Putriku dan Dongeng-dongengnya

Anakku senang pada dongeng-dongeng. Berkat ibunya yang rajin, gadis cilik berusia lima tahun itu kini tergila-gila pada dongeng. Kapan pun dia ingat, dia akan meminta hingga memaksa siapa pun untuk mendongeng padanya. Juru cerita favoritnya, tentu saja adalah ibunya sendiri, si racun pertama. Dongeng-dongeng yang diceritakan istriku kebanyakan adalah gubahan asal yang terinspirasi dari kisah Grimm, Perault, Andersen, ataupun cerita-cerita rakyat. Istriku adalah penggila dongeng yang taat. Dia bahkan menulis skripsinya tentang dongeng sebagai syarat kelulusannya menjadi Sarjana Sastra.

Aku sendiri menganggap dongeng sebagai mainan anak perempuan, apalagi dongeng-dongeng yang melibatkan kisah para putri yang minta diselamatkan. Aku hanya mengangguk-angguk saja berpura-pura tertarik ketika istriku bercerita tentang dongeng-dongeng yang digilainya itu. Maka aku pun tidak heran ketika anakku yang bicaranya masih cadel itu tertular kegilaan ibunya.

Suatu waktu, dia menarik-narik ujung kemejaku meminta didongengi sesuatu. Kala itu aku sedang sibuk mengerjakan laporan dan tidak bisa memenuhi permintaannya. Dia meraung kencang sekali, dan tak ada satu pun yang dapat meredakan tangisannya itu, tidak pula dongeng dari istriku. Dia menginginkan dongeng dariku.

Maka baiklah, pikirku, toh laporan ini sudah hampir selesai dan tak ada salahnya jika kutinggalkan sebentar demi bisa bercerita pada putri semata wayangku.

Dia langsung berhenti menangis dan air matanya mengering dengan sendirinya, wajahnya dihiasi tawa, tak ada jejak-jejak tangis di mukanya yang mungil itu. Dasar penipu cilik, pikirku.

Anakku sudah menyiapkan tempat di ranjang kecilnya. Dia menyusun bantal-bantal sedemikian rupa agar aku bisa mendongeng dengan nyaman. Sungguh, melihatnya berseri-seri seperti ini membuat hatiku membuncah bahagia. Matanya yang berbinar menatapku penuh antisipasi, bersiap mendengar dongeng paling hebat yang pernah didengarnya.

“Pada zaman dahulu,” demikian aku memulai. Namun, sebelum sampai pada kalimat berikutnya, dia sudah protes dengan suaranya yang kenes.

“Ibu kalau mendongeng tidak pakai ‘pada zaman dahulu’, kata Ibu, mendongeng kayak gitu udah kuno.”

Ingatkan aku untuk mencubit istriku karena telah menyebabkan semua kerepotan ini. Aku tidak suka dongeng, pun tidak pandai mengarang dan sekarang harus berkutat dengan itu setiap hari.

“Baiklah. Hmmm, bagaimana ya?”

“Telselah Ayah bagaimana mulainya.”

Aku memutar otak, lalu kembali memulai. “Kisah ini terjadi tidak terlalu lama. Mungkin kemarin, tapi bisa juga baru terjadi. Pokoknya, di dunia dongeng, soal waktu bukanlah masalah penting….”

Anakku sudah memperhatikan dengan saksama.

“Ini adalah cerita dua monster yang saling membenci.”

“Kenapa meleka saling membenci, Ayah?”

“Husy… dengarkan dulu.”

“Monstelnya selam tidak, Ayah?”

“Monsternya tidak seram. Kamu mau dengar ceritanya atau tidak?” Aku terus mengulur-ulur waktu sambil memikirkan apa yang akan kuceritakan berikutnya. Dia diam, siap mendengarkan lagi.

“Pada saat ini, mungkin terjadi di dalam lemarimu, atau di bawah ranjangmu, hiduplah dua ekor monster yang saling membenci. Mereka tidak tahu mengapa mereka saling membenci. Tiba-tiba saja begitu. Awalnya mereka berpapasan di gang, kemudian tumbuhlah benih-benih kebencian di antara mereka.

Mereka adalah Monster Merah dan Monster Ungu. Monster Merah menyukai segala yang berwarna merah dan senang menggambar dan mendengarkan dongeng. Sementara itu, Monster Ungu menyukai warna ungu, suka mewarnai dan membacakan dongeng. Tetapi mereka tidak tahu itu. Monster Merah hanya tahu kalau Monster Ungu adalah monster jelek dan tinggi yang berwarna ungu dan punya tampang bodoh. Sementara Monster ungu mengenali monster merah sebagai monster bertampang galak yang senang membentak orang juga sok pintar. Keduanya tidak tahu kalau mereka berdua memiliki hobi yang sama.

Setiap hari, kebencian mereka semakin menjadi-jadi. Kedua monster itu tinggal bersebelahan dan setiap hari yang mereka pikirkan adalah bagaimana caranya agar tidak usah bertemu muka dengan tetangga mereka. Mereka begitu sibuk memikirkan kebencian mereka sampai-sampai mereka melupakan hal-hal yang mereka sukai. Mereka mulai meninggalkan hobi mereka menggambar dan mendengarkan dongeng. Mereka malah berlomba-lomba membuat senjata penghancur!”

“Senjata macam apa, Ayah? Pelulu meliam?”

“Senjata jenis apa pun.”

“Senjata biologis?”

Dari mana pula anakku yang masih lima tahun mengetahui soal senjata biologis? Aku geleng-geleng kepala.

“Dengarkan dulu,” ujarku. “Nah, suatu hari, datang monster lain ke wilayah itu dan membangun sarang di seberang rumah kedua monster kita. Namanya Monster Hitam. Ia mengundang kedua tetangga barunya untuk datang ke rumahnya dan makan-makan, karena ia ingin mengenal keduanya. Dia punya prinsip kalau kita harus mengenal orang terdekat kita dengan baik, agar kita bisa saling menolong. Karena kita tidak bisa hidup sendiri-sendiri.

“Monster Merah senang sekali menerima undangan dari Monster Hitam. Ia menyisir bulu merahnya sampai rapi demi bisa mengesankan tetangga barunya. Sementara itu, Monster Ungu mandi di sungai lamaa sekali, sampai seluruh tubuhnya wangi. Kau bahkan bisa mencium wanginya dari jauh. Mereka datang ke sarang Monster Hitam pada saat yang bersamaan. Ketika mengetahui tetangga lama mereka diundang juga, keduanya memalingkan muka lalu meludah ke pinggir jalan.”

“Ih jolok!” putriku tak tahan untuk berkomentar.

“Mau diterusin, enggak?”

Gadis kecilku langsung terdiam sambil menutupi mulutnya. Matanya membelalak. Penuh tekad, pikirku. Dia pasti akan memarahi dirinya sendiri seandainya dia melontarkan komentar lagi hingga membuatku berhenti bercerita. Pemikiran itu membuatku tertawa.

“Kenapa ketawa sendiri, Ayah?” Ya. Dan dia tidak tahan. Lalu menutup mulutnya lagi dengan tangan. Aku mengabaikannya, lalu meneruskan ceritaku.

“Dengan gusar, kedua monster itu mengetuk pintu sarang Monster Hitam. Monster hitam legam membukakan pintu buat mereka dengan senyum lebar. Mau tak mau si Merah dan Ungu pun ikut tersenyum setelah memasang tampang merengut karena bertemu musuh.

‘Silakan duduk,” Monster Hitam sangat ramah. Ia mempersilakan kedua tamunya duduk di sofa empuk di ruang tamunya. Di meja sudah tersedia berbagai makanan enak. Monster Merah dan Ungu menelan liur.

‘Aku senang dapet teman baru seperti kalian. Aku jadi punya teman bermain baru. Katakan, apa hobimu?’ Monster Hitam menoleh pada Monster Merah.

‘Aku suka menggambar dan mendengar dongeng,’ jawab Monster Merah.

Monster Ungu terkesiap, tidak mengira mendapatkan jawaban seperti itu. Lalu Monster Hitam menoleh padanya dan menanyakan hal yang sama.

‘Aku suka mewarnai dan membaca cerita.’

‘Wah,  kalian pasti sering bermain bersama ya, dengan hobi seperti itu. Menyenangkan sekali. Kalau monster merah menggambar, Monster Ungu yang mewarnai gambarnya. Monster Ungu senang mendongeng, dan Monster Merah senang mendengarnya. Kalian pasti dekat sekali, ya? Aku iri…. Aku ingin punya teman seperti kalian.’

Monster Merah dan Monster Ungu saling berpandangan. Hati mereka berkecamuk. Bagaimana mungkin, monster yang paling mereka benci, ternyata memiliki kesukaan yang sama?”

“Setelah itu gimana, Ayah? Apakah meleka jadi belteman?”

“Monster Merah mengulurkan tangan berbulu merahnya ke Monster Ungu, lalu malu-malu berkata: ‘Kayaknya kita harus kenalan dulu. Aku Monster Merah. Aku suka menggambar dan mendengarkan dongeng.’ Monster Ungu menyambutnya dan berkata: ‘Aku Monster Ungu, aku senang mewarnai dan membaca dongeng.’ Monster Hitam hanya tersenyum-senyum melihat kelakuan mereka berdua.

Sejak saat itu, Monster Merah dan Monster Ungu menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Berdua, mereka menggambar, mewarnai, dan berbagi dongeng setiap hari.”

“Lalu Monstel Hitam ditinggalin sendili?”

“Monster Hitam pindah rumah dan mencari monster-monster lain yang bermusuhan.”

“Ohhh…”

“Sekarang kamu tidur, ya…” Aku menyelimuti tubuhnya dan mencium keningnya.

“Dongeng yang lain, Yah… Ibu suka mendongeng soal Laksasa dan Timun Suli. Atau Sangkuliang. Atau Lutung Kasalung, Yah! Atau celita Bandung Bondowoso!”

“Timun Mas, maksud kamu?”

“Iya, Timun Suli!”

“Ibu saja ya, yang mendongeng.”

“Ayah saja!” Putriku bersikeras.

Aku menghela napas dan mulai memutar otak lagi. Istriku harus dihukum habis ini.

Coffeewar, 2 Oktober 2011

PS: Tiga minggu terakhir ini saya pergi ke TIM untuk mengikuti Lokakarya Baca Sastra yang digagas Ayu Utami. Diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta bekerjasama dengan Salihara, untuk #GIMS, Gerakan Indonesia Membaca Sastra. Teks yang kami latih berjudul Kabuliwalla, karya Rabindranath Tagore. Selama  tiga minggu ini saya akrab sekali dengan cerpen ini, berlatih membacakannya di depan cermin, merekamnya di Aurora — macbook saya (konyol ga sih ngasih nama laptop?), maupun membacakannya di depan mentor dan teman-teman sekelas. Jadi cerita ini agak terlalu merasuk ke dalam jiwa. Cerpen ini, sepertinya penuh sekali dengan sentuhan Kabuliwalla. Heuheu. Semoga senang 😉

Oh iya, cerpen ini saya tulis di Coffeewar, kafe favorit saya untuk bekerja. Saya bisa berjam-jam di sini, ngetik cerpen, nerjemahin, sendirian. Cerpen ini ditulis demi bisa ikutan #15harimenulisdiblog hari ketiga yang bertema Perkenalan. Makasih buat kakak @hurufkecil dan @elnaa_ yang telah berupaya menggalakkan kembali program menulis di blog. Hihi.

Advertisements

12 thoughts on “Putriku dan Dongeng-dongengnya

  1. Kak Jiaaaa.. bagus bangeeetttt. Aku bisa bayangin kamarnya, anak perempuannya yang matanya pasti melotot, dengerin ayahnya.. sukaaa. :))

  2. Kak Jia, saya bermimpi menulis tuturan seperti kakak diatas. Mengalir seperti sungai! Sangat suka, dan tidak sempat berpikir untuk berhenti. Kak Jia hebat! 🙂

Comments are closed.