mangsa


suara mesin tik tua tengah malam dalam cahaya lilin

seharusnya berhenti menulis kisah tentang dua remaja dimabuk asmara.

kita tak lagi belia dan engkau tak lagi kepayang

 

tetapi jemariku tak jera mengetik semua kata yang pernah kauucap

menjadi jaring perak laba-laba yang kusebut rumah

sementara aku di tengah-tengahnya, bukan pribumi, melainkan mangsa.

 

:berpura-pura

 

(padahal dalam balutan benang-benang lengketmu

aku pun menanti ajal.

dalam pejam aku bersiap menerima cakarmu mengoyak jantungku dan mengambilnya.

 

:dan mengembalikannya tercacah-cacah.)

 

suara mesin tik tua tengah malam

sok tahu menyebut ini cinta.

Advertisements

luka

“ia yang gagal menerjemahkan isyarat paling purba

dari desir anak-anak badai

dan linangan embun

serta guguran daun kering,

tak layak mengaku kalau ia telah paling luka,”

 

kau berkata padaku,

sambil mencabut belati janji dari dadamu sendiri.

 

kemang, 19 juli 2011

Epilog

: Bara

 

setumpuk kertas berisi cerita buruk telah membakar dirinya sendiri dan apinya yang merah biru jingga menjelma gulungan film yang tak ingin lagi kutonton.

 

semua yang kusut telah diuraikan kembali, tetapi kita tak bisa lagi memutar pita-pita kenangan yang sudah telanjur diempaskan di kaleng sampah bersama ingatan-ingatan lain yang tak lolos gunting sensormu.

 

sekotak aku di benakmu telah dikemas dan diselotip rapat, dipindahkan ke ruang paling berdebu yang tak pernah kaukunjungi lagi.

proyeksi bintang

ujung bintang itu bisa melukaimu, pikirku. lupa kalau bintang sebenarnya bulat, tak punya ujung-ujung runcing.

di langit-langit kamarku,
aku menatap gemintang terproyeksi,
konstelasi yang kaukirim dengan pesan:
“aku ingin kamu bahagia.”

titik-titik samar cahayanya mengantar temaram hangat bagi tidurku.
kecuali hari ini, karena gigil sudah telanjur menyelimutiku dalam kepompong salju yang mengeretakkan belulang.

ada sedu sedan tertahan,
tapi tak ada tangis yang tertumpah.

Semua baik-baik saja di bawah bintang-bintang.

sampai jumpa lagi

“sampai jumpa lagi,”

adalah kalimat yang khianat.

 

karena bekas bibirmu di bibirku,

belum ada yang menghapusnya lagi.

 

berkas senyummu tercelup dalam segenang formalin,

sementara air mataku beku sebelum rintiknya sampai ke tanah,

berserakan jadi pecahan-pecahan kaca.

pancang tatapmu padaku perlahan terurai tatkala sebaris peri melambai dan mengatup-ngatupkan kelopak mata mereka yang indah, dan bibirbibir delima mendecap-decapkan mantra.

kau sukarela pergi.

 

“sampai jumpa lagi,”

kita berkata.

 

lalu langkah gontaimu menjauh,

memasuki kotak harapan yang menjadi sulit dibuka karena engselnya berkarat;

berada di dasar laut terlalu lama.

 

dan selama waktu menanti,

 

sampai jumpa

 

menjelma selamat tinggal.

 

 

kemang, 17 juli 2011

hujan

denting hujan rindu menjelma musik buta nada, badik yang menebas benang-benang harap yang tergantung di beranda.

sempat, hujan adalah simfoni yang menyampaikan sepeluk kangen dalam balon udara. kauletuskan satu-satu jadi gerimis yang menguyupi tubuhmu, hatimu, dalam buncah bahagia.

apa pun dariku tak lagi pesta di hatimu.

warna-warni menitis dalam aroma monokrom sejak kaucuri segala yang bisa kauambil dariku dan kuserahkan dengan sukarela. pagut, peluk, hangat, cinta, rindu, semua, segala yang dapat kauambil.

kau lupa,

aku masih meretas jejakmu yang menghadirkan genangan-genangan kilau di tanah. semua pagut, peluk, hangat, cinta, semua, segala yang telah kauambil yang kaujatuhkan satu-satu dan kautinggalkan tanpa menoleh lagi.

aku memungutinya lagi.

menelan habis semua yang telah kaubuang.

kecuali harapan, yang dengan erat dan keras kepala, tak kuserahkan padamu.