cintamu begitu fana, kenangan begitu perkasa

aku selalu menyelundupkanmu di antara titik dan koma yang berbaris dalam pasukan-pasukan kata. sesekali mereka mengangkat senjata, membidikku dengan peluru-peluru kenangan.

engkau layaknya sebentang bidang putih di saujana, sepanjang sudut mataku bisa menatap. wajahmu titik-titik yang bergerombolan penuh sekongkol membentuk garis di bentangan bidang putih itu. seringkali tersenyum. sebegitu aku mengingatnya.

tanganku terulur ingin menyentuh garis pipimu, mencelos menembus udara. cintamu begitu fana. engkau begitu khayal. begitu aku ingin kau nyata. kemudian udara bergulung-gulung dan kau awan kelabu di langit yang mengubah dirimu menjadi sebentuk serigala.

kutusuk awan-awanmu dengan ujung rambutku yang runcing. maka kau terburai menjadi hujan. hujan yang jatuh di puncak kepalaku ketika kemarau, membuatku sulit memutuskan apakah harus mengumpat atau bersyukur.

aku selalu menyelundupkanmu di antara barisan kata-kata, begitu kecilnya kau bersembunyi di sela-sela kata-kata besar sombong yang ingin menonjolkan diri. kau selalu bersama mereka dalam kebersahajaan yang lembut. bahkan tanpa kau menyadarinya. sepotong adamu bersama mereka.

cintamu begitu fana, kenangan begitu perkasa. dan kita masih masing-masing mengulum permen pahit sendiri-sendiri. menjadi sepasang sepi.

Advertisements