kenangan

aku mengingatmu sebagai sebuah senja mewah sewarna teh lemon. aku mengingat keringatku yang simbah karena berlari-lari dari ujung lingkaran ke ujung lingkaran lain, berusaha menempelkan bintang-bintang binar hasta karyaku di langit yang cokelat muda. aku ingat ingin menyesap senja teh lemon itu dalam kenanganku beserta wangimu yang sigap mendiami penciuman. aku ingat kau terlambat datang dan aku begitu gusar. aku ingat bibirmu ingin mampir di kulitku, tetapi terhalang – dan tetap saja membuat jantungku kulit lembu terbentang yang dipukuli bertubi-tubi. ritmis. aku ingat untuk bertekad agar tidak jatuh. kemudian berjuta detik setelahnya, aku ingat puluhan teguk kopi yang kupesan demi ingatan tentangmu. jenis minuman yang selalu kaupesan di kedai kopi mana pun. aku tetap jatuh.

aku mengingatmu sebagai malam yang tidak pernah berniat beranjak menjadi pagi. aku ingat berjalan di pinggir rel kereta, aku denganmu dan seorang teman yang seharusnya tidak berada di sana. aku mendongak menatapi bintang dan kau menggodaku. pastilah aku seorang seniman, memandangi bintang sebegitu mesranya. itu malam sudah hampir pagi dan kita tak punya waktu lagi. kaki-kakiku ingin menjejak bumimu lagi.

aku juga ingat kita pulang dan masing-masing kembali sendiri.

ah, apa guna ingatan, mengenang romansa seperti itu. lalu berjelabak dengan sadar. kita mengerti risiko-risiko jatuh cinta. tapi kita adalah orang-orang nekat yang tidak takut terluka.

lagi-lagi, waktulah yang bermasalah. yang mencuri semua kala kita.

kemang, 29 september 2011

Advertisements

7 thoughts on “kenangan

Comments are closed.