Cerpen

benang-benang dalam kantung kain

ini hari keempat kau mengajakku bermain.

kita bertemu di puncak bukit tempat dedalu yang kesepian itu tumbuh sendiri, seperti kepala seorang laki-laki yang penuh dengan bulu. alisnya lebat, cambangnya lebat, poninya lebat, dan ia seperti sedang menangis karena daun-daunnya yang menjuntai dengan cara seperti itu. makanya dinamakan dedalu menangis, kau berkata begitu ketika aku bertanya heran.

di lehermu tergantung kantung kain bertali. di wajahmu terdapat cengiran khas ketika kau hendak melakukan kejahatan bodoh. aku sudah curiga.

kemudian kau menggamit tanganku dan membawaku berlari menuruni bukit itu. “cepat,” kau berkata. “kita harus bersembunyi,” katamu sambil terus berlari menuju sebuah gudang terbengkalai.

kau menutup pintu di belakangmu. napas kita bersahut-sahutan dalam sengal, tetapi mata jahilmu belum pula redup. ketika kau berhasil menangkap kembali udara. kau berkata penuh semangat.

“aku habis mencuri.”

aku masih terengah hingga tak dapat mengatakan apa pun.

“tadi aku mendatangi tempat tiga saudari dan mencuri benang-benang takdir. aku tidak tahu ini benang siapa. aku asal saja mencabutnya dari alat pintal clotho.”

aku terkesiap. “mau kau apakan?”

“bukankah menyenangkan bermain-main dengan takdir orang? lihat!” kau mengeluarkan seutas benang dari kantong kain di lehermu. benang itu cukup panjang. warnanya merah mengilat dan tebal. “jika aku memotongnya di sini, ia tidak akan mengalami sisa hidupnya.” kau cekikikan.

“tapi itu namanya membunuh!” aku protes.

“setiap orang punya garis waktunya sendiri-sendiri. dan aku sedang memegang benang takdir entah siapa. jika aku memotongnya, berarti takdirnya usai.” kau berkata tanpa beban.

“tapi!”

“aku akan membuat pemilik benang ini jatuh cinta padamu, kemudian bunuh diri karena kau menolaknya.”

“hei! kamu tidak boleh melakukan itu!”

aku marah padamu. benang-benang takdir ini urusan para tiga saudari moirae, jadi aku duduk di pojok dan memain-mainkan pasir di kakiku.

kau menjerit tak berapa lama kemudian. seekor gagak mematuk matamu, dan ada ular menggigit kakimu.

di tanganmu seutas benang yang baru saja terpotong.

kau jatuh menggelepar di tanah.

#15harimenulisdiblog | hari keempat | timeline

Advertisements

4 thoughts on “benang-benang dalam kantung kain”

Comments are closed.