Cangkir

Empat menit sebelum kopi itu tumpah, ini yang terjadi. Biar kuceritakan dari mata seorang pengamat, aku melihat adegan itu, kini membeku. Wajah gadis itu penuh geram, kedua alis bagian dalamnya tertekuk dan hampir bertemu.

Setengah jam yang lalu.

Mereka berdua masuk kamar dengan tertawa-tawa. Si gadis menaruh tas dan menanggalkan scarf yang melingkari lehernya. Si lelaki menutup pintu di belakangnya. Si gadis meraih dua cangkir dan mengisinya dengan kopi bubuk, kemudian menambahkan air panas, lalu menyerahkan salah satunya ke si lelaki. Si lelaki menyisihkan cangkir kopinya ke meja, kemudian meraih cangkir kopi yang tengah dipegang gadisnya, menyisihkannya pula. Mereka tak bicara. Mata bertemu mata. Jari si lelaki mulai menelusuri lekuk wajah gadisnya.

Bibir mereka mendekat. Si lelaki memiringkan wajahnya, ujung-ujung hidung mereka bertemu. Bibir mereka saling menyentuh. Si lelaki memagutnya. Lalu si gadis mendorongnya.

Begitulah bagaimana itu terjadi. Refleks, tangan si lelaki berayun ke belakang dan menyapu cangkir kopi di meja. Cangkir itu jatuh, pecah berserakan. Genangan kopi panas merembes menuju telapak kaki si lelaki. Sementara itu, si gadis berlutut menangisi cangkir kopinya.

“Cangkirnya pecah!” Seru gadis itu penuh tuduhan.

“Cuma cangkir.” Kata lelakinya singkat.

“Cuma cangkir kaubilang? Aku memelihara cangkir ini sejak sepuluh tahun lalu! Ini cangkir favoritku! Bagaimana kaubisa bilang kalau ini cuma cangkir?”

“Tapi itu memang cuma cangkir, bukan? Bagaimana bisa kau menangisi sesuatu yang tidak berarti?”

“Kau tidak tahu, cangkir ini sangat berarti bagiku. Ia menemani malam-malamku mengerjakan tugas sewaktu kuliah, lalu ketika menyusun skripsi, mengetik CV dan surat lamaran untuk bekerja, sampai sekarang. Kau mudah sekali mengatakannya tak berarti, karena kau tak tahu!”

“Tapi kan semua prestasi yang kamu raih tak ada hubungannya dengan cangkir ini, bukan? Cangkir ini hanya membantumu, sebagai wadahmu menuang kopi, atau susu, atau air putih, atau apalah itu. Mengapa kau menangisi cangkir ini sedemikian rupa?”

“Kau sungguh-sungguh ingin tahu?”

Lelaki itu mengangkat bahu. Si gadis mengangkat potongan tajam cangkir itu dan mengacung-acungkannya.

“Karena cangkir ini seperti hatiku!” pekiknya.

“Apa maksudmu? Kenapa sih kamu dengan semua drama ini?”

“Karena aku menjaga cangkir ini seperti aku menjaga hatiku. Karena aku begitu rapuh dan mudah jatuh cinta, mudah merasa sakit. Aku ingin menjaganya. Jika cangkir ini saja pecah, bagaimana aku bisa menjaga hatiku, yang bahkan sama sekali tidak keras, yang dengan mudah ditusuk-tusuk dicincang-cincang hingga tiada. Dan kalau sudah begitu, siapa lagi yang akan menjaga hatiku? Karena aku sudah terlalu hancur. Apakah kamu? Kamu yang akan menjaganya?”

Lelaki itu terdiam. Sama sekali tidak mengerti apa yang diracaukan gadisnya.

“Dan kamu, kamu tiba-tiba mendekat seperti itu, ingin menciumku. Apakah kau tahu apa efeknya buatku? Kau membuatku ketakutan. Kau membuatku takut terlena dalam pesonamu sementara aku tidak tahu bagaimana nantinya. Bagaimana kalau kau pergi sementara aku terus terpesona. Apa yang harus kulakukan, coba? Dan kau, aku yakin kau takkan peduli sama sekali! Jadi itu sebabnya aku menangisi cangkir ini! Lebih mudah daripada menangisi hatiku sendiri, karena jika hatiku yang hancur, aku takkan bisa menangisinya, karena aku sudah tak punya hati lagi.”

“Sayang… kamu meracau.”

“Iya, aku meracau, terus kamu mau apa? Mau pergi karena kamu bosan dengan gadis ratu drama sepertiku yang menangisi cangkir yang pecah? Dan kenapa kau memanggilku sa-  yang?” gadis itu tercekat di akhir kalimatnya, seperti baru menyadari sesuatu yang ganjil.

“Kenapa kau memanggilku sayang?” tanyanya lagi.

“Karena aku sayang kamu. Dan kau tak perlu menangisi cangkir pecah itu lagi. Kita bisa membeli yang baru. Masa baktinya sudah selesai. Kau bisa tenang. Kau bisa berhenti cemas. Ia takkan pecah lagi.”

“Benarkah?”

“Iya, aku janji. Ia takkan pecah lagi.”

Gadis itu memunguti patahan cangkirnya, si lelaki membantunya, kemudian mereka mengelap genangan kopi di lantai.

Aku memperhatikan itu semua, tak mengerti, dari langit-langit sambil berdecak-decak, menangkap serangga terbang yang lewat di depanku.

 

Kemang, 12 April 2011, 12.27

 

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Asep Sofyan says:

    Perempuan di cerpen ini gampang luluh yah? Cuma dengan satu kata sayang…
    Terus, selanjutnya mereka ngapain?

  2. Pingback: Surat | RintiKata

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s