Cerpen

Malam Minggu

Sebut saja aku kuno, karena aku menyukai cara-cara ayah ibuku semasa muda dahulu. Aku kuno dan romantis. Aku bahkan dianugerahi julukan “tua” oleh teman-temanku. Aku hanya tertawa, karena mereka tidak mengerti. Hal-hal kuno itu keren. Tahu kan novel-novel klasik zaman dulu? Usianya sudah ratusan tahun tetapi sampai sekarang orang-orang masih membacanya. Coba saja baca Daddy Long Legs-nya Jean Webster. Enggak lekang ditelan zaman, masih asyik saja dibaca.

Kekunoanku yang paling menonjol adalah, aku senang menulis surat. Bukan email, tapi surat sungguhan. Aku membantu para tukang pos dengan mengirim surat di dalam amplop. Aku yakin, akhir-akhir ini, pasti hanya aku yang menggunakan jasa tukang pos untuk mengirim surat pribadi. Baiklah, dan beberapa manula yang senang menulis. Mungkin. Yah, paling tidak kakekku masih menulis surat. Soalnya, aku memang cuma menulis surat buat Kakek saja. Kasihan, ya. Kan sudah kubilang, hari gini tidak ada lagi yang menulis surat.

Makanya, teman-temanku menganggapku aneh karena senang menulis surat. Kalau datang jam pelajaran Fisika, jika aku sudah suntuk banget tidak bisa mengikuti penjelasan Bu Emmy, aku akan menyobek bagian tengah buku tulisku dan mulai menulis surat. Kali ini, untuk teman khayalanku.

Pluk.

Sesuatu mengenai punggungku, lalu jatuh ke ubin kelas. Kertas yang diremas-remas. Aku celingukan. Di belakang, Rudi cengengesan sambil menunjuk-nunjuk kertas. Dengan ragu aku memungutnya. Rudi duduk tiga bangku di belakangku. Aneh sekali, jarang-jarang juga kami mengobrol, kecuali saat aku mencontek ulangan Fisika (dan itu tak bisa disebut mengobrol), atau dia mencontek ulangan Bahasa Inggris dariku (oh iya, tolong bagian contek mencontek ini jangan kalian tiru. Anggap saja aku tak pernah mengatakannya). Perlahan aku membuka kertas kusut itu.

Isinya adalah tulisan cakar ayam Rudi yang sulit dibaca.

Eh, maksudnya apa nanyain malam minggu aku mau ngapain? Aku menoleh sekilas ke arahnya, melontarkan isyarat tanya dengan mataku. Dia tidak menangkap mataku karena sedang serius memperhatikan Bu Emmy. Menyebalkan. Ketika bel pergantian jam berbunyi, aku buru-buru ke mejanya sambil memperlihatkan kertas yang tadi dilemparnya padaku.

“Ini apa?”

Dia menyuruhku merunduk agar sejajar dengannya. Aku menurut tanpa protes. Dia lalu berbisik. “Malam minggu ga kemana-mana? Aku ke rumahmu ya.”

“Mau apa?”

“Ada yang mau kutanyain.”

“Kenapa ga ditanyain sekarang aja?”

“Banyak orang.”

***

Seharian itu aku memikirkan permintaan Rudi. Datang ke rumahku malam minggu? Sesuatu banget ini. Gini lho, karena aku termasuk golongan orang aneh di sekolah, rasanya ajaib kalau ada cowok yang naksir aku. Rudi juga termasuk golongan anak aneh. Tapi dia tertolong karena pintar Fisika dan ganteng. Lah siapa yang suka sama cewek bertampang biasa-biasa aja dan suka berkhayal seperti aku?

Tapi kalau ditanya apakah aku senang atau tidak, terus terang, sejak aku melihat dia cengengesan sambil menunjuk kertas, jantungku sudah berdebar-debar tak karuan. Itu biasa terjadi sama orang-orang yang naksir diam-diam, dan gebetannya itu tiba-tiba seperti melancarkan serangan pendekatan. Kalian boleh membelek dadaku, dan akan menemukan tiruan taman Keukenhof di dalamnya. Indah mewangi semerbak sepanjang hari. Percaya deh.

Diam-diam aku pun mempersiapkan diri. Masih ada tiga hari sebelum malam minggu datang. Rumahku berantakan sekali, apalagi dengan keberadaan adikku yang masih berusia satu tahun. Semua benda yang disentuhnya sepertinya berubah menjadi bencana. Jadi tanpa disuruh, setiap hari aku membereskan semua kerusakan dan kekotoran yang dilakukan adikku. Pokoknya, nanti ketika Rudi datang dan menyatakan cintanya, tempat ini sudah kusulap seperti istana. Jadi kelak, bertahun-tahun kemudian, aku akan mengenang hari ketika Rudi nembak sebagai hari paling indah seumur hidupku.

Ayah dan Ibu tentu heran melihat kelakuanku yang berubah ini. Pada hari-hari biasa, mana mau aku disuruh beres-beres rumah? Tetapi mereka tidak mengatakan apa pun, hanya suka diam-diam memandangku takjub sambil tersenyum-senyum bangga.

Jantungku tak pernah berdetak normal sejak menerima secarik kertas dari Rudi itu. Setiap kali aku ingat, jantungku seperti arena rodeo. Semua itu semakin parah sejak kutemukan sepucuk surat menyembul di dalam tasku.

Yang Tersayang Lia,

Aku menulis surat padamu karena aku tahu, kamu gadis kuno yang senang pada surat. Maaf aku tidak menulis surat ini dengan tulisan tangan, kau tahu sendiri tulisanku buruk. Seperti benang kusut. Maaf juga jika suratku ini tidak membuatmu senang, aku tahu kau sudah membaca surat-surat yang jauh lebih baik dari suratku, milik penulis-penulis yang sudah mati yang sering kausebut-sebut, dan tak ada yang mengenal mereka. Aku pun tadinya tidak mengenal mereka, tetapi aku sudah tahu. Berkat kamu…. dan internet.

Lia yang manis,

Sudah lama aku mengagumimu. Aku senang mendengarmu mengoceh tentang semua hal yang kamu sukai. Seperti ada energi kehidupan meluap-luap yang keluar dari dalam dirimu, dan itu indah. Itu membuatku jatuh cinta. Terima kasih karena telah memperlihatkan begitu banyak hal yang istimewa.

Maaf aku lancang memanggilmu Lia yang Tersayang, karena itu benar.

Cium jauh,
Pengagummu

SUNGGUH!

Aku tidak menyangka kalau Rudi bisa menulis seindah itu. Maksudku, isi suratnya, bukan tulisan tangannya. Lagi pula, surat ini diketik dan dicetak dari komputer. Kupikir dia tidak punya ketertarikan sedikit pun pada apa yang kusukai. Dan ini membuat waktu yang berlalu menuju malam minggu menjadi semakin menegangkan bagiku.

Aku harus pakai baju apa?

Ketika jatuh cinta, perkara pakai baju apa bisa jadi masalah. Dan aku tidak tahu harus bertanya pada siapa.

***

Calon hari sabtu legendaris dalam hidupku itu pun tiba. Aku terburu-buru pulang dari sekolah karena aku harus mandi dan ganti baju. Untunglah Rudi berkata kalau dia akan datang sekitar pukul empat. Ketika sampai di rumah, ayah ibuku mengenakan pakaian rapi, tersenyum manis sekali menyambut putrinya datang. Ah, hari paling membahagiakan dalam hidupku ini ternyata menular juga kepada kedua orangtuaku. Aku senang.

“Lia, Mama bangga sekali padamu beberapa hari terakhir ini.”

Aku tersenyum.

“Papa juga,” ayahku menimpali.

Oh, lihatlah kami, gambaran keluarga bahagia.

“Akhirnya Mama bisa melihatmu sebagai anak gadis yang sudah dewasa dan bertanggungjawab. Sudah saatnya Mama memberimu tanggung jawab lebih besar,” kata ibuku.

“Papa sering sekali ingin mengajak mamamu kencan berdua saja. Biar kami lebih mesra.”

Aku menatap kedua orangtuaku takjub. Mereka seperti sepasang anak remaja yang baru jatuh cinta.

“Jadi malam ini, Mama sama Papa mau pergi dinner. Mama percaya sama kamu, Lia. Tolong jaga adikmu selama kami pergi.”

Pada kalimat terakhirnya aku mulai merasakan sesuatu yang tidak beres. Lalu bagaimana dengan aku dan Rudi? Masa dia menyatakan cinta padaku pada saat aku menggendong-gendong Lily? Sungguh tidak romantis! Ini tidak adil! Mereka kan sudah menikah, masih ada seumur hidup untuk menciptakan momen romantis lain.

“Tapi….”

“Mama benar-benar mengandalkanmu,” ucap ibuku.

“Baik-baik di rumah, ya!” Ayahku berkata sambil merangkul ibuku dan mempersilakannya masuk mobil. Mereka benar-benar dimabuk asmara.

“Tapi aku…?”

Rasanya duniaku runtuh. Rencanaku buyar semua. Aku melihat Lily masih tertidur pulas. Mungkin masih ada kesempatan untuk mandi dan berdandan selama adikku tidur. Sungguh tidak adil, aku masih saja menggerutu dalam hati. Tapi untunglah, Lily tidak bertingkah kali ini. Dia tidak beranjak jauh-jauh dari kamar, sibuk dengan mainannya.

Jam empat lebih delapan menit, bel berdentang.

Seluruh tubuhku gemetar.

Pemikiran bahwa ini malam minggu terakhir aku jomblo sungguh membuatku gugup. Aku berjalan pelan-pelan ke ruang tamu, berusaha meredakan jantung yang berpacu.

Bel berbunyi lagi. Aku menghela napas panjang, mengeluarkannya pelan-pelan.

Aku membuka pintu.

Wajahnya kulihat. Rudi. Tersenyum selebar jembatan Suramadu. Kemudian kulihat wajah-wajah lain.

“Hai Lia! Belum ngerjain peer bahasa Indonesia, kan? Bantuin bikinin puisi yak! Lo kan jagoan!” Rudi berkata ceria.

Kemang, 30 September 2011

Advertisements

12 thoughts on “Malam Minggu”

  1. Aaaaahhh.. ini pasti ada sambungannya. Terus siapa dong yang nulis surat itu?
    Ditunggu sambungannya, ya.

    Cium jauh,

    Pengagummu 😀

Comments are closed.