Puisi

Merdeka

Kemerdekaan adalah,

kita saling menatap lagi,

tanpa dirantai segan.

 

Dalam pengasingan,

Diamdiam kutorehkan turus di dinding penjaraku

Seraya berharap pintu-pintu terbuka

Dan kau menjaminku pulang.

Waktu merambat terlalu pelan hingga aku pasrah dan berpaling.

 

Vonis telah dibacakan,

dan terkucil darimu adalah hukumanku,

balasan atas sabotase yang mungkin kulakukan

atau mungkin, murni kekejamanmu.

 

Ketika akhirnya kubebaskan diriku dari rasa keterasingan,

Menikmati heningmu yang ternyata memerdekakanku,

 

Kau riuh, begitu berisik, bersorak-sorai, mengguncang-guncangkan pagar pertahananku seperti sekumpulan demonstran yang meminta perhatian.

 

Bagaimana bisa, tanpa suara, kau pekik di telinga?

Jerit dan lolong di kepala?

Aku tak lagi punya daya untuk mengikuti permainanmu yang sia-sia itu.

Menjadi budakmu bukanlah sesuatu yang kuinginkan.

 

Aku tak bisa patuh, membiarkanmu semena-mena sesuka hatimu, memancingku kemudian melepaskanku lagi ke lautan luas.

 

Kemerdekaan adalah, pancang tatapku di matamu, tanpa aku merasa jeri.

Jakarta, 17 Agustus 2011

Advertisements

1 thought on “Merdeka”

  1. saya su ka yang ini…

    “Kau riuh, begitu berisik, bersorak-sorai, mengguncang-guncangkan pagar pertahananku seperti sekumpulan demonstran yang meminta perhatian.”

    seperti mengingatkan sama siapa ya..??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s