martir

seseorang pernah terjatuh di kedalaman ini
ketika gelap pekat
dan cahaya tengah berlibur ke dimensi sebelah
aku meraih tangannya dan ikut luruh
kemudian dia mengibaskan genggamanku
hingga aku terbang seperti balon nitrogen yang terlepas
bebas,
melesat,
hendak mengecup ubun-ubun surya.
lalu pecah
jadi butiran-butiran sinar,
serupa air mata, yang berkilauan di mata
dan pipimu.

kemang, 22 juni 2011

Advertisements

Maka, anjing! serumu

Demi kedua matamu yang biji  rembulan.

Yang pejamnya adalah gerhana dan nyalanya adalah api.

Demi kamu yang mengobarkan nyerindu.

 

Kunang-kunang pun menjelma dari akar senyapmu yang hampir mati.

Bahwa kerlipnya, isyarat agar aku mencidukmu dan mengurungmu di hati.

 

Bagaimana rasanya terkurung?

Begitulah gigilku tatkala kau mencuri satu-satunya cinta yang  tergenggam,

dan tak sengaja menaburkannya jatuh.

 

Maka, anjing! serumu

Bagaimana bisa kau berkata rindu ketika nyeri memelintir hingga kering dan napas tak lagi terhela, tak ada lagi puisi!

(Sia-sia. Benih yang ditanam tak bisa lagi kaucerabut. Sudah menyulurcengkeram. Ini kontrak mati. Terima saja, aku cinta.)