Malam Minggu

Sebut saja aku kuno, karena aku menyukai cara-cara ayah ibuku semasa muda dahulu. Aku kuno dan romantis. Aku bahkan dianugerahi julukan “tua” oleh teman-temanku. Aku hanya tertawa, karena mereka tidak mengerti. Hal-hal kuno itu keren. Tahu kan novel-novel klasik zaman dulu? Usianya sudah ratusan tahun tetapi sampai sekarang orang-orang masih membacanya. Coba saja baca Daddy Long Legs-nya Jean Webster. Enggak lekang ditelan zaman, masih asyik saja dibaca.

Kekunoanku yang paling menonjol adalah, aku senang menulis surat. Bukan email, tapi surat sungguhan. Aku membantu para tukang pos dengan mengirim surat di dalam amplop. Aku yakin, akhir-akhir ini, pasti hanya aku yang menggunakan jasa tukang pos untuk mengirim surat pribadi. Baiklah, dan beberapa manula yang senang menulis. Mungkin. Yah, paling tidak kakekku masih menulis surat. Soalnya, aku memang cuma menulis surat buat Kakek saja. Kasihan, ya. Kan sudah kubilang, hari gini tidak ada lagi yang menulis surat.

Makanya, teman-temanku menganggapku aneh karena senang menulis surat. Kalau datang jam pelajaran Fisika, jika aku sudah suntuk banget tidak bisa mengikuti penjelasan Bu Emmy, aku akan menyobek bagian tengah buku tulisku dan mulai menulis surat. Kali ini, untuk teman khayalanku.

Pluk.

Sesuatu mengenai punggungku, lalu jatuh ke ubin kelas. Kertas yang diremas-remas. Aku celingukan. Di belakang, Rudi cengengesan sambil menunjuk-nunjuk kertas. Dengan ragu aku memungutnya. Rudi duduk tiga bangku di belakangku. Aneh sekali, jarang-jarang juga kami mengobrol, kecuali saat aku mencontek ulangan Fisika (dan itu tak bisa disebut mengobrol), atau dia mencontek ulangan Bahasa Inggris dariku (oh iya, tolong bagian contek mencontek ini jangan kalian tiru. Anggap saja aku tak pernah mengatakannya). Perlahan aku membuka kertas kusut itu.

Isinya adalah tulisan cakar ayam Rudi yang sulit dibaca.

Eh, maksudnya apa nanyain malam minggu aku mau ngapain? Aku menoleh sekilas ke arahnya, melontarkan isyarat tanya dengan mataku. Dia tidak menangkap mataku karena sedang serius memperhatikan Bu Emmy. Menyebalkan. Ketika bel pergantian jam berbunyi, aku buru-buru ke mejanya sambil memperlihatkan kertas yang tadi dilemparnya padaku.

“Ini apa?”

Dia menyuruhku merunduk agar sejajar dengannya. Aku menurut tanpa protes. Dia lalu berbisik. “Malam minggu ga kemana-mana? Aku ke rumahmu ya.”

“Mau apa?”

“Ada yang mau kutanyain.”

“Kenapa ga ditanyain sekarang aja?”

“Banyak orang.”

***

Seharian itu aku memikirkan permintaan Rudi. Datang ke rumahku malam minggu? Sesuatu banget ini. Gini lho, karena aku termasuk golongan orang aneh di sekolah, rasanya ajaib kalau ada cowok yang naksir aku. Rudi juga termasuk golongan anak aneh. Tapi dia tertolong karena pintar Fisika dan ganteng. Lah siapa yang suka sama cewek bertampang biasa-biasa aja dan suka berkhayal seperti aku?

Tapi kalau ditanya apakah aku senang atau tidak, terus terang, sejak aku melihat dia cengengesan sambil menunjuk kertas, jantungku sudah berdebar-debar tak karuan. Itu biasa terjadi sama orang-orang yang naksir diam-diam, dan gebetannya itu tiba-tiba seperti melancarkan serangan pendekatan. Kalian boleh membelek dadaku, dan akan menemukan tiruan taman Keukenhof di dalamnya. Indah mewangi semerbak sepanjang hari. Percaya deh.

Diam-diam aku pun mempersiapkan diri. Masih ada tiga hari sebelum malam minggu datang. Rumahku berantakan sekali, apalagi dengan keberadaan adikku yang masih berusia satu tahun. Semua benda yang disentuhnya sepertinya berubah menjadi bencana. Jadi tanpa disuruh, setiap hari aku membereskan semua kerusakan dan kekotoran yang dilakukan adikku. Pokoknya, nanti ketika Rudi datang dan menyatakan cintanya, tempat ini sudah kusulap seperti istana. Jadi kelak, bertahun-tahun kemudian, aku akan mengenang hari ketika Rudi nembak sebagai hari paling indah seumur hidupku.

Ayah dan Ibu tentu heran melihat kelakuanku yang berubah ini. Pada hari-hari biasa, mana mau aku disuruh beres-beres rumah? Tetapi mereka tidak mengatakan apa pun, hanya suka diam-diam memandangku takjub sambil tersenyum-senyum bangga.

Jantungku tak pernah berdetak normal sejak menerima secarik kertas dari Rudi itu. Setiap kali aku ingat, jantungku seperti arena rodeo. Semua itu semakin parah sejak kutemukan sepucuk surat menyembul di dalam tasku.

Yang Tersayang Lia,

Aku menulis surat padamu karena aku tahu, kamu gadis kuno yang senang pada surat. Maaf aku tidak menulis surat ini dengan tulisan tangan, kau tahu sendiri tulisanku buruk. Seperti benang kusut. Maaf juga jika suratku ini tidak membuatmu senang, aku tahu kau sudah membaca surat-surat yang jauh lebih baik dari suratku, milik penulis-penulis yang sudah mati yang sering kausebut-sebut, dan tak ada yang mengenal mereka. Aku pun tadinya tidak mengenal mereka, tetapi aku sudah tahu. Berkat kamu…. dan internet.

Lia yang manis,

Sudah lama aku mengagumimu. Aku senang mendengarmu mengoceh tentang semua hal yang kamu sukai. Seperti ada energi kehidupan meluap-luap yang keluar dari dalam dirimu, dan itu indah. Itu membuatku jatuh cinta. Terima kasih karena telah memperlihatkan begitu banyak hal yang istimewa.

Maaf aku lancang memanggilmu Lia yang Tersayang, karena itu benar.

Cium jauh,
Pengagummu

SUNGGUH!

Aku tidak menyangka kalau Rudi bisa menulis seindah itu. Maksudku, isi suratnya, bukan tulisan tangannya. Lagi pula, surat ini diketik dan dicetak dari komputer. Kupikir dia tidak punya ketertarikan sedikit pun pada apa yang kusukai. Dan ini membuat waktu yang berlalu menuju malam minggu menjadi semakin menegangkan bagiku.

Aku harus pakai baju apa?

Ketika jatuh cinta, perkara pakai baju apa bisa jadi masalah. Dan aku tidak tahu harus bertanya pada siapa.

***

Calon hari sabtu legendaris dalam hidupku itu pun tiba. Aku terburu-buru pulang dari sekolah karena aku harus mandi dan ganti baju. Untunglah Rudi berkata kalau dia akan datang sekitar pukul empat. Ketika sampai di rumah, ayah ibuku mengenakan pakaian rapi, tersenyum manis sekali menyambut putrinya datang. Ah, hari paling membahagiakan dalam hidupku ini ternyata menular juga kepada kedua orangtuaku. Aku senang.

“Lia, Mama bangga sekali padamu beberapa hari terakhir ini.”

Aku tersenyum.

“Papa juga,” ayahku menimpali.

Oh, lihatlah kami, gambaran keluarga bahagia.

“Akhirnya Mama bisa melihatmu sebagai anak gadis yang sudah dewasa dan bertanggungjawab. Sudah saatnya Mama memberimu tanggung jawab lebih besar,” kata ibuku.

“Papa sering sekali ingin mengajak mamamu kencan berdua saja. Biar kami lebih mesra.”

Aku menatap kedua orangtuaku takjub. Mereka seperti sepasang anak remaja yang baru jatuh cinta.

“Jadi malam ini, Mama sama Papa mau pergi dinner. Mama percaya sama kamu, Lia. Tolong jaga adikmu selama kami pergi.”

Pada kalimat terakhirnya aku mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Lalu bagaimana dengan aku dan Rudi? Masa dia menyatakan cinta padaku pada saat aku menggendong-gendong Lily? Sungguh tidak romantis! Ini tidak adil! Mereka kan sudah menikah, masih ada seumur hidup untuk menciptakan momen romantis lain.

“Tapi….”

“Mama benar-benar mengandalkanmu,” ucap ibuku.

“Baik-baik di rumah, ya!” Ayahku berkata sambil merangkul ibuku dan mempersilakannya masuk mobil. Mereka benar-benar dimabuk asmara.

“Tapi aku…?”

Rasanya duniaku runtuh. Rencanaku buyar semua. Aku melihat Lily masih tertidur pulas. Mungkin masih ada kesempatan untuk mandi dan berdandan selama adikku tidur. Sungguh tidak adil, aku masih saja menggerutu dalam hati. Tapi untunglah, Lily tidak bertingkah kali ini. Dia tidak beranjak jauh-jauh dari kamar, sibuk dengan mainannya.

Jam empat lebih delapan menit, bel berdentang.

Seluruh tubuhku gemetar.

Pemikiran bahwa ini malam minggu terakhir aku jomblo sungguh membuatku gugup. Aku berjalan pelan-pelan ke ruang tamu, berusaha meredakan jantung yang berpacu.

Bel berbunyi lagi. Aku menghela napas panjang, mengeluarkannya pelan-pelan.

Aku membuka pintu.

Wajahnya kulihat. Rudi. Tersenyum selebar jembatan Suramadu. Kemudian kulihat wajah-wajah lain.

“Hai Lia! Belum ngerjain peer bahasa Indonesia, kan? Bantuin bikinin puisi yak! Lo kan jagoan!” Rudi berkata ceria.

Kemang, 30 September 2011

Advertisements

air

kita yang mengalir lebih deru dari air terjun
suatu hari pun menyerah lalu
menjelma dua danau kecil yang tenang.

di dasarnya, masing-masing kita membangun kekuatan, berjaga-jaga bila diserang.

apakah sebegitunya, ketika panah-panah dicabuti
dari tubuh kita, cinta yang dahulu dalam berubah
jadi lubang-lubang luka.

namun bukankah air tak mengenal kata luka?

kemang, 30 september 2011

kenangan

aku mengingatmu sebagai sebuah senja mewah sewarna teh lemon. aku mengingat keringatku yang simbah karena berlari-lari dari ujung lingkaran ke ujung lingkaran lain, berusaha menempelkan bintang-bintang binar hasta karyaku di langit yang cokelat muda. aku ingat ingin menyesap senja teh lemon itu dalam kenanganku beserta wangimu yang sigap mendiami penciuman. aku ingat kau terlambat datang dan aku begitu gusar. aku ingat bibirmu ingin mampir di kulitku, tetapi terhalang – dan tetap saja membuat jantungku kulit lembu terbentang yang dipukuli bertubi-tubi. ritmis. aku ingat untuk bertekad agar tidak jatuh. kemudian berjuta detik setelahnya, aku ingat puluhan teguk kopi yang kupesan demi ingatan tentangmu. jenis minuman yang selalu kaupesan di kedai kopi mana pun. aku tetap jatuh.

aku mengingatmu sebagai malam yang tidak pernah berniat beranjak menjadi pagi. aku ingat berjalan di pinggir rel kereta, aku denganmu dan seorang teman yang seharusnya tidak berada di sana. aku mendongak menatapi bintang dan kau menggodaku. pastilah aku seorang seniman, memandangi bintang sebegitu mesranya. itu malam sudah hampir pagi dan kita tak punya waktu lagi. kaki-kakiku ingin menjejak bumimu lagi.

aku juga ingat kita pulang dan masing-masing kembali sendiri.

ah, apa guna ingatan, mengenang romansa seperti itu. lalu berjelabak dengan sadar. kita mengerti risiko-risiko jatuh cinta. tapi kita adalah orang-orang nekat yang tidak takut terluka.

lagi-lagi, waktulah yang bermasalah. yang mencuri semua kala kita.

kemang, 29 september 2011

mencintaimu dalam sunyi

selalu diam-diam,

 

dari  bilik di belakang cermin aku memperhatikanmu menisik-nisik kelambu pelindungmu dengan kenangan sebuah pagi di musim panas. matamu sayu, seperti selalu, setiap kali kau menginginkan pagutan liar. walau tentu saja, kudapati binar jenaka di sudut matamu.

dari bilik di belakang cermin ini terkadang pandang kita bersinggungan, tetapi dengan rikuh kita berpura-pura tidak saling melihat.

semenjak kau berubah menjadi batu.

aku masih memperhatikanmu diam-diam, tak pernah riuh. karena tahu jika aku mengusikmu, udara di sekeliling akan beku dan kita berdua kehabisan napas. maka diam-diam saja. kau diam-diam tahu aku memperhatikanmu. aku diam-diam memperhatikanmu. biar tak ada yang terluka dengan mengenaskan.

setelah itu, kau menyampirkan kelambu pelindungmu yang sudah kuat itu, dan habislah aku, karena kau menjadi terlarang untuk mataku.

 

 

 

Ombak

Ombak setinggi empat meter mengadang di hadapan speed boat yang kami tumpangi. Kapal itu terangkat naik, kemudian terlempar kembali bersama ombak. Aku berpegangan erat ke tiang di belakangku, satu-satunya benda yang bisa kupakai berpegangan. Laki-laki kaukasian di kanan kiriku tampak pucat, menahan muntah. Badanku terguncang. Kami berteriak dan mengumpat.

 

“Aaaaarrrgh.”

 

Bokongku terjatuh dengan keras di atas bangku speed boat, jantungku turun ke kaki. Ombak kembali mengadang, kali ini hampir merungkupi kami. Mungkin ini akhir hidupku.

 

Perempuan Korea di seberangku jatuh terbanting-banting dari kursinya, terlontar dua kali hingga terkapar di lantai speed boat. Dia tampak ketakutan. Dari depan, aku bisa melihat ombak bersiap menyerang kami kembali.

 

Aku menutup mata.

 

***

 

Aku membuka mata.

 

Kini aku kembali kosong.

 

Kekosongan yang menenangkan, yang memberimu perasaan bahwa kau adalah gelas yang bersiap untuk diisi, karena sudah ada yang mengucur dari botol di atasmu, dan kau akan segera ditandaskan kembali. Ini bukanlah kekosongan yang memuakkan, tatkala kau tergantung sendirian di rak piring dalam keadaan telungkup, tak ada daya untuk menerima apa pun. Aku dikosongkan secara paksa, sempat meronta tak rela pada awalnya, namun, ada ketenangan yang tidak diperkirakan sebelumnya.

 

Kuhabiskan anggur di tanganku dalam sekali teguk, lalu kukembalikan gelas itu di meja. Aku memperhatikan gelas itu dengan saksama. Gelas itu tampak bahagia, pikirku. Aku tak pernah mengira kalau kekosongan bisa begitu indah. Tak ada yang pepat ketat saling menggencet dalam dalam hatiku. Tak ada tali temali yang saling menyimpul membentuk kekusutan tak teruraikan dalam kepalaku. Hanya ada aku dan kosong, dan sebotol anggur.

 

Memang, ketiadaan adalah sesuatu yang direnggut paksa dari jantungmu. Paksa, artinya serabut-serabut yang menghubungkan sesuatu dari jantungmu itu menjadi rusak. Putus. Terkulai jatuh. Menetes-netes, berdarah-darah. Tapi kekosongan itu adalah sesuatu yang tiada, dan sesuatu yang tiada, tak lagi menyakitimu.

 

Kau mengerti apa yang kumaksud?

 

Apakah aku sudah terlalu mabuk hingga berceracau begini? Tidak, aku serius. Ini benar. Kekosongan memang bisa menenangkan.

 

Embun-embun yang ditimbulkan oleh es mulai mencair di dinding gelas dan bergulir turun. Kertas di bawahnya mulai lembap. Setetes jatuh. Aku mengangkat gelas dan mengambil tumpukan kertas itu dan mengibaskannya.

 

Ada bagian kosong tempat tanda tanganku kelak di bagian bawahnya.

 

Juga tanda tangannya.

 

Aku mengisi gelasku kembali, lalu menutup mata.

 

***

 

“Duniamu terlalu penuh berisi dengan dirimu sendiri. Kau bahkan tidak menyisakan tempat untukku.”

 

Akhirnya dia berbicara. Setelah berbulan-bulan kami menutup mata, berpura-pura kalau pernikahan kami masih baik-baik saja. Aku masih menyediakan sarapan dan kopi setiap pagi, tetapi kami sibuk masing-masing, berkutat dengan blackberry di tangan. Seringkali, kami bahkan tidak sempat duduk di meja makan dan menikmati sarapan.

 

Aku berpikir kebalikannya. Dia yang terlalu mencintai kehidupannya tanpa aku, memeluk semua hal di sekelilingnya, tanpa aku. Aku tak disertakan dalam rencana-rencananya. Sudah lama kami tidak saling bicara. Aku ingin, tetapi dia enggan mendengar. Lama kelamaan aku sudah tak pernah mencoba lagi.

 

Betapa cepat kejadiannya setelah itu. Setelah begitu lama berada dalam kegamangan, seperti berada dalam kapal laut, diayun-ayun ombak selama satu tahun. Sungguh, ketika aku melihat kembali hari-hari itu, aku takjub karena aku tidak mabuk laut, tidak muak menghadapi betapa buruknya hubungan kami.

 

“Sebaiknya kita tidak bersama lagi,” dia yang mengajukan itu. Seperti halnya dia yang melamarku pertama kali, dahulu, ketika cinta masih raja. Ketika hati belum dihadapkan pada tembok-tembok penghalang – hal-hal yang tak bisa lagi ditoleransi. Hati, badan, dan kepalaku lebam-lebam menghadapi ini. Aku tak ingin berpisah, karena besarnya cinta menggelembung melindungiku. Namun, cinta yang sama yang menggerogotiku dari dalam. Kami bukan sejoli yang ditakdirkan bersama selamanya.

 

Mungkin materi-materi dangkal yang dahulu membuatku mencintainya. Mungkin itu yang membuat kami tak bisa menyelam lebih dalam.

 

“Maafkan aku.”

 

Apakah setiap perpisahan selalu diiringi dengan permintaan maaf? Apakah itu membuat perasaan kita menjadi lebih baik? Tidak. Seringkali itu malah memperburuknya, meski tujuan sebenarnya adalah kebalikannya.

 

“Beri kita kesempatan sekali lagi,” usulku. “Mungkin kita sudah jenuh dengan rutinitas kita. Mari berlibur. Ayo pergi ke suatu tempat. Kalau itu tidak berhasil juga, apa boleh buat….”

 

“Kausadar kalau ini tak bisa diperbaiki lagi?”

 

“Tolong….” Aku berkata demikian, tak sadar kalau aku sudah begitu memelas.

 

***

 

Aku membuka mata.

 

Ombak masih bergulung-gulung. Sungguh, saat ini aku sudah siap mati. Aku tak memikirkan apa pun selain mati. Aku melirik ke sebelahku. Suamiku tampak tenang, tetapi wajahnya pucat.

 

Aku tak pernah berada dalam kondisi segenting ini. Sungguh, aku tak pernah mengira kalau perjalanan menuju pulau yang indah itu harus melibatkanku pada petualangan di tengah laut seperti ini. Aku tak ingat kalau semalam purnama. Tentu saja air pasang, dan ombak sedang beringas-beringasnya. Ia ingin menelanku.

 

Aku tentu saja ikhlas jika ombak ingin menelan kesedihan dan lukaku. Aku ingin kembali dari sini dalam keadaan baru. Siap mencintai lagi dan berhenti terluka. Aku ingin mencintai suamiku dengan cara baru. Cara yang lebih baik, yang tidak saling membunuh. Rasanya, kami seperti saling menikam, diam-diam dari belakang. Jadi kutantang ombak untuk menelanku. Boleh-boleh saja.

 

Tapi tak ayal, rasa takut tetap saja mengetuk-ngetuk kepalaku dengan jahil.

 

How much longer?” aku berteriak pada tour guide bernama Max itu.

 

Thirty minutes!” dia menjawab.

 

Lautan benar-benar seperti murka, dan dengan bebal aku bertanya apa dosaku.

 

Could you please slow this boat down?” aku bertanya hampir putus asa.

 

No, we’re gonna sink. We have to move with maximum speed.”

 

Aku mengerang.

 

You guys in honeymoon?” Max mulai menanyakan hal-hal di luar konteks, di tengah-tengah perjuanganku melawan ketakutan dilahap ombak. Dia berdiri dengan tenang di tengah-tengah kapal, sementara tanganku memegang erat tiang di belakangku hingga kebas.  Dan kapal ini memantul-mantulkan tubuhku hingga tulang ekorku menumbuk-numbuk bangku kayu yang keras. Aku berteriak lagi. Kesakitan.

 

Apakah sakit fisik lebih bisa ditahan dibandingkan luka hati? Saat ini aku tak bisa menjawabnya, karena aku tengah merasakan keduanya.

 

No, just some business trip,” suamiku menjawab. Sial. Rasanya aku malah jadi ingin mencemplungkan dia ke laut, biar dimakan hiu sekalian.

 

Oh, okay. Now five minutes more,” Max meyakinkanku.

 

You better right!” seruku.

 

Max cengengesan.

 

Lima menit berikutnya yang hampir seperti seharian penuh akhirnya berakhir. Ombak berhenti dan kami memasuki perairan Maya Bay yang tenang.

 

We’re here for about forty minutes. You can swim and snorkeling here.” Max menjelaskan. Aku masih terguncang oleh ombak selama dua jam tadi. Aku menatap suamiku.

 

“Kamu mau turun?” tanyaku.

 

“Kamu tahu aku enggak bisa berenang,” jawabnya, agak ketus.

 

Aku menggenggam tangannya. “Tolong, untuk sekali ini, kita sedang menyelamatkan pernikahan kita. Aku ingin kita saling mengenal lagi. Dan kenapa tadi kamu bilang kalau kita lagi business trip?”

 

“Iya, kan? Kita sedang menegosiasikan pernikahan kita?”

 

“Kamu benar-benar ingin bercerai, ya?”

 

Dia diam.

 

Hei Max, can I borrow one of those?” tiba-tiba dia bertanya sambil menunjuk alat snorkeling yang sedang dipegang Max. Lelaki Thailand itu menyerahkan satu tanpa kata. Suamiku memasang alat itu di mulut dan hidungnya, lalu meloncat ke air.

 

“Hei!” seruku.

 

Do you want to swim too?” Max bertanya. Aku menggeleng. Tubuhku masih gemetar berkat ombak besar tadi. Untuk berjalan saja aku masih limbung.

 

So, he’s your bussiness partner? Not your boyfriend or husband?” Max mulai menggoda. Aku hanya tersenyum kecut.

 

Hey, careful, Miss!” seru sebuah suara dari atas kapal. “He’s married, but he also has two girlfriend, one of them is pregnant!” perempuan mungil itu berkata sambil tertawa-tawa.

 

It’s alright!” seruku menjawabnya.

 

Kami mengobrol sambil aku memperhatikan suamiku mencoba mengambang dengan tegar, lalu menyerah dan memanjat kapal.

 

We’re going to move again, Phi phi Island for about five minutes!” seru Max ketika empat puluh menit itu telah berakhir. Sementara aku mempersiapkan mentalku untuk kembali menghadapi ombak besar. Suamiku masih saja tidak tampak bahagia.

 

Aku menanyakan itu ketika kami check-in di cottage di Phi phi Island. “Kamu ga bisa ya paling enggak pura-pura seneng?”

 

“Kamu sudah meminta terlalu banyak. Seharusnya kamu bersyukur aku mau ikut ke sini denganmu.”

 

“Kalau kamu tidak berniat mempertahankan ini, kenapa juga kamu setuju pergi denganku?”

 

“Aku kasihan sama kamu. Karena kamu pasti sedih dengan perceraian ini. Jadi aku ingin membuatmu senang untuk terakhir kalinya. Sudah ya, aku mau tidur.”

 

“Bukannya kita harus membicarakan segala sesuatunya dan memperbaiki ini?”

 

“Nggak ada yang bisa diperbaiki lagi. Kita sudah pecah berserakan. Sebaiknya kamu mulai menanamkan ide itu di otakmu. Apa pun yang kita lakukan nggak akan berhasil.”

 

Malam itu kami habiskan dengan tidur berpunggung-punggungan. Di pulau indah yang seharusnya merekatkan kami kembali.

 

***

 

Aku membuka mata, mengetuk-ngetuk ujung pulpen ke meja. Kuhela napas berat, benar-benar seperti ada segulung benang wol kusut menyumbat saluran pernapasanku. Apa yang akan kulakukan setelah ini? Memikirkan konsekuensi bahwa aku akan sendiri begitu kutandatangani surat ini membuat dadaku sesak. Rumah ini akan menjadi terlalu luang tanpanya.

 

Namun, mengingat semua hal yang akan membuatku semakin tidak bahagia jika terus bersamanya, membuatku yakin, aku harus melakukan ini. Kukuatkan hatiku dan meraih berkas kertas di hadapanku. Dengan cepat, takut berubah pikiran, kutandatangani surat itu.

 

Aku menutup mata, menggigit bibir, dan menahan sengal.

 

Kemang, 5 Juli 2011 | 11:37

Ruang Temu

ruang temu kita adalah sebuah lorong sempit dan panjang. pada mulanya kita berada di masing-masing ujung, masih mencoba memastikan apakah itu kita. aku menyeret-nyeret sekotak luka. kau pun menanggung sesuatu seperti makhluk aneh yang jari-jari kurusnya mencoba menutupi matamu. kita berusaha keras. langkahku tentu terseok, dengan sekotak luka yang tak ingin ditinggalkan. dan tanganmu meraba-raba dinding, berupaya terus berjalan. kupikir kita sungguh gigih.

kecuali setelah itu aku tahu bahwa jari-jari makhluk kurus itu adalah bagian dari sayapmu. sementara tanganmu yang lain, melempariku dengan kotak-kotak luka baru, yang harus kuhela-hela.

puisi yang ditulis ibuku

RINDU MEMELUKMU

ketuban ‘tlah lama pecah,
menghantar keluar dari buaian malam
meninggalkan dinding rahim
dan sanak saudara di sana
yang tak kan pernah lagi bersapa

wahai cantik
lama sekali kita hidup tanpa sua
hingga mama lupa
bagaimana sekarang bau ubun-ubunmu
dan rasa amis di pipi gembil bekas air susu
yang mengendap tak terisap

gelitik nafasmu diantara gunungan rindu
tak lagi bisa kutangkap, seperti saat dulu
kala kamu dengan rakus menyusu
sambil menggelitik bawah ketiakku

kuhitung satu satu,
helaan nafas manja
serta sorot mata beningmu
sambil menaburkan cinta
dan kamu melahapnya tanpa kata-kata

harus kemana kutambatkan rindu
sementara kamu semakin menjauh
asyik menangkap mimpi-mimpimu
di dunia yang tak kukenal

garut – 15 mei 2011

(diambil dari facebook ibu saya)