tamu

seseorang mengetuk pintu tadi malam.

separuh gigil aku mengintip

karena terlalu gelap, yang kulihat hanya bayangan hitam.

aku membiarkannya berdiri di sana.

ia tak beranjak.

 

kakiku terantuk tubuhnya tatkala kubuka pintu esok subuh,

ketika fajar memecah langit dengan segaris cahaya.

 

dia menatapku.

aku menatapnya.

 

kemudian jari-jarinya terentang,

tangannya terulur hendak menangkap kakiku.

aku menjerit.

menendangnya.

 

“ini aku,” katanya. “ini aku, rindu yang kauperangkap dan berhasil melarikan diri, untuk lalu kembali padamu.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s