetapi aku tidak berhasil.”

Aku bersyukur dia tidak menemukanku.

“Mungkin bukan jodoh,” gumamnya.

“Bukan….” Timpalku lirih. “Sebaiknya aku pergi. Nanti dicariin yang lain.”

***

Ngeri? Bayangkan itu terjadi padamu, di sebuah reuni. Seorang lelaki dari masa lalu mengaku telah mendatangi orang pintar untuk meminta jampi-jampi agar kau tidak bahagia. Jangan tanya, aku sangat terkejut. Aku syok. Memang sejak awal aku malas datang ke acara reuni SMA ini. Karena aku tahu, beberapa hal akan berulang. Beberapa pertanyaan mengganggu akan dilontarkan. Tetapi, pengakuan seperti ini? Tidak terjadi di setiap reuni, kisanak.

Percaya?

Tunggulah sebentar. Mungkin lima belas menit lagi. Biarkan teman-temanmu yang telah menikah itu senang sejenak telah membuatmu kesal karena menanyakan kapan kau menikah dan mendapati jawaban belum atau tidak tahu. Lalu biarkan mereka membanggakan suami mereka yang pegawai kilang minyak dan anak mereka yang sudah jago berhitung dari satu sampai sepuluh padahal dia baru belajar bicara, sambil menyayangkan kenapa kau belum juga kawin. Padahal umurmu sudah kepala tiga. Lalu mereka akan menyalahkan pekerjaanmu yang sangat kaucintai itu. Dan biarkan lelaki dari masa lalu itu melampiaskan dendam yang sudah berkobar di dadanya sejak sepuluh tahun lalu. Biarkan dia mendinginkan baranya. Biarkan dia merasa puas telah mengungkap semuanya. Biarkan dia merasa lega. Tunggu lima belas menit lagi.

Telepon genggamku berbunyi.

“Halo?”

“Halo, sayang? Pak Timan sebentar lagi nyampe buat jemput kamu. Tiket udah disiapin. Nanti kita ketemu di pesawat, ya?”

“Oke.”

“Love you.”

“Love you too.”

Aku menutup telepon dan melenggang keluar. Keluarga calon suamiku sudah menunggu. Kami akan mencari cincin kawin di Paris.

Depok | 12/17/2010 9:02:37 PM

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. satiti says:

    ihhh keren banget!

    u capture exactly the crisis in my age and what a great twist.

    Bravo!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s