Ombak

Ombak setinggi empat meter mengadang di hadapan speed boat yang kami tumpangi. Kapal itu terangkat naik, kemudian terlempar kembali bersama ombak. Aku berpegangan erat ke tiang di belakangku, satu-satunya benda yang bisa kupakai berpegangan. Laki-laki kaukasian di kanan kiriku tampak pucat, menahan muntah. Badanku terguncang. Kami berteriak dan mengumpat.

 

“Aaaaarrrgh.”

 

Bokongku terjatuh dengan keras di atas bangku speed boat, jantungku turun ke kaki. Ombak kembali mengadang, kali ini hampir merungkupi kami. Mungkin ini akhir hidupku.

 

Perempuan Korea di seberangku jatuh terbanting-banting dari kursinya, terlontar dua kali hingga terkapar di lantai speed boat. Dia tampak ketakutan. Dari depan, aku bisa melihat ombak bersiap menyerang kami kembali.

 

Aku menutup mata.

 

***

 

Aku membuka mata.

 

Kini aku kembali kosong.

 

Kekosongan yang menenangkan, yang memberimu perasaan bahwa kau adalah gelas yang bersiap untuk diisi, karena sudah ada yang mengucur dari botol di atasmu, dan kau akan segera ditandaskan kembali. Ini bukanlah kekosongan yang memuakkan, tatkala kau tergantung sendirian di rak piring dalam keadaan telungkup, tak ada daya untuk menerima apa pun. Aku dikosongkan secara paksa, sempat meronta tak rela pada awalnya, namun, ada ketenangan yang tidak diperkirakan sebelumnya.

 

Kuhabiskan anggur di tanganku dalam sekali teguk, lalu kukembalikan gelas itu di meja. Aku memperhatikan gelas itu dengan saksama. Gelas itu tampak bahagia, pikirku. Aku tak pernah mengira kalau kekosongan bisa begitu indah. Tak ada yang pepat ketat saling menggencet dalam dalam hatiku. Tak ada tali temali yang saling menyimpul membentuk kekusutan tak teruraikan dalam kepalaku. Hanya ada aku dan kosong, dan sebotol anggur.

 

Memang, ketiadaan adalah sesuatu yang direnggut paksa dari jantungmu. Paksa, artinya serabut-serabut yang menghubungkan sesuatu dari jantungmu itu menjadi rusak. Putus. Terkulai jatuh. Menetes-netes, berdarah-darah. Tapi kekosongan itu adalah sesuatu yang tiada, dan sesuatu yang tiada, tak lagi menyakitimu.

 

Kau mengerti apa yang kumaksud?

 

Apakah aku sudah terlalu mabuk hingga berceracau begini? Tidak, aku serius. Ini benar. Kekosongan memang bisa menenangkan.

 

Embun-embun yang ditimbulkan oleh es mulai mencair di dinding gelas dan bergulir turun. Kertas di bawahnya mulai lembap. Setetes jatuh. Aku mengangkat gelas dan mengambil tumpukan kertas itu dan mengibaskannya.

 

Ada bagian kosong tempat tanda tanganku kelak di bagian bawahnya.

 

Juga tanda tangannya.

 

Aku mengisi gelasku kembali, lalu menutup mata.

 

***

 

“Duniamu terlalu penuh berisi dengan dirimu sendiri. Kau bahkan tidak menyisakan tempat untukku.”

 

Akhirnya dia berbicara. Setelah berbulan-bulan kami menutup mata, berpura-pura kalau pernikahan kami masih baik-baik saja. Aku masih menyediakan sarapan dan kopi setiap pagi, tetapi kami sibuk masing-masing, berkutat dengan blackberry di tangan. Seringkali, kami bahkan tidak sempat duduk di meja makan dan menikmati sarapan.

 

Aku berpikir kebalikannya. Dia yang terlalu mencintai kehidupannya tanpa aku, memeluk semua hal di sekelilingnya, tanpa aku. Aku tak disertakan dalam rencana-rencananya. Sudah lama kami tidak saling bicara. Aku ingin, tetapi dia enggan mendengar. Lama kelamaan aku sudah tak pernah mencoba lagi.

 

Betapa cepat kejadiannya setelah itu. Setelah begitu lama berada dalam kegamangan, seperti berada dalam kapal laut, diayun-ayun ombak selama satu tahun. Sungguh, ketika aku melihat kembali hari-hari itu, aku takjub karena aku tidak mabuk laut, tidak muak menghadapi betapa buruknya hubungan kami.

 

“Sebaiknya kita tidak bersama lagi,” dia yang mengajukan itu. Seperti halnya dia yang melamarku pertama kali, dahulu, ketika cinta masih raja. Ketika hati belum dihadapkan pada tembok-tembok penghalang – hal-hal yang tak bisa lagi ditoleransi. Hati, badan, dan kepalaku lebam-lebam menghadapi ini. Aku tak ingin berpisah, karena besarnya cinta menggelembung melindungiku. Namun, cinta yang sama yang menggerogotiku dari dalam. Kami bukan sejoli yang ditakdirkan bersama selamanya.

 

Mungkin materi-materi dangkal yang dahulu membuatku mencintainya. Mungkin itu yang membuat kami tak bisa menyelam lebih dalam.

 

“Maafkan aku.”

 

Apakah setiap perpisahan selalu diiringi dengan permintaan maaf? Apakah itu membuat perasaan kita menjadi lebih baik? Tidak. Seringkali itu malah memperburuknya, meski tujuan sebenarnya adalah kebalikannya.

 

“Beri kita kesempatan sekali lagi,” usulku. “Mungkin kita sudah jenuh dengan rutinitas kita. Mari berlibur. Ayo pergi ke suatu tempat. Kalau itu tidak berhasil juga, apa boleh buat….”

 

“Kausadar kalau ini tak bisa diperbaiki lagi?”

 

“Tolong….” Aku berkata demikian, tak sadar kalau aku sudah begitu memelas.

 

***

 

Aku membuka mata.

 

Ombak masih bergulung-gulung. Sungguh, saat ini aku sudah siap mati. Aku tak memikirkan apa pun selain mati. Aku melirik ke sebelahku. Suamiku tampak tenang, tetapi wajahnya pucat.

 

Aku tak pernah berada dalam kondisi segenting ini. Sungguh, aku tak pernah mengira kalau perjalanan menuju pulau yang indah itu harus melibatkanku pada petualangan di tengah laut seperti ini. Aku tak ingat kalau semalam purnama. Tentu saja air pasang, dan ombak sedang beringas-beringasnya. Ia ingin menelanku.

 

Aku tentu saja ikhlas jika ombak ingin menelan kesedihan dan lukaku. Aku ingin kembali dari sini dalam keadaan baru. Siap mencintai lagi dan berhenti terluka. Aku ingin mencintai suamiku dengan cara baru. Cara yang lebih baik, yang tidak saling membunuh. Rasanya, kami seperti saling menikam, diam-diam dari belakang. Jadi kutantang ombak untuk menelanku. Boleh-boleh saja.

 

Tapi tak ayal, rasa takut tetap saja mengetuk-ngetuk kepalaku dengan jahil.

 

How much longer?” aku berteriak pada tour guide bernama Max itu.

 

Thirty minutes!” dia menjawab.

 

Lautan benar-benar seperti murka, dan dengan bebal aku bertanya apa dosaku.

 

Could you please slow this boat down?” aku bertanya hampir putus asa.

 

No, we’re gonna sink. We have to move with maximum speed.”

 

Aku mengerang.

 

You guys in honeymoon?” Max mulai menanyakan hal-hal di luar konteks, di tengah-tengah perjuanganku melawan ketakutan dilahap ombak. Dia berdiri dengan tenang di tengah-tengah kapal, sementara tanganku memegang erat tiang di belakangku hingga kebas.  Dan kapal ini memantul-mantulkan tubuhku hingga tulang ekorku menumbuk-numbuk bangku kayu yang keras. Aku berteriak lagi. Kesakitan.

 

Apakah sakit fisik lebih bisa ditahan dibandingkan luka hati? Saat ini aku tak bisa menjawabnya, karena aku tengah merasakan keduanya.

 

No, just some business trip,” suamiku menjawab. Sial. Rasanya aku malah jadi ingin mencemplungkan dia ke laut, biar dimakan hiu sekalian.

 

Oh, okay. Now five minutes more,” Max meyakinkanku.

 

You better right!” seruku.

 

Max cengengesan.

 

Lima menit berikutnya yang hampir seperti seharian penuh akhirnya berakhir. Ombak berhenti dan kami memasuki perairan Maya Bay yang tenang.

 

We’re here for about forty minutes. You can swim and snorkeling here.” Max menjelaskan. Aku masih terguncang oleh ombak selama dua jam tadi. Aku menatap suamiku.

 

“Kamu mau turun?” tanyaku.

 

“Kamu tahu aku enggak bisa berenang,” jawabnya, agak ketus.

 

Aku menggenggam tangannya. “Tolong, untuk sekali ini, kita sedang menyelamatkan pernikahan kita. Aku ingin kita saling mengenal lagi. Dan kenapa tadi kamu bilang kalau kita lagi business trip?”

 

“Iya, kan? Kita sedang menegosiasikan pernikahan kita?”

 

“Kamu benar-benar ingin bercerai, ya?”

 

Dia diam.

 

Hei Max, can I borrow one of those?” tiba-tiba dia bertanya sambil menunjuk alat snorkeling yang sedang dipegang Max. Lelaki Thailand itu menyerahkan satu tanpa kata. Suamiku memasang alat itu di mulut dan hidungnya, lalu meloncat ke air.

 

“Hei!” seruku.

 

Do you want to swim too?” Max bertanya. Aku menggeleng. Tubuhku masih gemetar berkat ombak besar tadi. Untuk berjalan saja aku masih limbung.

 

So, he’s your bussiness partner? Not your boyfriend or husband?” Max mulai menggoda. Aku hanya tersenyum kecut.

 

Hey, careful, Miss!” seru sebuah suara dari atas kapal. “He’s married, but he also has two girlfriend, one of them is pregnant!” perempuan mungil itu berkata sambil tertawa-tawa.

 

It’s alright!” seruku menjawabnya.

 

Kami mengobrol sambil aku memperhatikan suamiku mencoba mengambang dengan tegar, lalu menyerah dan memanjat kapal.

 

We’re going to move again, Phi phi Island for about five minutes!” seru Max ketika empat puluh menit itu telah berakhir. Sementara aku mempersiapkan mentalku untuk kembali menghadapi ombak besar. Suamiku masih saja tidak tampak bahagia.

 

Aku menanyakan itu ketika kami check-in di cottage di Phi phi Island. “Kamu ga bisa ya paling enggak pura-pura seneng?”

 

“Kamu sudah meminta terlalu banyak. Seharusnya kamu bersyukur aku mau ikut ke sini denganmu.”

 

“Kalau kamu tidak berniat mempertahankan ini, kenapa juga kamu setuju pergi denganku?”

 

“Aku kasihan sama kamu. Karena kamu pasti sedih dengan perceraian ini. Jadi aku ingin membuatmu senang untuk terakhir kalinya. Sudah ya, aku mau tidur.”

 

“Bukannya kita harus membicarakan segala sesuatunya dan memperbaiki ini?”

 

“Nggak ada yang bisa diperbaiki lagi. Kita sudah pecah berserakan. Sebaiknya kamu mulai menanamkan ide itu di otakmu. Apa pun yang kita lakukan nggak akan berhasil.”

 

Malam itu kami habiskan dengan tidur berpunggung-punggungan. Di pulau indah yang seharusnya merekatkan kami kembali.

 

***

 

Aku membuka mata, mengetuk-ngetuk ujung pulpen ke meja. Kuhela napas berat, benar-benar seperti ada segulung benang wol kusut menyumbat saluran pernapasanku. Apa yang akan kulakukan setelah ini? Memikirkan konsekuensi bahwa aku akan sendiri begitu kutandatangani surat ini membuat dadaku sesak. Rumah ini akan menjadi terlalu luang tanpanya.

 

Namun, mengingat semua hal yang akan membuatku semakin tidak bahagia jika terus bersamanya, membuatku yakin, aku harus melakukan ini. Kukuatkan hatiku dan meraih berkas kertas di hadapanku. Dengan cepat, takut berubah pikiran, kutandatangani surat itu.

 

Aku menutup mata, menggigit bibir, dan menahan sengal.

 

Kemang, 5 Juli 2011 | 11:37

Advertisements

3 thoughts on “Ombak

Comments are closed.