Puisi

Maka, anjing! serumu

Demi kedua matamu yang biji  rembulan.

Yang pejamnya adalah gerhana dan nyalanya adalah api.

Demi kamu yang mengobarkan nyerindu.

 

Kunang-kunang pun menjelma dari akar senyapmu yang hampir mati.

Bahwa kerlipnya, isyarat agar aku mencidukmu dan mengurungmu di hati.

 

Bagaimana rasanya terkurung?

Begitulah gigilku tatkala kau mencuri satu-satunya cinta yang  tergenggam,

dan tak sengaja menaburkannya jatuh.

 

Maka, anjing! serumu

Bagaimana bisa kau berkata rindu ketika nyeri memelintir hingga kering dan napas tak lagi terhela, tak ada lagi puisi!

(Sia-sia. Benih yang ditanam tak bisa lagi kaucerabut. Sudah menyulurcengkeram. Ini kontrak mati. Terima saja, aku cinta.)

 

Advertisements

3 thoughts on “Maka, anjing! serumu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s