Lubang

Seperti lampu sorot, dari lubang-lubang di tubuhnya bertemperasan cahaya. Menyorot ke luar, ke kegelapan yang memesona. Ia ringkih, susut oleh sikap tubuhnya yang bungkuk, memeluk lututnya sendiri. Namun, dari lubang-lubang di tubuhnya, cahaya memancar; ditangkapi laron-laron yang memandikan dirinya dengan cahaya.

Dari jauh, lonceng berdentang-dentang, bunyinya masuk lubang-lubang itu dan suara tercekik yang pekik melantang ketika bebunyian itu keluar lagi dari lubang-lubang yang sama, beradu dengan dinding-dinding organ tubuhnya.

Gelap adalah sahabatnya. Karibnya yang paling setia dan tak pernah mengkhianatinya. Maka cahaya adalah miliknya sendiri, sesuatu yang datang dari dalamnya, bukan dari luarnya, demi bisa melihat. Matanya melihat dalam gelap, karena cahaya membutakannya.

Seorang gadis terdampar di tempatnya berdiri. Terlontar dari bumi karena dukanya yang teramat duka. Dilemparkan perihnya yang teramat ngilu. Maka dia bertemu dengannya. Dengan makhluk berlubang yang memancarkan cahaya dari lubang-lubangnya. Lubang-lubang bulat sebesar jari bambu.

Mereka saling menatap dalam gelap. Makhluk itu dengan matanya yang hanya bisa menatap dalam kegelapan, gadis itu dengan hatinya, karena matanya tak mampu menyesuaikan diri dengan pekat. Gadis itu dengan hatinya yang berlubang-lubang.

 

Kemang, 6 April 2011

 

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Harigelita says:

    Short yet Deep!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s