pemanah bintang

Sudah lama tak pernah lagi kulihat kelebat anak panah menusuk gemintang.

Di sudut bumi lain, serpih-serpih bintang yang berhasil kaupecahkan berjatuhan dalam hujan cahaya.

Aku tak pernah melihat indahnya,
hanya mendengar kabar dari burung-burung hantu.

Bintang-bintang redup hadiah darimu,
Masih bergelantungan di langit-langit kamarku:
berdebu.

Advertisements

ilusi

seperti bulan dan mayapada,

jarak aku dan kamu ilusi.

hanya sampai mata, tak kunjung peluk

cuma angan, tak juga nyata.

Negeri Kosong

Negeri kosong

tanggatangga rapuh terulur dari langit

menjejak ke bawah, dari awan

 

Negeri kosong

dari atas kepalamu yang berada di dalam sebuah sumur kering

sepasang tangan muncul meraihmu naik

kau menitinya satu persatu

menunjal pada anak tangga yang hampir berjelabak menahan beban tubuhmu

serta bahara hatimu

 

Negeri kosong

denaidenai tapak kaki di pasir, bekas-bekas langkah sunyi yang hampir menghilang

disapu angin disimbur ombak disaput waktu

 

Negeri kosong

Sunyi syahdu.

 

Orang-orang berkumpul di tempat lain

berdiri menghadap langit dalam hening

 

Siapa siap dijemput?

Siapa siap merangkak dari dalam tanah untuk dijemput?

 

Negeri kosong

langkah tertatih-tatih

dan sunyi kawanku

kawan setiamu

kosong.

Hati kita kosong

telah ditumpahkan agar denting paku ke dindingdinding hati kita tidak berjengit menusuknusuk

Sepi.

Sepi tertatih.

Sepi di negeri kosong.

 

Kuserahkan.

Hati.

Pada-Mu.

 

Bukan lagi milikku.

Studio 5 XXI Plaza Indonesia, 1:44 am, 21 Agustus 2011

Merdeka

Kemerdekaan adalah,

kita saling menatap lagi,

tanpa dirantai segan.

 

Dalam pengasingan,

Diamdiam kutorehkan turus di dinding penjaraku

Seraya berharap pintu-pintu terbuka

Dan kau menjaminku pulang.

Waktu merambat terlalu pelan hingga aku pasrah dan berpaling.

 

Vonis telah dibacakan,

dan terkucil darimu adalah hukumanku,

balasan atas sabotase yang mungkin kulakukan

atau mungkin, murni kekejamanmu.

 

Ketika akhirnya kubebaskan diriku dari rasa keterasingan,

Menikmati heningmu yang ternyata memerdekakanku,

 

Kau riuh, begitu berisik, bersorak-sorai, mengguncang-guncangkan pagar pertahananku seperti sekumpulan demonstran yang meminta perhatian.

 

Bagaimana bisa, tanpa suara, kau pekik di telinga?

Jerit dan lolong di kepala?

Aku tak lagi punya daya untuk mengikuti permainanmu yang sia-sia itu.

Menjadi budakmu bukanlah sesuatu yang kuinginkan.

 

Aku tak bisa patuh, membiarkanmu semena-mena sesuka hatimu, memancingku kemudian melepaskanku lagi ke lautan luas.

 

Kemerdekaan adalah, pancang tatapku di matamu, tanpa aku merasa jeri.

Jakarta, 17 Agustus 2011

purnama

kau berbaur sempurna dengan malam,

menunggangi badai,

melolong pada bulan.

:sayup di telingaku, mengoyak aorta.

 

kau berbaur sempurna dengan malam,

kala yang dahulu adalah wilayah tak terjamah

yang kupijaki kini bersama tiadamu.

 

maka bulan yang khianat,

aku mengudetamu.

Turunlah!

Laungku memakimu agar tak kautampakkan bulat sempurnamu di langit.

 

Kemang, 14 Agustus 2011, 2.12 a.m

tamu

seseorang mengetuk pintu tadi malam.

separuh gigil aku mengintip

karena terlalu gelap, yang kulihat hanya bayangan hitam.

aku membiarkannya berdiri di sana.

ia tak beranjak.

 

kakiku terantuk tubuhnya tatkala kubuka pintu esok subuh,

ketika fajar memecah langit dengan segaris cahaya.

 

dia menatapku.

aku menatapnya.

 

kemudian jari-jarinya terentang,

tangannya terulur hendak menangkap kakiku.

aku menjerit.

menendangnya.

 

“ini aku,” katanya. “ini aku, rindu yang kauperangkap dan berhasil melarikan diri, untuk lalu kembali padamu.”