Cerpen

Sirama-rama dan Kunang-kunang

Seseorang pernah bercerita tentang makhluk yang sudah langka. Bukan, aku tidak sedang membicarakan naga. Ini tentang makhluk-makhluk di belakang rumah. Sirama-rama dan kunang-kunang. Kupu-kupu dan kuku-kuku orang mati. Dahulu, mereka biasa berseliweran di antara pokok-pokok perdu di halaman rumah. Atau hinggap di dahan pohon jambu, bersembunyi di balik daun-daunnya.

Dia bercerita padaku tentang sirama-rama dan masa kecilnya yang indah. Sebelum pindah ke kota besar dan menjadi orang membosankan yang terkurung dalam kubikel dua kali dua di atas karpet abu-abu yang tak pernah dicuci, dia adalah jenderal perang.

Dahulu ketika tanah lapang masih luas dan pohon-pohon jambu masih tumbuh di setiap halaman rumah, dia sudah pergi berperang. Mereka membagi dua kelompok anak-anak yang tinggal di perkampungan yang berbatasan dengan kompleks perumahan itu. Hampir bisa dipanggil anak kompleks, karena jaraknya yang begitu dekat. Namun ada anak-anak sombong yang senang membeda-bedakan anak kompleks dan anak kampung, yang tidak mau bermain dengan anak kampung. Dia bukan salah satunya. Maka dia diangkat jadi jenderal mereka.

Mereka membuat senjata dari bambu, ranting dan karet gelang, dengan peluru pentil jambu air. Jika kau tertembak, kulit yang terkenai peluru jambu-jambu itu akan berwarna merah keunguan selama beberapa hari. Tapi itu sepadan dengan kesenangannya.

Di antara dua kubu anak-anak yang bermain perang-perangan, ada satu anak perempuan. Cantik. Dia tidak pernah ikut berlarian mengangkat senjata. Dia senang berdiam saja di istananya — angkot milik ayahnya yang sedang tidak beroperasi. Dia membentangkan peta yang dia gambar sendiri di lantai angkot dan menyusun strategi. Setiap kali anak-anak laki-laki kembali untuk menambah peluru, mereka menyembah takzim pada sang ratu. Betapa semua anak laki-laki itu memujanya.

Di kelompok mana pun sang ratu ikut berperang, kelompok itu selalu menang. Gadis itu selalu diikuti sirama-rama. Tak peduli sirama-rama selalu terbang hanya muncul ketika bulan mengambil alih dunia, kupu-kupu itu selalu tampak terbang di sekelilingnya. Anak-anak itu menganggap kalau sirama-ramalah yang menyebabkan kemenangan di pihak sang ratu. Mereka berhenti bermain perang-perangan ketika ratu mereka tersayang pindah rumah. Sirama-rama itu pun jadi jarang terlihat di perkampungan itu.

Sejak ratunya pergi, dia menjadi bocah lelaki yang murung. Setiap kali purnama, dia selalu duduk di teras rumahnya sambil memandangi bulan bulat, mencari jejak-jejak sang ratu sirama-rama. Pada salah satu malam seperti itulah dia mulai memperhatikan kedatangan kunang-kunang. Awalnya hanya satu, berkelap-kelip dalam cahaya samar. Kemudian mereka datang bergerombol seperti dikerahkan oleh yang tak kasat mata dari kegelapan.

Dia mulai menangkapi kunang-kunang itu dan memasukkannya ke dalam stoples bekas selai roti dari dapur kemudian menutupnya dengan plastik bening yang diikat dengan karet gelang. Kunang-kunang itu berkerlipan dalam stoplesnya. Dia membawanya masuk ke kamar, mematikan lampu, dan memandangi kunang-kunang sampai tertidur.

Keesokan harinya serangga-serangga itu mati. Dia menangis menyesal dan menguburkan kunang-kunang itu. Malamnya kunang-kunang datang lebih banyak lagi. Kali ini dia membiarkannya bebas.

Belasan tahun setelah itu, aku mendengarkan ceritanya, lalu memohon padanya agar mengajakku yang tidak pernah beranjak dari belantara semen ini untuk pergi berburu sirama-rama dan kunang-kunang. Dia mengabulkan permintaanku meskipun sebelumnya berkali-kali memperingatkan bahwa aku mungkin saja tidak akan bertemu makhluk-makhluk ini.Aku pergi ke kampung halamannya dengan perasaan meluap-luap. Aku tidak pernah melihat sirama-rama dan kunang-kunang secara langsung. Aku ingin merasakan bagaimana jika kupu-kupu raksasa itu nemplok di punggungku, atau merasa takjub akan keberadaan serangga bercahaya.

Aku turun dari mobilnya dan terkejut.
Gedung-gedung menjulang telah menghilangkan tempat untuk makhluk-makhluk lain.

Kemang, 4 Oktober 2011

#5 #hilang #15harimenulisdiblog

Advertisements

5 thoughts on “Sirama-rama dan Kunang-kunang”

    1. sedih 😦
      aku kangen melihat kupu-kupu sirama-rama yang berdiam khidmat di kayu penyangga atap depan rumah, atau kunang-kunang yang selalu muncul setiap malam.
      sekarang kunang-kunang kehilangan gelap untuk menampakkan dirinya, malam terlalu benderang.
      kangen juga sama tanah lapang dan main perang-perangan sama temen-temen, bukannya maen game di gadget mahal.

  1. whoaaa! It’s a cool story.. I suggest that you really should write a script together with *uhuk* and make a movie together *komen macam apa ini??* :))

Comments are closed.